Accueil / Romansa / Aku Mati di Pernikahanku / Awal dari Sebuah Akhir

Partager

Awal dari Sebuah Akhir

Auteur: qia
last update Date de publication: 2026-07-11 17:18:30

Pelukan di atas bukit itu terasa seperti jangkar yang mengikat seluruh eksistensi Braelyn ke bumi yang nyata. Ketika Eryx perlahan melepaskan dekapannya, sisa kehangatan di pipi Braelyn masih terasa nyata, berbaur dengan semilir angin malam yang mulai membawa hawa dingin pinggiran kota.

Eryx menatapnya, seulas senyum lega terukir di wajahnya yang diterangi cahaya bulan sabit yang baru muncul. "Gue rasa... sekarang gue harus mengantarkan putri mahkota pulang sebelum Ayah lu mengerahkan

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Aku Mati di Pernikahanku   Tatapan Sang Penguasa Waktu

    "Kalau kita tidak bisa meretas mata itu, riwayat kita tamat hari ini juga, Braelyn!" seru Kael histeris, jemarinya mencakar konsol kosong yang mati total.Peretas muda itu mundur selangkangan saat bayangan hitam makhluk bermata seribu membentang menutupi seluruh kubah langit yang runtuh. Udara di sekitarnya mendadak memadat, menekan rongga dada hingga terasa seperti menelan serpihan kaca tajam. Keringat dingin bercampur darah segar mengalir deras membasahi kerah jaketnya yang robek. Suara desis frekuensi rendah bergetar hebat di dalam tengkorak mereka, memicu rasa pusing luar biasa."Jangan biarkan rasa takut menguasai sistem sarafmu, Kael, cari celah frekuensi terlemah di inti mata itu!" bentak Braelyn tajam, berdiri tegak dengan sisa tenaga yang bergolak di nadinya.Wanita itu mengepalkan kedua tangannya erat-erat, memaksa aliran darah keturunan Wilson membakar kembali kulit telapak tangannya yang sempat padam. Pendaran emas tipis kembali menyala terang di ant

  • Aku Mati di Pernikahanku   Nyawa di Ujung Retakan

    "Pegang erat tanganku, kalau lu lepas sekarang, keberadaan lu bakal terhapus tanpa sisa!" teriak Braelyn di tengah badai data merah yang menyayat udara.Tubuh mereka melesat bebas menembus lorong piksel yang berputar liar dengan kecepatan kilat. Suara dengung frekuensi tinggi menghantam gendang telinga bagai ribuan jarum tajam. Braelyn mengerahkan seluruh sisa pendaran emas di telapak tangannya untuk menepis serpihan kode biner yang beterbangan. Cahaya merah dari mata raksasa di bawah sana semakin membesar, menelan seluruh ruang pandang mereka dalam sekejap."Aku tidak bisa merasakan jemariku lagi, rasanya seperti tubuhku tercabut dari tulang!" balas Kael tersengal-sengal di sampingnya.Peretas muda itu memejamkan mata rapat-rapat saat gelombang panas membakar kulit wajahnya. Tarikan gravitasi mendadak berbalik arah menjadi dorongan mahadahsyat yang melemparkan mereka keluar dari pusaran. Benturan keras menghantam lantai logam tipis yang bergetar hebat di bawah

  • Aku Mati di Pernikahanku   Cermin di Ujung Semesta

    "Kalian mengira air palung itu akan membawa pada kebebasan, padahal itu hanya saluran pembuangan akhir dari sejarah," suara dingin itu memecah keheningan ruangan.Sosok wanita berambut perak tersebut perlahan membalikkan badannya menghadap ke arah dua buronan yang basah kuyup. Tatapan matanya yang keperakan memantulkan kilau api dari kehancuran galaksi di balik jendela kaca raksasa. Jubah putih panjangnya berkibar lembut tertiup angin hampa yang merembes dari celah dinding yang retak. Di tangannya, sebuah bola kristal berdenyut memancarkan frekuensi yang sama persis dengan yang mereka temui di kuil purba."Siapa kau sebenarnya, kenapa semua hal di tempat ini selalu berpusat pada garis keturunan kami?" bentak Kael, suaranya bergetar menahan amarah dan sisa rasa takut yang mencekam.Wanita itu tersenyum tipis tanpa menyisakan kehangatan sedikit pun di garis wajahnya yang pucat. Langkah kakinya mendekat perlahan dengan irama yang tenang di atas ubin logam yang berg

  • Aku Mati di Pernikahanku   Sayap Besi di Pasir Hitam

    "Jangan biarkan cairan itu menyedot lututmu, tarik kakimu sekarang, Kael!" bentak Braelyn, suaranya tersengat rasa panik yang membakar dada.Cairan hitam legam itu mendidih hebat di sekeliling pergelangan kaki mereka, menarik tubuh ke bawah bak pasir hisap bercampur logam cair. Braelyn menghantamkan kedua telapak tangannya ke permukaan pasir yang mengeras, berusaha memecah cengkeraman sebelum menenggelamkan mereka sepenuhnya. Sosok bersayap logam menjulang tinggi di hadapan, menatap tajam tanpa secercah emosi di dalam bola mata ungu terang. Setiap detik yang terbuang di tempat terkutuk itu terasa bagai bilah pisau yang perlahan menembus leher."Kakiku sudah mati rasa, rasanya seperti membeku di dalam balok baja!" seru Kael terengah-engah, memukul-mukul tanah berpasir yang kini berubah sekeras semenPeretas muda itu mengerahkan seluruh sisa tenaga ototnya untuk mencabut tungkai kanannya dari cengkeraman lumpur pekat tersebut. Butiran pasir hitam menempel tebal di

  • Aku Mati di Pernikahanku   Gema di Ambang Hampa

    "Jangan mundur selangkah pun atau kita akan terhapus dari sejarah selamanya!" teriak Eryx, suaranya parau menembus desing plasma yang membakar udara."Aku tidak bisa menahan mereka lebih lama, perisai ini mulai retak!" sahut Braelyn, napasnya tersengal di antara pendaran energi keemasan yang kian meredup di telapak tangannya.Eryx mengayunkan batangan besinya dengan pola liar, memukul mundur dua prajurit berzirah yang mencoba menyudutkan mereka. Ubin lantai hitam bergetar hebat di bawah pijakannya, mengeluarkan percikan listrik statis yang menusuk kulit. Setiap benturan senjata menghasilkan dentuman logam yang merambat ke seluruh sudut kubah. Di hadapan mereka, sang leluhur berdiri tenang, mengamati perlawanan sia-sia itu dengan senyum meremehkan."Kalian sungguh naif jika mengira sisa energi simulasi itu bisa menandingi otoritas pencipta sistem," ujar sang leluhur dingin sambil mengangkat pedang plasmannya tinggi-tinggi

  • Aku Mati di Pernikahanku   Retak di Tepi Waktu

    Cahaya putih menyilaukan mata perlahan meredup, menyisakan dengung frekuensi rendah yang menggetarkan tulang belakang. Gravitasi lenyap sepenuhnya, membuat tubuh mereka melayang bebas di tengah hamparan ruang hampa tanpa batas. Puing-puing benteng berterbangan berputar liar di sekeliling, hancur menjadi debu kosmik dalam hitungan detik. Udara terasa hampa tanpa oksigen, memaksa paru-paru membakar sisa energi terakhir untuk bertahan hidup."Kael! Tangkap tanganku sebelum pusaran ini memisahkan kita!" teriak Eryx histeris, merentangkan lengan di tengah badai partikel yang berputar kencang.Pria itu mengayunkan tubuhnya melawan arus gravitasi buatan yang menarik mereka ke dalam lorong gelap. Serpihan logam tajam melesat nyaris menggores lehernya tanpa ampun. Napasnya memburu di balik bibir yang mulai membiru akibat suhu ekstrem ruang hampa. Cengkeraman tangannya mengeras pada batangan besi yang kini kehilangan pendaran birunya."Aku tidak bisa melihat apa-apa, tari

  • Aku Mati di Pernikahanku   Senyum Braelyn, Rencana yang Berubah

    “Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn

  • Aku Mati di Pernikahanku   Braelyn Tidak Akan Menjadi Korban Lagi

    “Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at

  • Aku Mati di Pernikahanku   Braelyn Kembali ke Tiga Tahun Lalu

    “Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn

  • Aku Mati di Pernikahanku   Pertemuan Pertama dengan Eryx Caspian

    “Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status