Home / Romansa / Aku Ingin Kau Jadi Milikku / Bab 151 - Kesepakatan Kotor

Share

Bab 151 - Kesepakatan Kotor

Author: Faw faw
last update Last Updated: 2026-01-14 23:00:56

Guan tak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat pada Yuki, cukup dekat hingga bau alkohol samar dari tubuh pria itu tercium jelas. Matanya menyipit, menimbang-nimbang, seperti pedagang yang sedang menghitung untung rugi.

"Mulutmu selalu beracun," ucap Guan pelan, nyaris berbisik. "Kau bicara soal manusia, bukan barang."

Yuki terkekeh, sama sekali tak tersinggung. Ia justru menyandarkan tubuhnya santai ke sisi van.

"Di dunia kita, apa bedanya?" sahutnya ringan. "Selama ada yang mau bayar mahal."

Guan terdiam. Pandangannya kembali tertuju ke jalanan kosong di depan apartemen. Amarahnya pada Felisha belum surut, tapi tawaran Yuki jelas membuka pintu yang lebih besar-lebih kotor, lebih menguntungkan.

"Katamu dia cantik seperti ibunya," lanjut Yuki, suaranya direndahkan. "Dan masih muda. Barang seperti itu selalu dicari. Apalagi kalau tak punya siapa-siapa yang benar-benar melindungi."

Kata-kata itu menancap dalam benak Guan. Bibirnya mengeras, rahangnya mengatup kuat. Ia membayangkan wa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 152 - Keramahan Palsu

    Bonita Han baru saja keluar dari klinik kecantikan dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. Kacamata hitam besar menutupi sebagian wajahnya, sementara langkahnya ringan namun pasti, seolah dunia di sekitarnya hanyalah latar yang tak perlu ia pedulikan. Manajernya sudah menunggu di mobil, pintu belakang terbuka sebelum Bonita benar-benar berhenti melangkah.Mobil itu kemudian melaju meninggalkan kawasan elite. Di dalam kabin yang sunyi, hanya suara mesin dan pendingin udara yang bekerja stabil. Bonita bersandar malas, menatap lurus ke depan tanpa minat pada apa pun di luar jendela. Ponselnya ada di tangan, tapi bahkan layar yang menyala pun tak cukup menarik perhatiannya. Wajahnya tetap dingin, tak berubah sejak mereka berangkat.Manajernya sesekali melirik lewat kaca spion, memastikan sang artis baik-baik saja. Namun Bonita tak memberi ruang untuk basa-basi. Sejak awal perjalanan, ia tak mengucapkan sepatah kata pun.Mobil berhenti di lampu merah.Bonita mendesah pelan, refleks mengalihkan

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 151 - Kesepakatan Kotor

    Guan tak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat pada Yuki, cukup dekat hingga bau alkohol samar dari tubuh pria itu tercium jelas. Matanya menyipit, menimbang-nimbang, seperti pedagang yang sedang menghitung untung rugi."Mulutmu selalu beracun," ucap Guan pelan, nyaris berbisik. "Kau bicara soal manusia, bukan barang."Yuki terkekeh, sama sekali tak tersinggung. Ia justru menyandarkan tubuhnya santai ke sisi van."Di dunia kita, apa bedanya?" sahutnya ringan. "Selama ada yang mau bayar mahal."Guan terdiam. Pandangannya kembali tertuju ke jalanan kosong di depan apartemen. Amarahnya pada Felisha belum surut, tapi tawaran Yuki jelas membuka pintu yang lebih besar-lebih kotor, lebih menguntungkan."Katamu dia cantik seperti ibunya," lanjut Yuki, suaranya direndahkan. "Dan masih muda. Barang seperti itu selalu dicari. Apalagi kalau tak punya siapa-siapa yang benar-benar melindungi."Kata-kata itu menancap dalam benak Guan. Bibirnya mengeras, rahangnya mengatup kuat. Ia membayangkan wa

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 150 - Kekhawatiran Yang Tak Terucap

    Felisha refleks menoleh ke Ace. Ada kilat terkejut di matanya, disusul rasa bersalah yang cepat menyelinap. Ia tidak menyangka reaksi Ace akan sekeras itu.“Aku baik-baik saja,” katanya cepat, berusaha meredam ketegangan yang tiba-tiba mengeras di udara. “Waktu itu situasinya mendesak. Aku hanya ingin membantu.”“Itu bukan alasan,” potong Ace, suaranya rendah tapi tegas. Tangannya yang memegang garpu mengencang. “Kau mempertaruhkan dirimu sendiri tanpa berpikir panjang.”Matthew mengamati mereka berdua dalam diam sesaat, sebelum akhirnya angkat bicara dengan nada tenang namun berwibawa.“Ace,” katanya pelan, “aku paham kekhawatiranmu. Tapi Felisha tidak bertindak ceroboh. Dia tenang, cepat berpikir, dan—yang terpenting—dia tidak sendirian. Aku ada di sana.”Ace menoleh tajam. “Tetap saja. Dia bukan orang yang seharusnya berada dalam situasi seperti itu.”“Justru karena itulah aku menghormatinya,” balas Matthew tanpa tersinggung. “Tidak semua orang berani mengambil risiko demi orang la

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 149 - Jamuan Makan Malam

    Felisha merasakan malu yang luar biasa hingga wajahnya kembali memerah. Spontan ia menatap Ace dengan mata membelalak, memberi isyarat agar pria itu berhenti mengatakan hal-hal yang tidak perlu—meskipun Matthew berlagak seolah tak mendengar apa pun. Ace yang menangkap teguran diam-diam itu hanya terkekeh kecil. Ia mengangkat sebelah tangannya santai, lalu berkilah di hadapan Matthew, “Dia menggigit tanganku waktu aku mengobati lukanya tadi.” “Apa?” Matthew mendelik kaget. “Nona Felisha terluka? Bagaimana bisa?” Tatapan serius itu membuat Felisha semakin kikuk. “Oh, itu… cuma luka kecil,” ujarnya pelan. “Dia berlari karena dikejar anjing, lalu terjatuh,” timpal Ace enteng sambil meneguk segelas air putih yang telah disediakan di depannya. Ia melirik Felisha yang duduk tegang di sampingnya. Wajah kesal yang berusaha ditahan gadis itu justru terasa menghibur baginya. Diam-diam, Felisha menyenggol kaki Ace di bawah meja—meski ia tahu, peringatan kecil itu nyaris tak berarti

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 148 - Merah Yang Menggoda

    Sesampainya di kamar kecil—yang ukurannya sama sekali tidak kecil—Ace menutup pintu dan mengurung dirinya bersama Felisha di dalam sana. Tak ada kata-kata, hanya rangkaian tindakan yang cepat dan tanpa ragu. Dalam satu gerakan sigap, ia mengangkat tubuh Felisha dan mendudukkannya di atas marmer wastafel yang panjang dan dingin. Felisha terperanjat. “Apa yang kau—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Ace sudah lebih dulu mengangkat ujung gaunnya hingga kedua pahanya terbuka. Sentuhan kulit pria itu membuat Felisha bergidik sebelum ia sadar dan kembali menegurnya. “Kau mau apa?! Turunkan aku!” ucapnya tegas, mendorong bahu Ace dengan kedua tangannya. Namun pria itu sama sekali tak bergeser. Rasanya seperti mendorong tembok kokoh yang tak mungkin runtuh. Ace hanya diam, menatap mata Felisha yang penuh kebingungan. Ibu jarinya perlahan mengusap bekas luka di lutut gadis itu. “Hanya ingin membersihkan lukamu,” ujarnya akhirnya. Suaranya tenang, dalam—seolah kegelisa

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 147 - Lilitan

    Ponsel Felisha yang ikut terempas ke lantai masih berdering tanpa henti. Namun gadis itu tak mampu menjawabnya—bahaya sudah berdiri tepat di hadapannya. Dengan kaki gemetar, ia beringsut mundur, berusaha menjauh dari Guan yang menutup pintu dengan wajah murka, jelas berniat menyiksanya lagi.“Berikan kartunya!” gertak Guan berang. Suaranya menggelegar, menyerupai auman singa yang siap menerkam.Refleks, Felisha mendekap tas ke dadanya. Melihat itu, Guan bergerak cepat—terlalu cepat—merebut tas tersebut dari pelukannya.Uang Felisha memang tak banyak lagi. Ia bahkan belum sempat melakukan transaksi dengan pembeli mantel milik Bonita. Namun setidaknya, di dalam tas itu masih tersisa beberapa lembar uang untuk bertahan hidup hingga bulan depan. Ia tak bisa membiarkan Guan merampasnya juga.“Kembalikan! Biar aku saja yang ambil uangnya nanti!” teriak Felisha panik sambil berusaha merebut tas itu sekuat tenaga.Namun Guan tak memberinya kesempatan. Ia menarik tas itu dengan kasar hingga tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status