Share

13. Prabu Sagara

Author: W.M.G
last update publish date: 2025-10-31 16:30:29
Waktu merangkak lambat. Jarum jam sudah menunjuk pukul setengah delapan malam. Kafe yang tadinya sepi kini semakin ramai. Sira sudah menyelesaikan pemeriksaan tugas-tugas siswanya, menghabiskan secangkir kopi dan beberapa cangkir air mineral, dan sepotong roti yang ia pesan tadi. Ia merasa lelah, tetapi masih belum mau menyerah, meski hatinya mulai merasa kesal dan tak sabar lagi.

Tepat pukul 20.00 WIB, layar ponsel Sira menyala. Sebuah panggilan masuk. Tertulis di sana, Ortu Bintang.

"Akhirny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    166. Detak Jantung Kecil yang Menyatukan

    Pagi itu, Rumah Sakit tidak lagi terasa mencekam bagi Sira. Meski aroma antiseptik masih memenuhi rongga hidungnya, kehadiran Gavin yang menggenggam erat tangannya membuat segalanya terasa berbeda. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan USG untuk memastikan kondisi janin setelah ketegangan hebat yang mereka alami. Gavin mendorong kursi roda Sira dengan sangat hati-hati, seolah-olah guncangan sekecil apa pun bisa membahayakan harta karun mereka. "Gavin, aku bisa jalan sendiri," gerak bibir Sira terlihat di pantulan cermin lift, wajahnya sedikit mengerucut protes. Sebenarnya fisiknya sudah jauh lebih kuat, hanya suaranya saja yang masih enggan keluar. Gavin terkekeh, membungkuk sedikit untuk membisikkan sesuatu di telinga istrinya. "Anggap saja ini layanan sopir pribadi kelas VIP, Ny. Gavin. Lagipula, aku ingin menghemat tenagamu untuk nanti. Siapa tahu bayi kita ingin melihat ibunya pamer senyum paling cantik di depan layar monitor." Sira hanya bisa mencubit lengan Gavin pelan, membua

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    165. Kemarahan yang Indah

    Sore itu, semburat jingga dari ufuk barat mulai mengintip masuk ke dalam ruang perawatan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding. Di atas ranjangnya, Sira masih terbaring miring, memunggungi sisi tempat tidur, tempat suaminya biasa duduk. Pikirannya dipenuhi awan kelabu. Seharian ini ia hanya ditemani Tante Rita. Gavin menghilang tanpa kabar sejak pagi buta, tepat setelah Prabu membawanya pergi ke kantin. Ada rasa sesak yang kekanak-kanakan di dada Sira. Di tengah kerapuhannya, ia merasa takut akan ditinggalkan lagi setelah janji manisnya semalam. Ia tidak tahu bahwa sepanjang hari itu, Gavin sedang bertarung dengan tumpukan dokumen di kantor pengacara dan menghadapi kemarahan keluarganya demi satu tujuan, menyelesaikan perceraiannya dengan Raina secepat mungkin. Suara pintu yang terbuka pelan tidak membuat Sira bergeming. Ia mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali, namun ia tetap memilih untuk menatap tembok putih di depannya. "Assalamualaikum, suamimu d

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    164. Gavin dan Prabu

    Suasana kantin rumah sakit pagi itu tidak terlalu ramai, namun dengung suara mesin kopi dan denting sendok menciptakan latar belakang yang pas untuk percakapan berat antara Gavin dan Prabu. Setelah Tante Rita datang untuk menjaga Sira, Prabu memberikan isyarat kepada Gavin untuk mengikutinya. Ada beban yang harus segera dilepaskan agar tidak menjadi duri di masa depan. Gavin duduk di hadapan Prabu, menatap cangkir kopi hitamnya yang mengepulkan uap. Prabu memulai dengan kabar mengenai hukum untuk Andre. "Andre Wijaya tidak akan lepas begitu saja," buka Prabu dengan nada dingin yang biasa ia gunakan dalam negosiasi bisnis. "Aku sudah menugaskan tim hukum terbaik. Dengan bukti penculikan, penganiayaan, dan paksaan medis, dia akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Aku juga akan memastikan dia kehilangan segalanya." Gavin mengangguk pelan. "Terima kasih, Prabu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada di sana semalam." Hening sejenak. Gavin menatap buih yang

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    163. Lili Putih dan Harapan yang Mekar

    Sira duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit yang ditinggikan. Setelah gejolak mual di kamar mandi mereda, fokusnya kembali tertuju pada perban putih yang melilit lengan kiri Gavin. Dengan gerakan yang sangat perlahan, ia mengulurkan jarinya, menyentuh tepian luka itu seolah-olah rasa sakitnya bisa berpindah jika ia menyentuhnya cukup lembut. Ia mendongak, menatap mata Gavin dengan pandangan yang dalam dan penuh selidik. Meski bibirnya terkatung dalam kebisuan, sorot matanya bicara lebih keras dari kata-kata apa pun. "Apa kamu baik-baik saja? Lukamu pasti sakit sekali?" Gavin terdiam sejenak, tenggelam dalam samudera kekhawatiran yang terpancar dari mata istrinya. Ia meraih tangan Sira yang baru saja menyentuh lukanya, lalu menarik kursi untuk duduk tepat di hadapan Sira. "Aku baik-baik saja, Ra. Ini tidak sakit. Jangan khawatirkan aku," ucap Gavin dengan suara rendah yang menenangkan. Ia memberikan seulas senyum tulus, jenis senyum yang sudah bertahun-tahun tidak ia tunjukkan

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    162. Rahasia dalam Kebisuan

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya pendingin ruangan rumah sakit. Sira terbangun lebih dulu. Kesadarannya kembali perlahan, namun kali ini tanpa sentakan ketakutan seperti semalam. Perasaanya sudah lebih tenang, dan hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat yang menindih jari-jarinya.Gavin.Lelaki itu tertidur dengan posisi yang pasti sangat tidak nyaman, duduk di kursi dengan kepala bersandar di tepi ranjang. Sira memandangi wajah suaminya dalam diam. Gurat kelelahan tercetak jelas di sana, lingkaran hitam di bawah mata dan dahi yang bahkan dalam tidur pun tampak berkerut gelisah.Sira menarik tangannya perlahan, berusaha tidak membangunkan Gavin. Matanya kemudian tertuju pada lengan kiri Gavin yang tergeletak di atas sprei. Kemeja hitam yang dikenakan suaminya tampak robek di bagian bahu hingga siku. Ada noda darah kering yang tersamar oleh warna gelap kainnya, namun yang paling mencolok adalah perban p

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    161. Runtuhnya Sang Pilar

    Malam semakin larut, menyisakan kesunyian di dalam ruang perawatan itu. Sira akhirnya kembali tertidur, kelelahan setelah badai trauma yang menguras seluruh tenaganya. Namun, meski dalam lelap, jemari kecilnya masih menggenggam erat telapak tangan Gavin. Cengkeramannya begitu kuat, seolah-olah jika ia melonggarkan genggaman itu sedetik saja, Gavin akan meninggalkannya dan Andre akan muncul dari kegelapan untuk menyeretnya kembali ke neraka.Gavin tertegun menatap tangan mereka yang bertaut. Ia bisa merasakan sisa-sisa getaran di tangan Sira. Hatinya perih, seperti disiram cuka di atas luka yang menganga."Penderitaan apa saja yang sudah kamu alami, Sira... hingga kamu bahkan takut untuk bicara?" bisik Gavin pelan, suaranya pecah di udara yang dingin.Air mata yang tadinya sempat mengering kini kembali mengalir, jatuh satu per satu membasahi sprei rumah sakit. Gavin menunduk, menempelkan keningnya pada punggung tangan Sira. Di bawah temaram lampu nakas, Gavin mulai merapal rentetan pen

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    73. Amarah dan Persaingan

    Sidang penghakiman berakhir. Pintu ruang rapat tertutup dengan dentum pelan seiring perginya anggota komite terakhir. Keheningan yang menyusul kemudian terasa jauh lebih mencekam daripada hiruk-pikuk hujatan tadi. Di dalam ruangan luas itu, kini hanya tersisa tiga orang, Gavin yang masih mematung d

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    72. Pahlawan di Tengah Sidang

    Suara hantaman pintu yang terbuka paksa itu masih menyisakan dengung di telinga setiap orang di dalam ruangan. Seluruh caci maki yang baru saja memenuhi udara mendadak terhisap habis, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Di ambang pintu, berdirilah Prabu Sagara.Sosoknya tampak begitu dominan,

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    71. Sidang Penghakiman

    Pagi menyapa, udara di lingkungan SMA Cendekia Nusantara terasa begitu berat dan menyesakkan, seolah-olah awan mendung dari rumah Sira kemarin ikut berpindah ke sekolah ini. Sejak Sira melangkahkan kaki melewati gerbang, ia merasa ribuan pasang mata sedang mengulitinya. Bisik-bisik di koridor terde

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    70. Rasa Bersalah

    Ruangan itu seakan kehilangan oksigen saat nama itu terucap dari bibir Sira. Melati mematung, matanya mengerjap berkali-kali seolah sedang memproses sebuah teka-teki rumit yang mustahil."Gavin... Pak Gavin? Kepala sekolah kita?" tanya Melati dengan suara yang hampir tidak keluar. "Tapi ..., tapi d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status