로그인Sore itu, semburat jingga dari ufuk barat mulai mengintip masuk ke dalam ruang perawatan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding. Di atas ranjangnya, Sira masih terbaring miring, memunggungi sisi tempat tidur, tempat suaminya biasa duduk. Pikirannya dipenuhi awan kelabu. Seharian ini ia hanya ditemani Tante Rita. Gavin menghilang tanpa kabar sejak pagi buta, tepat setelah Prabu membawanya pergi ke kantin. Ada rasa sesak yang kekanak-kanakan di dada Sira. Di tengah kerapuhannya, ia merasa takut akan ditinggalkan lagi setelah janji manisnya semalam. Ia tidak tahu bahwa sepanjang hari itu, Gavin sedang bertarung dengan tumpukan dokumen di kantor pengacara dan menghadapi kemarahan keluarganya demi satu tujuan, menyelesaikan perceraiannya dengan Raina secepat mungkin. Suara pintu yang terbuka pelan tidak membuat Sira bergeming. Ia mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali, namun ia tetap memilih untuk menatap tembok putih di depannya. "Assalamualaikum, suamimu d
Suasana kantin rumah sakit pagi itu tidak terlalu ramai, namun dengung suara mesin kopi dan denting sendok menciptakan latar belakang yang pas untuk percakapan berat antara Gavin dan Prabu. Setelah Tante Rita datang untuk menjaga Sira, Prabu memberikan isyarat kepada Gavin untuk mengikutinya. Ada beban yang harus segera dilepaskan agar tidak menjadi duri di masa depan. Gavin duduk di hadapan Prabu, menatap cangkir kopi hitamnya yang mengepulkan uap. Prabu memulai dengan kabar mengenai hukum untuk Andre. "Andre Wijaya tidak akan lepas begitu saja," buka Prabu dengan nada dingin yang biasa ia gunakan dalam negosiasi bisnis. "Aku sudah menugaskan tim hukum terbaik. Dengan bukti penculikan, penganiayaan, dan paksaan medis, dia akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Aku juga akan memastikan dia kehilangan segalanya." Gavin mengangguk pelan. "Terima kasih, Prabu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada di sana semalam." Hening sejenak. Gavin menatap buih yang
Sira duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit yang ditinggikan. Setelah gejolak mual di kamar mandi mereda, fokusnya kembali tertuju pada perban putih yang melilit lengan kiri Gavin. Dengan gerakan yang sangat perlahan, ia mengulurkan jarinya, menyentuh tepian luka itu seolah-olah rasa sakitnya bisa berpindah jika ia menyentuhnya cukup lembut. Ia mendongak, menatap mata Gavin dengan pandangan yang dalam dan penuh selidik. Meski bibirnya terkatung dalam kebisuan, sorot matanya bicara lebih keras dari kata-kata apa pun. "Apa kamu baik-baik saja? Lukamu pasti sakit sekali?" Gavin terdiam sejenak, tenggelam dalam samudera kekhawatiran yang terpancar dari mata istrinya. Ia meraih tangan Sira yang baru saja menyentuh lukanya, lalu menarik kursi untuk duduk tepat di hadapan Sira. "Aku baik-baik saja, Ra. Ini tidak sakit. Jangan khawatirkan aku," ucap Gavin dengan suara rendah yang menenangkan. Ia memberikan seulas senyum tulus, jenis senyum yang sudah bertahun-tahun tidak ia tunjukkan
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya pendingin ruangan rumah sakit. Sira terbangun lebih dulu. Kesadarannya kembali perlahan, namun kali ini tanpa sentakan ketakutan seperti semalam. Perasaanya sudah lebih tenang, dan hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat yang menindih jari-jarinya.Gavin.Lelaki itu tertidur dengan posisi yang pasti sangat tidak nyaman, duduk di kursi dengan kepala bersandar di tepi ranjang. Sira memandangi wajah suaminya dalam diam. Gurat kelelahan tercetak jelas di sana, lingkaran hitam di bawah mata dan dahi yang bahkan dalam tidur pun tampak berkerut gelisah.Sira menarik tangannya perlahan, berusaha tidak membangunkan Gavin. Matanya kemudian tertuju pada lengan kiri Gavin yang tergeletak di atas sprei. Kemeja hitam yang dikenakan suaminya tampak robek di bagian bahu hingga siku. Ada noda darah kering yang tersamar oleh warna gelap kainnya, namun yang paling mencolok adalah perban p
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian di dalam ruang perawatan itu. Sira akhirnya kembali tertidur, kelelahan setelah badai trauma yang menguras seluruh tenaganya. Namun, meski dalam lelap, jemari kecilnya masih menggenggam erat telapak tangan Gavin. Cengkeramannya begitu kuat, seolah-olah jika ia melonggarkan genggaman itu sedetik saja, Gavin akan meninggalkannya dan Andre akan muncul dari kegelapan untuk menyeretnya kembali ke neraka.Gavin tertegun menatap tangan mereka yang bertaut. Ia bisa merasakan sisa-sisa getaran di tangan Sira. Hatinya perih, seperti disiram cuka di atas luka yang menganga."Penderitaan apa saja yang sudah kamu alami, Sira... hingga kamu bahkan takut untuk bicara?" bisik Gavin pelan, suaranya pecah di udara yang dingin.Air mata yang tadinya sempat mengering kini kembali mengalir, jatuh satu per satu membasahi sprei rumah sakit. Gavin menunduk, menempelkan keningnya pada punggung tangan Sira. Di bawah temaram lampu nakas, Gavin mulai merapal rentetan pen
Malam merayap masuk melalui celah jendela rumah sakit, membawa kesunyian yang menyakitkan. Lampu ruangan diredupkan, hanya menyisakan temaram yang jatuh tepat di atas wajah Sira. Gavin tidak bergerak sedikit pun dari posisinya sejak siang tadi. Ia duduk di kursi di samping ranjang, membungkuk dengan punggung yang kaku, seolah-olah jika ia berkedip, Sira akan lenyap lagi dari pandangannya.Tangan kanannya menggenggam jemari Sira yang tidak terpasang infus. Genggamannya tidak terlalu kuat agar tidak menyakiti, namun cukup erat untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan melepaskannya lagi. Sementara itu, jemari tangan kirinya yang gemetar bergerak perlahan, hampir tidak menyentuh kulit, saat menyusuri pipi Sira yang mulai membiru.Ada memar yang kontras di kulit pucat itu. Di ujung bibir Sira, terdapat luka kecil yang mengering, jejak kekerasan yang ditinggalkan Andre. Bajingan itu pasti sempat menamparnya saat Sira mencoba melawan. Setiap kali mata Gavin terpaku pada luka itu, hatinya sepert
Ruangan itu seakan kehilangan oksigen saat nama itu terucap dari bibir Sira. Melati mematung, matanya mengerjap berkali-kali seolah sedang memproses sebuah teka-teki rumit yang mustahil."Gavin... Pak Gavin? Kepala sekolah kita?" tanya Melati dengan suara yang hampir tidak keluar. "Tapi ..., tapi d
Sore itu, langit di atas rumah Sira tampak mendung, seolah-olah awan ikut berduka atas badai yang menghantam penghuninya sejak fajar tadi. Suasana di dalam rumah masih terasa mencekam, meski Prabu sudah lama pergi.Ketukan pelan di pintu menyadarkan Sira dari lamunannya. Di ambang pintu, berdirilah
Ruang tamu yang pintunya dibiarkan terbuka itu terasa sangat dingin, meski matahari pagi mulai merangkak naik. Prabu Sagara masih terdiam, menyandarkan punggungnya pada sofa sambil memijat pelipisnya. Informasi yang baru saja ia dengar bukan sekadar kejutan, itu adalah sebuah hantaman kenyataan yan
Waktu seolah tak pernah memberi ruang bagi Sira dan Gavin untuk menuntaskan luka dan pembicaraan mereka. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Suara klakson kendaraan yang mulai ramai di luar sana mengingatkan Gavin bahwa dunia sudah memulai harinya.Gavin masih berdiri terpaku, menatap Sir







