Mag-log in"Eryx!" Jeritan Braelyn melengking, mengoyak sunyi yang mendadak mencekam di antara jalinan debu kosmik.
Suaranya tersendat di tenggorokan saat melihat tubuh Eryx tersentak hebat di udara. Rantai besi hitam berkarat yang keluar dari pusaran kegelapan itu melilit pergelangan kaki Eryx dengan begitu kencang hingga mengeluarkan bunyi gemeretak dari balik sepatu botnya. Sentakan itu begitu beringas, memutus momentum lompatan mereka dan menarik Eryx kembali ke arah jurang ketiadaan waktu de
Satu bulan kemudian.Kota metropolitan tahun 2026 ternyata tidak seburuk yang dibayangkan Braelyn di dalam labirin simulasi dulu. Tanpa monopoli gila dari Ardent Corp atau obsesi sains terselubung Wilson Group, kota ini berjalan seperti layaknya kota besar yang normal—bising, sibuk, tapi terasa sangat hidup.Sore itu, aroma adonan kue yang dipanggang berbaur manis dengan wangi es kopi susu dari kedai kecil di sudut distrik komersial. Di atas kaca jendela kedai tersebut, tertulis papan nama kayu sederhana The Anchor."Braelyn, ini daftar pesanan untuk meja nomor empat!" suara Kael melengking dari balik mesin kasir modern di depan. Pria itu kini tidak lagi memakai perban di kepalanya, melainkan sebuah celemek hitam dengan rambut yang ditata sedikit lebih rapi, walau pandangannya tetap tidak bisa lepas dari layar tablet yang memantau inven
Matahari fajar di luar sana ternyata tidak bohong. Sinarnya yang hangat menerobos sela-sela ventilasi, membiaskan debu-debu halus yang melayang lambat di udara. Tidak ada lagi kilatan ungu, tidak ada hitungan mundur digital yang berkedip galak di pelupis mata, dan yang paling penting kepala Braelyn rasanya luar biasa ringan.Sihir waktu ibunya sudah benar-benar padam."Pelan-pelan, Yah," bisik Braelyn sambil memapah Adrian keluar dari lift lobi gedung Wilson Group.Langkah kaki Adrian masih agak kaku—wajar saja untuk pria yang otot-ototnya sempat dipaksa tidur belasan tahun dalam tabung steril. Tapi begitu tangannya menyentuh pilar marmer lobi yang dingin, senyum tipis terukir di wajah tuanya. Matanya berbinar, bukan karena ambisi sains seperti Eleanor, melainkan binar lega seorang manusia yang akhirnya menapakkan kaki di dunia nyata."Udara di sini... rasanya be
Braelyn tidak bergerak mundur. Ia justru maju satu langkah, membiarkan pendaran cahaya keemasan di tangan kanannya menyinari lantai beton Vault 01. Cahaya itu tidak lagi memancar dalam gelombang kejut yang merusak, melainkan mengalir tenang, menciptakan kontras tajam dengan pendaran ungu pekat yang menguar dari tabung-tabung safir hitam di sekeliling Eleanor.Pikirannya berbisik dengan kejernihan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Ibu mengira dia mengendalikan Kunci Eleanor. Tapi dia tidak sadar bahwa esensi dari kunci ini bukan tentang memanipulasi masa lalu atau masa depan... melainkan tentang menerima detik ini sepenuhnya."Kamu bicara tentang peradaban baru, Ibu," suara Braelyn terdengar stabil, menggema di ruang melingkar tersebut. "Tapi yang kamu lakukan hanyalah membangun sangkar yang lebih besar. Kamu terjebak dalam ketakutanmu sendiri akan kehancuran bumi asli, sampai-sampai kamu mengorbankan suamimu dan putrimu sendiri."Eleanor, melalui tubuh Adrian, menghentikan gerak
Braelyn tidak bergerak mundur. Ia justru maju satu langkah, membiarkan pendaran cahaya keemasan di tangan kanannya menyinari lantai beton Vault 01. Cahaya itu tidak lagi memancar dalam gelombang kejut yang merusak, melainkan mengalir tenang, menciptakan kontras tajam dengan pendaran ungu pekat yang menguar dari tabung-tabung safir hitam di sekeliling Eleanor.Inner monologue-nya berbisik dengan kejernihan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Ibu mengira dia mengendalikan Kunci Eleanor. Tapi dia tidak sadar bahwa esensi dari kunci ini bukan tentang memanipulasi masa lalu atau masa depan... melainkan tentang menerima detik ini sepenuhnya."Kamu bicara tentang peradaban baru, Ibu," suara Braelyn terdengar stabil, menggema di ruang melingkar tersebut. "Tapi yang kamu lakukan hanyalah membangun sangkar yang lebih besar. Kamu terjebak dalam ketakutanmu sendiri akan kehancuran bumi asli, sampai-sampai kamu mengorbankan suamimu dan putrimu sendiri
"Sial, dia memancing kita ke sarang lamanya," umpat Kael seraya memukul setir jip taktis yang mereka tumpangi. Kendaraan besar itu melesat membelah jalanan kota yang mulai kacau. Di kanan dan kiri jalan, lampu-lampu jalanan berkedip tidak stabil, dan beberapa kendaraan otomatis tampak menepi karena sistem navigasinya mendadak malfungsi.Braelyn menatap layar dasbor yang masih menampilkan visualisasi Vault 01. Pikiran-nya mencoba mencerna situasi dengan kepala dingin. Jadi, Wilson Group di dunia nyata ini juga memiliki ruang bawah tanah yang sama. Ibu tidak hanya merancang simulasi, dia menyalin arsitektur dunia nyata ini ke dalam programnya. Altar itu... adalah tempat semuanya dimulai."Kael, berapa lama lagi kita sampai di Gedung Wilson Group?" tanya Eryx, matanya tetap waspada menatap ke luar jendela jip, memastikan tidak ada kejutan lain dari faksi luar maupun otoritas kota."Tiga menit jika kita terus menerobos pembatas jalan ini!" jawab Ka
"Ayah..." Suara Braelyn tercekat, nyaris tidak keluar dari tenggorokannya yang mendadak kembali kering.Kedua tangannya yang semula mendekap Eryx kini beralih mencengkeram komunikator di tangan Kael dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Matanya melekat lekat pada layar digital yang menampilkan visualisasi mengerikan dari kamar medis Adrian Wilson. Dinding putih yang steril itu kini ternoda oleh coretan darah segar yang membentuk lambang bunga lili pernikahan—simbol terkutuk yang selalu mengantarnya pada kematian di tiga lini masa lalu. Di sekeliling lili tersebut, barisan angka Romawi kuno tampak bergerak mundur seperti detik jam digital yang rusak.Batin Braelyn bergolak hebat, menghancurkan seluruh rasa aman yang baru beberapa menit lalu ia rasakan. Tidak mungkin! Ini bumi asli tahun 2026! Ibu sudah hancur bersama reaktor inti, Lucien sudah terhapus dari eksistensi oleh Chronos! Siapa yang menulis ini?! Siapa yang membawa simbol t
"Eryx!!!"Jeritan Braelyn pecah menjadi gema yang menyakitkan di dalam lorong dimensi yang runtuh. Udara serasa merenggut paksa oksigen dari dadanya saat tubuhnya melayang di udara, terlempar oleh dorongan masif dari pria yang dicintainya melintasi batasan waktu. Melalui sudut matanya yang
"Jangan lepaskan dia, Braelyn! Tarik!" sebuah suara asing, serak dan berwibawa, menggema di antara deru gesekan jutaan butir pasir yang berputar liar di sekeliling mereka.Braelyn tersedak, paru-parunya serasa dihantam udara kering yang pekat dengan aroma kuno—campuran kertas usang dan deb
"Braelyn, cepat!" suara Eryx melengking di antara kepungan alarm yang memekakkan telinga, nadanya parau, terdistorsi gila-gilaan seperti kaset rusak yang dipaksa berputar cepat. Tubuh pria itu bergetar hebat; separuh lengannya mendadak buram, menyisakan piksel-piksel digital berwarna merah darah
"Braelyn, jangan dengarkan dia! Kita pasti punya cara lain!" suara Eryx meninggi, bersaing dengan suara gemuruh masif yang mulai meremukkan fondasi menara di bawah kaki mereka. Tangan kanan Eryx yang sehat mencengkeram jemari Braelyn begitu erat, menyalurkan kehangatan terakhir di tengah udara ya







