MasukMalam panas yang terjadi antara Fajar dan Amelia, membuat Nisa merasa jika pernikahannya telah pupus. Amelia yang terobsesi dengan Fajar pun, memberikan tawaran bersyarat yang sangat menggiurkan. Dimana Nisa harus bisa meyakinkan Fajar untuk menikahinya. Akankan Nisa akan berhasil memaksa Fajar untuk menikah dengan Amelia?
Lihat lebih banyak"Aku mau suamimu."
Seketika mata Nisa membulat. Apakah dia tidak salah dengar? "Su-suami? Maksud Nyonya?" Amelia Djandra—seorang janda kaya yang berparas cantik. Mendapatkan pengkhianatan dari sang suami, karena dirinya tidak bisa memberikan keturunan. "Aku akan membayar semua hutang-hutangmu, begitu juga dengan pengobatan ibumu. Tapi syaratku hanya satu, yaitu berikan suamimu." Nisa mengernyitkan kening. Dia masih belum bisa mencerna apa yang Amelia katakan. Bagaimana bisa wanita cantik, terhormat dan kaya itu bisa menginginkan suaminya yang hanya seorang mantan nara pidana? "Ke-kenapa Nyonya menginginkan suami saya?" Amelia tersenyum tipis. "Karena hanya Fajar yang mampu memuaskan birahiku." Satu kalimat negatif yang keluar dari mulut Amelia, membuat jantung Nisa berdegup dengan kenjang. Keningnya mengernyit dalam, seolah menolak apa yang baru saja Amelia katakan. "Ba-bagaimana mungkin?" Suara Nisa terdengar bergetar dan lirih. "Tentu saja semua akan menjadi mungkin, jika napsu sudah berada pada puncaknya." Beberapa bulan yang lalu. "Ke mana lagi aku harus mencari pekerjaan?" Fajar menatap langit yang terlihat mendung. Kemungkinan hujan akan segera turun, tapi dia belum juga mendapatkan pekerjaan. Braaaak ... Sreeett ... Lembaran-lembaran kertas lamaran yang ada di tangan Fajar pun terjatuh berhamburan di atas tanah, bersamaan dengan seorang wanita yang terlihat ketakutan dengan wajah lelah. "Anda tidak apa-apa?" Fajar berjongkok, memastikan keadaan wanita yang saat ini terduduk di atas tanah. "To-tolongin saya, Mas, tolongin saya," Amelia memohon dengan suara yang bergetar sambil memegang lengan Fajar. Baru saja Fajar membantu wanita itu berdiri, akan tetapi pergerakannya terhenti karena suara asing yang menyapa. "Mau ke mana kamu, hah?" Pria berpakaian preman tersenyum licik, berjalan mendekati Amelia. Dengan tubuh gemetar, Amelia langsung bersembunyi dibalik tubuh Fajar yang tinggi dan kekar. Fajar melirik ke arah wanita itu, tubuhnya pun refleks bergerak untuk melindungi. "Minggir, aku tidak punya urusan dengan kau," ucap preman dengan lantang. "To-tolongin saya, mereka adalah suruhan mantan suami saya. Saya janji, saya akan bayar berapa pun, jika Mas menolong saya," mohon Amelia dengan tangan yang tertangkup di belakang Fajar. Saat preman itu ingin meraih Amelia yang bersembunyi, Fajar pun langsung menghalangi, sehingga terjadilah perkelahian yang terlihat seru, di mana Fajar harus menghabisi lima orang preman yang ingin membawa Amelia pergi. Bakk ... Buukk ... Plaakk ... "Awas kau ... Pasti akan ku balas nanti!" Preman yang sudah terlihat babak belur itu pun, pergi tanpa membawa Amelia. "Anda tidak apa-apa?" Fajar menoleh ke arah Amelia, saat semua preman-preman yang telah berhasil dia taklukkan pergi. "Ya, saya tidak apa-apa." Amelia bernapas lega, sekaligus dia kagum dengan kehebatan Fajar. "Syukurlah." Setelah memastikan keadaan Amelia, Fajar memungut lembaran kertas yang berserakan di atas tanah. "Kamu sedang mencari pekerjaan?" Tebak Amelia, saat melihat lembaran kertas yang dipungut oleh Fajar. Fajar tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. "Bagaimana jika kamu menjadi pengawalku?" tawar Amelia membuat Fajar menatapnya dengan kening mengkerut. "Aku Amelia Djandra, kebetulan aku sedang mencari pengawal yang kompeten." Amelia tersenyum manis. "Aku rasa, kamu adalah orang yang cocok." "Tapi, saya tidak memiliki sertifikat—" "Itu tidak penting. Saya sudah bisa melihat keahlian dan kehebatan kamu. Bagi saya, itu sudah cukup." Amelia berharap, jika Fajar menerima tawarannya. "Saya akan membayar kamu dengan mahal," tambah Amelia lagi. Tanpa berfikir panjang, Fajar menyetujui tawaran Amelia. Apalagi, saat ini dia benar-benar membutuhkan pekerjaan, demi menebus semua rasa bersalahnya kepada sang istri yang telah berjuang sendiri saat dirinya masih berada di dalam penjara. * "Benarkah, Mas?" "Iya, Dek, ini alamat yang dia berikan." Fajar memberikan kartu nama kepada Nisa—istrinya. Nisa mengernyitkan kening, saat membaca alamat dan nama yang tertulis di sana. "Mas, ini sepertinya kartu nama milik bos tempat aku bekerja!" "Benarkah?" Sungguh kebetulan yang sangat langka sekali. Fajar bisa bekerja di tempat yang sama dengan sang istri. Mengingat jika Amelia melarang terjalinnya sebuah hubungan romansa di dalam rumahnya, Nisa pun meminta kepada sang suami untuk merahasiakan tentang status mereka. Tiga bulan telah berlalu. Fajar selalu berada di sisi Amelia, ke mana pun wanita itu pergi. Dan sampai hari ini, tidak ada yang mengetahui tentang hubungan Fajar dan Nisa. "Kita akan ke puncak siang ini," Amelia memberitahu Yanto—supir pribadinya untuk bersiap, begitu juga dengan Fajar. "Baik, Buk." Di saat Amelia memberikan waktu bagi Yanto dan Fajar untuk bersiap, dengan bersembunyi-sembunyi Fajar mencari keberadaan sang istri. Dia tersenyum, saat melihat Nisa sedang membersihkan kolam renang. "Ssstt ... Ssstt ..." Nisa menoleh ke arah sumber suara, dia melihat sang suami yang sedang bersembunyi. "Ada apa?" Tanya Nisa dengan gerakan bibir. Fajar memanggil dengan gerakan tangan, sehingga Nisa pun bergerak menghampirinya. "Ada apa, Mas— akhh ..." Nisa terpekik pelan, saat Fajar langsung merengkuh pinggangnya dengan erat. "Mas! Bagaimana jika ada yang melihat?" Bisik Nisa sambil melirik ke arah sekitar. "Tenang saja, cctv ke arah sini sedang rusak," bisik Fajar membuat Nisa sedikit merasa tenang. "Ada apa, Mas? Kenapa kamu memeluk aku? Bagaimana jika ada yang melihat dan curiga?" Fajar tersenyum manis. "Aku hanya ingin melepas rindu sama kamu, sayang." "Melepas rindu?" "Iya, sayang, bukankah besok adalah hari pernikahan kita? tapi aku tidak bisa menemani kamu." Fajar merasa sedih. "Memangnya Mas mau ke mana?" "Nyonya bos akan pergi ke puncak dan juga akan menginap dua malam di sana." Nisa mengangguk pelan. Dia paham dan mengerti akan pekerjaan sang suami. Bukan hanya kali ini saja Fajar harus menemani Amelia untuk pergi ke luar kota, dan Nisa juga sangat percaya kepada sang suami yang pastinya tidak akan bermain dibelakangnya. Lagi pula, bagaimana mungkin Amelia mau memiliki hubungan dengan seorang pengawal. Wanita itu bisa mendapatkan pria mana saja yang derajatnya jauh lebih tinggi dari Fajar. "Jadi, untuk menebus rasa bersalahku, aku akan memberikan hadiahnya sekarang." Cuppp ... Fajar menciumi bibir Nisa dengan penuh napsu dan cinta. Ciuman panas itu pun membangkitkan gairah keduanya. Di sisi lain. "Apakah itu Fajar?" Amelia mengernyitkan kening. "Bersama siapa dia? Apakah dia sedang menjalin hubungan dengan salah satu pembantu?" Melihat ciuman panas antara Fajar dan Nisa, Amelia pun perlahan menelan ludahnya dengan kasar. "Ternyata dia sangat jago sekali dalam berciuman." Entah apa yang Amelia fikirkan, dia diam-diam mengintip apa yang dilakukan oleh Fajar dan Nisa. "Akhhh ..." Desahan lembut dan tertahan yang keluar dari bibir Nisa, membuat Amelia memejamkan mata. Mencoba membayangkan dan merasa apa yang dirasakan oleh Nisa saat ini. "Aku sangat yakin, pasti rasanya sungguh nikmat," desah Amelia pelan, sambil menjepit nyai dan menggigit bibirnya pelan. * Fajar membukakan pintu mobil untuk Amelia, tak lupa dia meletakkan tangannya di atas kepala wanita itu, saat memasuki mobil. "Siapa wanita itu? Beruntung sekali dia bisa mencicipi aroma tubuh Fajar," batin Amelia sambil melirik ke arah pria itu. "Tapi, bukankah dia pria yang rajin beribadah? Bagaimana bisa dia berbuat zina dengan mudah?" Amelia mengambil ponsel dan menyuruh asistennya untuk mencari tahu tentang Fajar. Saat menerima pria itu menjadi pengawal, Amelia tidak melihat latar belakang Fajar, dia hanya yakin jika pria itu bisa melindunginya dari preman-preman suruhan mantan suami. Sesampainya di puncak, tiba-tiba Yanto mendapatkan panggilan, jika sang istri mengalami kecelakaan dan mengalami pendarahan hebat. Amelia yang mengetahui kabar tersebut, langsung memerintahkan Yanto untuk segera kembali. "Kamu ikut masuk ke dalam villa," titah Amelia, membuat Fajar mengernyitkan kening. Seharusnya, Fajar tidur di kamar yang berada di luar villa. "Mantan suami saya juga berada di sini, jadi jika saya butuh perlindungan, kamu siaga untuk melindungi," jelas Amelia. Fajar pun berjalan dibelakang Amelia, sambil membawa koper wanita itu. "Kamar kamu ada dibelakang dapur. Jika kamu merasa lapar, tinggal makan saja apa yang tersedia di sana," ucap Amelia sambil menunjuk ke arah dapur dan meminta Fajar membawa kopernya ke kamar. Sesampainya di kamar, Amelia berjalan mendekati Fajar, membuat pria itu terkejut dan langsung mundur dua langkah. "Ada apa? Kenapa kamu terlihat ketakutan?" Tanya Amelia, sambil menyentuh dada bidang pria itu. "Ma-maafkan saya, Nyonya, tapi---" Fajar menahan tangan Amelia yang ingin meraba tubuhnya. "Aku akan bayar kamu, jika kamu bisa menghangatkan kasurku malam ini," pinta Amelia yang semakin mengikis jarak di antara mereka. "Maaf, Nyonya, saya sudah punya istri. Maafkan saya, permisi." Dengan gerakan cepat, Fajar mundur dan langsung menjauh dari Amelia. "Selamat beristirahat," pamit Fajar, sebelum dia menuntup pintu dan meninggalkan kamar Amelia. "Istri? Apakah wanita tadi itu istrinya?" Gumam Amelia menatap pintu yang sudah tertutup.Fajar tak sanggup melihat air mata sang istri. Dia menangkup wajah Nisa dan menghapus setiap air mata yang keluar. "Maafkan aku, Dek. Maafkan aku yang tidak sempurna ini!" Braakk ... Nisa dan Fajar terkejut, saat seseorang menendang pintu kayu rumah mereka hingga roboh. Nisa menghapus air matanya, bergegas menuju teras rumah bersama Fajar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. "Ka-kalian---" Suara Nisa terdengar bergetar. Fajar memeluk sang istri yang tubuhnya sudah bergetar ketakutan. "Waah, apakah kalian berpelukan untuk salam perpisahan?" Yani tertawa jahat. Nisa mencengkram erat lengan Fajar, menandakan jika wanita itu sangat ketakutan. Kedatangan Yani kali ini tidak seperti biasa. Nisa merasa ada kesialan yang akan menimpanya saat ini. Akankah Yani akan menyeretnya kehadapan pria hidung belang? Karena tidak bisa membayar hutang-hutang mereka?
Fajar mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka jika sang istri tega memaksanya untuk menikah dengan Amelia. Walaupun Nisa telah mengancamnya, tetapi Fajar tetap enggan untuk menikah lagi."Bagaimana bisa aku mengkhianati pernikahan kita, Dek?" Lirih Fajar menatap sendu Nisa.Nisa berdesis pelan. "Bukankah kamu memang sudah mengkhianati pernikahan kita, Mas?" Fajar mengangkat kepalanya, menatap langit-langit kamar. Dia berusaha menarik napas, akan tetapi terasa sesak di dada."Jujur saja, aku sudah lelah hidup susah begini!" Suara Nisa terdengar jauh, padahal wanita itu berada di dekat Fajar."Tiga tahun kamu di penjara, Mas, aku banting tulang untuk menghidupi keluarga kita. Mengganti tugasmu sebagai seorang suami!"Air mata Nisa pun terjatuh. Jujur saja, sebenarnya dia enggan membahas perihal tentang kecelakaan yang dialami oleh Fajar tiga tahun lalu. Nisa ikhlas menjalani semuanya. Akan tetapi, rasa sakit yang ditorehkan o
Nisa sengaja pergi pagi-pagi sekali, karena dia enggan untuk melihat wajah Fajar. "Nisa!" Panggil Buk Nella.Nisa menoleh, keningnya sedikit mengkerut saat melihat wajah serius dari kepala pelayan."Ya, Buk?" Nisa mengeringkan tangannya yang basah."Kamu di panggil oleh nyonya besar ke ruang kerjanya," ucap Buk Nela, membuat Nisa menahan napasnya."Sekarang!" Titah Buk Nela dengan tatapan matanya yang tajam.Nisa mengangguk pelan, dia pun bergegas menuju ke ruang kerja Amelia."Mau apa lagi wanita itu?" Batin Nisa penasaran.Sesampainya di ruang kerja Amelia, Nisa mengetuk pintu hingga terdengar suara dari dalam ruangan. Dia membuka pintu dan melihat sosok Amelia yang sedang duduk di kursi kerjanya."Nyonya memanggil saya?" Tanya Nisa menahan rasa benci dan amarahnya. Amelia tersenyum miring. Senyuman yang seolah sedang mengejek Nisa saat ini. Melihat hal itu, Nisa pun refleks mengernyitkan keningnya."Aku pikir kamu gak akan kembali ke tempat ini," ucap Amelia sinis.Merasa tahu ke
Pandangan Nisa terlihat kosong. Dalam pikirannya saat ini hanyalah ribuan kalimat yang keluar dari mulut Amelia. Ya, wanita itu telah menceritakan apa yang telah terjadi antara mereka berdua. Nisa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Amelia. Namun, rekaman dari cctv yang ada di villa, menunjukkan jika apa yang dikatakan oleh Amelia adalah sebuah kebenaran. Ya, kebenaran pahit yang harus Nisa terima. Tapi, bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi? Sang suami yang taat dalam beragama, bisa melakukan hal sehina itu?Nisa menghela napasnya dengan kasar. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu yang menimpa dirinya. "Bagaimana semua itu bisa terjadi?" lirih Nisa dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. "Sayang!"Suara berat dan merdu yang selalu membuat Nisa merasa rindu dan bahagia,, kali ini membuat dirinya merasa jijik. Bahkan, untuk menoleh saja, enggan dia lakukan. "Ada apa? Apa yang sedang terjadi?" Fajar mendekati Ni


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.