登入Lorong lantai VVIP rumah sakit itu perlahan menyerap sisa-sisa kepanikan yang sempat pecah. Udara dingin bertiup dari kisi-kisi pendingin ruangan, membelai wajah Zora yang masih terbenam di dada Alby. Detak jantung pria itu terdengar stabil dan konstan di bawah kain kemejanya, menjadi satu-satunya irama yang menahan Zora agar tetap tenang.Tangan besar Alby bergerak perlahan, menangkup kedua pipi Zora dan mengangkat wajah istrinya hingga mata mereka bertatap lurus. Tepi mata Zora masih menyisakan jejak air mata yang mengering, memancarkan kerapuhan yang membuat dada Alby berdesir perih."Dengarkan aku, Zora," bisik Alby dengan nada bariton yang begitu tenang namun terpatri tegas. "Selena bukan anak kecil yang pergi tanpa tujuan dan arah. Kau sendiri melihat bagaimana dia menyusun pelariannya."Zora mengerjap pelan, membiarkan jemari Alby mengusap sisa air mata di pipinya."Papan pelat palsu, lokasi pertukaran kendaraan di area tanpa kamera pengawas, hingga rute jalan pintas melalui lo
Langkah kaki Zora bergemuruh membelah kesunyian koridor rumah sakit VVIP. Udara dingin beraroma antiseptik yang menusuk hidung terasa bagai ribuan jarum tipis yang menghujam paru-parunya.Di ujung koridor dekat area tunggu lounge, Alby berdiri tegap bersama Alan. Pria itu baru saja menyelesaikan panggilan teleponnya ketika sosok Zora yang berlari kecilmenerobos masuk ke dalam jarak pandangnya. Melihat istrinya yang memucat dengan mata sembap penuh air mata, alis tebal Alby seketika bertaut tajam. Sifat protektifnya menyala instingtif. Pria itu melangkah lebar menyambut Zora, menangkap kedua bahu istrinya."Zora, ada apa?" suara bariton Alby bergetar penuh kecemasan. Tangannya menopang tubuh Zora yang berguncang hebat. "Kenapa kau berlari seperti ini? Ingat kondisimu!""Alby... Selena... Selena pergi!" jerit Zora dengan suara pecah yang parau. Air matanya meluncur deras membasahi pipinya yang hangat. Tangannya yang gemetar menyodorkan gulungan surat itu ke
Lampu merah di atas pintu ganda ruang tindakan gawat darurat akhirnya padam, berganti pendar hijau yang redup. Ketika pintu bergeser terbuka, Dokter Xavier melangkah keluar dengan raut wajah kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Masker medis yang melarutkan sebagian napas beratnya terpasang melunglai di leher.Zora seketika menegakkan tubuh, melepaskan diri dari dekapan Alby yang sejak tadi memeluk bahunya. Langkah Zora bergetar menyambut sang dokter. "Dokter Xavier, bagaimana keadaan Selena dan bayinya?"Dokter Xavier menghela napas panjang sebelum menatap Zora dan Alby secara bergantian. "Nyonya Selena berhasil melewati proses persalinan gawat darurat ini. Namun, karena lahir prematur di usia kehamilan yang baru menginjak tujuh bulan, bayi laki-lakinya berada dalam kondisi yang sangat lemah."Dada Zora berdesir tajam. Tangannya refleks meremas jemari Alby yang berdiri kokoh di sampingnya. "Sangat lemah? Apakah organ dalamnya belum sempurna?""Fungsi paru-parunya belum berkembang se
“Tolong lebih cepat, Alby,” bisik Zora dengan mata berkaca-kaca.Ketika kendaraan mereka akhirnya berhenti di area parkir VVIP apartemen eksklusif tempat tinggal Selena, Alby dan Zora langsung melangkah cepat menuju lift khusus.Pintu lift terbuka di lantai dua belas. Zora setengah berlari menelusuri lorong yang sepi, diikuti Alby yang berjalan tegap dengan langkah-langkah lebar, mengawasi setiap pergerakan istrinya agar tidak tersandung.Zora mendorong pintu tebal itu hingga terbuka lebar.“Selena!” panggil Zora nyaring begitu menjejakkan kaki di dalam foyer.Suasana di dalam apartemen itu remang-remang. Tidak ada suara sambutan. Hanya terdengar rintihan samar yang berasal dari area ruang tengah.Zora dan Alby bergegas melangkah masuk. Di sana, di dekat sofa utama, Selena sudah terduduk meringkuk. Wajahnya pucat pasi, rambutnya yang lepek oleh keringat menempel kaku di dahi dan pipinya. Tubuhnya yang kurus gemetar, sementara kedua tangannya melingkari perutnya yang membesar dengan er
“Aku tidak bisa menahannya lagi...”Suara itu tercekat di kerongkongan, nyaris tenggelam oleh deru napas yang memburu dan siksaan tak kasat mata yang menghantam seluruh tubuhnya.Di dalam dapur apartemennya yang dingin dan sunyi, Selena berdiri mematung. Cahaya lampu gantung berbahan besi tempa membias temaram, memantulkan bayangan tubuhnya yang kini nampak berbeda. Kehamilannya telah memasuki bulan ketujuh. Perutnya yang membuncit tegang kontras dengan lengannya yang kian mengurus.Satu detik lalu, Selena hanya berniat mengambil segelas air hangat di dapur. Namun detik berikutnya, sebuah hentakan rasa sakit yang teramat hebat menjalar mendadak dari dasar perutnya, merambat cepat meremukkan pinggang hingga ke tulang belakang.Cring!Gelas kaca di genggamannya terlepas, jatuh menumbuk lantai dan hancur berkeping-keping. Selena tidak peduli pada pecahan kaca yang berserakan di sekitar kakinya. Jemarinya yang pucat mencengkeram erat tepi meja dapur dari marmer tebal hingga buku-buku jari
Alby mendengus pasrah, membuang napas pelan melalui hidungnya. Ia tahu ia telah kalah telak. "Baiklah. Tapi jika kau mulai merasa napasmu agak berat, kita langsung berhenti. Mengerti?""Mengerti, Tuan Protektif," kekeh Zora riang.**Sore harinya, Janji itu ditepati. Alby menggandeng jemari Zora dengan sangat protektif saat mereka menelusuri jalan setapak berbatu di tepi danau buatan di area belakang kediaman Laurent. Setiap kali ada kerikil yang agak menonjol atau permukaan tanah yang licin, Alby akan dengan siaga memperketat genggamannya, atau bahkan merangkul pinggang Zora untuk memastikan istrinya tidak tersandung.Kadang, mereka berhenti hanya untuk melihat sepasang angsa putih yang berenang tenang di permukaan air danau yang memantulkan pendar jingga matahari terbenam. Kadang, Zora hanya ingin berdiri diam, menikmati genggaman tangan Alby yang hangat di tengah sejuknya udara sore.Alby tidak pernah menunjukkan raut wajah bosan atau terburu-bu







