공유

Demi Cinta

작가: Mediasari012
last update 게시일: 2026-01-06 17:08:54

Arsya beranjak dari tempat tidur, ia mematikan lampu lalu keluar dari kamarnya. Ia berjalan cepat menuruni tangga.

Terlihat sekretaris Ken sedang duduk di ruang tengah dengan laptop yang ada di pangkuannya. Ia sedang menunggu Arsya untuk mengabulkan ngidam ibu hamil itu.

Melihat kedatangan Arsya, ia sontak menutup laptopnya dan langsung berdiri. Ia memang belum pulang, karena Arsya yang mencegahnya tadi.

"Kamu sudah siap, dan sudah tau tempatnya dimana?" tanya Arsya saat sudah berada di dekat K
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Sah

    Mobil milik Arsya beserta iring-iringan kendaraan keluarga besarnya perlahan memasuki kawasan taman tempat acara pernikahan Ken digelar. Dari jarak beberapa ratus meter saja, penjagaan ketat sudah terlihat begitu jelas. Ratusan pengawal berdiri tegap dan berjajar rapi di sepanjang jalan menuju taman. Beberapa lainnya berjaga di setiap sudut area, memastikan tidak ada satu pun orang asing yang bisa masuk sembarangan.Ken memang sengaja membuat acara pernikahannya tertutup. Ia hanya mengundang keluarga inti dan orang-orang yang benar-benar dianggap penting dalam hidupnya. Tidak ada awak media, tidak ada sorotan kamera berlebihan, apalagi siaran langsung seperti pesta para konglomerat lainnya. Meskipun konsep pernikahannya menggunakan tema outdoor wedding yang mewah dan megah, Ken tetap ingin menjaga kesakralan momen itu agar terasa lebih hangat dan pribadi.Saat mobil Arsya berhenti tepat di depan pintu masuk taman, suasana yang semula ramai perlahan berubah hening.Para tamu undangan m

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Berangkat Ke Acara Pernikahan

    “Ya Tuhan … dia cantik sekali.”Arsya menahan napasnya sendiri saat netranya bertabrakan dengan wajah Amira yang masih terlihat terkejut. Perempuan itu berdiri membeku di depan cermin ruang ganti, sementara pipinya perlahan berubah merah karena tatapan suaminya yang terlalu intens.Gaun yang dikenakan Amira jatuh sempurna membalut tubuhnya. Rambutnya yang ditata sederhana justru membuat kecantikannya semakin menonjol. Dan yang paling berbahaya bagi Arsya adalah ekspresi gugup istrinya saat ini.“Apa kamu meragukan aku?” tanya Arsya pelan sembari menatap lekat kedua mata Amira.Amira menelan ludahnya gugup. “Kamu juga meragukan aku?” balasnya cepat, mencoba mengalihkan suasana yang semakin membuat jantungnya berdebar tidak karuan.Arsya tersenyum tipis. “Nggak,” jawabnya santai. “Kalau kamu yang meragukan aku, buat tanda di tubuhku sekarang juga.”Tatapan Arsya turun ke dada bidangnya yang masih terbuka karena kancing kemejanya belum sempat ia kaitkan sejak tadi.Amira langsung salah t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Taman Tempat Cinta Dimulai

    Di sebuah taman terbuka yang luas dan megah, berdiri sebuah tempat penuh kenangan yang kini telah berubah seratus delapan puluh derajat. Taman itu dulunya hanyalah ruang hijau biasa, tetapi kini telah disulap menjadi tempat paling indah yang pernah dimiliki Ken. Bukan tanpa alasan, sebab taman itu sudah dibeli secara pribadi olehnya untuk hadiah pernikahannya dengan Sisil.Tempat itu juga menjadi saksi bisu saat Ken pertama kali mengutarakan perasaannya kepada perempuan yang hari ini resmi akan menjadi istrinya.Dekorasi bernuansa putih memenuhi setiap sudut taman. Rangkaian bunga mawar putih menjuntai indah di sepanjang lorong utama. Kain-kain tipis yang tertiup angin menambah kesan elegan dan romantis. Di tengah taman berdiri altar megah dengan sentuhan lampu kristal yang berkilauan terkena cahaya matahari pagi.Pernikahan bertema outdoor itu terlihat begitu mewah, hangat, dan sempurna.Hari ini adalah hari yang sudah lama dinantikan. Hari di mana Ken akhirnya akan menikahi Sisil.*

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Lima Belas Hari?

    Sore hari mulai merambat turun, meninggalkan semburat jingga yang memantul di dinding kaca rumah mewah milik Arsya. Angin berembus pelan di area teras yang luas itu, membuat dedaunan tanaman hias bergoyang lembut.Namun, suasana tenang itu sama sekali tidak memengaruhi Sean.Laki-laki itu berdiri mematung seorang diri di teras rumah sambil sesekali melirik jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Wajah tampannya sudah ditekuk kesal sejak beberapa menit terakhir.“Lama sekali sekretaris itu!” pekiknya geram.Kakinya menghentak lantai beberapa kali, seolah sedang melampiaskan emosi yang terus menumpuk di kepalanya.Di tengah kekesalannya, suara gerbang otomatis akhirnya terdengar terbuka.Sean langsung menoleh cepat.Dari kejauhan, mobil hitam milik Ken melaju masuk dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya berhenti tepat di halaman depan rumah.“Akhirnya datang juga badebah satu itu,” dengus Sean pelan dengan wajah masam.Kini suasana rumah Arsya sudah jauh lebih lengang diband

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Mall

    “Apa yang meluber?” tanya Ken polos.“Aaa! Udah diam! Kenapa malah diperpanjang sih?” Sisil menahan malu yang rasanya sudah sampai ke ubun-ubun.Pipinya memerah sempurna. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Ken terlalu lama. Rasanya ingin menghilang saja dari mall itu.Tanpa banyak bicara, Ken langsung melepaskan jas mahal yang melekat di tubuhnya. Dengan gerakan santai, ia melingkarkan jas itu ke pinggang Sisil untuk menutupi bagian belakang rok gadis itu.“Jangan! Nanti jas kamu kena darah juga,” protes Sisil cepat sambil berusaha melepas jas tersebut.Namun, dengan sigap Ken menahan kedua tangan gadis itu. “Itu cuma darah, kan?” tanyanya sambil menatap lekat mata Sisil.Dag!Jantung Sisil langsung berdebar keras.Tatapan Ken terlalu dekat. Terlalu intens. Terlalu membuat napasnya berantakan. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka saling bertatapan sedekat ini, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Sangat berbeda.“I-iya … cuma darahku, tapi—”“Tapi apa?” sela Ken pelan deng

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Datang Bulan

    Tanpa menunggu lama, Ken melangkah keluar dari butik, lalu berjalan beriringan dengan Sisil menuju area parkir. Sementara itu, Angkasa membuntuti langkah keduanya dari belakang. Laki-laki itu tampaknya memang berniat mengantar mereka sampai ke teras butik.Begitu Ken membuka pintu mobil untuk Sisil, Angkasa tersenyum tipis. “Hati-hati di jalan, Tuan Ken.”Ken hanya menganggukkan kepalanya singkat sebelum masuk ke kursi kemudi. Mesin mobil segera menyala halus, lalu kendaraan mewah itu perlahan meninggalkan area butik.Saat mobil bergerak keluar, Ken sempat menekan klakson pelan sebagai tanda berpamitan. Angkasa yang masih berdiri di teras butik membalas dengan lambaian tangan hormat.Sisil melirik ke arah belakang melalui kaca spion samping.“Oh, ternyata dia masih punya hati,” gumamnya pelan.“Apa?” tanya Ken sekilas.“Bukan apa-apa.”Ken tidak menanggapi lagi. Kedua tangannya fokus menggenggam setir sambil menatap lurus ke jalanan kota yang mulai ramai menjelang sore.Beberapa menit

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Luka Hati Sisil

    Tak berselang lama, Amira mulai menyadari keanehan di jalan raya yang mereka lalui. Jalanan yang sejak tadi tampak padat dan penuh kendaraan, dalam hitungan menit berubah drastis. Mobil-mobil menghilang satu per satu, suara klakson lenyap, dan suasana yang semula riuh mendadak sunyi.Di beberapa ti

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Tangkap

    Duagh!Ken menendang tubuh laki-laki itu tanpa ampun. Tubuh renta tersebut kembali terpental, menghantam tembok dengan suara keras sebelum akhirnya terjatuh tak berdaya. Seketika, kaki Ken sudah menginjak wajah pria yang tak lain adalah calon ayah mertuanya sendiri.“Lepaskan anak dan istrimu,” uca

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Datang Tepat Waktu

    Sisil melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, jarum speedometer nyaris menyentuh batas maksimal. Tangannya gemetar mencengkeram setir, sementara matanya terus berkaca-kaca menahan air mata yang nyaris tumpah.“Sil, jangan panik. Ibumu pasti akan baik-baik saja,” ucap Amira mencoba menenangkan, mes

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kepanikan Sisil

    “Ken!” panggil Arsya sekali lagi.“Ya, Tuan?” sahut Ken sigap.“Kenapa hari ini Mira gatal sekali?”Ken refleks mengernyit. Otaknya langsung berputar, mencoba mencerna maksud pertanyaan itu."Bagian tubuh mana yang gatal?" batinnya bingung. "Perasaan tadi aku lihat Nona muda baik-baik saja. Kulitny

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status