Share

75. Pengabaian

Penulis: W.M.G
last update Tanggal publikasi: 2025-12-30 20:55:05

Sore itu, hujan turun rintik-rintik, menciptakan suasana yang semakin kelabu di kediaman Gavin dan Raina. Suara mesin mobil Gavin yang memasuki halaman rumah terdengar seperti dentuman berat bagi pendengaran Raina yang sudah menunggu dengan cemas sejak tadi.

Gavin turun dari mobil dengan gerakan lambat. Bahunya merosot, wajahnya pucat, dan matanya tampak kosong. Ia melangkah masuk tanpa mengucapkan salam, bahkan tidak menyadari keberadaan Raina yang berdiri di dekat ruang tamu.

"Mas? Akhirnya k
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    159. Sisa-Sisa Badai

    Raungan sirene ambulans dan mobil polisi memecah kesunyian gang sempit yang lembap itu secara bersamaan.Cahaya strobo merah dan biru berpendar liar, memantul di dinding-dinding kontrakan kusam yang selama beberapa jam terakhir menjadi saksi bisu sebuah penyekapan yang mengerikan. Namun, bagi Gavin, kebisingan itu hanyalah dengung jauh yang tidak berarti. Dunianya telah menyempit drastis, hanya sebatas tubuh rapuh dalam balutan selimut tebal yang kini berada dalam dekapannya.Begitu pintu belakang ambulans dihempaskan terbuka, Gavin segera membopong Sira dengan langkah yang tergesa namun penuh kehati-hatian. Ia melangkah dengan kaki yang terasa seberat timah, mengabaikan lengan bawahnya yang terluka serta darah yang mulai mengering dan menghitam di kemejanya.Petugas medis mencoba mengambil alih, namun Gavin menolak melepaskan dekapannya. Ia seolah tidak lagi mempercayai siapa pun. Hanya setelah ia sendiri yang meletakkan Sira di atas tandu dan memastikan istrinya aman di dalam kabin

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    158. Hancur dalam Pelukan

    Udara pagi di gang sempit itu mendadak membeku. Baru saja kaki Gavin menyentuh tanah setelah melompat dari mobil, sebuah jeritan melengking terdengar pendek, tajam, dan penuh penderitaan, menyayat kesunyian dari arah dalam kontrakan tanpa pagar itu. Jeritan itu tidak selesai, seolah diputus oleh bungkaman tangan yang kejam."SIRA!" teriak Gavin sekuat mungkin.Dunia Gavin seakan runtuh seketika. Tanpa menunggu Prabu atau Maya, ia berlari menerjang pintu kayu usang itu. Pikirannya tidak lagi mampu memproses logika. Yang ia tahu, suara itu adalah suara istrinya, suara penuh harap ditengah sisa-sisa kekuatannya untuk meminta tolong.Gavin menghantamkan bahunya ke pintu kayu kontrakan yang terkunci rapat. Brak! Pintu itu bergeming. Gavin tidak menyerah. Ia mundur selangkah, mengabaikan rasa nyeri yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya yang bahkan belum sepenuhnya pulih akibat kecelakaan maut beberapa bulan lalu. Tapi baginya, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan dengan ket

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    157. Di Ujung Kegelapan

    Dinding-dinding kayu kontrakan yang sempit itu seolah merapat, menghimpit napas Sira yang kian tersengal. Di dalam kamar yang pengap oleh bau obat-obatan dan kecemasan, suasana berubah menjadi neraka yang nyata. Matahari pagi yang seharusnya membawa harapan, justru menjadi saksi bisu atas horor yang sedang berlangsung di balik pintu terkunci.Andre tidak lagi tersenyum lembut. Topeng orang baik yang ia kenakan sejak kemarin telah retak, menampakkan monster obsesif yang selama ini bersembunyi di balik kacamata dan sikap sopannya. Di tangannya, semangkuk bubur itu bukan lagi simbol perhatian, melainkan alat penyiksaan."Makan, Sira! Aku bilang makan!" geram Andre. Suaranya bukan lagi bisikan, melainkan perintah rendah yang sarat akan ancaman.Sira menggeleng kuat, air matanya membasahi pipi yang kini dihiasi noda lipstik merah yang mulai berantakan akibat gesekan. "Lepaskan aku, Mas Andre... Tolong, jangan begini..."Kemarahan Andre meledak. Ia meletakkan mangkuk itu dengan kasar di ata

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    156. Titik Terang

    Sinar matahari pagi yang mulai terik terasa membakar kulit, namun tak sedahsyat api kegelisahan yang melalap dada Gavin dan Prabu. Keduanya masih tertahan di dalam mobil yang terparkir di depan bistro, dengan mata yang merah akibat tidak tidur semalaman. Prabu sudah mengerahkan seluruh orang kepercayaannya, menghubungi kenalan di kepolisian hingga melacak jaringan komunikasi, namun Andre Wijaya seolah lenyap ditelan bumi bersama Sira."Kalau sampai terjadi sesuatu pada Sira karena kita terlambat... aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," desis Gavin. Tangannya mengepal dengan sangat kuat hingga gemetar.Prabu yang biasanya tenang kini hanya bisa bersandar pada kursi dengan napas berat. "Kita sudah melakukan segalanya. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu satu celah kecil."Tepat pukul delapan tiga puluh pagi, sebuah motor berhenti di depan bistro. Seorang perempuan turun, membuka helm, dan dengan wajah mengantuk mulai merogoh kunci untuk membuka pintu geser resto

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    155. Sang Penyelamat atau Sang Penculik?

    Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden tipis, jatuh tepat di atas kelopak mata Sira yang masih terasa berat. Ia mengerang pelan, merasakan denyut nyeri yang konstan di pelipisnya. Saat ia mencoba menggerakkan tubuh, rasa lemas yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke tulang belakang, seolah-olah seluruh tenaganya telah dikuras habis.Sira perlahan membuka mata. Langit-langit kamar yang ia tatap terasa familiar. Cat putih yang sedikit mengelupas di sudut ruangan, aroma kayu tua yang khas, dan suara kicauan burung dari pohon mangga di luar jendela."Ini... kontrakan?" bisiknya parau.Pikirannya yang masih berkabut mencoba memutar kembali kaset memori yang berantakan. Ingatan terakhirnya adalah bau disinfektan rumah sakit yang tajam, lampu neon yang dingin, dan kehadiran Gavin. Ia ingat tangan Gavin yang membelai kepalanya, ia ingat kecupan di pipinya, dan ia ingat rasa hangat yang sempat singgah di hatinya. Tapi, kenapa sekarang ia ada di sini? Di rumah kontrakan

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    154. Sebuah Obsesi

    Malam semakin larut, di sebuah kamar yang tersembunyi jauh dari kebisingan kota, keheningan terasa begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman jantung yang gelisah. Sira terbaring lemah di atas ranjang berukuran kecil. Wajahnya yang biasanya berseri kini tampak pucat. Ia tidak benar-benar tidur, kondisinya lebih mirip dengan seseorang yang kehilangan kesadaran akibat kelelahan luar biasa dan trauma fisik yang baru saja dialaminya. Daster pendek berwarna kuning dengan lengan sejari membalut tubuh ringkihnya, menggantikan pakaian rumah sakit yang kaku dan berbau disinfektan. Rambut hitamnya yang panjang tergerai indah di atas bantal putih. Di tepi ranjang, Andre duduk membeku. Matanya tidak lepas dari wajah Sira, seolah-olah ia sedang menjaga harta karun yang paling berharga sekaligus rapuh. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah lipstik berwarna merah darah. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, seolah sedang melukis di atas kanvas yang bisa

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    102. Di Antara Sunyi dan Penantian

    Sudah lebih seminggu berlalu sejak tanah merah di pemakaman kampung itu memeluk jasad Ibu Mirna. Bagi dunia, satu minggu adalah waktu yang singkat untuk melupakan sebuah berita duka. Namun bagi Sira, setiap detiknya terasa seperti tetesan air yang perlahan melubangi batu karang pertahanannya. Har

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    99. Cinta Yang Disembunyikan

    Lampu sorot mobil mewah milik Prabu membelah kepekatan malam, menyapu deretan pohon karet dan persawahan yang mulai tertinggal jauh di belakang. Di dalam kabin, suasana begitu hening hingga suara napas teratur Dinda dan Lisa yang terlelap di kursi tengah terdengar jelas. Sira menyandarkan kepalanya

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    96. Penyesalan

    Cahaya matahari pagi yang pucat menyusup melalui celah tirai ruang perawatan VVIP Rumah Sakit Medika Utama. Ruangan itu luas, beraroma disinfektan yang tajam bercampur dengan harum bunga lili yang diletakkan di sudut meja. Namun, kemewahan itu tidak mampu mengusir ketegangan yang menggantung di uda

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    94. Pengakuan di Ambang Badai

    Malam semakin larut, dan dinginnya udara taman rumah sakit seolah menembus hingga ke tulang. Setelah Prabu selesai menempelkan plester di pipinya dengan penuh kelembutan dan menghiburnya dengan lelucon konyol—sebuah tindakan yang membuat Sira merasa begitu kecil sekaligus begitu dilindungi—hening k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status