แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Kelby
"Profesor Ajeng, apa alasan Anda menolak melakukan operasi ini?"

Orang yang berbicara itu adalah Ardi Priyono, wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.

Komite ahli mengadakan rapat esok harinya.

Selain para kepala departemen dari rumah sakit, hadir pula dua perwakilan yang dikirim oleh Dinas Kesehatan.

"Saya tidak bisa menjamin kondisi operasi akan berjalan lancar."

"Apa maksudnya tidak bisa menjamin?"

Ardi membuka dokumen di hadapannya.

"Profesor Ajeng, saya sudah memeriksa riwayat karier Anda. Dalam tiga tahun terakhir, Anda sudah memimpin 47 operasi tingkat kesulitan tinggi dengan tingkat keberhasilan 100 persen. Kenapa kali ini Anda tidak yakin?"

"Ya, untuk operasi ini tidak yakin."

"Kenapa?"

Aku tidak langsung menjawab.

Perwakilan lainnya menambahkan. "Profesor Ajeng, kami mengerti setiap dokter memiliki penilaian masing-masing. Tapi, kasus ini cukup istimewa. Waktu terbaik untuk operasi pasien sangat singkat. Kalau Anda tidak bersedia melakukannya, peluang kelangsungan hidup pasien bisa dibilang hampir nol."

"Hanya karena saya pribadi tidak bisa menanganinya, bukan berarti tidak ada pilihan lain. Kalian bisa menghubungi tim lain."

Ardi batuk kecil. "Kami sudah menghubungi semuanya, tapi hanya tim Anda yang punya kondisi dan waktu yang tepat."

"Saya tidak bisa."

"Tidak bisa dan tidak mau itu dua hal yang berbeda, Profesor Ajeng."

Pintu terbuka.

Mona masuk, diikuti oleh Reihan dan seorang pria tua yang berjalan dibantu tongkat.

Pria itu itu tampak berusia 70-an. Wajahnya pucat dan kuyu, tetapi punggungnya sangat tegak.

"Pak Irwan, kenapa Anda datang?"

Dokter Ferdi bangkit berdiri. Irwan adalah bos lamanya.

"Soal Hendra, aku nggak bisa tinggal diam."

Irwan berjalan perlahan ke tepi meja dan duduk, lalu melirik ke arahku.

"Dokter Ajeng."

Irwan terbatuk pelan.

"Saya Irwan, sudah bekerja di rumah sakit ini selama 40 tahun. Hendra itu rekan lama dan sahabat saya. Penanganan penyakitnya nggak bisa ditunda-tunda. "

"Pak Irwan, saya mengerti perasaan Anda. Tapi ...."

"Dengarkan dulu sampai selesai."

Dia mengangkat tangannya, menghentikan aku.

"Saya tahu Anda ahli ternama dari ibu kota. Waktu Anda sangat berharga, dan keahlian Anda luar biasa. Tapi, dalam profesi dokter, yang terpenting bukan hanya keahlian."

Dia menatapku, matanya berkabut tapi tajam.

"Yang terpenting adalah hati nurani."

Mona berdiri di belakang ayahnya, raut wajahnya tetap dingin dan angkuh.

Reihan duduk di sampingnya, ekspresinya sedih dan sungguh-sungguh.

"Saya menolak operasi ini justru karena hati nurani."

"Maksudnya?"

"Operasi batang otak menuntut ketahanan mental yang tinggi. Setiap fluktuasi emosi bisa menyebabkan kesalahan selama operasi. Saya sudah mengevaluasi kondisi saya sendiri, dan saya nggak bisa benar-benar tenang sepenuhnya."

"Maksudnya, Anda punya masalah pribadi dengan ayah saya?"

Reihan mengerutkan kening, suaranya terdengar sedikit terkejut.

"Dokter Ajeng, sejauh yang saya tahu, kita belum pernah bertemu sebelumnya."

Aku menatapnya, dia menatapku. Tatapannya terbuka, tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Tidak pernah bertemu, dan dia juga tidak mengenalku, tapi aku telah mengingatnya selama 20 tahun.

"Pernah bertemu atau nggak, itu nggak penting."

Aku meneguk tehku sedikit.

"Yang terpenting, begitu saya berdiri di depan meja operasi, saya nggak bisa menjamin fokus 100 persen. Hanya karena alasan ini saja, saya seharusnya nggak menerima tugas ini."

Ardi mengetuk meja dengan tidak sabar.

"Profesor Ajeng, mari kita bicara terus terang. Nggak ada satu pun peraturan yang mengizinkan dokter menolak operasi tanpa alasan. Kalau Anda nggak bisa memberikan alasan yang jelas untuk menolak operasi, ini termasuk pelanggaran kewajiban."

"Pak Ardi, Kode Etik Dokter ...."

"Jangan sok tahu."

Dia membanting pena ke atas meja.

"Saya jujur saja soal situasi sekarang. Besok, semua media kesehatan besar akan memberitakan tentang ini. Seorang ahli terkemuka diminta melakukan operasi, tapi setelah perjalanan jauh, tiba-tiba langsung pergi setelah melihat rekam medis pasien. Apa menurut Anda itu pantas?"

Aku tidak berkata apa-apa.

Mona melangkah maju.

"Dokter Ajeng, kata-kata saya kemarin mungkin agak kasar, saya minta maaf. Tapi coba pikirkan, kalau ini sampai tersebar dan orang-orang bilang Anda membiarkan pasien mati tanpa pertolongan, apa Anda masih bisa hidup tenang setelah ini?"

Reihan juga bangkit berdiri dan membungkuk kepadaku.

"Dokter Ajeng, kalau saya dan ayah saya pernah melakukan sesuatu yang bagi Anda kurang berkenan, aku minta maaf. Aku juga mengerti pemikiran Anda. Jadi begini, kami bersedia menggandakan biaya operasi. Demi kenyamanan Anda, saya pribadi ...."

"Dokter Reihan."

Aku memotongnya.

"Bisa jawab satu pertanyaan saya?"

Dia terkejut sejenak, lalu mengangguk.

"Silakan."

"Ayah Anda sudah menjadi dokter selama 40 tahun, berapa banyak operasi yang sudah dia tangani?"

"Lebih dari seribu. Dia pelopor bedah saraf di provinsi kami."

Reihan membusungkan dada dengan bangga saat mengatakan ini.

"Dari ribuan operasi, berapa banyak yang gagal?"

Suasana di ruang rapat mendadak hening.

Tatapan Reihan tidak menghindar, tetapi dia tetap ragu sejenak.

"Setiap operasi memiliki risiko, nggak mungkin berhasil 100 persen."

"Lalu, bagaimana dengan keluarga pasien yang operasinya nggak berhasil?"

"Dokter Ajeng, ini nggak ada hubungannya dengan masalah saat ini."

"Benarkah?"

Aku berdiri dan mengambil tasku.

"Kalau begitu, penolakan saya juga nggak ada hubungannya dengan masalah saat ini. Semuanya, saya permisi dulu."

Dari belakang, terdengar suara Mona yang sangat tajam.

"Silakan pergi. Jangan harap bisa kembali. Aku akan memberi tahu seluruh dunia kedokteran kalau Profesor Ajeng Widyana adalah dokter kejam yang membiarkan pasien mati tanpa pertolongan!"

Aku membuka pintu, dan Hanna tetap tidak bisa menahan diri untuk mendekatkan diri ke telingaku.

"Profesor Ajeng, kalau bisa ... jujur saja ke saya. Sebenarnya kenapa Anda nggak mau melakukan operasi ini?"

Aku menoleh kepadanya. Tiga tahun lalu, setelah lulus dengan gelar doktor, dia mengirimkan lebih dari seratus lamaran kerja. Namun, tidak ada yang menerimanya. Akulah yang merekrutnya ke dalam timku.

Dia percaya padaku dan memahami aku.

Akan tetapi, aku belum pernah menceritakannya padanya tentang ini.

"Hanna."

"Ya."

"Dua puluh tahun lalu, di bagian bedah saraf rumah sakit ini, pernah terjadi malpraktik medis karena kesalahan prosedur. Pasiennya bernama Rina Widyana."

Raut wajahnya perlahan berubah.

"Rina Widyana ... itu ...."

"Ibuku."

Dia terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

"Dokter bedah yang menangani operasi itu bernama Hendra Abimana, orang yang sekarang terbaring di ranjang rumah sakit dan menunggu aku menyelamatkannya."

Hanna terpaku di tempat, tidak bisa berkata-kata selama beberapa saat.

"Tolong siapkan surat permohonan penolakan resmi untukku. Aku akan menyampaikannya sendiri di rapat Majelis Etik besok."

Saat aku sampai di gerbang utama, Hanna memanggilku pelan dari belakang.

"Profesor Ajeng, lalu tangan Anda ... benar-benar gemetar?"

Aku mengepalkan tangan, lalu menghela napas.

"Begitu wajah itu muncul di depanku, aku nggak bisa mengendalikannya."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 10

    "Ibu, aku datang menjengukmu."Sebuah kuburan sederhana dan sebuah nisan kecil, itulah yang tersisa dari ibuku."Bu, aku sudah menyelidiki perkara itu untukmu."Aku berjongkok dan meletakkan foto itu di samping.Foto yang diambil Retno tidak terlalu jelas. Sosoknya agak buram, tapi aku masih bisa mengenali siluet tubuhnya."Orang yang menyakitimu itu nggak mati di bawah pisauku."Aku berhenti sejenak."Dia mati karena keserakahannya sendiri."Tadi malam, kondisi kesehatan Hendra memburuk secara drastis, melampaui batas yang bisa dikendalikan oleh obat-obatan.Di ranjang rumah sakit, dia berulang kali jatuh koma, dan jeda saat dia sadar semakin pendek.Akhirnya, tidak ada yang bisa melakukan operasi untuknya. Setelah jatuh koma untuk yang terakhir kali, dia tidak pernah bangun lagi.Mona sudah bercerai dengan Reihan, dan sebagai mantan istrinya, dia secara tegas menyatakan tidak memiliki wewenang apa pun atas pengambilan keputusan medis.Hanna berdiri di samping, menungguku dengan tenan

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 9

    "Saudara Hendra Abimana, Anda kami ditangkap atas dugaan tindak pidana."Saat suara Kombes Wahyu terdengar dari dalam kamar rawat, banyak orang berdiri di luar pintu.Ada dokter, perawat, karyawan dari bagian lain yang datang setelah mendengar kabar, serta tidak sedikit pula awak media.Aku berdiri di dekat jendela di ujung koridor, mengamati dari kejauhan.Pintu kamar rawat setengah terbuka, memperlihatkan siluet Hendra yang terbaring di tempat tidur.Dia sangat kurus, bahkan tidak punya tenaga untuk mengangkat selimutnya.Setelah Pak Wahyu selesai membacakan surat pemberitahuan, dia menambahkan, "Ada yang ingin disampaikan?""Panggil anakku," jawabnya dengan susah payah.Dia hanya ingin bertemu Reihan.Namun, Reihan tidak muncul.Karena tiga jam sebelumnya, dia sudah berada di ruang interogasi.Irwan juga ikut terjaring. Karena dugaan menyembunyikan malpraktik medis, dia mengundurkan diri dari jabatan administratif dan menjalani pemeriksaan.Namun, semua ini bukan aku yang memulai, m

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 8

    "Ajeng, kamu menang. Sudah cukup, oke?"Sore hari setelah konferensi pers berakhir, Reihan muncul di depan pintu kamar hotelku.Di belakangnya ada Mona, yang kini tidak tampak energik seperti dulu."Katakan saja, apa yang kamu mau."Suaranya serak."Kamu mau uang, mau aku berlutut meminta maaf, atau mau aku mengundurkan diri? Sebutkan syaratmu!""Aku nggak punya syarat.""Nggak mungkin kamu nggak punya syarat! Kamu sudah mempersiapkan ini selama 20 tahun, mengerahkan banyak tenaga, hanya untuk melampiaskan amarahmu di konferensi pers?"Dia melangkah maju dan menghalangi jalanku."Aku tahu kamu membenciku, kamu membenci ayahku! Oke! Tapi, dia sekarang sudah sekarat. Terlepas dari apa yang pernah dia lakukan sebelumnya, dia sekarang cuma seorang pasien!"Aku mundur selangkah, bersandar pada bingkai pintu."Reihan, katakanlah, kalau 20 tahun yang lalu kalian berdiri di depan meja operasi ibuku dengan pemikiran yang sama, mungkinkah ibuku masih hidup sampai sekarang?"Mulutnya terbuka sedi

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 7

    "Profesor Ajeng, lihat tren berita teratas."Saat Hanna datang mengantarkan berkas kedua, dia tidak bisa menahan diri dan bicara kepadaku.Aku tidak membuka ponsel untuk melihatnya, hanya menerima berkas dari tangannya."Profesor Ajeng, humas departemen kita tanya, apa perlu membuat pernyataan? Kalau begini terus, jadwal janji temu Anda akan terganggu ....""Kamu sudah rapikan rekaman dari Retno?""Sudah.""Oke, tolong bantu aku hubungi satu orang lagi."Setelah Hanna pergi, Reihan menelepon."Ajeng."Kali ini, dia tidak memanggilku Dokter Ajeng. Nada sopan dalam suaranya akhirnya lenyap seluruhnya."Apa sebenarnya yang kamu inginkan?""Aku nggak ingin apa-apa.""Nggak mungkin, setiap orang pasti punya harga!""Oh ya? Pernahkah kamu berpikir kalau ada hal-hal yang nggak bisa diukur dengan harga? Tanyakan saja pada ayahmu. Oh, nggak bisa, mungkin dia sudah nggak bisa bicara lagi sekarang."Keheningan panjang di ujung telepon."Kamu akan menyesali ini.""Reihan, kamu yakin kalimat itu bu

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 6

    "Kepada anggota majelis yang terhormat, dokumen yang saya serahkan hari ini adalah Permohonan Penolakan."Ruang rapat Majelis Etika tampak lebih ramai daripada kemarin.Selain para ahli dan staf administrasi dari rumah sakit ini, ada empat orang yang datang dari Dinas Kesehatan."Pengunduran diri?"Ardi mendongak."Profesor Ajeng, Anda belum tahu seperti apa citra Anda di internet saat ini? Masih ingin mengundurkan diri?""Justru karena itu, saya harus menjelaskan semuanya di sini."Aku membuka map, lalu mengeluarkan lembar pertama."Pasien di meja operasi itu bernama Hendra Abimana. Dia dokter bedah yang menyebabkan kematian Rina Widyana, ibu saya, 20 tahun yang lalu."Ruang rapat seketika hening, semua orang tercengang."Pada 10 Juli 2004, ibu saya dilarikan ke Departemen Bedah Saraf RSUD Medika Kusuma karena pendarahan otak. Dokter bedah yang memimpin operasi saat itu adalah Hendra Abimana, yang menjabat sebagai Kepala Departemen. Karena sebuah kesalahan dalam operasi, pisau bedah m

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 5

    [Profesor Ajeng Widyana menolak merawat pasien kritis. Di mana hati nuraninya sebagai dokter?]Pukul 8 pagi keesokan harinya, berita ini menjadi berita utama di tiga platform informasi medis.Kolom komentar sudah sangat ramai.[Kalau nggak puas dengan bayarannya, bilang saja langsung, kenapa cari-cari alasan?][Dokter yang kabur begitu mendapat pasien yang operasinya sulit, apa masih pantas disebut ahli?][Tingkat keberhasilannya 100 persen, jangan-jangan karena dia menghindari operasi berisiko tinggi?]Aku mengembalikan ponselku kepada Hanna."Bagaimana penyelidikan yang kuminta kemarin?""Sudah ketemu."Hanna mengeluarkan selembar kertas dari tasnya."Dia sudah pensiun, sekarang tinggal di selatan kota. Tapi, dia sepertinya nggak terlalu ingin bertemu orang lain.""Buatkan janji temu dengannya, bilang saja anak Rina Widyana dari dua puluh tahun yang lalu ingin bertemu dengannya."Hanna melirikku dan mengangguk.Terdengar suara ketukan dari luar pintu.Aku membuka pintu, Reihan berdir

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status