홈 / Rumah Tangga / Aku Madu Kembaranku / Bab 14. Rania menolak operasi

공유

Bab 14. Rania menolak operasi

작가: Nanitamam
last update 게시일: 2023-09-18 14:55:31

Rania terkejut melihat kakaknya hampir jatuh tersungkur ke lantai, tetapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk sekadar bersuara saja Ia kesulitan, saat ini seluruh tubuhnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Rasa sakit di perutnya sudah menjalar ke mana-mana. Dokter hanya bisa berusaha mengalihkan sedikit rasa sakitnya dengan sementara.

"Tania kenapa? apa pas di jalan tadi dia mengeluhkan sesuatu?" tanya Paman Burhan pada Malik yang juga kebingungan.

Mereka menggotong tubuh Tania lalu me
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 28. Pindah

    Bu Fatma memutus sambungan telepon dengan napas berburu dan mata menyala. "Aku tidak akan membiarkan penipu itu menikmati uangku! Semua hartaku harus kembali!" serunya histeris, menyapu pandangan ke sekeliling kamar yang kini terasa dingin.Malik menggelengkan kepala, ketidakpercayaan merayapi raut wajahnya. "Mas, menurut kamu apa Mama akan berubah setelah kejadian ini?" bisik Tania lirih seraya menyentuh lengan suaminya.Malik menghela napas panjang, menatap Tania dengan tatapan ragu. "Dia bukan tipe orang yang seperti itu, Sayang," balas Malik pelan. "Keangkuhannya sudah terlalu mengakar.""Setidaknya dia tahu jika wanita yang ingin dia jadikan menantu ternyata hanya mengincar hartanya saja," sahut Paman Burhan yang menyusul ke ambang pintu kamar bersama Rania.Tania terdiam beberapa saat, mencari kemungkinan apa yang akan dilakukan ibu mertuanya itu. Pikiran Tania melayang pada kerumitan watak manusia. Kenapa ada orang yang menilai latar belakang begitu penting demi status sosial

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 27. Murka

    Pintu depan membanting keras, menyisakan gema yang dingin di tengah ruang makan yang mendadak hening. Bu Fatma membeku di ambang pintu, napasnya memburu. Wajah yang beberapa menit lalu dipenuhi kesombongan, kini pucat pasi dan diliputi kehancuran.Para tamu keluarga besar mulai saling berbisik gemuruh. Tatapan yang tadinya mengagumi kemewahan acara, kini berganti menjadi tatapan sinis dan penuh cemooh yang tertuju lurus kepada Bu Fatma.“Jadi ini calon menantu idaman yang diagung-agungkan itu?” bisik salah seorang kerabat cukup keras, disusul gelengan kepala dari tamu lainnya.Bu Fatma membalikkan badan dengan tubuh gemetar. Matanya yang merah menatap proyektor yang masih menyala, lalu beralih pada Tania yang berdiri tenang di samping Paman Burhan. Senyum tipis Tania terasa bagai sembilu bagi Bu Fatma.“Rania... kamu... kamu sengaja mempermalukan Mama di depan semua orang?!” suara Bu Fatma melengking, berusaha mengalihkan rasa malunya dengan kemarahan.Malik melangkah maju, berdiri te

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 26. Terbongkarnya kejahatan Mely

    Malam yang dinanti tiba. Acara makan malam yang telah dirancang dengan begitu matang akhirnya digelar. Sejak sore, Bu Fatma tak henti-hentinya mengawasi persiapan, menata hidangan, dan memberi perintah pada para pekerja agar semuanya sempurna. Ia seolah lupa bahwa kemarin ia berpura-pura jatuh.Sementara itu, Tania hanya mengamati dari kejauhan. Ia memastikan semua berjalan sesuai rencananya. Tanpa sepengetahuan Bu Fatma, ia telah meminta para pekerja untuk menyiapkan proyektor dan papan putih di ruang makan.“Rania ..., apa maksudnya semua ini?” tanya Bu Fatma, matanya menatap tajam ke arah Tania, curiga dengan keberadaan proyektor dan papan putih itu.“Oh, itu sengaja aku pasang untuk menonton drama, Ma. Biar acara makan malam kita lebih seru dan ada tontonan yang menghibur,” jawab Tania dengan nada meyakinkan, menyembunyikan maksud sebenarnya.Bu Fatma mendengus, namun ide Tania terdengar cukup menarik. Ia pun memutuskan untuk menyetujuinya.“Oke, kali ini Mama setuju! Tapi, awas s

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 25. Rencana Tania

    “Mas, boleh tidak besok malam kita mengadakan makan malam dan mengundang seluruh keluarga?” tanya Tania tiba-tiba, memecah keheningan kamar.Malik, yang tengah bersandar di ranjang sambil menggenggam iPad, sontak menoleh. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan atas permintaan Tania yang tak terduga.“Apa kamu sedang bercanda?"“Astaga, aku serius kali ini. Lagipula, acara ini kan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga,” kata Tania, berusaha meyakinkan suaminya.Malik terdiam, tampak menimbang-nimbang permintaan Tania. Melihat itu, Tania tak mau menyerah. Ia beranjak dari tempatnya, mendekati Malik dan duduk di tepi ranjang.“Ini juga keinginan bayi kita,” ucap Tania, terpaksa berbohong demi melancarkan rencananya. “Boleh ya, Mas?”“Ya sudah, nanti aku bicara dengan Mama dulu,” jawab Malik akhirnya, luluh dengan bujuk rayu istrinya.Senyum bahagia merekah di bibir Tania, membuat Malik ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Ia pun bangkit, bersiap menuju kamar Bu Fatma untuk men

  • Aku Madu Kembaranku   Jika aku pergi, hiduplah bahagia

    Tania melangkah tergesa melewati gerbang, jejak kakinya seolah tak sabar menginjak tanah pekarangan rumah Paman David. “Assalamulaikum, Paman, Rania,” sapanya, suaranya sedikit bergetar, “Aku punya berita untuk kalian.”Paman Burhan dan Rania, yang semula bersantai di bangku panjang halaman, sontak menoleh. Raut wajah mereka menyiratkan keheranan. Kedatangan Tania menjelang senja, seorang diri, bukanlah pemandangan yang biasa.Rania bangkit dengan terhuyung, wajahnya sepucat kapas, tubuhnya tampak kurus dan rapuh, seolah embusan angin saja bisa merobohkannya. Paman Bruhan segera menyongsong, memapah bahu keponakannya itu, dan menuntunnya mendekat ke arah Tania.“Kalian tetap di sana saja! Jangan mendekatiku,” seru Tania, nadanya tegas namun ada gurat cemas di matanya.“Sebaiknya kita bicara di dalam,” putus Paman Burhan sembari menuntun Rania perlahan. Tania mengangguk patuh, melangkah mengikuti, menyelaraskan langkahnya dengan Rania yang tertatih. Semakin dekat ia melihat kembarann

  • Aku Madu Kembaranku   Sebuah rencana

    BAB 1“Mas.”Suara langkah kaki yang menuruni anak tangga memecah keheningan, menarik perhatian Malik. Raut wajah pria itu seketika menegang, sarat akan kekhawatiran. Tanpa membuang waktu, Malik bergegas mendekat, diikuti Tania yang setia melangkah di sisinya, tangannya tak lepas dari genggaman hangat sang suami.“Ada apa, Mel? Apa Mama butuh sesuatu,” tanya Malik, nadanya dipenuhi cemas, namun genggaman tangannya pada Tania justru semakin mengerat, seolah memberi kekuatan dan jaminan.Mely tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata. “Tante sudah tidak apa-apa, kok. Dia sedang istirahat sekarang di kamarnya. Aku izin pulang lebih dulu ya, Mas. Ada hal penting yang tidak bisa kutunda.”Malik mengangguk, ekspresinya sedikit melembut. “Iya, silakan saja, Mel. Kamu tidak perlu repot-repot datang lagi. Di sini sudah ada saya dan Rania yang akan menjaga Mama.”Sejenak, Mely terdiam. Tatapannya berubah tajam, menghunjam lurus ke arah Tania yang berdiri di sebelah Malik. Sebuah tatapan

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 7. Jangan sentuh suamiku!

    Malik melemparkan ponselnya ke meja. Dia tidak habis pikir mamanya masih saja mendekatkan dia dengan mely. Padahal sudah Malik yegaskan sejak dulu, jika dia tidak ada perasaan apapun Mely. Tania juga ikut kesal setelah membaca pesan Bu Fatma. Ibu macam apa yang ingin merusak rumah tangga anaknya

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 6. Tania hamil

    Saking syoknya, Bu Fatma sampai mundur kebelakang beberapa langkah. Darmi serta Bi Asih saling berpandangan satu sama lain. Mereka merasa bingung dengan ekspresi Bu Fatma. Wajahnya bukan menunjukan bahagia mendengar menantunya hamil. Akan tetapi, malah terlihat seperti orang yang bingung. Darmi

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 5 Nafkah bathin

    Setiap hari ada saja tingkah Tania yang membuat Bu Fatma sakit kepala. Bu Fatma merasa aneh dengan perubahan sikap menantunya tersebut. Rania yang biasanya penurut dan tidak berani membantah, sekarang berubah drastis. Pagi-pagi sekali Tania sudah siap dengan alat pel dan embernya. Bukan Tania na

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 4 Mulai bertukar posisi

    Kamu kenapa Rania?" tanya Paman Burhan pada Rania yang baru saja siuman. Rania memijit kepalanya yang masih terasa pusing. "Mungkin aku kelelahan Paman," jawab Rania menutupi perasaannya. "Tabahkan dan kuatkan hatimu! Semua terjadi atas permintaan kamu. Paman tahu, dilubuk hati paling dalam k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status