LOGINLima tahun menikah, Zalina tak pernah sekalipun merasakan cinta dari Naradhiya hingga akhirnya ia memutuskan untuk bercerai. Namun sebuah kecelakaan membuat Zalina berada di ambang kematian, dan untuk pertama kalinya ia melihat suaminya begitu takut kehilangan dirinya. Jika selama ini Naradhiya memang tidak mencintainya, lalu mengapa lelaki itu rela melakukan apa pun demi membuat Zalina tetap hidup?
View More“Pasien di ruang tiga belas ... jantungnya sempat berhenti dua kali malam tadi.”
Bisikan dua perawat itu menjadi hal pertama yang menyentuh kesadaran Zalina yang perlahan kembali. Ia membuka mata.
Ruangan serba putih di sekelilingnya terasa dingin dan asing, seolah bukan miliknya. Zalina menoleh, mencari sumber suara. Namun begitu pandangannya jatuh ke ranjang di tengah ruangan, tubuhnya membeku seketika.
Seorang wanita terbaring di sana. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan pecah-pecah, selang oksigen menempel di hidungnya, rambut panjangnya berantakan di atas bantal.
Itu wajahnya sendiri.
Zalina berdiri mematung di sudut ruang ICU, tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin dia bisa berdiri di sini, sementara tubuhnya sendiri terbaring tak berdaya di sana?
“Sudah hubungi keluarganya?” tanya dokter kepada perawat di sampingnya.
Perawat itu menggeleng. “Sudah, Dok. Katanya suaminya akan datang setelah pekerjaannya selesai.”
Dokter itu menghela napas panjang, seakan sudah menduga jawaban tersebut.
Sementara Zalina, meski masih kebingungan, mulai bisa merangkai apa yang terjadi.
Beberapa jam lalu, ia masih berada di dalam mobil, menuju pengadilan untuk menghadiri sidang putusan cerainya dengan Naradhiya.
Lima tahun menikah, dan selama itu pula cukup untuk mengajarkan satu hal padanya, bahwa ia tidak pernah benar-benar ada di mata suaminya sendiri.
Rapat, perjalanan bisnis, urusan perusahaan, semuanya selalu menang darinya. Bahkan ulang tahunnya sendiri pun tidak pernah diingat Naradhiya tanpa diingatkan lebih dulu.
Dulu, Zalina selalu mencari alasan untuk memaklumi semua perilaku suaminya.
Mungkin suaminya hanya sedang sibuk. Mungkin nanti akan berubah. Mungkin, kalau Zalina lebih sabar sedikit lagi, lebih pengertian, lebih banyak mengalah, suatu hari nanti Naradhiya akan menyadari keberadaannya.
Tapi lama-lama dia sadar, bukan waktu yang tidak dimiliki Naradhiya untuknya. Pria itu memang tidak pernah mau menyisakan waktu untuknya.
Dan sekarang, bahkan ketika nyawanya berada di ujung tanduk, pekerjaan itu tetap menang.
Ada sesuatu yang terasa lucu sekaligus menyakitkan dari kenyataan itu. Selama ini, Zalina selalu berharap suatu hari Naradhiya akan memilihnya. Namun ternyata, bahkan di ambang kematian pun, dia masih harus menunggu pria itu selesai dengan urusannya terlebih dahulu.
“Coba hubungi keluarganya yang lain juga,” lanjut dokter. “Kondisinya begini, kalau tiba-tiba perlu tindakan darurat, kita butuh persetujuan wali.”
“Baik, Dok.”
Zalina hanya bisa diam.
Setelah semua yang dilaluinya, dia bahkan tidak sempat melihat sendiri bagaimana pernikahan itu berakhir. Tidak ada kesempatan terakhir untuk menatap wajah Naradhiya dan mengatakan bahwa dia sudah tidak sanggup lagi.
Dan kini, Zalina berdiri di sini, menatap tubuhnya sendiri seperti menatap orang asing.
Perlahan, Zalina melangkah mendekat. Tangannya terulur hendak menyentuh jemari yang terkulai lemas di atas selimut biru rumah sakit.
Namun tangannya menembus begitu saja, seperti udara. Zalina mematung.
“Apa aku sudah mati?” gumamnya bingung.
Suaranya terdengar begitu pelan hingga hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri.
Monitor di samping ranjang terus berbunyi teratur. Garis hijau yang naik turun itu menjadi satu-satunya bukti bahwa tubuh tersebut masih bertahan, entah untuk berapa lama.
Zalina menatapnya lama. Dia tidak tahu lagi mana yang lebih menyakitkan, sudah mati, atau masih hidup tetapi terlepas dari raganya sendiri.
“Kalau aku memang sudah mati...” bisiknya, matanya tetap tertuju pada tubuhnya. “Kenapa aku masih di sini?”
“Halo?” panggilnya pelan, mencoba peruntungan. “Ada yang bisa dengar aku?”
Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Tentu saja tidak ada.
Zalina tertawa kecil, tetapi suara yang keluar justru terdengar seperti isakan yang tertahan. Lucu sekali. Bahkan setelah mati pun, dia masih tidak mendapatkan jawaban dari siapa pun.
Aneh rasanya. Dulu, di rumah pun dia sudah terbiasa tidak dianggap ada oleh suaminya.
Sekarang, ketidakberadaan itu menjadi benar-benar nyata.
Zalina akhirnya duduk di kursi tunggu tak jauh dari ranjangnya. Entah sudah berapa lama dia berada di sana. Waktu terasa merangkak pelan ketika tak ada satu pun hal yang bisa dia lakukan selain menunggu.
Sudah tengah malam, dan Zalina masih berada di sana ketika suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Dia mengangkat kepala.
Seorang pria berjalan mendekat.
Langkahnya tidak tergesa, tetapi juga tidak terlihat seperti orang yang berniat lama-lama berada di tempat ini.
Naradhiya.
Kemeja putihnya sedikit kusut, jas gelap tersampir di satu lengan, tas kerja masih tergenggam di tangan yang lain. Wajahnya lelah, sama persis seperti ketika lelaki itu pulang lembur setelah seharian menghabiskan waktu di kantor.
Zalina menatapnya tanpa berkedip.
Seharusnya hari ini mereka bertemu di ruang sidang perceraian. Seharusnya siang tadi, Naradhiya mengucapkan talak dan mereka akhirnya resmi berpisah setelah lima tahun pernikahan yang tidak pernah benar-benar terasa seperti pernikahan.
Zalina seharusnya sudah menjadi mantan istrinya sekarang.
Namun pria itu justru datang ke rumah sakit, dengan wajah yang masih sama datarnya seperti biasa.
Naradhiya berhenti tepat di depan kaca ICU.
Zalina bangkit dari kursinya dan mendekat ke arahnya. Ada harapan kecil yang tiba-tiba muncul, entah dari mana. Harapan yang bahkan membuatnya kesal pada dirinya sendiri.
Dia berharap Naradhiya akan panik. Berharap pria itu akhirnya menunjukkan sesuatu yang membuktikan bahwa selama ini dia tidak sepenuhnya salah telah mencintainya.
Paling tidak, dia ingin melihat penyesalan di wajah itu.
Namun, Naradhiya hanya berdiri di sana, menatap tubuh Zalina di balik kaca dengan wajah datar, seolah wanita yang terbaring tak berdaya itu hanyalah seseorang yang kebetulan dikenalnya.
Zalina menunggunya menunjukkan sesuatu, tetapi tidak ada yang berubah dari wajah pria itu. Senyum getir pun perlahan muncul di bibirnya.
“Ternyata, aku memang nggak pernah penting untukmu.”
Bukan karena baru menyadarinya malam ini. Selama lima tahun, dia sudah terlalu sering merasa ditinggalkan demi pekerjaan, hanya saja terlalu keras kepala untuk mengakuinya.
Tak lama kemudian, kedua orang tuanya datang dengan wajah basah oleh air mata. Ibunya langsung menangis ketika melihat kondisi putrinya dari balik kaca.
“Zalina, kalau kamu memang sudah lelah, Mama dan Papa ikhlas, Nak. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bertahan. Maafkan kami. Pergilah dengan tenang.”
Zalina terdiam. Kalimat itu seharusnya menenangkan, tetapi justru membuatnya sadar bahwa bukan hanya dirinya yang sudah menyerah. Orang tuanya pun telah bersiap melepaskannya setelah melihat bagaimana pernikahan itu perlahan menghabiskan dirinya.
Dia menoleh ke arah Naradhiya, menduga pria itu akan mengatakan hal serupa. Namun, yang terdengar justru sebaliknya.
“Saya tidak akan melepaskan Zalina.”
Zalina membeku.
“Saya akan cari pengobatan terbaik untuknya. Kalau perlu, bawa dia berobat ke luar negeri sekalipun. Berapapun biayanya, saya yang tanggung. Selama masih ada satu persen saja kesempatan untuk menyelamatkannya, saya tidak akan menyerah.”
Zalina menatapnya tanpa berkedip, kepalanya dipenuhi satu pertanyaan yang tak kunjung terjawab.
Bukankah selama ini dia tidak pernah benar-benar dianggap ada?
Lalu kenapa sekarang, justru pria itu yang paling keras kepala untuk tidak melepaskannya?
“Hai.”Arash tersenyum lebar, memberikan bungkus plastik permen kapas pada Zalina.“Ingat nggak, Mbak? Kamu pernah minta ini pas koma, tapi kamu nggak bisa makan jadi kamu minta aku kasih ke ibumu,” kata Arash berusaha mengingatkan kembali pada saat Zalina koma dan tentu saja kenangan itu hanya miliknya dan wanita itu.Zalina hanya tersenyum tipis, menerima uluran permen itu dan menyimpannya di sebelahnya lalu menoleh pada Arash yang duduk di sebelahnya. Pagi tadi, Zalina mengirimnya pesan dan meminta untuk bertemu, tentu saja setelah mendapatkan izin dari Naradhiya.Ia merasa harus menyelesaikan ini. Selain karena Arash yang terus mengatakan dirinya memiliki hutang, juga tentang ingatan Zalina yang muncul tiba-tiba. Wajah Arash pernah ia lihat sebelumnya, entah di mana, tapi jelas bukan dalam mimpinya ketika dirinya mengalami tidur panjang di rumah sakit.“Suamimu nggak cemburu, Mbak?” tanya Arash menatap Zalina yang fokus ke depan.Cantik.Wanita itu memakai riasan tipis, wajah cera
“Za.”Naradhiya mendesah berat begitu melihat Zalina yang masuk begitu saja ke dalam kamar begitu sampai di rumah. Pertanyaan di mobil tadi bahkan belum sempat ia jawab, tapi sepertinya Zalina sudah menyimpulkan sendiri jawabannya.Naradhiya membuka pintu kamar, rasanya ikut sakit melihat Zalina yang berdiri di dekat jendela dengan tatapan kosong. Bahunya merosot, ia mendekat, lalu berdoro tepat di belakang Zalina. Dadanya menempel pada punggung wanita itu.Sesaat ia sadar kalau Zalina tengah menangis.“Za, aku sudah bilang ….”“Mas kenapa dulu aku memutuskan untuk menunda kehamilan?” tanya Zalina, padahal ia sudah tahu jawabannya karena ia sudah mengingatnya.“Maafkan aku, Za.”Zalina membalikkan badan, ia tidak menatap Naradhiya. Kepalanya menunduk, menatap kakinya yang berada di antara kedua kaki lelaki di depannya.“Kamu belum jawab, Mas.”“Soal?” tanya Naradhiya.“Apa kalau aku nggak bisa hamil, kamu akan menceraikanku?” Zalina mengulang pertanyaannya di mobil tadi.Naradhiya men
“Mama dan papa datang?”Zalina menganggukkan kepala seraya mengambil jas dan tas Naradhiya lalu membawanya masuk ke dalam rumah dan menyampirkan di atas sofa ruang tengah. Ia ke dapur, mengambil segelas air, lalu memberikan pada suaminya.“Iya.”“Mereka ada bilang sesuatu?” tanya Naradhiya penasaran.Meski ia yakin kedua orang tuanya tidak akan mengatakan sesuatu yang menyakiti Zalina, tapi tetap saja ada rasa khawatir dalam dadanya. Zalina masih dalam kondisi psikis yang belum benar-benar pulih dan ia takut ada kata-kata dari orang tuanya yang menyakiti Zalina.“Ada, Mas,” jawab Zalina kembali menerima sodoran gelas dari Naradhiya dan meletakkan di atas meja.Wanita itu mendekat, melepas dari suaminya dengan pelan. Naradhiya menunduk, hidungnya menempel pada ujung kepala Zalina. Ia bisa mencium aroma sampo istrinya, sampai akhirnya ia mencium kepala zalina lembut.“Apa?”Zalina menyelipkan tangannya di pinggang Naradhiya. “Cucu, mama dan papa minta cucu.”Naradhiya terdiam sejenak, l
“Berhenti bertingkah dan ikuti kemauan Papa. Kami sudah menyelamatkanmu, Arash. Kalau bukan karena Papa, kamu sudah mendekam di penjara!”Arash tersenyum sinis. “Kalau itu bisa menebus rasa bersalahku, aku nggak masalah.”“Dan membiarkan mamamu mati? Kamu pikir siapa yang membuat dia sakit jantung sampai dirawat di rumah sakit?”Arash tidak mampu menjawab, jika sudah menyangkut ibunya ia akan kalah telak. Satu-satunya orang yang membuatnya bertahan di dalam rumah itu dan membuatnya menjadi boneka untuk lelaki di depannya ini. Bahkan ada harga yang harus dikorbankan untuk semua yang pria itu lakukan untuknya.Pria itu tersenyum sinis. “Jangan membangkang. Ikuti kemauan papa, kamu akan menjadi penerus keluarga ini, Rash.”“Menjadi penjilat dan pengkhianat?” Arash tampak tidak gentar.“Memangnya apa lagi? Kamu bisa hidup mewah karena ini semua, fasilitas yang kamu nikmati adalah hasil kerja keras papa. Jadi, jangan berisik karena kamu sama saja seperti Papa.”Arash mengepalkan tangannya.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore