Home / Romansa / Aku Mati di Pernikahanku / Penghancuran Total

Share

Penghancuran Total

Author: qia
last update publish date: 2026-06-01 18:08:17

“Jawab aku.”

Suara Braelyn terdengar jauh lebih dingin sekarang. Jemarinya menggenggam pemantik emas itu erat seolah benda kecil tersebut bisa memberinya semua jawaban yang selama ini dicari.

Hujan masih turun membasahi jalanan. Api di rumah Wilson belum sepenuhnya padam namun suasana di antara Braelyn dan Eryx terasa jauh lebih panas daripada kobaran di belakang mereka.

Tatapan Braelyn terkunci lurus pada pria di depannya.

Menunggu.

Memaksa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Mati di Pernikahanku   Kunci Pemusnahan

    "Tubuhmu hanyalah kode yang berulang, Adrian! Kau tidak punya wujud nyata untuk menantang kami!" bentak Braelyn, menyiapkan kepalan tangannya yang membara dengan pendaran energi emas.Tubuh Adrian tampak berkedip, bukan terdiri dari daging dan darah, melainkan proyeksi data padat yang terhubung langsung dengan kabel-kabel raksasa di langit-langit menara. Pria itu berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh ribuan pod yang mulai terbuka satu per satu. Uap dingin keluar dari pod tersebut, menyelimuti lantai logam dengan kabut tebal yang mencekam. Adrian tersenyum sinis, menatap kedua penyusup itu dengan tatapan merendahkan."Wujud nyata adalah konsep usang, Braelyn. Di sini, aku adalah arsitek, hakim, dan algojo," jawab Adrian tenang. "Kedatangan kalian di pusat transmisi ini adalah komponen terakhir yang dibutuhkan sistem. DNA Wilson yang mengalir di nadimu adalah kunci enkripsi yang selama ini dicari oleh protokol penghapusan total."Kael membelalak, jemarinya y

  • Aku Mati di Pernikahanku   Jaring Besi di Langit Ungu

    "Grid cahaya ungu itu tidak sekadar mengurung atmosfer, tapi juga memblokir total seluruh gelombang komunikasi kita ke luar orbit bumi," ujar Kael cemas, menatap layar gawai yang dipenuhi garis statis merah.Langit di atas mereka tampak begitu menakutkan, terbentang luas bagaikan sangkar raksasa berwujud jaring energi kosmik. Ratusan monolit hitam berdiri kokoh menembus awan, memancarkan dengung frekuensi tinggi yang membuat udara terasa berat untuk dihirup. Braelyn mengatupkan rahangnya rapat-rapat, mengawasi pergerakan titik-titik cahaya yang berpatroli di sepanjang garis grid tersebut."Jaring itu ditenagai langsung dari menara transmisi utama di garis khatulistiwa," ucap Braelyn dingin, mengepalkan tinjunya hingga berbunyi. "Kalau kita tidak menghancurkan pusat kendalinya, bumi akan selamanya menjadi sangkar steril bagi eksperimen mereka."Kael meraba sanksi kabel optik yang tersisa di pergelangan tangannya, mencoba menangkap sisa frekuensi radio yang lolos

  • Aku Mati di Pernikahanku   Amukan Pilar Hitam

    "Tahan posisi di belakangku, Kael, jangan biarkan pilar energi itu menyentuh sirkuit daruratmu!" seru Braelyn lantang, melesat kilat menembus hujan puing beton yang berjatuhan.Pendaran emas di telapak tangannya menyala terang, membelah kepulan asap tebal dan menangkis hantaman gelombang kejut hitam yang meluncur beringas. Ratusan pasukan purba bermata kosong melangkah serentak dari dalam tabung pemulihan, mengacungkan senjata purwarupa bertegangan tinggi ke arah mereka berdua. Suara dengung frekuensi rendah dari pilar energi menghantam gendang telinga tanpa ampun, memicu rasa pusing luar biasa di kepala Kael."Sistem kendali fasilitas ini terkunci total dari pusat, aku tidak bisa memutus aliran energi hitam itu!" raung Kael histeris, membanting tinjunya ke atas papan konsol yang terbakar.Peretas muda itu berguling cepat menghindari terjangan proyektil plasma yang melelehkan lantai baja di sisinya. Percikan api kosmik menyembur liar dari sela-sela kabel yang te

  • Aku Mati di Pernikahanku   Kebangkitan Sang Leluhur

    "Siapa kalian yang berani membangkitkan sisa benih terakhir peradaban sebelum waktunya tiba?" suara sosok berjubah putih itu menggema berat memecah keheningan ruangan.Braelyn berdiri tegak di depan Kael, mengarahkan tatapan tajam tanpa rasa gentar sedikit pun. Wanita itu menggenggam sisa serpihan besi erat-erat, bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Figur tinggi itu melangkah maju melewati genangan uap dingin yang mengepul di lantai baja. Sorot mata tajam di balik jubah putih tersebut memancarkan aura dominasi yang menekan rongga dada."Kami bukan pencuri yang ingin merusak tempat ini, kami adalah orang-orang yang mengakhiri simulasi busuk Adrian," balas Braelyn dingin, mempertahankan posisi siaganya.Figur itu berhenti tepat beberapa meter di hadapan mereka, memperhatikan lamat-lamat sisa pendaran emas di telapak tangan Braelyn. Garis senyum tipis terukir di wajah sosok tersebut, menyiratkan pengenalan mendalam akan garis keturunan Wilson. Kael mengi

  • Aku Mati di Pernikahanku   Lorong Zona Nol

    "Koordinat ini mengarah langsung ke Zona Nol, tempat di mana seluruh jejak peradaban manusia pertama kali dihapus dari muka bumi," ujar Kael tajam, menatap layar konsol kecil yang berkedip biru.Debu sisa reruntuhan monolit masih beterbangan di udara pagi yang dingin. Angin lembah berembus kencang, membawa aroma ozon pekat dari kawah yang membara. Braelyn merapatkan jaketnya, mengawasi peta hologram tiga dimensi yang memproyeksikan jalur tersembunyi menuju selatan. Tidak ada lagi sirkuit atau ilusi virtual yang mengurung kesadaran mereka."Kalau Zona Nol masih menyimpan rahasia, artinya Adrian bukan satu-satunya arsitek yang merancang kehancuran dunia ini," balas Braelyn dingin.Mereka melangkah menyusuri sisa jalan raya purba yang tertutup semak belukar liar. Tanah di bawah sepatu bot mereka terasa padat, berbeda dengan lantai logam labirin yang rapuh. Kael terus memindai frekuensi sinyal yang semakin menguat di setiap kilometer perjalanan. Suara dengung rendah

  • Aku Mati di Pernikahanku   Titik Nol Terakhir

    "Apa lagi yang belum hancur setelah kita meremukkan inti kesadaran utama itu, Kael?!" seru Braelyn tajam, bangkit berdiri dengan napas memburu.Tanah subur di bawah kaki mereka bergetar hebat, membelah hamparan rumput hijau menjadi celah-celah jurang yang menganga. Bayangan raksasa di ufuk timur menjulang tinggi, menutupi pendaran cahaya fajar dengan wujud besi hitam pekat. Suara derit gigi roda mekanik berukuran masif menggetarkan rongga dada tanpa ampun. Debu tebal mengepul liar, menutup jarak pandang mereka dalam hitungan detik."Itu bukan bagian dari simulasi virtual, itu adalah Mesin Pembersih Otomatis sisa peradaban pertama!" teriak Kael panik, meraba saku jaketnya yang kosong.Peretas muda itu mundur beberapa langkah, menatap ngeri ke arah pilar baja setinggi ratusan meter yang melangkah mendekat. Monolit raksasa tersebut memancarkan cahaya merah darah dari lensa utamanya, memindai seluruh permukaan daratan bumi. Panas ekstrem menyengat kulit seiring terb

  • Aku Mati di Pernikahanku   Braelyn Tidak Akan Menjadi Korban Lagi

    “Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at

  • Aku Mati di Pernikahanku   Braelyn Kembali ke Tiga Tahun Lalu

    “Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn

  • Aku Mati di Pernikahanku   Kematian Braelyn di Hari Pernikahannya

    “Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening

  • Aku Mati di Pernikahanku   Pertemuan Pertama dengan Eryx Caspian

    “Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status