LOGINKirana tak pernah menyangka suami yang dia cintai akan membawa wanita lain ke dalam rumah mereka dan menyebutnya "istri kedua." Lebih menyakitkan lagi, wanita itu justru merasa paling dicintai, seolah Kirana tidak pernah ada. Di balik senyum dan kata manis Alya, tersembunyi manipulasi yang membunuhnya secara perlahan. Kirana diam, tapi hatinya menjerit. Hingga tiba saatnya dia harus memilih: tetap menjadi bayangan, atau pergi dengan kepala tegak.
View MoreSuara panci kecil berdenting pelan saat Kirana mengaduk sayur bening di atas kompor.
Dari rice cooker, nasi hangat mengepul harum, menyatu dengan wangi telur dadar dan sambal terasi yang baru saja ia tata di atas meja.
Pagi itu, seperti biasa, Kirana bangun lebih awal. Ia sudah terbiasa menyiapkan sarapan untuk suaminya, Arga, meski belakangan ini ada yang berubah. Tatapan mata Arga sering kali jauh, senyumnya hambar, dan pelukannya sudah terlalu lama tidak terasa di kulit Kirana.
Di meja makan, sudah tertata dua piring nasi, telur dadar renyah dengan pinggiran keemasan, dan sambal terasi buatan Kirana yang dulu selalu dipuji Arga.
Kirana melirik jam dinding yang berdetak pelan di atas lemari es—pukul 06.30. Biasanya, di jam segini, Arga sudah duduk di kursi makan sambil membaca berita di ponselnya, satu tangan memegang cangkir kopi hitam.
Dengan napas tertahan, Kirana menyeka tangannya pada celemek motif bunga yang sudah mulai pudar warnanya, lalu berjalan pelan ke arah kamar mereka. Suara langkahnya menyatu dengan lantai kayu yang sedikit berderit. Tangannya terulur dan mengetuk pintu dengan hati-hati.
“Mas, sarapannya sudah siap,” ucapnya dengan pelan.
Tidak ada jawaban.
Kirana menggigit bibir bawahnya. Ragu sempat menyelimuti hatinya. Tapi firasat membuatnya tak bisa menunggu lebih lama.
Ia pun memutar kenop pintu dan mendorongnya pelan. Pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan punggung Arga yang duduk di tepi ranjang, membelakangi jendela yang masih tertutup tirai krem tipis.
Arga sudah berpakaian rapi—kemeja biru langit yang biasa ia pakai untuk rapat penting—tapi tubuhnya tak bergerak.
“Mas?” Kirana melangkah masuk menghampiri sang suami.
Tak ada respons.
Ia lalu mendekat hingga bisa melihat wajah suaminya dari samping. Tatapan mata Arga kosong tengah menatap lantai seperti mencari jawaban dari ubin yang diam membisu.
Wajahnya pucat, dagunya sedikit bergetar, dan jemarinya saling menggenggam, seolah menahan sesuatu yang ingin pecah.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Kirana lagi.
Perlahan, Arga menoleh. Tatapannya sayu, seolah baru menyadari keberadaan istrinya di ruangan itu. Ia mengangguk. Tapi tidak ada kata yang keluar. Hanya anggukan kosong yang justru membuat Kirana semakin gelisah.
“Kamu yakin? Apa ada masalah di kantor? Cerita saja, Mas,” ucap Kirana yang mulai resah melihat sikap aneh suaminya itu.
Arga adalah seorang pengusaha properti yang cukup berhasil. Di usia tiga puluh dua tahun, ia sudah memiliki beberapa proyek perumahan yang berjalan baik.
Tapi Kirana juga tahu, dunia bisnis bukan tempat yang ramah. Banyak tekanan. Banyak persaingan. Namun, ini lebih dari sekadar stres kerja. Kirana bisa merasakannya.
Tiga tahun lalu, mereka hanya punya satu motor bekas dan kontrakan kecil di pinggiran kota. Tapi mereka bahagia. Mereka menabung bersama, tertawa dalam keterbatasan, dan saling menguatkan saat dunia terasa terlalu berat.
Kirana bahkan rela keluar dari pekerjaannya sebagai staff kantor demi membantu Arga membangun usaha dari nol.
Mereka masih belum punya anak. Itu fakta yang sering dibicarakan orang, bahkan oleh keluarga sendiri.
Tak jarang, Kirana disindir dengan kalimat pedas—bahwa ia tidak becus menjadi istri. Tapi dia selalu menenangkan diri dengan keyakinan: Tuhan belum memberi, bukan berarti tak akan memberi.
“Kamu lagi capek, ya?” Kirana mencoba menebak. “Kalau kamu butuh waktu sendiri, nggak apa-apa. Tapi jangan diam seperti ini. Aku jadi takut.”
Arga menatap Kirana. “Aku nggak apa-apa, jangan takut, aku bukan monster,” ucapnya dingin.
Kirana hanya meringis pelan. “Aku buatin telur dadar kayak biasa. Aku tahu kamu pasti capek. Tapi makan dulu, ya?”
Arga mengangguk dan akhirnya beranjak dari duduknya dan pergi ke meja makan, sementara Kirana mengikutinya dari belakang.
Sejenak, ia berharap ada balasan, senyum kecil, atau bahkan anggukan. Tapi harapan itu runtuh saat Arga hanya mengambil jas kerjanya dan melangkah ke luar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Wanita itu kemudian meletakkan piring di hadapan Arga dengan hati-hati. Matanya menatap Arga yang masih berdiri kaku, tanpa reaksi.
Ia hanya duduk, mengambil sendok, menyendok nasi dan telur satu-dua kali, lalu meletakkan kembali sendoknya dengan dentingan pelan.
“Aku jalan dulu.”
Kalimat itu terlontar tanpa intonasi setelah melahap sarapannya yang hanya dimakan sebanyak tiga suap saja.
Kirana menatap piring yang masih nyaris utuh. “Kenapa nggak dihabiskan, Mas? Apa masakannya tidak enak?” tanyanya kemudian.
“Enak. Aku lagi nggak mood makan aja,” jawabnya dengan pelan.
Kirana menghela napas kasar. “Nggak bawa bekal, Mas?” tanyanya kembali.
“Nggak usah.”
Jawaban singkat itu jelas membuat Kirana sedih. Bahkan suami yang dulu selalu mencium keningnya sebelum berangkat kerja—kini bahkan tak sudi menatapnya dan bersikap dingin padanya.
“Mas ....” Kirana menggigit bibir bawahnya menahan diri untuk bertanya lagi.
Dengan langkah gontai, Kirana mendekati kursi yang baru saja ditinggalkan suaminya. Ia duduk di sana, merasakan hangat tubuh Arga yang masih tertinggal di sandaran, seperti sisa-sisa kenangan yang mulai pudar.
Tangannya terulur menyentuh permukaan meja yang kini terasa dingin dan sepi. Tatapannya kosong menatap piring Arga yang belum disentuh, seolah makanan itu mencerminkan perasaannya sendiri: disiapkan dengan cinta, tapi tak diindahkan.
“Apa yang terjadi sama kamu, Mas?” bisiknya lirih. “Kenapa kamu bersikap dingin seperti ini padaku? Apa salahku padamu?”
Arga menahan napasnya. Dada naik-turun dengan cepat, tapi mulutnya tak mampu membentuk kata.Matanya membelalak, namun kehilangan sorot percaya diri. Kata-kata Kirana terlalu tajam—dan terlalu benar. Seakan semua pertahanan yang ia bangun runtuh dalam satu dorongan emosi.Keheningan menggantung sebentar, tegang dan berat, sampai akhirnya suara pelan terdengar dari arah tangga.Langkah ringan namun terdengar disengaja. Lalu muncul sosok Alya, berdiri di ujung tangga dengan daster tipis berwarna pastel.Rambutnya digerai seadanya, matanya tampak merah dan sembab, entah karena benar-benar menangis atau sengaja dibuat seperti itu.Wajahnya memelas, seperti seekor anak kucing yang tak sengaja mengganggu dua induk singa.“Maaf,” ucap Alya dengan suara lirih, nyaris tercekat. Nada bicaranya pelan namun cukup nyaring untuk menarik perhatian.“Aku ... nggak bermaksud bikin kalian ribut terus tiap hari. Kehadiran aku ... mungkin cuma jadi beban.”Kalimat itu seperti anak panah yang melesat ke u
Jam menunjukkan pukul 10 malam saat Kirana membuka pintu rumah.Arga duduk di sofa dengan tangan bersilang di dada. Posisi duduknya kaku, seperti seseorang yang menahan emosi sejak lama.Matanya menatap tajam ke arah pintu, seolah sudah mengantisipasi suara kunci yang berputar sedari tadi.Televisi di depannya menyala, menampilkan tayangan berita larut malam, tapi volumenya dikecilkan dan tak ada tanda-tanda kalau tayangan itu benar-benar ditonton.Aura di ruangan itu pekat oleh amarah yang belum sempat diluapkan.Begitu Kirana masuk dan menutup pintu dengan pelan, suara Arga langsung terdengar, tajam, dingin, dan penuh tuntutan.“Kamu dari mana aja?” tanyanya tanpa basa-basi.Langkah Kirana terhenti sejenak. Tangannya masih menggenggam clutch bag warna krem yang serasi dengan gaunnya.Ia menatap Arga sejenak—pandangan yang penuh kejenuhan dan kepedihan yang tertahan.Lalu ia menoleh ke arah jam dinding yang menggantung di dekat televisi, seolah menekankan bahwa ia memang sadar betul
Pagi itu matahari baru saja mengintip malu-malu dari balik tirai langit, namun suasana di rumah Kirana terasa dingin dan hampa.Di meja makan, aroma teh hangat dan roti panggang tidak mampu menghangatkan hati Kirana yang sudah membeku semalaman.Alya datang dengan langkah pelan namun pasti, mengenakan gaun tidur longgar yang menonjolkan perutnya yang mulai membesar.Senyumnya manis, tapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Kirana bersiap.“Kak Kirana,” ucap Alya lembut lalu duduk di seberang meja makan. “Maaf ya... aku tahu ini mendadak, tapi aku rasa... akan lebih baik kalau aku tidur satu kamar dengan Mas Arga. Aku sering mual tengah malam, dan aku butuh dia di dekatku.”Kirana menghentikan sendoknya. Pandangannya jatuh ke wajah Alya, lalu ke perutnya, lalu kembali ke cangkir tehnya yang mulai kehilangan uap.Belum sempat ia menjawab, Arga datang dari arah dapur, menyusul percakapan yang belum selesai.“Kirana, aku pikir... kamu bisa tidur di kamar tamu dulu ya,” katanya ta
Arga dan Kirana masih saling berhadapan di dalam kamar yang kini penuh ketegangan.Udaranya serasa panas meski kipas langit-langit berputar pelan di atas mereka.Wajah Arga memerah menahan emosi, sementara Kirana berdiri tegak, menatap suaminya dengan sorot penuh kekecewaan dan kemarahan yang sudah lama membeku di dasar hatinya.“Kamu tuh egois, Kirana!” bentak Arga dengan suara serak yang menahan amarah.“Kamu nggak pernah coba ngerti posisiku. Kamu selalu mikirin perasaanmu sendiri, tanpa pernah peduli gimana rasanya jadi aku!”Kirana mendengus sinis. “Oh ya? Aku egois?” Ia sontak tertawa getir. “Aku cuma membela diriku, Mas. Karena kalau bukan aku, siapa lagi? Kamu? Kamu lebih dulu memutuskan untuk membawa wanita lain ke dalam rumah ini!”Arga mengatupkan rahangnya. “Alya ada di sini karena dia sedang mengandung anakku!”“Anak yang kamu buat dari pengkhianatan!” balas Kirana, matanya mulai memerah menahan air mata yang ingin jatuh.“Aku tahu aku belum bisa kasih kamu keturunan, tap






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.