Share

Demi Cinta

Penulis: Mediasari012
last update Tanggal publikasi: 2026-01-06 17:08:54

Arsya beranjak dari tempat tidur, ia mematikan lampu lalu keluar dari kamarnya. Ia berjalan cepat menuruni tangga.

Terlihat sekretaris Ken sedang duduk di ruang tengah dengan laptop yang ada di pangkuannya. Ia sedang menunggu Arsya untuk mengabulkan ngidam ibu hamil itu.

Melihat kedatangan Arsya, ia sontak menutup laptopnya dan langsung berdiri. Ia memang belum pulang, karena Arsya yang mencegahnya tadi.

"Kamu sudah siap, dan sudah tau tempatnya dimana?" tanya Arsya saat sudah berada di dekat K
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Bukan Ciuman Pertama

    "Oh, jadi aku bukan ciuman pertamamu?" balas Ken. Suaranya mendadak terdengar datar dan dingin.Rahang laki-laki itu mengeras samar. Tatapannya masih tertuju pada Sisil, tetapi kini ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang membuat Sisil mendadak merasa bersalah.“Aku bisa dengan mudah mengetahui semua rahasia Nona muda, tapi kenapa dulu aku nggak pernah mencari tahu tentang Sisil?” batin Ken. “Dan sekarang, justru aku mengetahui fakta yang cukup mengejutkan.”“Apa mereka tinggal di kota ini?” tanyanya lagi pelan.“Iya,” jawab Sisil sambil mengangguk kecil. “Tapi aku nggak tahu sekarang mereka ada di mana.”Setelah itu, suasana mendadak hening.Ken menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Ia mencoba menekan rasa panas yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Entah kenapa, membayangkan ada laki-laki lain yang pernah mencium perempuan di hadapannya membuat dadanya terasa sesak.Sisil yang menyadari perubahan ekspresi suaminya langsung panik sendiri.“Bukan aku lho ya yang mulai duluan,” uc

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Hadiah Dari Amira

    “Eh! Kak Dimas?”Sinta secepat kilat menyeka air matanya begitu melihat sosok Dimas sudah berada disampingnya. Angin malam berembus pelan, membuat rambut panjang gadis itu berantakan. Matanya masih sembab, jelas sekali ia baru menangis cukup lama.“Bukannya kamu udah janji buat nggak nangis lagi?” tanyanya lembut.Sinta menundukkan kepala. Jemarinya saling bertaut gelisah di atas pangkuan. “Maaf, Kak,” lirihnya. “Tapi hatiku sakit banget.”Dimas terdiam beberapa detik. Tatapannya melembut saat melihat wajah gadis itu yang tampak rapuh.Laki-laki itu lalu menepuk bahunya sendiri pelan, memberikan kode agar Sinta bersandar di sana. Namun, gadis itu hanya diam tanpa reaksi. Ia terlihat ragu.“Kenapa diam?” Dimas terkekeh pelan. “Aku cuma ngasih bahu, bukan hati.”Ucapan itu membuat Sinta tersenyum tipis untuk pertama kalinya malam itu. Perlahan, gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.Laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia membiarkan Sinta merasa tenang terlebih dahulu.

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Ciuman

    Ken menjentikkan jarinya ke arah pembawa acara. Dengan langkah santai, ia mengambil mikrofon dari tangan sang MC yang langsung menundukkan kepala hormat.Sorot lampu taman yang hangat menyorot wajah tegas Ken malam itu. Jas hitam yang melekat di tubuhnya membuat auranya semakin berbeda. Bukan lagi sekretaris dingin yang selalu terlihat serius, melainkan seorang pria yang baru saja resmi menjadi suami dari perempuan yang dicintainya.Ken menoleh ke arah Arsya dan Amira yang berdiri di barisan depan. Keduanya sedang tersenyum ke arahnya.Dengan hormat, Ken menganggukkan kepala kepada Tuan dan Nona mudanya. Namun, di luar dugaan, Arsya dan Amira membalas anggukan itu.Mata Ken langsung membulat kecil. "Tuan menganggukkan kepala ke saya?" batin Ken terkejut. "Kalau Nona muda yang melakukannya sih masih wajar. Tapi sekarang Tuan juga? Ini pertama kalinya beliau ngelakuin itu."Ken sampai menelan ludahnya sendiri. "Apakah dunia akan kiamat? Tapi untungnya saya udah menikah duluan."Ucapan a

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Sah

    Mobil milik Arsya beserta iring-iringan kendaraan keluarga besarnya perlahan memasuki kawasan taman tempat acara pernikahan Ken digelar. Dari jarak beberapa ratus meter saja, penjagaan ketat sudah terlihat begitu jelas. Ratusan pengawal berdiri tegap dan berjajar rapi di sepanjang jalan menuju taman. Beberapa lainnya berjaga di setiap sudut area, memastikan tidak ada satu pun orang asing yang bisa masuk sembarangan.Ken memang sengaja membuat acara pernikahannya tertutup. Ia hanya mengundang keluarga inti dan orang-orang yang benar-benar dianggap penting dalam hidupnya. Tidak ada awak media, tidak ada sorotan kamera berlebihan, apalagi siaran langsung seperti pesta para konglomerat lainnya. Meskipun konsep pernikahannya menggunakan tema outdoor wedding yang mewah dan megah, Ken tetap ingin menjaga kesakralan momen itu agar terasa lebih hangat dan pribadi.Saat mobil Arsya berhenti tepat di depan pintu masuk taman, suasana yang semula ramai perlahan berubah hening.Para tamu undangan m

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Berangkat Ke Acara Pernikahan

    “Ya Tuhan … dia cantik sekali.”Arsya menahan napasnya sendiri saat netranya bertabrakan dengan wajah Amira yang masih terlihat terkejut. Perempuan itu berdiri membeku di depan cermin ruang ganti, sementara pipinya perlahan berubah merah karena tatapan suaminya yang terlalu intens.Gaun yang dikenakan Amira jatuh sempurna membalut tubuhnya. Rambutnya yang ditata sederhana justru membuat kecantikannya semakin menonjol. Dan yang paling berbahaya bagi Arsya adalah ekspresi gugup istrinya saat ini.“Apa kamu meragukan aku?” tanya Arsya pelan sembari menatap lekat kedua mata Amira.Amira menelan ludahnya gugup. “Kamu juga meragukan aku?” balasnya cepat, mencoba mengalihkan suasana yang semakin membuat jantungnya berdebar tidak karuan.Arsya tersenyum tipis. “Nggak,” jawabnya santai. “Kalau kamu yang meragukan aku, buat tanda di tubuhku sekarang juga.”Tatapan Arsya turun ke dada bidangnya yang masih terbuka karena kancing kemejanya belum sempat ia kaitkan sejak tadi.Amira langsung salah t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Taman Tempat Cinta Dimulai

    Di sebuah taman terbuka yang luas dan megah, berdiri sebuah tempat penuh kenangan yang kini telah berubah seratus delapan puluh derajat. Taman itu dulunya hanyalah ruang hijau biasa, tetapi kini telah disulap menjadi tempat paling indah yang pernah dimiliki Ken. Bukan tanpa alasan, sebab taman itu sudah dibeli secara pribadi olehnya untuk hadiah pernikahannya dengan Sisil.Tempat itu juga menjadi saksi bisu saat Ken pertama kali mengutarakan perasaannya kepada perempuan yang hari ini resmi akan menjadi istrinya.Dekorasi bernuansa putih memenuhi setiap sudut taman. Rangkaian bunga mawar putih menjuntai indah di sepanjang lorong utama. Kain-kain tipis yang tertiup angin menambah kesan elegan dan romantis. Di tengah taman berdiri altar megah dengan sentuhan lampu kristal yang berkilauan terkena cahaya matahari pagi.Pernikahan bertema outdoor itu terlihat begitu mewah, hangat, dan sempurna.Hari ini adalah hari yang sudah lama dinantikan. Hari di mana Ken akhirnya akan menikahi Sisil.*

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kekesalan Amira

    Setelah pemeriksaan yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan aneh dari Arsya itu, akhirnya mereka keluar dari ruang praktik dengan perasaan yang berbeda-beda. Amira masih menahan malu, Sisil menahan tawa, sementara Arsya terlihat sangat serius—seolah baru saja menghadiri rapat penting, bukan pemeriksaan

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Buaya Kepala Hitam

    Masih berada di dalam kebun binatang pribadi Arsya—kebun binatang yang benar-benar di luar nalar manusia biasa—Amira kini memutar otak dengan serius. Tempat itu terlalu megah untuk sekadar disebut hobi. Semua tertata rapi, dijaga ketat, dan tentu saja dimiliki oleh suaminya yang posesif dan sensiti

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Antara Buaya Asli dan Buaya Hati

    “Dugh!”Amira kembali menendang kursi Ken dari belakang. Suara benturan itu menggema di dalam mobil yang sempit.“Kenapa kau tertawa di atas penderitaanku?!” pekiknya dengan wajah merah padam.“Maaf, Nona,” jawab Ken, masih berusaha menahan tawanya. Bahunya bahkan masih bergetar, membuat Amira sema

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Siapa Bella?

    “Mira!” panggilnya.Amira yang sedang berdiri di samping ranjang segera menoleh. Ia mengusap lembut kaki Ibu Sisil yang terbaring lemah, gerakannya penuh kehati-hatian seolah takut menyakiti.“Iya, Tante?” jawabnya lembut.Wanita paruh baya itu tersenyum haru. Matanya yang mulai berkeriput menatap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status