Se connecterTahun ini, sebagai ahli bedah saraf paling terkemuka di negara ini, aku ditugaskan untuk melakukan operasi darurat di provinsi lain. Dua puluh tahun yang lalu, aku pernah datang ke ruang operasi ini. Ibuku mengalami pendarahan otak, dan dokter bedah yang memimpin operasi itu meleset setengah sentimeter saat melakukan sayatan. Ibuku meninggal, dan yang menghiburku hingga bisa melewati masa sulit itu adalah Reihan Abimana, cinta pertamaku. Baru kemudian aku tahu, dokter bedah yang memimpin operasi itu adalah ayahnya, Kepala Departemen Bedah Saraf terkenal di rumah sakit itu. Namun, yang sebenarnya melakukan operasi adalah Reihan sendiri, seorang dokter magang. Dia dan Mona sudah merencanakan semuanya sejak lama, menggunakan operasi ibuku sebagai latihan untuk membuka jalan bagi karier mereka. Setelah kejadian itu, Mona Hartanto dengan statusnya sebagai putri direktur rumah sakit, berhasil menutupi seluruh insiden tersebut. Sejak hari itu, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan program pascasarjana secara langsung. Aku masuk lagi dari awal kuliah kedokteran dan menempuh pendidikan dari sarjana hingga pascadoktoral. Aku menghabiskan 20 tahun penuh untuk mengubah diri menjadi orang yang "tidak akan pernah membuat kesalahan lagi". Hanya berharap suatu hari nanti, tragedi yang menimpa ibuku tidak akan pernah terulang. Hari ini, asistenku memberikan informasi pasien kepadaku: tumor batang otak, stadium lanjut, risiko sangat tinggi. Wajah itu sudah jauh lebih tua, tetapi aku langsung mengenalinya. Aku mengembalikan berkas itu kepada asistenku, lalu melepas jas dokterku. "Aku nggak bisa melakukan operasi ini."
Voir plus"Ibu, aku datang menjengukmu."Sebuah kuburan sederhana dan sebuah nisan kecil, itulah yang tersisa dari ibuku."Bu, aku sudah menyelidiki perkara itu untukmu."Aku berjongkok dan meletakkan foto itu di samping.Foto yang diambil Retno tidak terlalu jelas. Sosoknya agak buram, tapi aku masih bisa mengenali siluet tubuhnya."Orang yang menyakitimu itu nggak mati di bawah pisauku."Aku berhenti sejenak."Dia mati karena keserakahannya sendiri."Tadi malam, kondisi kesehatan Hendra memburuk secara drastis, melampaui batas yang bisa dikendalikan oleh obat-obatan.Di ranjang rumah sakit, dia berulang kali jatuh koma, dan jeda saat dia sadar semakin pendek.Akhirnya, tidak ada yang bisa melakukan operasi untuknya. Setelah jatuh koma untuk yang terakhir kali, dia tidak pernah bangun lagi.Mona sudah bercerai dengan Reihan, dan sebagai mantan istrinya, dia secara tegas menyatakan tidak memiliki wewenang apa pun atas pengambilan keputusan medis.Hanna berdiri di samping, menungguku dengan tenan
"Saudara Hendra Abimana, Anda kami ditangkap atas dugaan tindak pidana."Saat suara Kombes Wahyu terdengar dari dalam kamar rawat, banyak orang berdiri di luar pintu.Ada dokter, perawat, karyawan dari bagian lain yang datang setelah mendengar kabar, serta tidak sedikit pula awak media.Aku berdiri di dekat jendela di ujung koridor, mengamati dari kejauhan.Pintu kamar rawat setengah terbuka, memperlihatkan siluet Hendra yang terbaring di tempat tidur.Dia sangat kurus, bahkan tidak punya tenaga untuk mengangkat selimutnya.Setelah Pak Wahyu selesai membacakan surat pemberitahuan, dia menambahkan, "Ada yang ingin disampaikan?""Panggil anakku," jawabnya dengan susah payah.Dia hanya ingin bertemu Reihan.Namun, Reihan tidak muncul.Karena tiga jam sebelumnya, dia sudah berada di ruang interogasi.Irwan juga ikut terjaring. Karena dugaan menyembunyikan malpraktik medis, dia mengundurkan diri dari jabatan administratif dan menjalani pemeriksaan.Namun, semua ini bukan aku yang memulai, m
"Ajeng, kamu menang. Sudah cukup, oke?"Sore hari setelah konferensi pers berakhir, Reihan muncul di depan pintu kamar hotelku.Di belakangnya ada Mona, yang kini tidak tampak energik seperti dulu."Katakan saja, apa yang kamu mau."Suaranya serak."Kamu mau uang, mau aku berlutut meminta maaf, atau mau aku mengundurkan diri? Sebutkan syaratmu!""Aku nggak punya syarat.""Nggak mungkin kamu nggak punya syarat! Kamu sudah mempersiapkan ini selama 20 tahun, mengerahkan banyak tenaga, hanya untuk melampiaskan amarahmu di konferensi pers?"Dia melangkah maju dan menghalangi jalanku."Aku tahu kamu membenciku, kamu membenci ayahku! Oke! Tapi, dia sekarang sudah sekarat. Terlepas dari apa yang pernah dia lakukan sebelumnya, dia sekarang cuma seorang pasien!"Aku mundur selangkah, bersandar pada bingkai pintu."Reihan, katakanlah, kalau 20 tahun yang lalu kalian berdiri di depan meja operasi ibuku dengan pemikiran yang sama, mungkinkah ibuku masih hidup sampai sekarang?"Mulutnya terbuka sedi
"Profesor Ajeng, lihat tren berita teratas."Saat Hanna datang mengantarkan berkas kedua, dia tidak bisa menahan diri dan bicara kepadaku.Aku tidak membuka ponsel untuk melihatnya, hanya menerima berkas dari tangannya."Profesor Ajeng, humas departemen kita tanya, apa perlu membuat pernyataan? Kalau begini terus, jadwal janji temu Anda akan terganggu ....""Kamu sudah rapikan rekaman dari Retno?""Sudah.""Oke, tolong bantu aku hubungi satu orang lagi."Setelah Hanna pergi, Reihan menelepon."Ajeng."Kali ini, dia tidak memanggilku Dokter Ajeng. Nada sopan dalam suaranya akhirnya lenyap seluruhnya."Apa sebenarnya yang kamu inginkan?""Aku nggak ingin apa-apa.""Nggak mungkin, setiap orang pasti punya harga!""Oh ya? Pernahkah kamu berpikir kalau ada hal-hal yang nggak bisa diukur dengan harga? Tanyakan saja pada ayahmu. Oh, nggak bisa, mungkin dia sudah nggak bisa bicara lagi sekarang."Keheningan panjang di ujung telepon."Kamu akan menyesali ini.""Reihan, kamu yakin kalimat itu bu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.