Share

Rencana Pertama

Author: Mumtaza wafa
last update publish date: 2026-08-24 15:20:16
“Nggak! Zalina akan tetap hidup.”

“Nara ….”

“Tolong jangan bicara seperti itu, Bu.” Naradhiya memegang kedua bahu Widya, mencengkram erat membuat wanita paruh baya itu sedikit meringis. “Dokter hanya bisa memprediksi, tapi Tuhan yang menentukan. Zalina pasti hidup, aku akan melakukan apapun, jadi tolong jangan putus asa, Bu.”

Setelah mengatakan itu, Naradhiya melepas cengkramannya lalu masuk ke dalam ruangan tanpa berpamitan. Ia duduk di kursi sebelah ranjang Zalina memegang tangan istriny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Terapi Hormon

    “Kalau kamu kesakitan, kita berhenti saja, Za.” Zalina menggeleng pelan, ia menahan tangan Naradhiya yang hendak menahan suntikan itu masuk ke dalam tubuhnya. “Nggak, Mas. Aku kuat,” jawab Zalina yakin meski jarum suntik di tangan perawat sudah berjarak beberapa senti dari kulitnya. “Lagian Mas di sini nemenin aku, kan?”Naradhiya mengangguk pelan, meski masih jelas raut khawatir di wajahnya. Ia menggenggam tangan Zalina yang bebas, membiarkan istrinya meremas tangannya erat-erat saat jarum itu akhirnya menembus kulit lengan atasnya.“Ini suntikan gonadotropin, Bu Zalina,” jelas perawat sambil mendorong cairan perlahan. “Fungsinya buat merangsang ovarium memproduksi lebih banyak sel telur. Nanti setiap pagi, sama kayak gini, sampai dokter bilang cukup.”Zalina meringis kecil, bukan karena sakitnya yang luar biasa, tapi karena bayangan harus mengulang ini setiap hari selama beberapa minggu ke depan membuat nyalinya sedikit ciut. Ia menarik napas, mencoba fokus pada genggaman tangan

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Tuntutan Mertua

    “Mbak Za, dari tadi bibi liat ada mobil di depan sana, nggak pergi-pergi. Waktu bibi samperin malah langsung ngacir,” kata Bi Sumi pada Zalina yang sedang menyiram tanaman. Ia mengerutkan keningnya. “Mobil?”“Iya, Mbak. Bibi jadi curiga, takut orang jahat mau macam-macam,” imbuh Bi Sumi mewanti-wanti.Zalina menggeleng pelan sambil tertawa. “Kita tinggal di perumahan loh, Bi. Nggak bakal ada orang macam-macam. Kan ada satpam di depan gerbang. Ada-ada saja.”Meski Zalina terlihat tenang, Bi Sumi tetap khawatir. Wanita paruh baya itu bertekad akan mengadukan pada Naradhiya ketika lelaki itu pulang nanti. Bukan apa, pasalnya Zalina juga masih dalam kondisi yang kadang melakukan sesuatu yang di luar kendali.“Tapi tetap saja, Mbak. Bibi mah takut.”“Mungkin mobil tetangga yang sedang numpang parkir, Bi. Atau orang cari alamat,” balas Zalina tenang. “Udah ah. Bentar lagi Mas Nara pulang, bisa bantu aku bikin sup ayam nggak, Bi? Kemarin Mas Nara kayak kurang sehat gitu.”Bi Sumi mengangguk

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Intimidasi Naradhiya

    “Kebetulan sekali ketemu kamu di sini, Arash.”Naradhiya berdiri di ambang pintu, jas kerja masih melekat rapi di tubuhnya, tapi ia sama sekali tidak berniat basa-basi dengan pemuda di depannya. Tatapannya menyapu ruangan sempit itu, dari Kevin yang membeku di kursinya, sampai Arash yang tangannya masih setengah terangkat di dekat kaca pembatas.Arash buru-buru menurunkan tangan, seperti anak kecil ketahuan mencuri kue. “Mas Nara? Ngapain ….”“Harusnya aku yang tanya gitu.” Naradhiya melangkah masuk, petugas di belakangnya menutup pintu pelan-pelan, memberi mereka privasi yang terasa jauh lebih mencekam daripada menenangkan. “Kamu ngapain jenguk Kevin? Kalian kenal?”Kevin melirik cepat ke arah Arash, menatap penuh tanya meski memilih untuk diam. Arash menelan ludah, mencoba menunjukkan wajah setenang mungkin meski jantungnya berdegup seperti mau copot.“Kevin teman satu kampus, Mas. Kasian aja, jadi aku jenguk,” jawab Arash, suaranya terlalu cepat untuk terdengar wajar.“Teman satu k

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Keluhan Kevin

    “Arash?”Kevin menelan ludahnya susah payah menatap lelaki di depannya. Arash memakai hoodie dan kacamata hitam. Ia duduk di seberang Kevin bersekat dinding kaca tebal.“Gimana kabar kamu?” tanya Arash membuat Kevin terdiam.Badannya lebih kurus dari beberapa bulan lalu ketika mereka masih sama-sama hangout bersama dan beberapa bulan terakhir ketika pada akhirnya Kevin menjadi orang yang harus bertanggung atas apa yang sebenarnya tidak ia lakukan sendiri.Rahang Kevin mengeras, Arash bertanya seolah apa yang Kevin alami sekarang hal sepele.“Kamu ngapain?” tanya Kevin dengan suara meninggi.“Jenguk kamu,” jawab Arash singkat, lalu mengangkat sebuah kantong berisi beberapa makanan. “Dari mama.”Kevin berdecih, memalingkan wajahnya dari tatapan tidak bersalah Arash. Meskipun ia mendapatkan fasilitas berbeda di dalam lapas sebagai bentuk kompensasi, tapi tetap saja ia merasa kalau ini tidak adil.“Nggak usah pura-pura peduli, Rash.” Kevin masih menolak menatap, matanya terpaku ke ujung m

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Merasa Dicintai

    “Mas Nara?”Zalina mendongak, menatap suaminya dengan mulut terbuka dan takoyaki yang baru saja sampai di bibirnya dan belum sempat ia gigit. Naradhiya menggeleng pelan, lalu menunduk dan melahap semua makanan yang hampir masuk ke dalam mulut Zalina dengan sekali suap.Bibir mereka hampir bersentuhan membuat Zalina mengerjapkan matanya syok sebelum akhirnya sadar kalau mereka sedang menjadi pusat perhatian. Ia mendorong dada suaminya pelan, memalingkan wajahnya guna menyembunyikan rona merah di pipinya.“Kamu ngapain sih, Mas?” tanya Zalina gugup.“Aku nungguin kamu main-main dengan berondong,” jawab Naradhiya sarkas, sudut bibirnya menyeringai sinis. “Dan bukannya ke mobil, kamu malah asyik makan di sini. Kamu nggak tau gimana rasanya melihat istri sendiri malah jalan sama cowok lain?”Zalina melipat bibirnya, ada rasa bersalah, tapi mereka melakukan ini karena kesepakatan bersama. Dan sekarang Naradhiya malah sok cemburu. Namun melihat wajah kesal suaminya, entah kenapa membuat Zali

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Sudah Main-mainnya?

    “Mbak ….”Zalina bisa melihat ketegangan di wajah Arash, bahkan menghindari tatapannya yang terus menyelidik. Dari gesturnya, Zalina bisa merasakan kalau lelaki itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu.“Aku masih menunggu jawaban,” kata Zalina lagi semakin membuat Arash menegang.“Pa-papaku dan pak Irawan berteman, Mbak,” jawab Arash sedikit terbata.“Hanya berteman?” Zalina mengerutkan keningnya.Arash mengangguk cepat, ia masih enggan menatap Zalina seolah kalau tatapan mereka bertemu, semua rahasianya terbongkar. Kedua tangan Arash saling meremas di atas pangkuannya.Zalina bisa melihat keringat yang mengalir dari pelipis lelaki itu. Dalam hati bertanya-tanya, kalau tidak ada sesuatu, kenapa Arash begitu gugup?“Oh, aku pikir kalian masih memiliki hubungan keluarga.” Zalina mengalah, tidak mencecar meski ia penasaran setengah mati. “Ke-kenapa Mbak Zalina tiba-tiba bertanya seperti itu?”Zalina tidak langsung menjawab, ia mengalihkan pandangannya pada balon angin yang dinaiki ole

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status