Zalina mematung, ia melihat bagaimana suaminya dengan telaten membersihkan tubuhnya. Menyeka tangannya yang terluka di beberapa sisi, lalu berpindah ke kakinya.Harusnya, pagi-pagi sekali Naradhiya sudah ke kantor, bukannya malah mengurusnya yang masih koma di sana. Sesekali Naradhiya mengelus rambutnya, lalu berpindah ke pipi.“Aku nggak ke kantor, Za,” katanya sembari memegang tangan Zalina erat. “Khusus hari ini dan seterusnya, aku akan menemani kamu di sini.”Dulu, Naradhiya tidak pernah menatapnya seperti itu, bahkan ketika mereka di atas ranjang melakukan hubungan suami istri. Tapi sekarang, tatapan yang selalu Zalina tunggu justru datang ketika ia tidak bisa lagi membalasnya.Ironis.Zalina ingin sekali tertawa, tetapi yang keluar justru air mata. “Kenapa baru sekarang, Mas?”Naradhiya tentu tidak menjawab. Ia bahkan tidak mungkin mendengar pertanyaan itu. Zalina mendekat, berdiri tepat di samping ranjang. Tangannya mencoba menyentuh wajah Naradhiya, tetapi tangannya hanya mene
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-19 อ่านเพิ่มเติม