LOGINSudah satu minggu lebih, tapi ucapan Zalina terus terbayang di dalam kepalanya. Zalina tidak salah, memang memori masa lalunya adalah alasan kenapa ia tidak bahagia selama lima tahun menikah dengannya.Tentu saja yang jadi masalahnya adalah Naradhiya.Bahkan senyum yang sekarang terpatri di bibir istrinya seperti sebuah belati yang menyayat hatinya. Sejak Zalina pulih, rumah tangga mereka di awali dengan kebohongan, dan lagi-lagi dirinya yang memulai meski tidak sepenuhnya. Namun tetap saja rasa bersalah selalu terbayang di dalam kepalanya.“Mas?”Naradhiya mengerjapkan matanya, ia menyunggingkan senyum tipis, menatap Zalina yang tampak cantik dalam balutan dress sederhana dan penutup kepalanya.“Ya, Sayang?”“Kamu melamun dari tadi. Makanan kamu belum disentuh sama sekali,” kata Zalina sembari melirik pecel di piring Naradhiya yang masih utuh dan belum tersentuh sama sekali.Naradhiya hanya tersenyum tipis, ia mengulurkan tangannya mengelus pipi Zalina lembut. “Kamu cantik sekali, a
Zalina masih menunggu, mencuri dengar obrolan yang sepertinya cukup serius. Meski seharusnya ia tidak menguping seperti ini, tapi informasi yang ia dapat tadi cukup bermanfaat.“Mengabaikan? Apa sebelum aku kecelakaan?” gumam Zalina pelan.Beberapa orang melirik ke arahnya curiga, Zalina mengangguk pelan sembari tersenyum tipis berusaha tidak terlihat mencolok. Ia merapatkan diri ke pintu, melebarkan telinganya berusaha mencuri dengar obrolan suaminya.“Kamu masih aja bahas itu, Na.”“Akan aku bahas sampai dia menyesal seumur hidup. Kalau kalian nggak sekongkol menutupi fakta tentang Azalea, aku nggak mungkin bersikap dingin pada Zalina selama lima tahun pernikahan kami,” balas Naradhiya.Zalina menegang.Azalea.Nama itu entah kenapa terdengar tidak asing. Sekelebat bayangan tentang pertengkaran Naradhiya dan teman-tema lelaki itu yang ada di mimpinya, tiba-tiba muncul begitu saja.Nama itu yang mereka sebut ketika berdebat, dan kali ini buka di dalam mimpi, tapi benar-benar didenga
“Nakara?”Pemuda itu menarik kursi tengah lalu duduk di sana, menatap Zalina dan Arash bergantian. Begitu melihat wajah tegang temannya, Nakara tidah mengalihkan tatapannya dari temannya itu.Arash langsung memalingkan mukanya, Nakara masih diam mengamati dengan kerutan di keningnya.“Canggung banget,” gumam Nakara sarkas, lalu menoleh pada Zalina. “Kamu ngapain di sini, Mbak? Mas Nara tau?” Zalina menggelengkan kepalanya pelan. “Mbak nyari kamu.” Zalina berbohong, tapi sepertinya ia sudah mengantisipasi agar adiknya tidak curiga. Nakara mengerutkan keningnya, tapi begitu Zalina mengeluarkan kotak bekal dan meletakkan di atas meja wajahnya melunak.“Ya ampun, ngapain sih? Kayak anak SD aja,” cibirnya tapi tetap menarik kotak bekal tersebut. “Jangan lama-lama di luar, Mbak. Nanti Mas Nara nyariin Mbak.”Zalina menganggukkan kepalanya, ia berdiri dari duduknya. Baru saja akan melangkah, Arash menahannya.“Mbak,” panggilnya membuat Zalina menoleh.“Ya?”“Ayo saya antar.”Zalina dan Nak
“Anak?”Naradhiya menganggukkan kepalanya. “Kamu pernah pasang kb, gimana kalau dilepas saja?”Zalina jadi panik sendiri. “Ma-Mas, memangnya dokter sudah mengizinkan?” tanyanya gugup.Bukan soal dirinya sudah tidak menginginkan anak lagi, tapi ia masih berusaha memahami suaminya. Belum lagi ia masih ingin tahu sejauh mana suaminya akan serius untuk memperbaiki hubungan mereka.Juga … tentang wanita yang katanya disebut dalam tidur suaminya.Ia menatap Naradhiya yang terdiam, lalu mengangguk pasrah. “Nanti kita konsultasi lagi pas kontrol, ya.”Zalina hanya menganggukkan kepalanya, memilih kembali memejamkan matanya menikmati sensasi sentuhan Naradhiya yang menenangkan.***“Mbak Zalina?”Zalina tersenyum melihat keterkejutan Arash ketika melihat dirinya berdiri di dekat mobilnya. Ia cukup mengingat mobil Arash yang muncul dalam mimpinya. Pemuda itu mendekat, celingukan mencari orang lain yang mungkin datang bersama wanita yang sempat hilang arah itu.“Mbak cari Nakara? Dia baru saja
“Za, apa maksud kamu?” tanya Naradhiya heran mendengar pertanyaan Zalina yang membuatnya seperti tersambar petir.“Kenapa kamu ….”“Kenapa kamu tanya lagi, Za? Aku sudah bilang kalau aku akan memperbaiki semuanya, hubungan kita rumah tangga kita,” kata Naradhiya lalu meraih tangan Zalina dan menggenggamnya erat. “Kamu ingat sesuatu, Sayang?”Zalina sempat terdiam lama, ada rasa hangat dalam dadanya. Yang ia ingat, Naradhiya tidak pernah bersikap sehangat ini sebelumnya. Panggilan sayang?Mungkin biasa ia dengar ketika baru bangun dari koma dan tidak mengingat apa pun. Tapi setelah mimpi barusan, rasanya sangat berbeda. Ada yang membuncah dalam dadanya, seperti kembang api meletup di perutnya.Zalina menggeleng pelan. “Aku cuma ….”Belum sempat Zalina meneruskan ucapannya, Naradhiya sudah memeluk tubuhnya erat. Lelaki itu menjatuhkan wajahnya di ceruk leher istrinya, menghidu aroma tubuh Zalina yang selalu menjadi candu meski tidak pernah ia katakan sebelumnya.“Apa pun itu, jangan ja
Menyebut nama perempuan lain?Zalina menoleh pada Naradhiya yang duduk di meja kerjanya sedangkan dirinya rebahan di atas ranjang. Bi Sumi sedang memijat kakinya, membuat ototnya sedikit merasa rileks meski ucapan Brian terus berputar dalam kepalanya.Siapa perempuan itu?Mas Naradhiya selingkuh?Tapi siapa?“Mbak Za?”Panggilan Bi Sumi membuat kesadaran Zalina kembali. “Iya, Bi?”“Mas Nara tanya, apa Mbak Za mau makan buah?”Zalina mengangkat kepalanya, menatap Naradhiya yang juga sedang memandanginya dengan kening berkerut. Wajahnya tampak serius, namun Zalina malah sedang mencari sesuatu di sana. Mata yang menatapnya begitu tulus, ternyata masih menyimpan kebohongan.Akhirnya ia menggeleng pelan. “Nggak, Bi. Saya kenyang,” jawab Zalina sambil mengalihkan tatapannya dari Naradhiya Bi Sumi mengangguk sopan, lalu berpamitan setelah merapikan handuk kecil dan minyak pijat ke dalam keranjang. Naradhiya bangkit dari kursi kerjanya, mengantar wanita paruh baya itu sampai ke ambang pintu.







