Share

3. Kejutan Lain

Penulis: W.M.G
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-22 18:14:36

Mewah. Satu kata yang terlintas di kepala Sira begitu melangkah masuk ke aula pernikahan Gavin dan Raina.

Aula itu dihiasi rangkaian bunga mawar putih dan lily yang ditata indah di setiap sudut ruangan. Lampu kristal bergantungan di langit-langit tinggi, memantulkan cahaya keemasan yang hangat. Karpet merah terbentang dari pintu masuk hingga ke pelaminan, seolah mengantar setiap tamu menuju panggung kebahagiaan pengantin. Aroma harum bunga bercampur dengan wangi masakan katering yang terus menguar dari area prasmanan, membuat suasana semakin ramai sekaligus hangat.

Dari kejauhan Raina terlihat berdiri dengan anggun, senyumnya cerah menyambut setiap tamu. Sesekali ia bergelayut manja di lengan Gavin yang berusaha tersenyum mengimbangi keceriaannya.

"Ya Allah, beri aku kekuatan untuk melewati hari ini." Bisik Sira dalam hati. Sakit rasanya mengakui bahwa meraka tampak serasi bersanding di pelaminan.

Setelah beberapa saat Gavin akhirnya menangkap kehadiran Sira, dan tanpa sengaja mata mereka bertemu.

Seketika nafas Sira tercekat. Entah kenapa, saat itu ia ingin menangis sejadi-jadinya. Sira pikir ia akan kuat. Tapi tatapan Gavin, dan perlakuannya tadi malam, justru membuatnya merasa seperti masih ada sesuatu di antara mereka. Seolah ia tak salah kalau pernah berharap.

Namun Gavin cepat-cepat mengalihkan pandangan. Tangannya kembali menyalami tamu yang datang silih berganti, wajahnya kembali dipoles dengan senyum formal yang tampak dipaksakan.

"Awas, Ra!" Arwan, teman sekaligus rekan kerja yang sejak tadi ada disampingnya, tiba-tiba menarik lengannya karena Sira hampir saja tertabrak pelayan yang sibuk menyajikan makanan.

"Kamu gakpapa, Ra? Kok pucet banget kayaknya?" Ucap Arwan lagi.

"Iya, gakpapa." Sahut Sira sambil mengusap wajahnya.

Aula semakin ramai. Suara musik live band yang memainkan lagu cinta klasik bercampur dengan riuh obrolan tamu dan dentingan sendok garpu. Sira dan beberapa rekan guru yang datang bersamaan terjebak dalam antrian panjang untuk menuju pelaminan. Orang-orang tampak sabar menunggu, sebagian memilih mengobrol sambil menahan lapar, sementara pelayan lalu-lalang membawa minuman segar di nampan perak.

Sira berusaha menahan diri, tapi semakin lama berdiri di sana, semakin sesak dadanya. Akhirnya ia memilih mundur, menyingkir dari antrian. Tak sanggup lagi menyaksikan kemesraan mereka di atas panggung. Perasaan cemburu dan iri menguasai hatinya.

Raina terlihat begitu cantik. Gaun putih tanpa lengan yang melekat di tubuhnya tampak elegan, rambutnya ditata dalam cepol sederhana dengan dihiasi headpiece keemasan berbentuk sulur bunga, menambah kesan mewah. Semua mata memandangnya dengan kekaguman, semua senyum tertuju padanya.

Sedangkan Sira…, ia hanya bagai pungguk merindukan bulan. Menyedihkan. 

Pernikahannya dua minggu lalu sama sekali tak bisa dibandingkan dengan pernikahan Raina hari ini.

“Kamu kenapa, Ra?” suara Arwan memecah keriuhan di kepala Sira. 

Sira berpura-pura tersenyum, meski terasa getir. Air matanya sudah hampir pecah. “Aku mau ke toilet dulu, Kak.” Ujar Sira cepat, sambil menunduk agar Arwan tidak melihat wajahnya.

Sira melangkah cepat keluar dari aula pernikahan.

Begitu masuk ke bilik toilet, Sira menutup pintu rapat-rapat. Tangannya memukul dada, mencoba mengusir sesak yang menghimpit. Tapi sia-sia. Bayangan tawa Raina, senyumnya yang bahagia di lengan Gavin, terus mengusiknya. Hingga akhirnya Sira tak bisa lagi menahan air matanya.

***

“Sudah lebih baik?” suara berat Arwan tiba-tiba terdengar begitu Sira keluar dari toilet. Membuat Sira sedikit terkejut karena tak menyangka akan kehadirannya.

Sira mengerutkan kening, berpura-pura tak mengerti maksudnya.

“Aku tahu semuanya, Ra. Kamu gak perlu pura-pura lagi.” ucapnya pelan, menatap Sira penuh empati.

Jantung Sira langsung berdetak cepat. Bagaimana kalau rahasianya terbongkar?

“Tau dari mana?” tanya Sira ragu, mencoba tetap tenang.

“Dari kamu.”

Sira makin bingung. “Aku? Kapan aku cerita sama Kak Arwan?”

“Cara kamu mandang Pak Gavin itu udah jelas banget, Ra. Dari situ aja aku tahu kalau kamu suka sama dia.”

Sira diam, tak bisa menyangkal. Disaat yang sama ia merasa lega, karena Arwan hanya menebak, dan belum tahu apa yang ia khawatirkan.

“Ra, aku mau ngomong serius.” kata Arwan lagi dengan berdiri tegak menatap temannya itu lekat-lekat.

Sira semakin waspada. “Ngomong aja, Kak. Jangan bikin tegang gini.”

Ia menarik napas dalam. “Nikah sama aku, Ra. Aku janji bakal bikin kamu lupa sama dia.”

Sira sontak terbelalak. Tak percaya dengan yang didengarnya.

“Apaan sih, Kak? Jangan becanda, ini gak lucu.” Sira terkekeh kecil, berusaha menganggap Arwan hanya bercanda.

“Aku serius, Sira.”

“Serius? Serius ngelamar aku di depan toilet? Aduh, gak romantis banget, Kak.” Sira tetap berusaha tak menganggapnya serius.

“Ra, kamu pikir gampang aku ngomong kayak gini? Aku serius!” suaranya terdengar agak kesal.

“Kak Arwan…”

“Stop! Aku gak minta jawaban kamu sekarang. Aku cuma mau kamu tau, aku suka sama kamu. Dan aku serius!” Ucap Arwan dengan tatapan mata yang tidak seperti biasanya.

“Tolong, Kak… jangan kayak gini. Aku udah anggap Kak Arwan...”

“Stop, Ra. Aku gak mau dengar. Untuk sekarang kamu cukup diam, karena jawabanmu sekarang tidak cukup adil buat aku. Kamu tunggu aja, aku yang bakal bikin kamu lupa sama dia dan bikin kamu jatuh cinta sama aku.” Ucap Arwan dengan senyuman yang paling manis yang bisa ia tunjukkan.

“Kak…” Suara Sira nyaris hilang, ia tidak tahu harus bagaimana. Pernyataan cinta Arwan menjadi kejutan sekaligus beban untuknya.

“Udah, Ra. Kuatkan hatimu. Kita balik ke dalam, ucapin selamat ke mereka, dan dalam hati katakan kalau kamu siap melupakannya. Karena aku ada di sini buat kamu.” Arwan kembali tersenyum, lalu menarik lengan Sira, memaksanya kembali ke aula pernikahan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    86. Runtuhnya Harapan

    Kekacauan di pesta pernikahan itu berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik. Jeritan Sira membelah keheningan yang mencekam saat tubuh Ibu Mirna merosot ke lantai pelaminan yang dilapisi karpet merah. Wajah wanita tua itu pucat pasi, dengan bibir yang membiru dan napas yang satu-satu."Ibu! Bangun, Bu! Jangan begini, Sira mohon!" Sira memangku kepala ibunya, air matanya jatuh membasahi pipi wanita yang paling ia cintai itu. Tangannya gemetar hebat, ia tidak peduli lagi pada tatapan menghakimi dari puluhan pasang mata kerabatnya yang terus memandang mereka.Di sisi lain, Raina masih belum berhenti. Emosinya yang sudah di puncak gunung membuat nuraninya tertutup. "Bagus! Akting apalagi ini? Apa dengan pura-pura sakit begini kalian pikir aku akan luluh?!" teriak Raina dengan suara parau yang menyayat."RAINA, DIAM!" Gavin membentak dengan suara yang menggelegar, membuat semua orang tersentak.Gavin menatap Sira yang sedang menangis histeris memangku ibunya, lalu menatap Raina yang sud

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    85. Hancur

    Dunia seolah berhenti berputar bagi Gavin tepat setelah Andre mengucapkan kalimat itu. Namun, sebelum ia sempat mencerna kalimat tersebut, seorang perempuan cantik dengan pakaian mewah yang tampak menonjol diantara kerumunan masuk ke tempat acara. Ia menarik perhatian hampir separuh orang yang ada di sana.Ia mengenakan gaun putih tulang yang elegan, namun wajahnya sepucat kapas. Langkahnya tidak stabil, matanya liar mencari sesuatu di antara kerumunan tamu yang tampak asing baginya.Raina benar-benar datang.Sira, yang sejak tadi berdiri kaku di sudut pelaminan, merasa jantungnya seakan dicabut paksa dari rongganya. Ia melihat Raina masuk ke area pesta dengan napas memburu. Seluruh tamu undangan, termasuk Ibu Mirna, menoleh dengan bingung melihat kedatangan wanita cantik yang tampak sangat tidak tenang itu.Pandangan Raina menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti di satu titik. Suaminya ada di sana seperti yang ia sangka, karena saat memarkirkan mobilnya tadi, ia melihat mobi

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    84. Ilusi yang Hampir Sempurna

    Begitu mereka menginjakkan kaki di area resepsi, suasana mendadak riuh. Kehadiran Sira yang menggandeng pria setampan dan semapan Gavin benar-benar mencuri perhatian. Musik dangdut yang tadinya memekakkan telinga seolah menjadi latar belakang saat pasang mata para kerabat dan tetangga tertuju pada mereka. Sira merasakan telapak tangannya dingin. Namun, Gavin seolah tahu kegelisahan itu, ia mengeratkan genggaman jemarinya, menyatukan telapak tangan mereka tanpa celah. "Sira! Ya ampun, ini suaminya?" seru Bibi Sarah, salah satu kerabat yang dikenal paling vokal. "Ganteng sekali, Ra! Pantas saja kemarin nikahnya diam-diam, takut diambil orang ya?" Sira hanya bisa tersenyum kaku. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya mulai berhamburan layaknya peluru. "Kok belum ada resepsi? Kami nunggu lho!" tanya Paman Syarif sambil menepuk bahu Gavin. "Iya nih, tahu-tahu sah saja. Terus, sekarang Sira sudah isi belum? Jangan ditunda-tunda ya, Bibi Mirna sudah pengen nimang cucu itu," timpal keraba

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    83. Genggaman Tangan

    Mobil melaju membelah jalanan pagi yang mulai ramai. Setelah menjemput Ibu Mirna di halte, suasana di dalam kabin mobil yang tadinya sunyi berubah menjadi riuh oleh suara khas seorang ibu yang penuh kecemasan. Ibu Mirna duduk di kursi belakang, matanya tak henti menatap punggung menantunya dan sesekali beralih pada Sira."Gavin, apa kabarmu, Nak? Sehat?" tanya Ibu Mirna, suaranya terdengar lembut namun penuh selidik."Alhamdulillah sehat, Bu," jawab Gavin ramah, sesekali melirik dari spion tengah.Ibu Mirna terdiam sejenak, lalu dengan nada ragu yang kentara, ia melanjutkan pertanyaannya yang membuat Sira seketika menegang. "Gavin... Gimana Sira selama ini? Apa dia sering cerewet dan membuatmu tidak nyaman? Apa dia sering mengganggumu atau membuat masalah? Kalian... benar-benar baik-baik saja, kan?"Mendengar kekhawatiran ibunya yang begitu mendalam, Sira tidak tahan untuk tidak bereaksi. Ia menoleh ke kursi belakang dengan wajah yang tampak lelah."Bu... sudah Sira bilang berkali-kal

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    82. Detak Jantung di Pagi yang Dingin

    Pukul tujuh pagi, embun masih betah menempel di kaca jendela rumah sederhana Sira. Suasana begitu sunyi hingga deru mesin mobil mewah yang berhenti di depan pagar terasa sangat kontras. Sira yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya tidak menyangka bahwa Gavin akan datang satu jam lebih awal dari kesepakatan mereka di telepon semalam.Kamar mandi rumah itu terletak di luar kamar, mengharuskan Sira melintasi ruang tamu untuk bisa kembali ke kamarnya. Sira keluar dengan rambut yang masih basah, hanya berbalut sehelai handuk putih yang melilit tubuhnya hingga sebatas paha.Langkahnya terhenti seketika. Matanya membelalak saat melihat sosok pria jangkung sudah berdiri tegak di tengah ruang tamunya.Gavin mematung. Tatapannya tertancap pada Sira tanpa berkedip sedikit pun. Pemandangan di depannya, istrinya dengan kulit yang masih lembap oleh sisa air, bahu yang polos, dan helai rambut basah yang jatuh di tulang selangka, membuat jantung Gavin berdetak kencang di luar kendali. Darahnya b

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    81. Sandiwara Lagi

    Lelah, akhir pekan ini Sira kira ia akan bisa istirahat dengan tenang. Terutama karena masalah tuduhan itu sudah selesai dan ia sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Tapi masalah baru muncul lagi, malam ini menjadi malam yang penuh dengan kecemasan lagi bagi Sira.Setelah kepulangannya dari kafe bersama Melati, sebuah panggilan telepon dari ibunya, Mirna, benar-benar mengacaukan detak jantung dan pikirannya. Ibunya tiba-tiba meminta atau lebih tepatnya memohon padanya agar ia dan Gavin datang besok untuk menemaninya menghadiri acara pernikahan kerabat dekat ibunya.Sira memandangi layar ponselnya yang gelap dengan tatapan kosong. Ia tahu benar apa maksud di balik permintaan ibunya. Mirna adalah orang yang paling tajam instingnya, ia pasti mulai mencium ada yang tidak beres karena Sira semakin jarang membicarakan Gavin. Apa lagi setelah pernikahannya dengan Gavin, ia tidak pernah muncul berdua diberbagai acara keluarga Sira. Jadi kali ini bagi Mirna, kehadiran mereka berdua besok a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status