Share

Keputusan Naradhiya

Author: Mumtaza wafa
last update publish date: 2026-08-24 20:19:09

Naradhiya membuka pintu kamar yang hampir lima tahun ini tidak pernah ia buka. Ya, sejak ia menikah dengan Zalina, Naradhiya sudah tidak lagi membuka pintu itu. Bukan karena sudah melupakan, tapi ia sedang berusaha.

Sampai akhirnya benar-benar lupa.

Ruangan itu tampak gelap dan pengap, hawa dingin langsung menyambut ketika ia masuk ke dalam sana. Ia meraba tembok, mencari saklar dan menyalakan ruang, seketika lampu menyala.

Naradhiya terpaku.

Rasanya tidak sama lagi seperti dulu, saat belum men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Apapun Taruhannya

    “Lama nggak ketemu.”Naradhiya menyalami lelaki di depannya. Namanya Fahrezi, teman lama Naradhiya yang pernah bekerja dengan Hadi Raharjo. Ia sengaja bertemu dengan lelaki ini di tempat yang menurutnya aman agar tidak terlihat oleh orang-orang suruhan Hadi Raharjo.“Duduk, Rez. Aku ada kepentingan denganmu,” kata Naradhiya memulai.Dari ekspresi Fahrezi yang tidak terkejut sama sekali, Naradhiya bisa menebak kalau temannya itu sudah tahu tujuannya mengajak bertemu. Fahrezi menyandarkan punggungnya ke kursi, ia mengetuk pelan permukaan meja sebelum akhirnya tersenyum tipis.“Soal Hadi Raharjo, kan?” tebaknya santai, seolah pertanyaan itu sudah lama ia siapkan jawabannya.Naradhiya tidak terkejut mendengar tebakan itu, tapi tetap saja ada sesuatu yang membuat dadanya sedikit berdegup lebih cepat. “Kamu masih sekontak sama orang dalam?”“Nggak langsung,” jawab Fahrezi, nadanya lebih hati-hati sekarang. “Tapi aku masih dengar kabar-kabar dari orang-orang yang dulu pernah kerja bareng aku

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Pertemuan

    "Kamu masih inget saya, kan?"Suara di seberang telepon terdiam sejenak sebelum tawa pelan terdengar, tawa yang penuh arti, seolah sudah menduga panggilan ini akan datang cepat atau lambat."Nara." Suara itu akhirnya menyahut, santai. "Sudah berapa tahun kita nggak kontak? Tiba-tiba nelpon, pasti ada udang di balik batu.""Saya butuh bantuan," jawab Naradhiya langsung, tidak ingin membuang waktu dengan basa-basi yang tidak perlu. "Soal keluarga Hadi Raharjo.”Hening sesaat. Cukup lama hingga Naradhiya hampir mengira sambungan terputus, sebelum akhirnya suara di seberang kembali terdengar, kali ini jauh lebih serius."Kamu tau risikonya tanya soal itu ke saya?""Saya tau," jawab Naradhiya tegas. "Tapi saya juga tau, cuma kamu yang bisa kasih saya jawaban yang selama ini saya cari."Lagi-lagi orang di sambungan telepon tidak langsung menyahut, tapi kali ini terasa berbeda, seperti seseorang sedang menimbang-nimbang seberapa jauh ia rela terlibat dalam urusan yang sudah lama ia tinggalka

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Mulai Rencana Baru

    “Saya sudah memperingatkan Anda, Pak Nara. Mereka nggak akan tinggal diam kalau ada yang mengusik keluarga mereka. Dan … yang saya tahu mereka sengaja membersihkan nama anaknya karena ingin menjadi penerus di kabinet dan partai.”Naradhiya menahan napas sejenak, tidak heran kalau hukum di negeri ini memang bisa dibeli dengan jabatan. Tapi ia tidak menyangka kalau sampai menghancurkan pekerjaannya. Nasib ratusan karyawan di tangannya, keadilan Zalina juga. “Pak Nara, saya cuma menyarankan agar sebaiknya Bapak berhenti sampai di sini. Yang penting Ibu Zalina aman, Pak. Kita nggak tahu apa yang akan mereka lakukan kalau Bapak meneruskan kasusnya,” imbuh Pak Yusi menasehati.Naradhiya masih belum menjawab. Pikirannya kalut, beban di pundaknya begitu berat. Zalina begitu penting, tapi banyak karyawan yang bergantung pada perusahaan yang kini diambang kerugian karena beberapa klien tiba-tiba mundur dengan alasan yang menurutnya tidak masuk akal.“Pak, Anda nggak bisa membantu saya?”Pak Yu

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Tidak Sanggup Memilih

    Pertanyaan Devan membuat suasana menjadi tegang dalam sekejap. Naradhiya melirik cepat ke arah Zalina, berharap istrinya tidak menangkap nada serius di balik pertanyaan sahabatnya itu.“Maksudnya gimana, Van?" Naradhiya mencoba menetralkan suasana, matanya memberi isyarat agar Devan tidak melanjutkan topik itu di depan Zalina. “Duduk dulu, kita lagi makan siang."Devan menangkap sinyal itu, tapi jelas sekali ia tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang masih panik. "Nggak, Na. Ini udah keterlaluan. Barusan aku dapet telepon dari dua klien lagi yang minta putus kontrak. Alasannya sama, nemuin masalah administrasi yang katanya bisa bikin proyek mereka kena masalah kalau lanjut sama kita.”"Masalah apa?" Zalina ikut bersuara, keningnya berkerut mendengar masalah yang terdengar begitu serius.Devan melirik Zalina sekilas, lalu kembali menatap Naradhiya, seolah meminta izin apakah boleh bicara lebih terbuka. Naradhiya menghela napas berat, merasa dirinya terjepit di antara dua pilihan yan

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Mengusik Siapa

    “Bukan urusanku?”Naradhiya bergumam sendiri, hampir saja ia melempar ponselnya. Jelas ini urusannya, urusan istrinya. Ia membela istrinya, bisa-bisanya orang itu mengatakan ini bukan urusannya.“Mas, ada apa?”Pertanyaan Zalina membuat Naradhiya mengerjap pelan lalu menoleh pada wanita yang menatapnya dengan kening berkerut. Naradhiya menggeleng pelan, meletakkan kembali ponselnya dengan layar menghadap ke bawah. Ia tidak ingin Zalina khawatir dengan apa yang sedang dihadapinya.“Beneran nggak apa-apa, Mas?” Zalina mencondongkan tubuh, tangannya terulur menyentuh lengan suaminya. “Dari tadi wajah Mas kayak nahan sesuatu.”“Cuma pesan spam, Sayang.” Naradhiya memaksakan senyum, berusaha membuat suaranya terdengar sewajar mungkin meski jantungnya masih berdegup kencang. “Akhir-akhir ini banyak banget yang kirim penawaran aneh-aneh ke nomor kantor.”Zalina menatapnya lama, tidak sepenuhnya percaya, tapi memilih untuk tidak memaksa. Ia sudah belajar, sejak sadar dari koma, bahwa Naradhiy

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Mulai Diserang

    “Proyek kita dibatalkan, Na.” Naradhiya menatap Nesya dengan kening berkerut. “Apa maksudmu?” “Beberapa klien mundur. Mereka bilang menemukan vendor lain yang lebih baik dari kita,” balas wanita itu tampak frustasi. “Aku nggak tau kenapa tiba-tiba begini, padahal dua hari lalu mereka sudah deal, tapi perwakilan mereka mengabari kalau kerjasama batal.” Naradhiya memejamkan matanya erat. Ia jadi teringat dengan ucapan Pak Yusi yang menyuruhnya hati-hati agar tidak terlalu frontal dalam mencari tahu tentang keluarga Hadi Raharjo. Bukan menuduh, tapi entah kenapa kejadian ini sangat bersinggungan dengan dirinya yang sedang mengorek kasus kecelakaan itu. “Pak Nara, sebaiknya kita sudahi saja. Kevin sudah di penjara, soal pelakunya ….” “Anda takut?” “Saya hanya mengkhawatirkan Anda, Pak. Mereka orang petinggi, bisa melakukan apa saja jika merasa terganggu, bahkan nggak mengenal belas kasih, nyawa pun akan mereka cabut kalau sudah tersinggung.” Ah, jadi begitu. Naradhiya ingat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status