Share

Sudah Main-mainnya?

Penulis: Mumtaza wafa
last update Tanggal publikasi: 2026-09-28 19:10:29

“Mbak ….”

Zalina bisa melihat ketegangan di wajah Arash, bahkan menghindari tatapannya yang terus menyelidik. Dari gesturnya, Zalina bisa merasakan kalau lelaki itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

“Aku masih menunggu jawaban,” kata Zalina lagi semakin membuat Arash menegang.

“Pa-papaku dan pak Irawan berteman, Mbak,” jawab Arash sedikit terbata.

“Hanya berteman?” Zalina mengerutkan keningnya.

Arash mengangguk cepat, ia masih enggan menatap Zalina seolah kalau tatapan mereka bertemu, semu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Keluhan Kevin

    “Arash?”Kevin menelan ludahnya susah payah menatap lelaki di depannya. Arash memakai hoodie dan kacamata hitam. Ia duduk di seberang Kevin bersekat dinding kaca tebal.“Gimana kabar kamu?” tanya Arash membuat Kevin terdiam.Badannya lebih kurus dari beberapa bulan lalu ketika mereka masih sama-sama hangout bersama dan beberapa bulan terakhir ketika pada akhirnya Kevin menjadi orang yang harus bertanggung atas apa yang sebenarnya tidak ia lakukan sendiri.Rahang Kevin mengeras, Arash bertanya seolah apa yang Kevin alami sekarang hal sepele.“Kamu ngapain?” tanya Kevin dengan suara meninggi.“Jenguk kamu,” jawab Arash singkat, lalu mengangkat sebuah kantong berisi beberapa makanan. “Dari mama.”Kevin berdecih, memalingkan wajahnya dari tatapan tidak bersalah Arash. Meskipun ia mendapatkan fasilitas berbeda di dalam lapas sebagai bentuk kompensasi, tapi tetap saja ia merasa kalau ini tidak adil.“Nggak usah pura-pura peduli, Rash.” Kevin masih menolak menatap, matanya terpaku ke ujung m

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Merasa Dicintai

    “Mas Nara?”Zalina mendongak, menatap suaminya dengan mulut terbuka dan takoyaki yang baru saja sampai di bibirnya dan belum sempat ia gigit. Naradhiya menggeleng pelan, lalu menunduk dan melahap semua makanan yang hampir masuk ke dalam mulut Zalina dengan sekali suap.Bibir mereka hampir bersentuhan membuat Zalina mengerjapkan matanya syok sebelum akhirnya sadar kalau mereka sedang menjadi pusat perhatian. Ia mendorong dada suaminya pelan, memalingkan wajahnya guna menyembunyikan rona merah di pipinya.“Kamu ngapain sih, Mas?” tanya Zalina gugup.“Aku nungguin kamu main-main dengan berondong,” jawab Naradhiya sarkas, sudut bibirnya menyeringai sinis. “Dan bukannya ke mobil, kamu malah asyik makan di sini. Kamu nggak tau gimana rasanya melihat istri sendiri malah jalan sama cowok lain?”Zalina melipat bibirnya, ada rasa bersalah, tapi mereka melakukan ini karena kesepakatan bersama. Dan sekarang Naradhiya malah sok cemburu. Namun melihat wajah kesal suaminya, entah kenapa membuat Zali

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Sudah Main-mainnya?

    “Mbak ….”Zalina bisa melihat ketegangan di wajah Arash, bahkan menghindari tatapannya yang terus menyelidik. Dari gesturnya, Zalina bisa merasakan kalau lelaki itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu.“Aku masih menunggu jawaban,” kata Zalina lagi semakin membuat Arash menegang.“Pa-papaku dan pak Irawan berteman, Mbak,” jawab Arash sedikit terbata.“Hanya berteman?” Zalina mengerutkan keningnya.Arash mengangguk cepat, ia masih enggan menatap Zalina seolah kalau tatapan mereka bertemu, semua rahasianya terbongkar. Kedua tangan Arash saling meremas di atas pangkuannya.Zalina bisa melihat keringat yang mengalir dari pelipis lelaki itu. Dalam hati bertanya-tanya, kalau tidak ada sesuatu, kenapa Arash begitu gugup?“Oh, aku pikir kalian masih memiliki hubungan keluarga.” Zalina mengalah, tidak mencecar meski ia penasaran setengah mati. “Ke-kenapa Mbak Zalina tiba-tiba bertanya seperti itu?”Zalina tidak langsung menjawab, ia mengalihkan pandangannya pada balon angin yang dinaiki ole

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Pasar Malam Kedua

    “Hai.”Arash tersenyum lebar, memberikan bungkus plastik permen kapas pada Zalina.“Ingat nggak, Mbak? Kamu pernah minta ini pas koma, tapi kamu nggak bisa makan jadi kamu minta aku kasih ke ibumu,” kata Arash berusaha mengingatkan kembali pada saat Zalina koma dan tentu saja kenangan itu hanya miliknya dan wanita itu.Zalina hanya tersenyum tipis, menerima uluran permen itu dan menyimpannya di sebelahnya lalu menoleh pada Arash yang duduk di sebelahnya. Pagi tadi, Zalina mengirimnya pesan dan meminta untuk bertemu, tentu saja setelah mendapatkan izin dari Naradhiya.Ia merasa harus menyelesaikan ini. Selain karena Arash yang terus mengatakan dirinya memiliki hutang, juga tentang ingatan Zalina yang muncul tiba-tiba. Wajah Arash pernah ia lihat sebelumnya, entah di mana, tapi jelas bukan dalam mimpinya ketika dirinya mengalami tidur panjang di rumah sakit.“Suamimu nggak cemburu, Mbak?” tanya Arash menatap Zalina yang fokus ke depan.Cantik.Wanita itu memakai riasan tipis, wajah cera

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Wajah Familiar

    “Za.”Naradhiya mendesah berat begitu melihat Zalina yang masuk begitu saja ke dalam kamar begitu sampai di rumah. Pertanyaan di mobil tadi bahkan belum sempat ia jawab, tapi sepertinya Zalina sudah menyimpulkan sendiri jawabannya.Naradhiya membuka pintu kamar, rasanya ikut sakit melihat Zalina yang berdiri di dekat jendela dengan tatapan kosong. Bahunya merosot, ia mendekat, lalu berdoro tepat di belakang Zalina. Dadanya menempel pada punggung wanita itu.Sesaat ia sadar kalau Zalina tengah menangis.“Za, aku sudah bilang ….”“Mas kenapa dulu aku memutuskan untuk menunda kehamilan?” tanya Zalina, padahal ia sudah tahu jawabannya karena ia sudah mengingatnya.“Maafkan aku, Za.”Zalina membalikkan badan, ia tidak menatap Naradhiya. Kepalanya menunduk, menatap kakinya yang berada di antara kedua kaki lelaki di depannya.“Kamu belum jawab, Mas.”“Soal?” tanya Naradhiya.“Apa kalau aku nggak bisa hamil, kamu akan menceraikanku?” Zalina mengulang pertanyaannya di mobil tadi.Naradhiya men

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Harapan yang Pupus

    “Mama dan papa datang?”Zalina menganggukkan kepala seraya mengambil jas dan tas Naradhiya lalu membawanya masuk ke dalam rumah dan menyampirkan di atas sofa ruang tengah. Ia ke dapur, mengambil segelas air, lalu memberikan pada suaminya.“Iya.”“Mereka ada bilang sesuatu?” tanya Naradhiya penasaran.Meski ia yakin kedua orang tuanya tidak akan mengatakan sesuatu yang menyakiti Zalina, tapi tetap saja ada rasa khawatir dalam dadanya. Zalina masih dalam kondisi psikis yang belum benar-benar pulih dan ia takut ada kata-kata dari orang tuanya yang menyakiti Zalina.“Ada, Mas,” jawab Zalina kembali menerima sodoran gelas dari Naradhiya dan meletakkan di atas meja.Wanita itu mendekat, melepas dari suaminya dengan pelan. Naradhiya menunduk, hidungnya menempel pada ujung kepala Zalina. Ia bisa mencium aroma sampo istrinya, sampai akhirnya ia mencium kepala zalina lembut.“Apa?”Zalina menyelipkan tangannya di pinggang Naradhiya. “Cucu, mama dan papa minta cucu.”Naradhiya terdiam sejenak, l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status