Share

Amira Kembali Mual

Author: Mediasari012
last update Last Updated: 2026-01-17 17:23:34

Sementara itu, di kediaman Arsya, Amira kembali berulah. Setelah selesai berunding dengan suaminya tentang kepulangan Aiden, ia kembali mual dan muntah hebat.

Amira menangis sesenggukan di dalam kamar mandi. Ia tidak mau didekati oleh Arsya. Laki-laki itu kini hanya bisa menatap istrinya dari jauh melalui pintu kamar mandi yang terbuka.

“Kenapa lagi sih dia?” Arsya bergumam pelan.

Amira keluar dari kamar mandi dengan air mata yang masih terus mengalir. Ia menutupi mulut dan hidungnya sendiri sembari berjalan ke arah tempat tidur.

“Jangan mendekat!” pekik Amira.

“Kenapa?” tanya Arsya dengan suara terdengar kesal.

Amira kembali menangis. “Jangan tidur denganku, kamu bau sekali, hiks.”

“Apa?!”

Arsya menatap istrinya dengan sorot mata nyalang. Ia refleks mencium bajunya dan lengannya sendiri.

Arsya mencoba mendekati istrinya. “Apanya yang bau? Aku masih wangi begini.”

“Aku mau muntah lagi kalau kamu mendekat. Aku mau tidur di sofa aja,” ucap Amira sembari hendak turun dari tempat tidur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Amira Datang Ke Kantor

    Tring!Ponsel Arsya berdering. Terlihat Amira sedang melakukan panggilan video kepadanya. Arsya segera menjawab panggilan itu.“H-halo, Sayang. Kamu lagi ada di mana?” tanya Amira terbata.“Seharusnya karyawanmu sudah memberitahumu, kan?” jawab Arsya datar.“I-iya.”Amira bingung sendiri. Ia sudah melihat sorot kemarahan dari mata suaminya itu.“Aku mau masak hari ini,” ucap Amira.Ia mencoba mencari topik pembicaraan karena Arsya dari tadi hanya menatapnya tanpa berkata apa pun.“Jangan kotori tanganmu dengan kompor,” jawab Arsya dengan wajah tetap datar.“Tapi aku jenuh sekali.”“Aku nggak mau istriku bau bawang,” ujar Arsya lagi.“Mulai lagi,” gumam Ken sambil melirik ke arah Arsya.“Tapi ini bukan aku yang mau,” ucap Amira. Lagi-lagi si biji jagung dijadikan umpan.“Ya sudah, terserahmu,” jawab Arsya menyerah.“Aku akan ke kantormu dan mengantarkan makan siang,” ucap Amira sambil tersenyum. Ia sepertinya telah menemukan ide yang sangat brilian.Arsya melirik ke arah Ken, tetapi la

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Amira Kembali Mual

    Sementara itu, di kediaman Arsya, Amira kembali berulah. Setelah selesai berunding dengan suaminya tentang kepulangan Aiden, ia kembali mual dan muntah hebat.Amira menangis sesenggukan di dalam kamar mandi. Ia tidak mau didekati oleh Arsya. Laki-laki itu kini hanya bisa menatap istrinya dari jauh melalui pintu kamar mandi yang terbuka.“Kenapa lagi sih dia?” Arsya bergumam pelan.Amira keluar dari kamar mandi dengan air mata yang masih terus mengalir. Ia menutupi mulut dan hidungnya sendiri sembari berjalan ke arah tempat tidur.“Jangan mendekat!” pekik Amira.“Kenapa?” tanya Arsya dengan suara terdengar kesal.Amira kembali menangis. “Jangan tidur denganku, kamu bau sekali, hiks.”“Apa?!”Arsya menatap istrinya dengan sorot mata nyalang. Ia refleks mencium bajunya dan lengannya sendiri.Arsya mencoba mendekati istrinya. “Apanya yang bau? Aku masih wangi begini.”“Aku mau muntah lagi kalau kamu mendekat. Aku mau tidur di sofa aja,” ucap Amira sembari hendak turun dari tempat tidur.“

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Trik Sisil

    Sepulang dari rumah orang tuanya, pikiran Sisil kacau."Udahlah, keluar dari pekerjaanmu itu. Gajimu nggak akan cukup buat membiayai keluargamu, lebih baik kamu tukarkan harga dirimu sama uang. Dasar anak nggak ada gunanya!"Ucapan ayahnya itu selalu terngiang di telinganya."Dasar laki-laki sialan! Kalau emang aku anak yang nggak ada gunanya, kenapa aku kalian besarkan! Kenapa nggak kau bunuh aja aku dari dulu?!" teriak Sisil di tengah derasnya hujan.Gadis itu duduk meringkuk di emperan toko yang sudah tutup. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya, tapi tentu saja ia tidak bisa melakukan itu.Jalanan terlihat sangat sepi, hal itu diakibatkan oleh hujan yang turun sangat deras. Tiba-tiba gadis itu menyipitkan matanya saat sorot lampu mobil mengenai tepat di matanya.Terlihat laki-laki turun dari mobil itu dan berlari menghampiri Sisil yang sedang terpaku melihat kedatangannya."Tidak baik seorang wanita keluar malam sendirian seperti ini," ucap laki-laki itu."S-sekretaris Ken?" Suar

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Arsya Tau Kado Dari Dimas

    Mobil sudah berhenti tepat di depan rumah mewah Arsya. Seperti biasa mereka sudah di sambut oleh para pelayan di rumah utama.Setelah memasuki rumah, Arsya dan Amira bergegas menaiki tangga. Sementara Ken sudah memasuki ruang kerja.Kesibukan Ken bukan hanya di kantor saja, sesampainya dirumah, ia juga masih harus bekerja. Jadi sudah bisa di tebak gaji seorang Ken itu berapa, yang jelas nominalnya sangat fantastis.Tring ...Ponsel Amira yang masih berada di tasnya berbunyi. Ia membuka tasnya, lalu meraih ponsel itu. Tapi secepat kilat Arsya merampasnya dari tangan istrinya."Sinta? Dia punya nomor kamu?" tanya Arsya."Iya, tadi mereka datang ke rukoku, dan dia minta nomor hpku," jawab Amira yang kini sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur."Dia mengirim pesan apa?" tanya Amira.Arsya menunjukkan isi pesan itu kearah Amira."Kakak ipar, aku ingin bertemu sama kak Arsya. Aku ingin bicara penting dengannya, tolong bantu aku kakak ipar. Aku cinta dan sayang sama kakak ipar, muah, muah

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Taman Kota

    Sisil dan Amira sudah duduk di bangku alun-alun yang tepat berada di seberang ruko milik Amira. Sebelumnya, mereka memang sudah membuat janji untuk bertemu.“Udah tahu ada ibu hamil, kenapa masih merokok sih?” ucap Amira kesal.“Pakai masker kamu,” sahut Sisil santai.Amira mengambil masker yang selalu ada di dalam tasnya, lalu segera memakainya.“Aku kira kamu udah berhenti merokok, Sil. Ternyata masih aja. Apa kebijakan di tempat kerja kamu memperbolehkan wanita merokok?” tanya Amira.“Haha, ya nggak bolehlah. Mana mungkin aku berani merokok. Bisa-bisa aku ditendang saat itu juga,” jawab Sisil sambil terkekeh. “Tenang aja, aku bakal berhenti nanti.”Amira menghela napas panjang. Ia sudah sering menasihati sahabatnya itu, tetapi Sisil tak pernah benar-benar mendengarkan.“Kamu ada masalah, ya?” tanya Amira. Dari sorot mata Sisil, ia sudah bisa menebak.Sisil tidak langsung menjawab. Ia masih mengisap rokok yang ada di tangannya.“Kenapa mereka nggak bercerai aja, sih, daripada setiap

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Surat Dari Dimas

    Amira terpaku membaca surat yang berada di dalam kotak kecil. Tangan kanannya memegang secarik kertas, sementara tangan kirinya memegang sebuah kalung berlian."Hai Mira, aku pastikan kamu sekarang udah menerima hadiah kecil dari aku. Selamat ya atas kehamilan kamu, tapi kenapa hati aku sakit sekali saat mendengar bahwa sahabat aku akan punya anak dari kamu. Mungkin kamu menganggap aku sekarang laki-laki gila atau bahkan nggak tau diri, haha. Tapi emang aku udah gila karena kamu, kalau suami kamu tau aku bertindak seperti ini, pasti aku akan abis saat ini juga. Aku lebih memilih mati dalam keadaan kamu udah tau perasaan aku, daripada aku harus mati dalam keadaan memendam semua perasaan ini. Jaga calon keponakanku ya cantik, i love you, Mira."Dimas, satu nama yang tertulis di bawah kertas putih itu."Apa ini? I love you katanya?" Tangan Amira bergetar sembari terus menatap tulisan tangan Dimas. "Kenapa dia selalu menyusahkan hidupku dan dirinya sendiri. Dia emang gila, laki-laki yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status