共有

Prioritas

作者: Mumtaza wafa
last update 公開日: 2026-10-20 22:57:21

“Janinnya sangat sehat, Pak. Sepertinya kalian menjaga dengan baik,” kata dokter Sarah ketika mereka memeriksa kandungan Zalina yang sudah masuk ke bulan delapan.

“Istri saya sudah mulai merasa kontraksi katanya, dok. Apa aman?” Naradhiya melirik istrinya yang sedang mengelus perutnya yang mulai membuncit.

Dokter Sarah tersenyum maklum seraya meletakkan kembali alat USG ke dudukannya. Pandangannya beralih menatap Naradhiya yang duduk di samping ranjang periksa dengan raut wajah yang selalu sama
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Panik

    “Kalian ngapain?” tanya Zalina pada Nakara, Teguh dan Praja yang duduk di depan ruang tengah, ditambah ada Sartika dan Widya sedang mengacak dapurnya.Zalina menoleh pada Naradhiya, melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia menghela napas panjang, sejak mengadu kalau sering kontraksi, ia memang seperti mendapatkan teror dari mereka.“Loh, kami mau jadi kakek siaga, Za. Pokoknya kami nggak mau melewatkan launchingnya cucu pertama kami,” sahut Praja semangat. “Betul kan, Pak Teguh.“Betul sekali, Pak Praja!” sahut Teguh tak kalah bersemangat seraya menyesap teh hangatnya. “Pokoknya malam ini kita begadang. Kunci mobil saya sudah di kantong, siap tancap gas kalau sewaktu-waktu ketubannya pecah.”Zalina menepuk jidatnya pelan, rasanya ingin tertawa tapi pinggangnya yang ngilu menahan gelak tawanya. Ia melirik Naradhiya yang berdiri di sampingnya sambil membawa segelas susu hamil hangat. Suaminya itu hanya tersenyum pasrah, mengangkat bahu tanda bahwa ia sendiri sudah angk

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Prioritas

    “Janinnya sangat sehat, Pak. Sepertinya kalian menjaga dengan baik,” kata dokter Sarah ketika mereka memeriksa kandungan Zalina yang sudah masuk ke bulan delapan.“Istri saya sudah mulai merasa kontraksi katanya, dok. Apa aman?” Naradhiya melirik istrinya yang sedang mengelus perutnya yang mulai membuncit.Dokter Sarah tersenyum maklum seraya meletakkan kembali alat USG ke dudukannya. Pandangannya beralih menatap Naradhiya yang duduk di samping ranjang periksa dengan raut wajah yang selalu sama di setiap jadwal kontrol bulanan, tegang, waspada, dan penuh kehati-hatian.“Itu namanya kontraksi palsu, Pak Naradhiya,” jelas Dokter Sarah dengan nada menenangkan. “Istilah medisnya Braxton Hicks. Wajar sekali dialami ibu hamil yang kandungannya sudah masuk trimester akhir. Rahim Bu Zalina sedang latihan mempersiapkan persalinan nanti.”Dokter Sarah menoleh ke arah Zalina, lalu membantu menyeka sisa gel di perut buncit wanita itu dengan selembar tisu kering. “Rasanya seperti perut mengencang

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Tumbuh Sehat

    Kehamilan Zalina tidak menunjukkan ngidam yang terlalu berat, meski masih merasakan mual, tapi tidak parah dan untungnya masih bisa makan. Naradhiya bersiap menjadi suami siaga, begitu juga dengan kedua orang tua mereka yang bergantian menginap.Mereka sama-sama menantikan cucu pertama, baik orang tua Zalina, maupun Naradhiya.“Na, jangan lupa vitamin Zalina harus diminum,” pesan Sartika. “Oh iya, kalau nggak mau makan, jangan dipaksakan. Makan nggak selalu harus nasi, kamu jangan lupa tanya Zalina pengen makan apa ya.”“Iya, Ma. Nara catat semuanya di meja makan,” jawab Naradhiya seraya membetulkan tali tas kerja di pundaknya.Pria itu melirik ke arah dapur, tempat ibunya sibuk menyusun wadah-wadah kaca berisi potongan buah apel dan melon yang sudah dikupas rapi ke dalam kulkas. Perubahan sikap Sartika yang kini begitu perhatian pada Zalina selalu menghangatkan dadanya. Tidak ada lagi sindiran dingin atau tuntutan keluarga, hanya seorang calon nenek yang ingin memastikan menantu dan

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Jaga Sama-Sama

    “Gimana kondisinya, Dok? Kantungnya menempel kuat, kan?”Pertanyaan Naradhiya meluncur cepat bahkan sebelum Dokter Sarah selesai menyeka gel bening dari permukaan kulit perut Zalina. Tangan pria itu mencengkeram erat jemari istrinya, berdiri membungkuk di samping ranjang periksa dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan luar biasa. Trauma dua tahun lalu saat melihat darah mengalir di tempat ini masih terlalu nyata di ingatannya.Dokter Sarah menoleh, tersenyum hangat melihat raut tegang yang terpatri kaku di wajah sang suami. Ia merapikan kembali selimut tipis yang menutupi bagian bawah tubuh Zalina, lalu mengarahkan layar monitor USG sedikit condong ke arah mereka berdua.“Tarik napas dulu, Pak Naradhiya. Jangan tegang begitu mukanya,” gurau Dokter Sarah santai, mencoba mencairkan suasana bilik periksa yang mendadak beku. Dokter Sarah menunjuk titik kecil menyerupai lingkaran hitam sempurna di layar monitor. “Lihat ini. Kantung kehamilannya sudah terbentuk sangat bagus di dalam rahim

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Hadiah Sabar

    “Ya Allah.”Zalina membekap mulutnya sendiri setelah melihat hasil tespack-nya pagi ini. Dua garis merah setelah dua tahun perjuangan mereka pasca keguguran. Akhirnya Tuhan kembali menitipkan amanahnya.Tangisnya tidak bisa lagi ditahan, Naradhiya yang menunggu di depan pintu sontak membuka karena tidak sabar. Sudah hampir setengah jam Zalina di dalam dan tidak ada tanda-tanda akan keluar.“Nggak apa-apa, Sayang. Kita coba lagi, ya? Mas masih punya banyak tenaga untuk membuat anak,” ucap Naradhiya berusaha menghibur.Selama dua tahun ini, hasilnya sama satu garis merah dan Zalina akan terlihat kecewa. Dan seharusnya, pagi ini Naradhiya tidak mengizinkan istrinya melakukan tes kembali kalau ujungnya akan menangis lagi.“Mas ….”Naradhiya langsung memeluk istrinya. “Kita coba lagi ya, Sayang.”Zalina tidak langsung membalas pelukan suaminya. Tangannya yang masih gemetar terangkat pelan, menyodorkan benda putih bergaris itu tepat di depan dada Naradhiya. Isak tangisnya makin menjadi-jadi

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Ketahuan

    “Za ….”Desahan panjang lolos dari mulut Naradhiya di tengah percintaan mereka. Untuk kesekian kalinya ia melakukan pelepasan. Zalina benar-benar candu, bahkan ketika ia menyentuhnya dengan sangat hati-hati.Ia membalikkan tubuhnya Zalina, mendekap dari belakang lalu kembali menghujam tubuh istrinya. Zalina menjerit tertahan, Naradhiya tidak kehabisan tenaga padahal sudah melakukan kesekian kalinya.“Mas.”Zalina mencengkram lengan Naradhiya yang melingkar di perutnya, dan satu tangan menopang kepalanya. Hanya deru napas berat yang keluar dari mulut Naradhiya ditambah dengan peluh yang membanjiri tubuh mereka.Pakaian berserakan, selimut sudah teronggok di lantai, begitu juga dengan bantal yang entah kemana. Naradhiya benar-benar menguasai dirinya siang itu, melupakan kalau kompor di dapur masih menyala kecil.“Za, aku cinta kamu, Za.” Naradhiya akhirnya ambruk di atas tubuhnya setelah melakukan pelepasan lagi. Napasnya memburu, ia mencium punggung istrinya yang terbuka dengan lembut.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status