Share

Pernikahan

Penulis: Mediasari012
last update Tanggal publikasi: 2025-12-03 17:51:58

Hening.

Bahkan David tak berani bernapas.

Arsya memandang Amira antara kaget, geli, dan tak percaya gadis itu berani berucap begitu di depan umum, sementara Cassandra memelototinya, seperti singa betina yang terusik. “Kamu tak tahu dengan siapa kamu bicara, hah?”

Amira hanya menatapnya dengan mata bulat, lalu tersenyum tipis. “Saya tahu. Mbaknya model sabun mandi dan iklan berlian, kan? Saya sering lihat wajah Mbak di halte bus. Cantik kok, Mbak, tapi nggak malu pake handuk gitu, terus dilihatin banyak orang?”

David menunduk dalam-dalam, pura-pura mengatur hanger.

Ken menatap langit-langit, menahan tawa.

Sedangkan Arsya menoleh ke arah lain, bibirnya terangkat sekilas, sepertinya dia makin menyukai Amira yang ceplas-ceplos dan polos, menunjukkan kalau gadis itu benar-benar lugu ala gadis desa.

Cassandra menghela napas keras dan melangkah pergi dengan langkah panjang, meninggalkan wangi parfum yang menyengat.

"Silahkan ikut Nona, semua pakaian untuk Anda sudah disiapkan bibi di rumah Tuan Muda."

“Ke mana?” tanya Amira refleks.

Arsya menatapnya singkat. “Ke rumah utama Dirgantara.”

Arsya kemudian menuntun jemari Amira untuk memegang lengannya ketika baru sampai di rumah keluarganya. Kemudian, Arsya menunjukkan kamar Amira yang ada di lantai dua paling pojok, setelah itu dia pergi meninggalkan Amira sendirian.

"Selamat beristirahat Nona Amira." Ken berpamitan lalu pergi. 

Amira akhirnya terlelap, dan tanpa ia sadari, dari dia masuk ke rumah tadi, sepasang mata melihat gerak-geriknya dengan wajah masam. Gadis itu coba tidak peduli dan akhrinya tertidur, tapi tak berselang lama, dia dikejutkan dengan adu mulut.

Dari jarak suaranya, Amira yakin mereka sedang adu mulut di aula lantai dua.

"Aku sudah membawa calonku agar Mama bisa mulai menerima pilihanku dan melupakan Cassandra!"

"Mama sudah lihat wanita yang kamu bawa. Pikirkan lagi, Arsya, kamu memutuskan Cassandra tapi Mama belum secara resmi bicara dengan keluarganya bahwa perjodohan kalian selesai. Mama lihat pilihanmu, bukan wanita yang setara dengan kita."

"Mama mau aku menikah kan? Bukan berarti harus Cassandra, Ma. Aku nggak suka pilihan Mama. Aku mau pilihanku sendiri."

"Tunjukkan saja kalo wanita itu bisa mengambil hati Mama. Mama akan coba beri kesempatan dia sesuai dengan maumu!" 

"Pokoknya bukan Casandra, Ma. Arsya nggak mau sama dia."

Amira sempat terbangun mendengar perdebatan itu, tapi suaranya hanya terdengar samar. Dia kemudian melanjutkan tidur karena terlampau capek seharian beraktivitas dan pura-pura.

Saat bangun di pagi harinya, Amira menuju kamar mandi dan takjub melihat bathtub bundar mewah ala kolam renang mini serta aneka perlengkapan mandi yang tersedia untuknya. 

"Aih, air kran nya dua? Ini gimana sih? Astaga, panas banget. Hah ... untung baru tanganku yang coba!" Amira menggeleng keras memilih dengan air dengan suhu biasa dan mandi berdiri bukan di bathtub yang tersedia.

Masih terlalu canggung menikmati fasilitas di rumah Arsya dan belum bisa menaklukkan cara menggunakan air hangat.

Amira pikir ia harus tanya pada Ken, biar nanti sore bisa mandi air hangat. 

Setelah mandi ia membuka koper dan meraih dress warna peach pastel dari lemari. Aneka koleksi terbaru butik pakaian tertata rapi. Sesuai ukurannya. Lalu meja rias dengan cermin besar menarik perhatiannya. "Waw, semua alat make up lengkap dan aneka lotion perawatan tubuh juga tersedia lengkap. Mereknya saja Amira susah menyebutnya.”

Rambut indahnya ia biarkan tergerai begitu saja, tidak lupa ia juga memakai liptint tipis yang tersedia di meja. Dengan pakaian yang ia kenakan, make up tipis yang ia gunakan. Amira tampak seperti bunga yang baru mekar.

"Setidaknya Aku terlihat sedikit rapi daripada kemarin, Tuan Galak pasti lebih suka calon istri yang cantik.” Amira berbicara di depan cermin.

"Amira, kamu cantik sekali. Dimana aura gembel mu yang kemarin?" Amira berbicara dengan suara berat. Dia sedang cosplay menjadi Arsya saat ini.

Suara ketukan terdengar.

"Nona Amira, Anda sudah ditunggu Tuan Muda di meja makan," ucap Ken.

Amira segera melangkah keluar mengikuti langkah Sekretaris Ken, hingga tibalah di ruang makan. Terlihat semua keluarga Arsya sedang duduk bersama.

Arsya, Riana, dan kedua Adik perempuan Arsya sudah duduk rapi di depan meja yang sudah terhidang beberapa macam makanan itu. 

Arsya terlihat melemparkan senyuman, lalu memanggil Amira untuk duduk di kursi sebelahnya, sedangkan Elena dan Elesha terkejut melihat perubahan sikap kakaknya itu.

"Duduklah, kamu yang bernama Amira, calon istri Arsya?" tanya Riana dingin 

Amira menunduk sedikit sebelum duduk di kursi yang ditunjuk Arsya.

Arsya menggenggam tangan Amira lembut. "Dia calon istriku."

Arsya melayani Amira dengan mengambilkan aneka lauk ke piring Amira. Meski ini hanyalah pura-pura, Amira bisa tahu kalau Arsya melakukannya tanpa paksaan apapun. "Makan yang banyak, yaa, jangan sampai sakit!"

"Tentu saja dia akan makan banyak Arsya. Dilihat dari wajahnya dia pasti tidak pernah bertemu makanan seenak ini," sela Riana, seolah meremehkan Amira.

"Mama, tolong bersikap sopan dengan calon istriku. Aku sudah memenuhi apa yang Mama mau, bukan?" Arsya mengingatkan lagi. 

Tidak ada percakapan setelah itu, hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu di atas piring. 

Amira menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Bahkan, ia yang lebih awal menghabiskan sarapan itu. Setelah selesai sarapan, Arsya berdiri, kemudian mengajak Amira berbincang lebih serius mengenai rencana pernikahan esok hari.

***

Acara pernikahan yang digelar dengan sangat tertutup itu terlihat sangat mewah. Ratusan tamu yang notabenenya adalah orang-orang penting, kini terlihat telah berdatangan.

Beberapa awak media tidak diizinkan masuk. Mereka hanya bisa menunggu jauh di perbatasan gerbang gedung acara.

Di ruang rias, Amira duduk di depan cermin besar.

Gaun putih gading mewah membalut tubuhnya sempurna, tapi matanya kosong. Dari pantulan kaca, ia melihat bayangannya sendiri, cantik tapi tidak ada ibunya di ruangan ini. 

Sekretaris Ken masuk dengan ekspresi datar. “Tuan Arsya sudah menunggu di bawah."

Amira berdiri perlahan dan melangkah keluar.

Di tangga besar, ia melihat Arsya berdiri tegap dengan jas berwarna senada dengannya.

Tanpa sadar, kini Arsya menatap Amira tanpa berkedip.

"Kenapa wanita ini jadi cantik sekali? Argh, aku lupa, ini kan hanya tipu daya riasan saja. Bagiku dia tetap wanita dehidrasi yang terciprat lumpur!"

Acara berlangsung khidmat.

Saat tiba pada akad, suara Arsya mantap menyebut mahar satu miliar. Sorak para tamu pecah, menandakan mereka kini sah sebagai suami istri.

"Cium ... cium ... cium ..." Sorak para tamu itu seolah menjadi pisau di hati Amira.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Akhir Cerita

    "Aku teman lama Sekretaris Ken. Boleh aku menunggunya di sini?" Bibi yang membuka pintu bingung dan meminta wanita itu menunggu. Sisil yang duduk disebelah Amira mendengar laporan bibi terkejut. "Eh dia cari Ken sampai ke sini?" "Siapa Sil? Kamu kenal. Kalau nggak biar security yang urus," tanya Amira.Senyuman Sisil seketika menghilang. "Cewek yang waktu itu di rumah Ken dulu. Di minimarket, aku bertemu lagi sama dia, aku heran kok dia tahu rumah Tuan Arsya," gumamnya."Mira, kita ijinkan dia masuk boleh. Aku numpang terima tamu di rumahmu. Aku ingin tahu Apa Ken sedekat itu sama dia?" Amira mengangguk. Ia mengikuti arah pandangan sahabatnya saat Bibi masuk. Seorang wanita bergaun putih krem berdiri di ambang pintu dengan senyum percaya diri. Wanita itu melangkah anggun ke ruang tamu lalu menyapa semua orang dengan ramah."Selamat siang semua. Saya Relia. Kenal dekat dengan sekretaris Ken. Boleh saya menunggunya di sini?" ""Silakan duduk," ujar Amira."Terima kasih. Saya ingin b

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kunjungan Ibu Ken ke Rumah Arsya

    "Wah, nggak nyangka ya. Akhirnya kita bisa bertemu lagi disini," ucap wanita itu.Sisil masih terdiam, raut wajahnya mendadak datar. Ia memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya."Ulat bulu ini kenapa bisa ada disini sih?" batin Sisil kesal."Kamu pasti lupa ya? Aku Relia, kita pernah bertemu di desa, di rumah sekretaris Ken dulu," ucap Relia sembari mengulurkan tangannya."Sisil," jawab Sisil singkat seraya menerima uluran tangan itu."Ternyata kamu tinggal disini ya? Apa kamu tau alamat sekretaris Ken?" tanya Relia tidak tau malu."Tau, dia udah menikah. Jangan mengusiknya," jawab Sisil datar."Haha, iya aku tau kok. Aku dengar kabar pernikahannya dari ibuku, tapi sayangnya pernikahan itu sangat private ya, jadi kami sangat penasaran dengan wajah istrinya. Secantik apa sih istrinya sampai bisa meluluhkan hati laki-laki dingin dan tampan itu?" ceracau Relia. Gadis itu tidak peduli dengan tatapan aneh para pengunjung minimarket terhadapnya."Aku ingin memukulinya saat ini juga!" ba

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Akhirnya Kita Bertemu lagi

    Hari ini adalah hari ketika Ken dan Sisil akhirnya kembali ke apartemen mereka. Setelah beberapa hari sibuk dengan berbagai urusan keluarga pascapernikahan, keduanya memutuskan untuk tinggal lebih dulu di apartemen milik Ken.Ibu Ken masih belum kembali ke desa. Wanita paruh baya itu rupanya masih ingin menikmati suasana kota selama beberapa hari lagi.Sementara itu, ibu Sisil dan adiknya sudah kembali ke rumah mereka sendiri. Meski demikian, hampir setiap hari wanita itu tetap datang mengunjungi apartemen putrinya.Sisil bahkan sudah berkali-kali melarang ibunya membersihkan apartemen, tetapi larangan itu seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Setiap kali datang, ibunya selalu menemukan sesuatu untuk dibereskan.Jarum jam kini menunjukkan pukul sepuluh pagi.Kiara sudah berangkat ke sekolah sejak beberapa jam yang lalu. Ken dan Sean pun telah berada di kantor untuk bekerja.Kini hanya tersisa Sisil dan ibu mertuanya di apartemen yang terasa jauh lebih tenang dibanding biasan

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kekesalan Sisil

    Amira menghentikan mobilnya tepat di garasi luar.Di kursi teras, terlihat Arsya sedang duduk disana. Sementara Ken sudah berdiri tak jauh dari Tuan mudanya. Sorot mata Arsya seakan sudah mengintimidasi langkah Amira."Tumben sekali kak Arsya dan sekretaris Ken ada diluar!" bisik Elena sangat pelan."Mungkin mereka sedang menunggu kita, El," jawab Amira."Kita? Nunggu kak Mira aja kali," timpal Elena sembari mengulum senyumnya.Obrolan itu terhenti saat mereka sudah sampai di tangga teras. Ken terlihat sedang menganggukan kepalanya ke arah Amira dan Elena."Kak, aku ke dalam dulu ya," pamit Elena tiba-tiba.Amira hanya mengangguk pelan.Arsya menepuk tempat kosong disebelahnya. Tanpa berpikir panjang, Amira segera duduk di samping suaminya."Sayang, Ryu dimana?" tanya Arsya."Tidur di kamar Mama," jawab Arsya. "Apa yang kamu lakukan di toko kamu?" tanya Arsya."Tadi ada vendor yang menghubungi nomor toko, dan bertanya waktu luangku. Lalu aku jawab saat itu juga aku sedang luang, dan t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Ruko

    Di lantai tiga, lantai paling atas ruko milik Amira, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan dua lantai di bawahnya. Setelah menyelesaikan pertemuan singkat dengan salah satu vendor di lantai dua, Amira kembali menaiki tangga menuju ruang istirahat yang ia sediakan untuk dirinya dan para karyawan.Beberapa bulan terakhir, Amira memang melakukan banyak perubahan pada rukonya. Lantai dua yang sebelumnya kosong kini disulap menjadi area multifungsi. Sebagian ruangan dibatasi dengan sekat dan dijadikan tempat menerima tamu atau vendor. Di sana terdapat sofa nyaman, meja kopi, serta beberapa tanaman hias yang membuat suasana terasa lebih hangat.Sementara bagian lainnya digunakan sebagai area pengepakan pesanan. Setiap hari, para karyawan sibuk membungkus barang yang akan dikirim ke berbagai kota. Aktivitas itu membuat bisnis Amira berkembang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.Saat tiba di lantai tiga, Amira mendapati Elena masih berbaring di atas tempat tidur kecil yang berad

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kejahilan Amira

    Tring! Tring!Ponsel Amira berdering sangat keras, hingga ia terbangun dari tidurnya.Ia menggerakan tangannya, mengarahkanmya ke atas meja makan sembari masih memejamkan matanya."Halo." Amira menjawab panggilan telepon itu tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang meneleponnya, suaranya juga masih terdengar serak saat ini."Iya, halo. Kak Mira bisa ke ruko sebentar nggak?" tanya Rina melalui panggilan telepon."Iya, Rin. Tunggu sebentar ya," jawab Amira menyetujuinya tanpa menanyakan alasannya.Ia sudah bisa mengira bahwa ada hal penting yang harus melibatkan dirinya. Semua karyawannya selama ini sudah bisa menghandle toko tanpa titah darinya lagi, ia selama ini hanya menerima laporan dan mengecek tokonya hanya dari rumah saja."Berapa lama aku tidur?" ucapnya sembari mengusap beberapa kali. "Dimana Ryu? Ryu!"Matanya membulat sempurna saat menyadari anaknya tidak ada di kamarnya. Ia kembali mengecek ponselnya, terlihat ada sebuah pesan dari Elena, pesan itu dikirim sejak jam tujuh

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Fitting Baju?

    Mobil Dimas akhirnya memasuki halaman kediaman Arsya yang sore itu tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Deretan mobil mewah terparkir rapi di sepanjang halaman luas rumah tersebut, sementara lampu-lampu taman yang menyala temaram membuat suasana terasa hangat sekaligus elegan.Di dalam mobil, Sin

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Luka yang Sama

    RAWWRRR!Dari dalam kandang besar itu, seekor singa putih betina melompat keluar dengan langkah anggun namun mengintimidasi. Tubuhnya kini jauh lebih besar dibanding terakhir kali Arsya melihatnya. Surai putih di lehernya tampak berkilau terkena cahaya matahari sore.Arsya refleks berjongkok saat B

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Bella Ternyata Bukan Wanita

    Cahaya kamar masih temaram. Embusan udara dingin dari pendingin ruangan membuat Amira tanpa sadar semakin merapatkan selimut ke tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang terasa berat di pinggangnya.Perlahan ia membuka mata.Deg!Amira mendapati Arsya sedang memeluknya erat dari belakang dengan wajah yang

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kekacauan Tengah Malam

    “Ryu, kamu pup ya?” tanya Arsya pelan saat hidungnya mulai menangkap aroma tidak sedap dari arah bayi kecil di sampingnya.Dengan gerakan hati-hati, ia menurunkan selimut tipis yang menutupi tubuh Ryu. Dahinya langsung berkerut. Perlahan Arsya membuka kancing romper anaknya satu per satu. Seketika,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status