Aku Kembali Sebelum Bercerai

Aku Kembali Sebelum Bercerai

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-06-17
โดย:  Mumtaza wafaยังไม่จบ
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
5บท
9views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Lima tahun menikah, Zalina tak pernah sekalipun merasakan cinta dari Naradhiya hingga akhirnya ia memutuskan untuk bercerai. Namun sebuah kecelakaan membuat Zalina berada di ambang kematian, dan untuk pertama kalinya ia melihat suaminya begitu takut kehilangan dirinya. Jika selama ini Naradhiya memang tidak mencintainya, lalu mengapa lelaki itu rela melakukan apa pun demi membuat Zalina tetap hidup?

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

ICU

“Pasien di ruang tiga belas ... jantungnya sempat berhenti dua kali malam tadi.”

Suara bisik-bisik dua perawat menjadi hal pertama yang didengar Zalina ketika kesadarannya perlahan kembali. Ia membuka mata dan mendapati dirinya berada di sebuah ruangan serba putih yang terasa begitu asing.

Zalina menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari sumber suara. Namun, begitu pandangannya jatuh pada ranjang di tengah ruangan, tubuhnya seketika membeku.

Di atas ranjang itu, terbaring seorang wanita dengan wajah pucat, bibir kering dan pecah-pecah, selang oksigen terpasang di hidung, serta rambut panjang yang berantakan di atas bantal.

Itu wajahnya sendiri.

Zalina berdiri mematung di sudut ruang ICU. Entah bagaimana, dia bisa melihat tubuhnya sendiri dari luar sana.

“Sudah hubungi keluarganya?” tanya dokter itu kepada perawat yang ada di sebelahnya.

Perawat itu menggelengkan kepalanya. “Sudah, kata suaminya nanti akan datang setelah pekerjaannya selesai.”

Dokter itu hanya menghela napas. Sementara itu, Zalina yang masih sedikit kebingungan akhirnya bisa sedikit menangkap apa yang terjadi padanya.

Beberapa jam yang lalu, Zalina masih berada di dalam mobil. Dia sedang dalam perjalanan menuju pengadilan untuk menghadiri sidang putusan perceraiannya dengan Naradhiya, suaminya.

Lima tahun pernikahan membuat Zalina terbiasa dengan satu kenyataan pahit. Naradhiya tidak pernah benar-benar menganggap dirinya ada.

Pria itu selalu sibuk dengan pekerjaan. Rapat, perjalanan bisnis, urusan perusahaan, dan berbagai hal lain selalu lebih penting daripada dirinya. Bahkan untuk sekadar mengingat ulang tahun istrinya sendiri, Naradhiya tidak pernah merasa perlu melakukannya.

Zalina sudah berkali-kali mencoba memahami. Berkali-kali pula dia meyakinkan dirinya bahwa Naradhiya hanya terlalu sibuk.

Namun, lama-kelamaan, dia sadar bahwa masalahnya bukan karena Naradhiya tidak punya waktu.

Pria itu memang tidak pernah menyisakan waktu untuknya.

Dan sekarang, dalam kondisi Zalina yang di ujung kematian pun pria itu masih lebih mementingkan pekerjaannya.

“Hubungi keluarganya yang lain, dengan kondisinya yang seperti ini, khawatirnya perlu tindakan mendadak yang perlu persetujuan wali terlebih dahulu,” ujar sang dokter lagi.

“Baik, Dok.”

Zalina bergeming. Setelah semua yang terjadi, sayangnya dia bahkan tidak sempat melihat akhir dari pernikahan itu.

Dalam perjalanan menuju pengadilan, mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Setelah itu, Zalina tidak lagi mengingat apa pun.

Dan sekarang, dia berdiri di sini. Menatap tubuhnya sendiri yang terbaring tak berdaya.

Zalina perlahan berjalan mendekati ranjang. Tangannya terulur, berniat menyentuh jemari yang terkulai lemas di atas selimut biru rumah sakit.

Namun, tangannya justru menembus begitu saja.

Zalina terdiam. “Apa aku sudah mati?”

Monitor di samping ranjang terus berbunyi teratur, memperlihatkan garis hijau yang naik turun. Satu-satunya tanda bahwa tubuhnya masih bertahan.

Zalina menatap tubuhnya sendiri dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Dia tidak tahu apakah dirinya sudah mati atau masih hidup. Yang jelas, dia tidak lagi berada di dalam tubuh itu.

“Halo?” Zalina mencoba memanggil seseorang. “Ada yang bisa dengar aku?”

Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Dulu, Zalinya tak pernah dianggap ada oleh suaminya ketika berada di rumah, dan sekarang semakin nyata terjadi di dunia luar.

Zalina akhirnya duduk di kursi yang berada tak jauh dari ranjangnya sendiri. Entah sudah berapa lama dia berada di sana. Waktu terasa berjalan begitu lambat ketika tidak ada satu pun yang bisa dia lakukan.

Sesekali, Zalina menatap tubuhnya sendiri yang masih terbaring di atas ranjang. Rasanya sagat aneh.

Dia seharusnya takut. Seharusnya panik karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Namun, setelah memikirkan semuanya, Zalina justru merasa lelah.

Mungkin karena selama lima tahun terakhir, dia memang sudah terlalu terbiasa merasa sendirian.

Hingga malam semakin larut.

Zalina masih duduk di sana ketika jarum jam hampir menunjukkan tengah malam.

Suara langkah kaki terdengar dari lorong rumah sakit.

Zalina mengangkat kepalanya.

Seorang pria berjalan mendekat dari ujung koridor. Langkahnya tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti terlalu lama di rumah sakit ini.

Naradhiya.

Pria itu masih mengenakan pakaian kerja yang sama. Kemeja putihnya tampak sedikit kusut, jas gelap tersampir di salah satu lengannya, sementara sebuah tas kerja tergantung di tangan yang lain. Wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja, tetapi ekspresinya tetap dingin seperti biasa.

Naradhiya berhenti tepat di depan kaca ruang ICU.

Zalina spontan berdiri dan mendekati pria itu. Entah mengapa, rasanya ada harapan kecil yang muncul di dalam hatinya. Mungkin Naradhiya akan panik setelah melihat kondisinya. Mungkin setidaknya, pria itu akan menunjukkan sedikit kekhawatiran.

Namun nyatanya, tidak ada apa pun.

Naradhiya hanya berdiri di sana dan menatap tubuh Zalina yang terbaring di ranjang ICU. Tanpa ekspresi apapun.

Zalina ikut menatap wajah suaminya dari sisi lain kaca. Sampai akhirnya, satu senyum tipis yang terasa getir muncul di wajahnya.

“Sepertinya... aku memang tidak pernah penting bagimu.”

Zalina masih tersenyum getir ketika suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor.

Ayah dan ibunya datang dengan wajah penuh kesedihan. Sang ibu bahkan sudah menangis begitu melihat kondisi putrinya dari balik kaca ICU.

“Zalina... kalau kamu sudah lelah, Mama dan Papa ikhlas. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bertahan. Maafkan kami, Nak. Pergilah dengan tenang.”

Zalina terdiam. Senyum getir kembali muncul di wajahnya.

Ternyata bukan hanya dirinya yang sudah bersiap untuk kehilangan nyawa. Orang tuanya pun sudah bersiap untuk melepaskannya.

Zalina menoleh pada Naradhiya. Dia yakin, pria itu juga akan melakukan hal yang sama.

Namun, suara Naradhiya tiba-tiba terdengar.

“Saya tidak akan melepaskan Zalina.”

Zalina langsung membeku.

Naradhiya menatap kedua orang tua Zalina dengan ekspresi dingin.

“Saya akan mencari pengobatan terbaik untuknya. Kalau perlu, bawa dia ke luar negeri. Berapapun biayanya, saya akan tanggung. Selama masih ada kesempatan untuk menyelamatkannya, saya tidak akan menyerah.”

Zalina menatap suaminya tanpa berkedip. Dia benar-benar tidak mengerti.

Bukankah selama ini Naradhiya tidak pernah peduli padanya?

Lalu kenapa sekarang pria itu justru menjadi orang yang paling tidak ingin melepaskannya?

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
5
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status