Share

Bab 3

Penulis: Kelby
Keesokan paginya, aku pergi ke ruang rapat dan menunggu.

Tak lama, seorang wanita dengan mantel panjang masuk dengan langkah tergesa-gesa.

Di belakangnya ada seorang pria, masih dengan sikap tenangnya. Bahkan setelah 20 tahun, aku masih bisa langsung mengenalinya.

Aku sudah berkali-kali membayangkan bertemu dengannya lagi. Namun, hasrat hatiku untuk menerjang kepadanya dan menghabisinya masih tetap sama.

"Anda Dokter Ajeng?"

Wanita itu memandang sekeliling, lalu tatapannya berhenti pada aku.

Dokter Ferdi segera berdiri. "Kak Mona, ini Profesor Ajeng. Profesor Ajeng, ini ...."

"Anda Dokter Ajeng?"

Mona memotong kalimatnya dan langsung berjalan menghampiriku.

Dia tidak mengenali aku.

Gadis yang 20 tahun lalu menangis hingga pingsan di depan kamar mayat itu sudah sangat berbeda dari ahli bedah saraf terkemuka yang telah menerbitkan enam artikel di jurnal "The Lancet".

"Dokter Ajeng, apa maksud Anda? Seenaknya bilang nggak jadi terima? Tiga hari yang lalu, kami sudah konfirmasi jadwal dengan tim Anda. Peralatan sudah disiapkan, rencana perawatan juga sudah dibuat, sekarang Anda malah mundur?"

"Bu Mona, saya sudah sampaikan ke Dokter Ferdi, laporannya akan saya serahkan nanti."

"Laporan apa?"

Dia terkekeh.

"Anda kan bisa menangani operasi yang lebih sulit dari ini dengan sempurna. Nggak mungkin malah operasi ini membuat Anda takut?"

Melihat suasana mulai tegang, Reihan segera berusaha meredakan situasi.

"Dokter Ajeng, saya Reihan Abimana, putra pasien. Saya mengerti Anda mungkin punya pertimbangan sendiri, tapi kondisi ayah saya sangat mendesak. Kalau soal biaya ...."

"Bukan soal biaya."

"Lalu apa?"

Mona melemparkan tasnya ke atas meja.

"Apa karena rumah sakit kami terlalu kecil untuk orang sehebat Anda?"

Dokter Ferdi buru-buru menyela. "Kak Mona, tenang dulu. Profesor Ajeng mungkin memang ...."

"Memangnya dia siapa? Ahli bedah saraf ternama yang pergi begitu saja, meninggalkan pasien yang menunggu pertolongan?"

Dia berbalik dan menatapku tajam.

"Biar kuberi tahu, Ajeng, walaupun ayahku sudah pensiun, dia masih anggota dewan penasihat Dinas Kesehatan tingkat provinsi. Aku cukup telepon sekali saja, kamu bisa ...."

"Mona."

Reihan menarik lengannya dan merendahkan suaranya. "Tenang dulu."

Lalu, dia menatapku dan memberiku senyum meminta maaf.

Senyuman itu sangat kukenal. Dua puluh tahun lalu, di depan ruang mayat, dia juga menenangkanku dengan cara yang sama. "Ajeng, kamu harus kuat."

Namun, dia langsung berbalik dan bertunangan dengan Mona, sementara berkas tuntutanku dikembalikan.

"Dokter Ajeng, saya nggak tahu apa alasan sebenarnya Anda menolak. Tapi, sebagai sesama dokter, saya yakin Anda pasti orang yang menjunjung tinggi etika kedokteran. Ayah saya ...."

Aku tidak mau mendengarkan kata-katanya, jadi aku langsung menyela.

"Dokter Reihan, keputusan saya nggak akan berubah karena bujukan siapa pun."

Wajah Mona langsung muram.

"Oke, kamu hebat. Kamu ahli, kamu luar biasa. Kalau begitu, biart kuberi tahu. Besok, akan ada rapat dengan dinas tingkat provisi untuk membahas masalah ini. Semoga kamu tetap bertahan dengan sikapmu ini."

Dia mengambil tasnya, berbalik, dan pergi dengan satu kalimat.

"Orang yang paling aku benci seumur hidupku adalah orang yang sombong hanya karena punya sedikit kemampuan. Menyembuhkan dan menyelamatkan orang itu kewajiban dokter, kamu nggak berhak pilih-pilih."

Suara sepatu hak tingginya mengentak di lantai, lama kelamaan memudar di kejauhan.

Reihan ragu sejenak dan akhirnya berkata kepadaku.

"Dokter Ajeng, mohon maaf, istri saya memang agak pemarah. Silakan pertimbangkan baik-baik. Nomor saya siap dihubungi kapan saja."

Dokter Ferdi di samping tidak berani berkutik sedikit pun. Hingga Reihan pergi, barulah dia berbicara dengan hati-hati.

"Profesor Ajeng, kenapa harus begini? Kalau memang ada masalah, kita bisa bicarakan baik-baik saja ...."

"Dokter Ferdi, saya punya alasan sendiri. Saya nggak mungkin melakukan operasi ini."

"Ya sudah kalau begitu .... Anda harus siap-siap untuk besok. Dia kemungkinan nggak akan menyerah begitu saja."

Aku mengangguk, lalu memberi isyarat kepada Hanna untuk bersiap pergi.

Aku tidak tahu apakah Mona akan menyerah begitu saja, tapi besok, aku juga tidak berniat untuk menyerah begitu saja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 10

    "Ibu, aku datang menjengukmu."Sebuah kuburan sederhana dan sebuah nisan kecil, itulah yang tersisa dari ibuku."Bu, aku sudah menyelidiki perkara itu untukmu."Aku berjongkok dan meletakkan foto itu di samping.Foto yang diambil Retno tidak terlalu jelas. Sosoknya agak buram, tapi aku masih bisa mengenali siluet tubuhnya."Orang yang menyakitimu itu nggak mati di bawah pisauku."Aku berhenti sejenak."Dia mati karena keserakahannya sendiri."Tadi malam, kondisi kesehatan Hendra memburuk secara drastis, melampaui batas yang bisa dikendalikan oleh obat-obatan.Di ranjang rumah sakit, dia berulang kali jatuh koma, dan jeda saat dia sadar semakin pendek.Akhirnya, tidak ada yang bisa melakukan operasi untuknya. Setelah jatuh koma untuk yang terakhir kali, dia tidak pernah bangun lagi.Mona sudah bercerai dengan Reihan, dan sebagai mantan istrinya, dia secara tegas menyatakan tidak memiliki wewenang apa pun atas pengambilan keputusan medis.Hanna berdiri di samping, menungguku dengan tenan

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 9

    "Saudara Hendra Abimana, Anda kami ditangkap atas dugaan tindak pidana."Saat suara Kombes Wahyu terdengar dari dalam kamar rawat, banyak orang berdiri di luar pintu.Ada dokter, perawat, karyawan dari bagian lain yang datang setelah mendengar kabar, serta tidak sedikit pula awak media.Aku berdiri di dekat jendela di ujung koridor, mengamati dari kejauhan.Pintu kamar rawat setengah terbuka, memperlihatkan siluet Hendra yang terbaring di tempat tidur.Dia sangat kurus, bahkan tidak punya tenaga untuk mengangkat selimutnya.Setelah Pak Wahyu selesai membacakan surat pemberitahuan, dia menambahkan, "Ada yang ingin disampaikan?""Panggil anakku," jawabnya dengan susah payah.Dia hanya ingin bertemu Reihan.Namun, Reihan tidak muncul.Karena tiga jam sebelumnya, dia sudah berada di ruang interogasi.Irwan juga ikut terjaring. Karena dugaan menyembunyikan malpraktik medis, dia mengundurkan diri dari jabatan administratif dan menjalani pemeriksaan.Namun, semua ini bukan aku yang memulai, m

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 8

    "Ajeng, kamu menang. Sudah cukup, oke?"Sore hari setelah konferensi pers berakhir, Reihan muncul di depan pintu kamar hotelku.Di belakangnya ada Mona, yang kini tidak tampak energik seperti dulu."Katakan saja, apa yang kamu mau."Suaranya serak."Kamu mau uang, mau aku berlutut meminta maaf, atau mau aku mengundurkan diri? Sebutkan syaratmu!""Aku nggak punya syarat.""Nggak mungkin kamu nggak punya syarat! Kamu sudah mempersiapkan ini selama 20 tahun, mengerahkan banyak tenaga, hanya untuk melampiaskan amarahmu di konferensi pers?"Dia melangkah maju dan menghalangi jalanku."Aku tahu kamu membenciku, kamu membenci ayahku! Oke! Tapi, dia sekarang sudah sekarat. Terlepas dari apa yang pernah dia lakukan sebelumnya, dia sekarang cuma seorang pasien!"Aku mundur selangkah, bersandar pada bingkai pintu."Reihan, katakanlah, kalau 20 tahun yang lalu kalian berdiri di depan meja operasi ibuku dengan pemikiran yang sama, mungkinkah ibuku masih hidup sampai sekarang?"Mulutnya terbuka sedi

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 7

    "Profesor Ajeng, lihat tren berita teratas."Saat Hanna datang mengantarkan berkas kedua, dia tidak bisa menahan diri dan bicara kepadaku.Aku tidak membuka ponsel untuk melihatnya, hanya menerima berkas dari tangannya."Profesor Ajeng, humas departemen kita tanya, apa perlu membuat pernyataan? Kalau begini terus, jadwal janji temu Anda akan terganggu ....""Kamu sudah rapikan rekaman dari Retno?""Sudah.""Oke, tolong bantu aku hubungi satu orang lagi."Setelah Hanna pergi, Reihan menelepon."Ajeng."Kali ini, dia tidak memanggilku Dokter Ajeng. Nada sopan dalam suaranya akhirnya lenyap seluruhnya."Apa sebenarnya yang kamu inginkan?""Aku nggak ingin apa-apa.""Nggak mungkin, setiap orang pasti punya harga!""Oh ya? Pernahkah kamu berpikir kalau ada hal-hal yang nggak bisa diukur dengan harga? Tanyakan saja pada ayahmu. Oh, nggak bisa, mungkin dia sudah nggak bisa bicara lagi sekarang."Keheningan panjang di ujung telepon."Kamu akan menyesali ini.""Reihan, kamu yakin kalimat itu bu

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 6

    "Kepada anggota majelis yang terhormat, dokumen yang saya serahkan hari ini adalah Permohonan Penolakan."Ruang rapat Majelis Etika tampak lebih ramai daripada kemarin.Selain para ahli dan staf administrasi dari rumah sakit ini, ada empat orang yang datang dari Dinas Kesehatan."Pengunduran diri?"Ardi mendongak."Profesor Ajeng, Anda belum tahu seperti apa citra Anda di internet saat ini? Masih ingin mengundurkan diri?""Justru karena itu, saya harus menjelaskan semuanya di sini."Aku membuka map, lalu mengeluarkan lembar pertama."Pasien di meja operasi itu bernama Hendra Abimana. Dia dokter bedah yang menyebabkan kematian Rina Widyana, ibu saya, 20 tahun yang lalu."Ruang rapat seketika hening, semua orang tercengang."Pada 10 Juli 2004, ibu saya dilarikan ke Departemen Bedah Saraf RSUD Medika Kusuma karena pendarahan otak. Dokter bedah yang memimpin operasi saat itu adalah Hendra Abimana, yang menjabat sebagai Kepala Departemen. Karena sebuah kesalahan dalam operasi, pisau bedah m

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 5

    [Profesor Ajeng Widyana menolak merawat pasien kritis. Di mana hati nuraninya sebagai dokter?]Pukul 8 pagi keesokan harinya, berita ini menjadi berita utama di tiga platform informasi medis.Kolom komentar sudah sangat ramai.[Kalau nggak puas dengan bayarannya, bilang saja langsung, kenapa cari-cari alasan?][Dokter yang kabur begitu mendapat pasien yang operasinya sulit, apa masih pantas disebut ahli?][Tingkat keberhasilannya 100 persen, jangan-jangan karena dia menghindari operasi berisiko tinggi?]Aku mengembalikan ponselku kepada Hanna."Bagaimana penyelidikan yang kuminta kemarin?""Sudah ketemu."Hanna mengeluarkan selembar kertas dari tasnya."Dia sudah pensiun, sekarang tinggal di selatan kota. Tapi, dia sepertinya nggak terlalu ingin bertemu orang lain.""Buatkan janji temu dengannya, bilang saja anak Rina Widyana dari dua puluh tahun yang lalu ingin bertemu dengannya."Hanna melirikku dan mengangguk.Terdengar suara ketukan dari luar pintu.Aku membuka pintu, Reihan berdir

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status