Partager

Bab 5. Permainan Takdir

Auteur: IyoniAe
last update Date de publication: 2026-10-10 21:16:01

"Serius?"

Jennaya berlari kecil agar dapat menjajari majikannya. "Anda benar-benar serius, Yang Mulia?"

Tanpa menghentikan langkah, Scarlet menjawab, "Tentu saja."

"Oh, astaga!" Jennaya berhenti. Ia memegang kepalanya seolah-olah telah kalah taruhan. Tak mau tuan putrinya berada dalam masalah besar, ia pun menyusul. "Tolong pikirkan baik-baik, Yang Mulia."

Scarlet tak menanggapi.

"Jangan gara-gara emosi sesaat Anda lantas mengambil keputusan sembrono." 

Pelayan itu melanjutkan, "Saya takut Anda akan menyesal nantinya."

"Ini yang diinginkan Felix, Jennaya. Dia ingin bersama Aislin." Scarlet mempercepat langkahnya memasuki lorong istana. 

Sore-sore begini biasanya sang ayah sedang di ruang pribadi menikmati waktu luang sebelum minum teh. 

Dugaan gadis itu benar karena di ujung lorong, ia melahat pengawal pribadi raja berjaga.

Suara Jennaya bergema ketika memohon, "Aku tahu Anda sangat mencintai Tuan Felix, tetapi ... ayolah, Yang Mulia. Apakah kalau beliau meminta Anda mati, Anda akan membunuh diri Anda?"

Scarlet berhenti di depan ruang pribadi ayahnya. Ia mengembuskan napas panjang sebelum menjawab, 

"Selama ini, bukankah aku begitu?"

Jennaya terdiam sebentar. Raut wajahnya menunjukkan jawaban ya. "Tapi, Yang Mulia, Anda--"

"Sudahlah, Jenna sayang." Scarlet menepuk pipi pelayannya dengan lembut. "Kau adalah temanku yang paling tulus. Aku benar-benar berterima kasih. Ingatkan aku, jika di kemudian hari aku memarahimu, mengomelimu, dan memperlakukanmu denga semena-mena--"

"Itu tandanya Anda kembali normal," potong sang pelayan.

Scarlet tertawa. "Ya." 

Ia lantas mendorong Jennaya yang menghalanginya, lalu mengumumkan kedatanganya pada pengawal pribadi raja. 

Tak lama, Scarlet dipersilakan masuk. Ia melirik pelayannya yang meremas-remas jemari sebelum masuk.

Di dalam, Raja Ivander sedang duduk di depan perapian sambil membaca buku. "Duduklah, Sayang."

"Tidak usah, Ayah. Aku tak mau menganggu waktu santaimu," ujar Scarlet sebelum tekadnya memudar. 

Keputusannya ini bukan semata karena permintaan Felix. Walau takut dirinya mati seperti Aislin di kehidupan yang dulu, ia ingin mencoba pilihan yang berbeda. 

Lagipula, karena sudah bisa meramalkan kematiannya, Scarlet akan berusaha mencuranginya. 

Ia berencana melarikan diri dari kereta yang membawanya ke istana iblis nanti. 

Dengan keyakinan ia mampu lolos dari maut, ia pun melanjutkan, "Aku memilih ib--maksudku raja dari negeri seberang untuk menjadi suamiku."

Raja Ivander tersedak oleh ludahnya sendiri. Ia bangkit dari kursi sembari menatap putrinya dengan bingung. 

"Apa?" tanyanya seolah salah dengar.

"Aku memilih menikah dengan ... ayolah, Ayah, kau paham betul apa yang kubicarakan tadi." Scarlet mengentakkan kaki, duduk di kursi lain di depan perapian. 

Ia tak mau mengulang perkataannya tadi. Ia sendiri sebenarnya tak percaya berani bicara seperti itu.

"Tapi, kenapa?" Raut khawatir terpampang di wajah ayahnya.

 Sang raja lantas duduk di samping Scarlet, mengelus pundak gadis itu dak melanjutkan, 

"Apakah seseorang mengancammu?"

Scarlet menggeleng.

"Lalu, kenapa?" Raja Ivander bangkit, mondar-mandir. "Ini tidak masuk akal. Aku kira kau mencintai Felix Duncan."

Mendengar lelaki itu disebut, hati Scarlet seperti diremas. 

"Tidak, Ayah. Aku tidak lagi mencintainya. Aku ..." Ia menarik napas dalam-dalam, lalu, "... ingin menikah dengan iblis itu. Siapa namanya?"

"Light Vermilion," jawab Ivander, "dan dia bukan iblis--oh, sialan. Aku tak bisa menutup-nutupinya lagi. Tidak kepadamu. Dia memang iblis, Scarlet. Iblis yang kejam. Jadi, kumohon, tarik kembali keputusanmu. Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya."

Scarlet menggeleng lagi. Andai ia punya pilihan lain. "Tidak apa-apa, Ayah. Aku akan selamat."

"Tidak-tidak," sahut Raja Ivander. Ia berubah panik. "Aku mengatur semua ini agar bukan kau yang harus menikahinya, Scarlet. Bukan putriku."

Gadis itu terhenyak mendengar pengakuan ayahnya. Matanya memicing saat bertanya, 

"Mengatur? Apa maksud Ayah?"

Sorot kalah terpantul dari mata sang raja. Bahunya melorot lesu. 

"Aku sengaja mengatur kau dan Aislin memilih gulungan, alih-alih membiarkan dewan yang memutuskan siapa yang mesti menjadi pengantin iblis itu.  Aku menempatkan gulungan berisi tulisan pemilih ke baki yang akan diletakkan di dedepanmu, tetapi kemudian kudengar Felix meminta Aislin memilih gulungan yang ada di depanmu."

"Tapi, Aislin memang mengambil gulungan di depanku. Seharusnya dia yang memilih, bukan?" Scarlet heran.

"Itu sebelum Madelaine mengintip isi gulungan dan menukarnya."

Gadis itu ternganga. Ia ingin percaya bahwa bagaimanapun manusia mencurangi, takdir tetap bekerja bagaimana semestinya. 

Ia jadi takut. Takut bahwa kematian yang ingin ditunda justru semakin cepat tiba.

"Scarlet," panggil ayahnya. "Apa kau ingin membatalkan keputusanmu?"

"Tidak," putusnya dengan tekad bulat. Jika memang harus mati, bukankah lebih cepat lebih baik? 

Ia pun bangkit dari duduknya. "Aku ingin pernikahanku dengan Light Verminion dipercepat," tambahnya menuju pintu.

"Eh, Scarlet, namanya Light Vermilion, pakai l," koreksi sang ayah. 

Namun, Scarlet sudah terlanjur keluar.

Begitu kembali ke lorong, ia terkejut melihat Felix mencengkeram leher pelayannya. Aislin dan Lara mengapitnya. 

Para penjaga yang menjaga pintu sebelumnya berusaha melerai.

"Hentikan!" seru gadis itu. "Apa yang kalian lakukan?"

Felix melepas cengkeramannya. 

Jennaya terbatuk. Ia memegangi lehernya yang bergurat merah. 

Melihat hal itu, Scarlet menjadi murka. Ia mendorong pemuda itu dengan keras.

 "Kau boleh menyakitiku, kau boleh membunuhku, tetapi jangan ganggu Jennaya! Kau bajingan! Berengsek! Pengecut! Enyahlah kau!"

Mata Felix melebar. Saking terkejutnya, ia sampai tak bisa membalas. Para penjaga menyingkir.

Scarlet sendiri ikut terkejut. Ia tak pernah mengumpat pada Felix sebelumnya. 

Bahkan saat lelaki itu menyakiti hatinya sedemikian rupa, ia selalu memaafkan. 

Namun sekarang, entah kenapa ketika melihat Jennaya disakiti, ia marah. Ia membenci Felix.

Mungkin karena kini Scarlet tahu betapa setianya Jennaya, dan sadar hanya dialah di istana ini yang benar-benar tulus.

"Scarlet, ada apa denganmu?" Aislin memecah keheningan. "Kau mengumpat? Pada Felix? Apa kau baik-baik saja?"

Pulih dari keterkejutan, Felix terbata saat berkata, "K-kau! Kau membentakku?" 

Ia mendengkus. "Dengar, Scarlet, aku tahu kau bersikap seolah-olah membenciku untuk menarik perhatianku, kan? Itu tidak mempan."

Rasa muak mendadak saja Scarlet rasakan saat mendengar ucapan Felix. Ia sampai heran bagaimana dulu ia bisa begitu memuja lelaki itu? 

"Betapa butanya aku selama ini," gumamnya.

"Apa?" Aislin mengernyit. "Kau bilang apa?"

"Tidak ada," jawab Scarlet berdusta. 

Ia lantas beralih pada Felix. "Melihat sikapmu padaku, aku benar-benar rela meninggalkanmu. Kau ingin bersama Aislin, kan? Aku tak akan menghalangi kalian. Tapi tolong, jangan ganggu aku dan Jennaya lagi. Menjauhlah dari kami."

Setelah berbicara seperti itu, Scarlet pun menarik Jennaya pergi. Mereka tak menoleh saat meninggalkan lorong.

"Tidak bisa dipercaya," ujar Aislin melihat punggung adik tirinya menjauh. "Benarkah dia melepasmu?"

Ragu-ragu, Felix menggeleng. "Kurasa dia hanya merajuk. Lima menit lagi, dia pasti merengek, dan meminta belas kasihku. Kau kenal betul seperti apa Scarlet."

Lara menambahi, "Sepertinya, Yang Mulia Scarlet begitu sedih Anda campakan, Tuan. Sehingga mentalnya terganggu. Kasihan ...."

Belum sempat menanggapi, pintu ruang pribadi mendadak terbuka. Raja Ivander berhenti di ambang pintu. 

"Rupanya kau ada di sini, Aislin. Masuklah, aku ingin bicara denganmu. Empat mata."

Aislin menoleh pada Felix sebentar sebelum masuk. Hampir setengah jam kemudian, gadis itu keluar dengan air mata yang berderai. 

Felix yang menunggunya pun bertanya, "Ada apa?"

"Scarlet ...," jawab Aislin sembari terisak. "Ayah menuduhku mengancam Scarlet memilih keputusannya."

"Sialan," umpat Felix mengepalkan tangan.  Sembari menggertakkan gigi, ia berkata, "Sepertinya, selama dia masih hidup, kita tak akan bahagia."

***

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Aku Menikahi Raja Iblis Setelah Suamiku Memilih Wanita Lain   Bab 8. Rencana Membalik Keadaan

    Scarlet meninggalkan lorong dengan langkah tergesa. Ia tak ingin berlama-lama di sana, apalagi memberi Felix kesempatan untuk melontarkan lebih banyak omong kosong.Tergopoh-gopoh, Jennaya menyusulnya. Sesekali pelayan itu melirik wajah majikannya dengan cemas. Bekas tamparan di pipi Scarlet mulai memerah, dan melihatnya saja sudah membuat Jennaya geram.Sebelum menyusul Scarlet, ia sempat meminta seorang pelayan yang berpapasan untuk membawakan bongkahan es batu dan kain ke kamar sang tuan putri.Di belakang mereka, Aislin menatap Felix dengan cemas."Kenapa kau menamparnya?" protesnya. "Bagaimana kalau dia benar-benar mengusirmu?"Felix merangkul bahunya, lalu mengusapnya lembut. "Jangan khawatir, Sayang. Dia hanya menggertak. Scarlet tak akan berani mengusirku.""Tapi tadi raut mukanya terlihat tidak main-main.""Itu cuma akal-akalannya. Aku yakin, dengan

  • Aku Menikahi Raja Iblis Setelah Suamiku Memilih Wanita Lain   Bab 7. Rasa yang Hilang

    Ibarat kata, sudah jatuh, tertimpa tangga, terinjak gajah pula.Itulah yang dirasakan Scarlet hari itu.Setelah mendapat balasan tidak mengenakkan dari Light Vermilion, suasana hatinya memburuk. Surat yang dikirimkannya dengan harapan mendapatkan jawaban memuaskan justru dibalas dengan kalimat singkat dan dingin.Benarkah Light seorang raja? Kalau memang begitu, mengapa ia tidak menunjukkan kebijaksanaan sedikit pun?Scarlet mendengkus. Tak ada basa-basi, apalagi keramahan. Pria itu seolah tidak peduli bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting.Ia melanjutkan langkah menyusuri lorong istana. Pikirannya kembali tertuju pada perjalanan menuju istana Light nanti. Jika pria itu tidak bisa diandalkan, ia harus mencari cara lain untuk memastikan keselamatannya. Mungkin ia bisa meminta ayahnya menambah jumlah pengawal.Saat memasuki lorong berikutnya, Scarlet bertemu dengan Jennaya.

  • Aku Menikahi Raja Iblis Setelah Suamiku Memilih Wanita Lain   Bab 6. Tak Punya Hati

    Scarlet tidak ingat bagaimana Aislin dulu mati. Waktu itu ia baru hendak menjalani malam pertama dengan Felix. Kepergian Aislin ke negeri sang iblis bersamaan dengan pernikahan mereka.Gadis itu ingat istana mendadak gempar. Kereta Aislin sudah tak berbentuk ketika melewati gerbang. Atapnya roboh, rodanya bengkok. Kaki kuda yang menariknya pun terseok-seok. Orang bilang, sebuah keajaiban kereta itu bisa sampai ke istana.Hanya ada dua prajurit yang menyertai. Selain terluka, para prajurit itu gila. Baju zirah mereka penuh darah dan rusak. Pedang mereka hilang entah ke mana. Raja memerintahkan untuk menginterogasi mereka, tetapi seolah dibungkap, mereka membisu. Suara mereka seperti dicerabut.Namun anehnya, jasad Aislin utuh. Tak ada luka, tak ada memar. Bahkan goresan pun tak ada. Ia terbaring mati di dalam kereta. Begitu saja.Membuat Scarlet kini bertanya-tanya, apa penyebab gadis itu mati. Mungkinkah hewan? Kalau begitu, kenapa tak ada bekas cakar di tubuh Aislin?Scarlet sedang

  • Aku Menikahi Raja Iblis Setelah Suamiku Memilih Wanita Lain   Bab 5. Permainan Takdir

    "Serius?"Jennaya berlari kecil agar dapat menjajari majikannya. "Anda benar-benar serius, Yang Mulia?"Tanpa menghentikan langkah, Scarlet menjawab, "Tentu saja.""Oh, astaga!" Jennaya berhenti. Ia memegang kepalanya seolah-olah telah kalah taruhan. Tak mau tuan putrinya berada dalam masalah besar, ia pun menyusul. "Tolong pikirkan baik-baik, Yang Mulia."Scarlet tak menanggapi."Jangan gara-gara emosi sesaat Anda lantas mengambil keputusan sembrono." Pelayan itu melanjutkan, "Saya takut Anda akan menyesal nantinya.""Ini yang diinginkan Felix, Jennaya. Dia ingin bersama Aislin." Scarlet mempercepat langkahnya memasuki lorong istana. Sore-sore begini biasanya sang ayah sedang di ruang pribadi menikmati waktu luang sebelum minum teh. Dugaan gadis itu benar karena di ujung lorong, ia melahat pengawal pribadi raja berjaga.Suara Jennaya bergema ketika memohon, "Aku tahu Anda sangat mencintai Tuan Felix, tetapi ... ayolah, Yang Mulia. Apakah kalau beliau meminta Anda mati, Anda akan m

  • Aku Menikahi Raja Iblis Setelah Suamiku Memilih Wanita Lain   Bab 4. Keputusan

    Bagaimana Felix tahu Aislin butuh diselematkan? Scarlet yakin Felix sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Pemuda itu sama seperti dirinya, telah dibangkitkan ke masa lalu."Cintakah kau pada Aislin?" tanya Scarlet. Matanya panas menahan air mata."Apa?" Felix tampak gugup sebelum melanjutkan, "Jangan konyol! Aku hanya kasihan padanya."Hati Scarlet semakin sakit. Felix pasti berbohong demi Aislin. Mencoba tegar, gadis itu pun menjawab, "Akan kupikirkan." Ia lantas membuka pintu kamarnya.Masih di ambang pintu, Felix tiba-tiba menarik lengannya dengan kasar. Ia mendorong Scarlet hingga punggungnya menabrak dinding. "Apa maksudmu akan kau pikirkan?"Scarlet terkejut mendapati raut murka di wajah Felix."Berengsek, kau! Kau memang gadis manja yang tak memiliki perasaan! Bajingan! Kau tega mengorbankan saudaramu sendiri hanya demi kesenanganmu! Apa kau tidak kasihan pada Aislin? Dia dianaktirikan oleh ayahnya sendiri! Diabaikan! Tidak seperti dirimu yang selalu dimanja, diutamakan! Seb

  • Aku Menikahi Raja Iblis Setelah Suamiku Memilih Wanita Lain   Bab 3. Pemilih atau Terpilih

    "Bagaimana mungkin?"Scarlet mendapati tubuh Felix menegang saat membaca gulungannya. Matanya melebar. Namun kemudian, ia bersandar ke dinding istana sembari memegangi rambutnya dengan kedua tangan. Ekspresinya seperti seseorang yang telah kalah taruhan."Tidak, Ayah, aku tidak mau ...." Aislin membuang gulungannya. Ia merengek pada sang raja."Ini sudah takdir, Sayang. Kau yang memilih sendiri," sahut Raja Ivander menenangkan.Melihat respons mereka, Scarlet pun melihat gulungan miliknya. Rupanya, ia mengambil gulungan yang berisi tulisan pemilih. Ia terkejut.Matanya mencari-cari Jennaya di barisan para pelayan.Ia bingung setengah mati. Seharusnya gulungan yang dipilihnya berisi tulisan terpilih alih-alih pemilih. "Jadi, bagaimana, Sayang?" Raja Ivander merangkul bahu Scarlet. "Siapa yang kau pilih untuk menjadi suamimu?"Di kehidupan sebelumnya, Scarlet langsung menyebut nama Felix Duncan. Tetapi kali ini tidak. "Bolehkah aku bicara berdua dengan Ayah?""Tentu, Sayang." Sang r

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status