مشاركة

Demi Cinta

مؤلف: Mediasari012
last update تاريخ النشر: 2026-01-06 17:08:54

Arsya beranjak dari tempat tidur, ia mematikan lampu lalu keluar dari kamarnya. Ia berjalan cepat menuruni tangga.

Terlihat sekretaris Ken sedang duduk di ruang tengah dengan laptop yang ada di pangkuannya. Ia sedang menunggu Arsya untuk mengabulkan ngidam ibu hamil itu.

Melihat kedatangan Arsya, ia sontak menutup laptopnya dan langsung berdiri. Ia memang belum pulang, karena Arsya yang mencegahnya tadi.

"Kamu sudah siap, dan sudah tau tempatnya dimana?" tanya Arsya saat sudah berada di dekat K
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Berangkat Ke Acara Pernikahan

    “Ya Tuhan … dia cantik sekali.”Arsya menahan napasnya sendiri saat netranya bertabrakan dengan wajah Amira yang masih terlihat terkejut. Perempuan itu berdiri membeku di depan cermin ruang ganti, sementara pipinya perlahan berubah merah karena tatapan suaminya yang terlalu intens.Gaun yang dikenakan Amira jatuh sempurna membalut tubuhnya. Rambutnya yang ditata sederhana justru membuat kecantikannya semakin menonjol. Dan yang paling berbahaya bagi Arsya adalah ekspresi gugup istrinya saat ini.“Apa kamu meragukan aku?” tanya Arsya pelan sembari menatap lekat kedua mata Amira.Amira menelan ludahnya gugup. “Kamu juga meragukan aku?” balasnya cepat, mencoba mengalihkan suasana yang semakin membuat jantungnya berdebar tidak karuan.Arsya tersenyum tipis. “Nggak,” jawabnya santai. “Kalau kamu yang meragukan aku, buat tanda di tubuhku sekarang juga.”Tatapan Arsya turun ke dada bidangnya yang masih terbuka karena kancing kemejanya belum sempat ia kaitkan sejak tadi.Amira langsung salah t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Taman Tempat Cinta Dimulai

    Di sebuah taman terbuka yang luas dan megah, berdiri sebuah tempat penuh kenangan yang kini telah berubah seratus delapan puluh derajat. Taman itu dulunya hanyalah ruang hijau biasa, tetapi kini telah disulap menjadi tempat paling indah yang pernah dimiliki Ken. Bukan tanpa alasan, sebab taman itu sudah dibeli secara pribadi olehnya untuk hadiah pernikahannya dengan Sisil.Tempat itu juga menjadi saksi bisu saat Ken pertama kali mengutarakan perasaannya kepada perempuan yang hari ini resmi akan menjadi istrinya.Dekorasi bernuansa putih memenuhi setiap sudut taman. Rangkaian bunga mawar putih menjuntai indah di sepanjang lorong utama. Kain-kain tipis yang tertiup angin menambah kesan elegan dan romantis. Di tengah taman berdiri altar megah dengan sentuhan lampu kristal yang berkilauan terkena cahaya matahari pagi.Pernikahan bertema outdoor itu terlihat begitu mewah, hangat, dan sempurna.Hari ini adalah hari yang sudah lama dinantikan. Hari di mana Ken akhirnya akan menikahi Sisil.*

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Lima Belas Hari?

    Sore hari mulai merambat turun, meninggalkan semburat jingga yang memantul di dinding kaca rumah mewah milik Arsya. Angin berembus pelan di area teras yang luas itu, membuat dedaunan tanaman hias bergoyang lembut.Namun, suasana tenang itu sama sekali tidak memengaruhi Sean.Laki-laki itu berdiri mematung seorang diri di teras rumah sambil sesekali melirik jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Wajah tampannya sudah ditekuk kesal sejak beberapa menit terakhir.“Lama sekali sekretaris itu!” pekiknya geram.Kakinya menghentak lantai beberapa kali, seolah sedang melampiaskan emosi yang terus menumpuk di kepalanya.Di tengah kekesalannya, suara gerbang otomatis akhirnya terdengar terbuka.Sean langsung menoleh cepat.Dari kejauhan, mobil hitam milik Ken melaju masuk dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya berhenti tepat di halaman depan rumah.“Akhirnya datang juga badebah satu itu,” dengus Sean pelan dengan wajah masam.Kini suasana rumah Arsya sudah jauh lebih lengang diband

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Mall

    “Apa yang meluber?” tanya Ken polos.“Aaa! Udah diam! Kenapa malah diperpanjang sih?” Sisil menahan malu yang rasanya sudah sampai ke ubun-ubun.Pipinya memerah sempurna. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Ken terlalu lama. Rasanya ingin menghilang saja dari mall itu.Tanpa banyak bicara, Ken langsung melepaskan jas mahal yang melekat di tubuhnya. Dengan gerakan santai, ia melingkarkan jas itu ke pinggang Sisil untuk menutupi bagian belakang rok gadis itu.“Jangan! Nanti jas kamu kena darah juga,” protes Sisil cepat sambil berusaha melepas jas tersebut.Namun, dengan sigap Ken menahan kedua tangan gadis itu. “Itu cuma darah, kan?” tanyanya sambil menatap lekat mata Sisil.Dag!Jantung Sisil langsung berdebar keras.Tatapan Ken terlalu dekat. Terlalu intens. Terlalu membuat napasnya berantakan. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka saling bertatapan sedekat ini, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Sangat berbeda.“I-iya … cuma darahku, tapi—”“Tapi apa?” sela Ken pelan deng

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Datang Bulan

    Tanpa menunggu lama, Ken melangkah keluar dari butik, lalu berjalan beriringan dengan Sisil menuju area parkir. Sementara itu, Angkasa membuntuti langkah keduanya dari belakang. Laki-laki itu tampaknya memang berniat mengantar mereka sampai ke teras butik.Begitu Ken membuka pintu mobil untuk Sisil, Angkasa tersenyum tipis. “Hati-hati di jalan, Tuan Ken.”Ken hanya menganggukkan kepalanya singkat sebelum masuk ke kursi kemudi. Mesin mobil segera menyala halus, lalu kendaraan mewah itu perlahan meninggalkan area butik.Saat mobil bergerak keluar, Ken sempat menekan klakson pelan sebagai tanda berpamitan. Angkasa yang masih berdiri di teras butik membalas dengan lambaian tangan hormat.Sisil melirik ke arah belakang melalui kaca spion samping.“Oh, ternyata dia masih punya hati,” gumamnya pelan.“Apa?” tanya Ken sekilas.“Bukan apa-apa.”Ken tidak menanggapi lagi. Kedua tangannya fokus menggenggam setir sambil menatap lurus ke jalanan kota yang mulai ramai menjelang sore.Beberapa menit

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Ukuran Baju yang Pas

    “Ini tempat apa?” tanya Sisil sambil menatap bangunan megah di hadapannya.Mobil hitam yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan sebuah butik dengan dinding kaca tinggi dan lampu kristal yang berkilauan dari dalam. Bahkan dari luar saja, tempat itu sudah terlihat sangat mahal.“Kita mau fitting baju hari ini,” jawab Ken singkat.“Fi-fitting baju?” Sisil menoleh cepat dengan mata membulat tidak percaya.Ken hanya menganggukkan kepala pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.“Kenapa secepat ini?” lanjut Sisil heran.“Secepat ini?” Ken akhirnya menoleh. Tatapannya lurus menembus mata Sisil. “Lalu maumu berapa lama?”Glek.Sisil langsung menelan salivanya gugup. Ia sadar, salah bicara sedikit saja bisa membuat laki-laki itu kesal. Dan ia jelas tidak ingin calon suaminya berubah pikiran.“Emangnya kapan?” tanyanya lebih pelan.“Satu minggu lagi.”Duarr!Jawaban itu terasa seperti bom atom yang meledak berkali-kali di dalam kepalanya.“Satu minggu?!” pekik Sisil refleks. “Kenapa

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Taman Kota

    Mobil berhenti tepat di depan kediaman Arsya. Mesin masih menyala ketika Ken turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Arsya dan Amira dengan sigap. Sementara itu, Sisil masih duduk terdiam di kursi depan, tatapannya kosong menembus kaca mobil.“Ken, pulanglah. Tidak usah mengantarku. Kamu suda

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Jari Sisil Terluka

    Satu jam berlalu. Gemerlap kota kini terang menyinari malam. Amira terbangun dari tidurnya, menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri untuk mengumpulkan kesadarannya.“Aku lapar sekali,” ucapnya pelan.“Kita memang belum makan malam. Mau makan apa?” tanya Arsya sembari menarik istrinya kembali ke da

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Membuat Martabak

    “Miraaaa! Aku nggak mau mati sekarang!” teriak Arsya panik. Tangannya mencengkeram kursi kemudi seolah itu satu-satunya pegangan hidup yang tersisa.Di kursi depan, Amira dan Sisil justru tertawa lepas. Kepala mereka bergoyang mengikuti musik yang diputar semakin keras, seolah tidak peduli pada rau

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Mengerjai Arsya dan Ken

    Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Hampir satu jam mereka berkeliling kota, tetapi hasilnya nihil.“Mira, sebenarnya kamu mau ke mana sih?” tanya Sisil yang sudah bosan dengan keheningan di dalam mobil. Tidak ada percakapan ataupun musik di sana.“Aku mau beli martabak, Sil,” jawab Amira santai

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status