เข้าสู่ระบบ
"Kamu tidak berniat melarangku menikah besok, Raa?" Suara berat Gavin tiba-tiba terdengar menggema menyambut kedatangan Sira. Tepat ketika perempuan berkerudung hitam itu menyalakan lampu, setelah memasuki rumah sederhana pemberian suami rahasia yang baru dinikahinya dua minggu yang lalu.
"Astaghfirullah, ngapain kamu di sini, Vin? Kenapa gak nyalain lampu? Untung aku gak jantungan" Sira memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar hebat karena terkejut.
"Kenapa pulang malam? Dari mana aja kamu? Pergi sama Arwan lagi?" Cecar Gavin sambil beranjak duduk setelah berbaring di sofa ruang tamu, tanpa memperdulikan Sira yang terkejut karenanya.
Sejenak mata Sira terpaku menatap Gavin yang terlihat berantakan namun tetap mempesona dimatanya. Kemeja putih yang dikenakannya tampak berantakan, dengan kedua lengan panjangnya yang digulung sekenanya dan dua kancing baju yang terlepas, memperlihatkan tangan berotot dan dada bidangnya.
"Raa...!" Gavin setengah berteriak.
Membuat Sira tersentak dan tersedak ludahnya sendiri karena kebodohannya yang justru mengagumi cinta pertama yang sudah menjadi suaminya itu.
Sira terbatuk sejenak, sebelum akhirnya kembali menguasi dirinya.
"Kenapa kamu peduli? Kamu bilang pernikahan kita hanya status di depan keluargaku. Di luar semua itu, kita bebas, kan?" Sira menjawab ketus sambil berlalu menuju kamar yang berada tepat di samping kanan ruang tamu.
Meski menyimpan cinta yang dalam untuk suaminya, Sira juga menyimpan kebencian yang sama dalamnya untuk laki-laki itu.
Gavin adalah cinta pertama di masa kuliahnya dan masih ia cintai hingga sekarang. Tapi bodohnya laki-laki itu tidak pernah tahu, sementara Sira tidak pernah berani untuk mengatakannya. Dan sekarang mereka justru terjebak dalam pernikahan rahasia demi memenuhi keinginan terakhir ayah Sira.
"Sira, kamu belum menjawab pertanyaanku." Gavin menyusul dan dengan cepat meraih tangan Sira tepat diambang pintu kamar.
Sejenak Sira menatap tangan Gavin yang untuk pertama kali menyentuh kulitnya. Setelah mengantar Sira pindah ke rumah ini satu minggu yang lalu, ini juga baru kali kedua Gavin menginjakkan kali lagi di rumah ini. Sungguh ironi, tidak ada cerita manis pengantin baru bagi Sira.
Andai bisa memilih, ia lebih ingin diceraikan oleh Gavin dari pada harus berpura-pura dalam hubungan pernikahan siri yang tidak jelas ini. Tapi entah apa yang ada dipikiran laki-laki itu, hingga tidak mau menceraikannya tapi sering kali selalu mengabaikannya.
"Pertanyaan mana yang harus ku jawab, Vin? Kenapa aku pulang malam, dari mana aja aku, pergi sama siapa aku, atau niatku untuk melarang kamu menikah besok?" Sira menatap tajam ke arah mata suaminya.
Perasannya bercampur antara marah, sedih dan cemburu.
"Sekarang aku suami kamu, Raa. Aku berhak tahu kamu dari mana dan dengan siapa kamu pergi!" Gavin membalas dengan tatapan tajam dan genggaman tangan yang semakin erat.
Sira mendengus. Tertawa getir sambil mengalihkan pandangannya, tidak mengerti dengan sikap Gavin yang tiba-tiba berubah. Padahal setelah pernikahan mereka, Gavin selalu mengabaikan dan tidak mempedulikannya.
"Suami? Setelah semua yang kamu bilang di malam aku pindah ke rumah ini, sekarang kamu bilang kamu berhak atas aku, Vin?"
Sira berusaha melepaskan genggaman tangan Gavin yang semakin lama semakin erat. Tapi seakan sia-sia karena tenaga dan tubuh sira tidak sebanding dengan Gavin. Semakin keras ia berusaha melepaskan, semakin erat dan semakin sakit pula genggaman tangan Gavin.
"Kamu lupa, Vin? Tiga hal yang kamu minta setelah menikahiku? Kamu bilang status kita adalah rahasia, tidak ada yang boleh tahu kecuali keluargaku. Kita tidak punya hak dan kewajiban, kamu dan aku bebas melakukan apa saja. Dan tidak boleh sampai ada cinta diantara kita"
Sira meringis menahan sakit di pergelangan tangan, sekaligus perih menahan luka di hatinya karena harus berbohong berpura-pura tidak mencintai suami rahasianya.
Sementara Gavin sejak tadi hanya bisa menatap kearah Sira dengan tatapan marah sekaligus penuh sesal dan kesedihan.
"Muhammad Gavin Rusdhan! Lepasin tangan aku. Sakit." Teriak Sira dengan memanggil nama lengkap suaminya sambil menghempaskan tangannya dengan keras. Air matanya sudah mengambang di pelupuk mata. Entah karena sakit di tangannya atau kecemburuan mengingat pernikahan suaminya besok.
"jadi kamu rela aku menikah lagi besok, Raa?" Ucap gavin lemah, menyerah dan melepaskan tangan istrinya.
Sira terdiam, sejenak terpaku mendengar pertanyaan yang sebenarnya ingin sekali ia jawab "TIDAK" sebelum akhirnya tersadar, ia harus melupakan dan tetap merahasiakan perasaannya pada Gavin."Punya hak apa aku buat ngelarang kamu, Vin?" Sira melepas tas yang sejak tadi masih menggantung di lengannya, lalu duduk di kasur dengan lemas.
"Sebelum kita menikah, kita adalah teman, Vin. Dan sebagai seorang teman, aku akan bahagia melihat temanku bahagia menikah dengan orang yang dicintainya." Lanjut Sira sambil mengalihkan wajahnya dan menghapus sebulir air mata yang akhirnya jatuh karena kebohongannya.
"Raa..." Panggil Gavin dengan suara lemah yang hampir tidak bertenaga.
"Berhenti memanggil namaku, Vin. jangan buat aku bingung dengan sikapmu." Sira beranjak dari tempat duduk, setelah mampu menguatkan hati dan pikirannya. Kemudian kembali berjalan ke arah Gavin.
"Aku menyakitimu lagi, Raa...?" Ucap Gavin dengan tatapan mata nanar melihat Sira berjalan ke arahnya.
"Pulanglah, Vin. Ini malam pernikahanmu, kamu harus istirahat." jawab Sira sambil meraih gagang pintu dan menutupnya tepat di hadapan Gavin, berusaha untuk tidak memperdulikan lagi lelaki yang dicintainya itu.
Entah apa yang dipikirkannya. Bukankah Gavin akan menikahi gadis yang dicintainya? Kenapa dia justru sekalut itu di malam pernikahannya?
Kekacauan di pesta pernikahan itu berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik. Jeritan Sira membelah keheningan yang mencekam saat tubuh Ibu Mirna merosot ke lantai pelaminan yang dilapisi karpet merah. Wajah wanita tua itu pucat pasi, dengan bibir yang membiru dan napas yang satu-satu."Ibu! Bangun, Bu! Jangan begini, Sira mohon!" Sira memangku kepala ibunya, air matanya jatuh membasahi pipi wanita yang paling ia cintai itu. Tangannya gemetar hebat, ia tidak peduli lagi pada tatapan menghakimi dari puluhan pasang mata kerabatnya yang terus memandang mereka.Di sisi lain, Raina masih belum berhenti. Emosinya yang sudah di puncak gunung membuat nuraninya tertutup. "Bagus! Akting apalagi ini? Apa dengan pura-pura sakit begini kalian pikir aku akan luluh?!" teriak Raina dengan suara parau yang menyayat."RAINA, DIAM!" Gavin membentak dengan suara yang menggelegar, membuat semua orang tersentak.Gavin menatap Sira yang sedang menangis histeris memangku ibunya, lalu menatap Raina yang sud
Dunia seolah berhenti berputar bagi Gavin tepat setelah Andre mengucapkan kalimat itu. Namun, sebelum ia sempat mencerna kalimat tersebut, seorang perempuan cantik dengan pakaian mewah yang tampak menonjol diantara kerumunan masuk ke tempat acara. Ia menarik perhatian hampir separuh orang yang ada di sana.Ia mengenakan gaun putih tulang yang elegan, namun wajahnya sepucat kapas. Langkahnya tidak stabil, matanya liar mencari sesuatu di antara kerumunan tamu yang tampak asing baginya.Raina benar-benar datang.Sira, yang sejak tadi berdiri kaku di sudut pelaminan, merasa jantungnya seakan dicabut paksa dari rongganya. Ia melihat Raina masuk ke area pesta dengan napas memburu. Seluruh tamu undangan, termasuk Ibu Mirna, menoleh dengan bingung melihat kedatangan wanita cantik yang tampak sangat tidak tenang itu.Pandangan Raina menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti di satu titik. Suaminya ada di sana seperti yang ia sangka, karena saat memarkirkan mobilnya tadi, ia melihat mobi
Begitu mereka menginjakkan kaki di area resepsi, suasana mendadak riuh. Kehadiran Sira yang menggandeng pria setampan dan semapan Gavin benar-benar mencuri perhatian. Musik dangdut yang tadinya memekakkan telinga seolah menjadi latar belakang saat pasang mata para kerabat dan tetangga tertuju pada mereka. Sira merasakan telapak tangannya dingin. Namun, Gavin seolah tahu kegelisahan itu, ia mengeratkan genggaman jemarinya, menyatukan telapak tangan mereka tanpa celah. "Sira! Ya ampun, ini suaminya?" seru Bibi Sarah, salah satu kerabat yang dikenal paling vokal. "Ganteng sekali, Ra! Pantas saja kemarin nikahnya diam-diam, takut diambil orang ya?" Sira hanya bisa tersenyum kaku. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya mulai berhamburan layaknya peluru. "Kok belum ada resepsi? Kami nunggu lho!" tanya Paman Syarif sambil menepuk bahu Gavin. "Iya nih, tahu-tahu sah saja. Terus, sekarang Sira sudah isi belum? Jangan ditunda-tunda ya, Bibi Mirna sudah pengen nimang cucu itu," timpal keraba
Mobil melaju membelah jalanan pagi yang mulai ramai. Setelah menjemput Ibu Mirna di halte, suasana di dalam kabin mobil yang tadinya sunyi berubah menjadi riuh oleh suara khas seorang ibu yang penuh kecemasan. Ibu Mirna duduk di kursi belakang, matanya tak henti menatap punggung menantunya dan sesekali beralih pada Sira."Gavin, apa kabarmu, Nak? Sehat?" tanya Ibu Mirna, suaranya terdengar lembut namun penuh selidik."Alhamdulillah sehat, Bu," jawab Gavin ramah, sesekali melirik dari spion tengah.Ibu Mirna terdiam sejenak, lalu dengan nada ragu yang kentara, ia melanjutkan pertanyaannya yang membuat Sira seketika menegang. "Gavin... Gimana Sira selama ini? Apa dia sering cerewet dan membuatmu tidak nyaman? Apa dia sering mengganggumu atau membuat masalah? Kalian... benar-benar baik-baik saja, kan?"Mendengar kekhawatiran ibunya yang begitu mendalam, Sira tidak tahan untuk tidak bereaksi. Ia menoleh ke kursi belakang dengan wajah yang tampak lelah."Bu... sudah Sira bilang berkali-kal
Pukul tujuh pagi, embun masih betah menempel di kaca jendela rumah sederhana Sira. Suasana begitu sunyi hingga deru mesin mobil mewah yang berhenti di depan pagar terasa sangat kontras. Sira yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya tidak menyangka bahwa Gavin akan datang satu jam lebih awal dari kesepakatan mereka di telepon semalam.Kamar mandi rumah itu terletak di luar kamar, mengharuskan Sira melintasi ruang tamu untuk bisa kembali ke kamarnya. Sira keluar dengan rambut yang masih basah, hanya berbalut sehelai handuk putih yang melilit tubuhnya hingga sebatas paha.Langkahnya terhenti seketika. Matanya membelalak saat melihat sosok pria jangkung sudah berdiri tegak di tengah ruang tamunya.Gavin mematung. Tatapannya tertancap pada Sira tanpa berkedip sedikit pun. Pemandangan di depannya, istrinya dengan kulit yang masih lembap oleh sisa air, bahu yang polos, dan helai rambut basah yang jatuh di tulang selangka, membuat jantung Gavin berdetak kencang di luar kendali. Darahnya b
Lelah, akhir pekan ini Sira kira ia akan bisa istirahat dengan tenang. Terutama karena masalah tuduhan itu sudah selesai dan ia sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Tapi masalah baru muncul lagi, malam ini menjadi malam yang penuh dengan kecemasan lagi bagi Sira.Setelah kepulangannya dari kafe bersama Melati, sebuah panggilan telepon dari ibunya, Mirna, benar-benar mengacaukan detak jantung dan pikirannya. Ibunya tiba-tiba meminta atau lebih tepatnya memohon padanya agar ia dan Gavin datang besok untuk menemaninya menghadiri acara pernikahan kerabat dekat ibunya.Sira memandangi layar ponselnya yang gelap dengan tatapan kosong. Ia tahu benar apa maksud di balik permintaan ibunya. Mirna adalah orang yang paling tajam instingnya, ia pasti mulai mencium ada yang tidak beres karena Sira semakin jarang membicarakan Gavin. Apa lagi setelah pernikahannya dengan Gavin, ia tidak pernah muncul berdua diberbagai acara keluarga Sira. Jadi kali ini bagi Mirna, kehadiran mereka berdua besok a







