Share

Malam Pertama?

Author: Mediasari012
last update publish date: 2025-12-03 17:53:37

Arsya segera meraih microphone dan mengucapkan kalimat yang membuat para tamu kecewa.

"Kami tidak akan melakukannya disini karena istri saya adalah orang yang sangat pemalu. Dia sangat menjaga, dan saya harus menghargai itu. Silahkan kalian menikmati hidangan yang sudah kami persiapkan," ucap Arsya tegas tanpa ekspresi.

Arsya dan Amira kini sudah duduk di atas pelaminan.

"Kita udah sah jadi suami istri ya?"

Arsya mencondongkan tubuh, suaranya nyaris berbisik namun cukup membuat jantung Amira berdetak cepat.

"Sudah, dan jangan lupa, hanya satu tahun sebagai istri pura-pura, paham?” kata Arsya tersenyum, berakting seakan bahagia dan mesra bicara pada istrinya. 

"Tentu suamiku, sayang." Amira melingkarkan tangannya pada Arsya erat. 

Sementara di sudut ruangan pesta itu seorang wanita sedang bicara dengan Riana.

"Aku akan membuktikan kalau itu bukan istri sesungguhnya Arsya. Dia pasti wanita yang disewa Arsya. Beri aku kesempatan mengambil kembali Arsya dari wanita kampung itu!" Cassandra merengek pada Riana untuk dapat menaklukkan hati Arsya sekali lagi. 

Riana bicara pelan pada Cassandra. “Yah dia memang tampak tidak selevel dengan kita. Aku ijinkan kamu mencoba merebut Arsya dari Amira!" 

***

Di rumah utama, sebagai istri Arsya kamar Amira bukan kamar tamu lagi. Namun satu kamar dengan Arsya.

Satu milyar boleh menggoda siapa saja, tapi iman dan kewarasan harus tetap tegak. “Aku harus menjaga diriku, kesucianku!”

Amira berdiri di samping sofa empuk itu, memeluk bantal seperti memegang tameng..

Arsya, CEO galak itu, malah bersedekap santai di dekat kasur. “Kamu tidur di sini, kasurnya besar dan kita nggak bakal bersentuhan.”

“Pret! Laki-laki tetap laki. Kayak kucing pencuri ikan. Kamu pikir aku gak tahu akal kotormu? Sofa ini lebih aman daripada di sana, ada kamu, jadi nggak aman aku.”

Arsya menghela napas, nadanya bukan marah, justru seperti iba. “Kamu pasti capek. Kemarin saja karena lumpur kamu pingsan. Kalau tidur di sofa, besok leher kamu bisa miring.”

“Ya Tuhan, kenapa senyumnya kayak tulus ya? Dia baik banget kah?” Tapi alarm hati Amira berbunyi keras. “Jangan-jangan dia punya niat ... No!” Amira menepis pikiran itu.

Tapi tubuh atletis, wajah tampan putih bak porselen itu membuat dada Amira berdebar tak karuan.

Arsya masuk kamar mandi sambil membawa handuk. Suaranya terdengar dari dalam. “Kalau kamu takut sama aku, pakai pembatas guling. Mau tak mau kita teman satu kamar setahun ke depan."

Kalimat Arsya tentang ‘teman sekamar satu tahun’ menggerakkan kakinya menuju tempat tidur. "Betul juga sih sarannya. Aku harus terbiasa."

Lalu suara air shower menyala, mengganggu imajinasi Amira.

Mata Amira terpana, pintu itu tidak dikunci, terbuka sedikit dan uap panas, berupa asap putih mengepul keluar. "Punggungnya, ck, kenapa kelihatan dikit ya?"

"Ya Tuhan, kenapa dia keluar pake handuk doang." Amira terpana, mulutnya terbuka otak kotornya liar menguasai akal sehat.

Arsya keluar sambil mengeringkan rambut, hanya berbalut handuk putih yang melilit di pinggulnya. Dada bidang, otot lengan dan punggung yang kokoh, basah oleh tetes air. Bau harum sabun menyeruak.

“Lihat apa?” tanya Arsya santai, tersenyum mendekat.

“Sial. Semakin dekat, kenapa tangannya pengen menyentuh dada bidang itu ya?” Amira berperang batin. Wajah Amira panas. “Jangan dekat-dekat!”

“Santai, kamu kan istriku!” Arsya sengaja mencondongkan tubuh. Semakin mendekat. “Kamu pipinya merah, kenapa?!”

JDER!

Rasanya seperti mendengar petir disiang bolong.

Amira malu setengah mati.

Jelas pipinya merah karena Arsya mendekat.

Arsya yang putih, tampan, sexy mendebarkan, pakai handuk pula, Apa kurang jelas?

Tiba-tiba Arsya melangkah lebar dengan cepat, kini tubuhnya melekat erat pada Amira kening mereka sampai terbentur, “Jangaaan! Sakit tauu!”

Refleks, tangan Arsya menutup mulut Amira “Ssst! Suara kamu bisa kedengaran sam- ...”

Naluri Arsya tak meleset sama sekali, terdengar suara-suara dari luar.

Di luar, Riana memang sedang berada di depan pintu, menguping kegiatan anaknya.

"Ada Mama mengintip di depan pintu!" Arsya berbisik pada telinga Amira, tangannya merangkul pundak Amira.

“Lepasin tangan kamu!” ucap Amira di balik rangkulan tangan Araska.

“Ssst! Jangan ngomel, Mama bisa ...”

Karena panik, Amira pun meronta.

Arsya mencoba menahan agar tangan dan tubuh yang meronta. Tapi bukan salah satu menang, justru malah kaki Arsya goyah, tubuhnya oleng ke arah Amira dan handuknya melorot ke bawah.

“Aaa!” Amira panik, terkejut melihat handuk yang terjatuh, kakinya terpeleset bersamaan tubuh Arsya yang jatuh ke arahnya.

Keduanya terjatuh di kasur, bersamaan.

Tepat di tengah kasur dalam posisi Amira terbaring di bawah, Arsya di atas, wajah mereka berhadapan hanya beberapa senti. Nafas Arsya menyapu pipi Amira. Kedua tangannya menahan tubuhnya agar tidak menindih Amira.

Di saat yang sama, di bawah sana, tanpa handuk sesuatu yang keras menakutkan juga lekat, membuat Amira terbelalak. "Aaaa tolong!"

Gagang pintu kamar berputar, pintu terbuka. “Arsya ada apa?”

Riana mendorong pintu masuk tanpa bersalah, penasaran ingin membuktikan pernyataan Cassandra. Pintu terbuka lebar. Matanya terbelalak melihat posisi Arsya di atas Amira.

Arsya buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya. Amira panik, wajah merah, rambut acak-acakan akibat jatuh.

Riana berteriak histeris, “ARSYAA!? Ka-kamu beneran ngelakuin malam pertama?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Akhir Cerita

    "Aku teman lama Sekretaris Ken. Boleh aku menunggunya di sini?" Bibi yang membuka pintu bingung dan meminta wanita itu menunggu. Sisil yang duduk disebelah Amira mendengar laporan bibi terkejut. "Eh dia cari Ken sampai ke sini?" "Siapa Sil? Kamu kenal. Kalau nggak biar security yang urus," tanya Amira.Senyuman Sisil seketika menghilang. "Cewek yang waktu itu di rumah Ken dulu. Di minimarket, aku bertemu lagi sama dia, aku heran kok dia tahu rumah Tuan Arsya," gumamnya."Mira, kita ijinkan dia masuk boleh. Aku numpang terima tamu di rumahmu. Aku ingin tahu Apa Ken sedekat itu sama dia?" Amira mengangguk. Ia mengikuti arah pandangan sahabatnya saat Bibi masuk. Seorang wanita bergaun putih krem berdiri di ambang pintu dengan senyum percaya diri. Wanita itu melangkah anggun ke ruang tamu lalu menyapa semua orang dengan ramah."Selamat siang semua. Saya Relia. Kenal dekat dengan sekretaris Ken. Boleh saya menunggunya di sini?" ""Silakan duduk," ujar Amira."Terima kasih. Saya ingin b

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kunjungan Ibu Ken ke Rumah Arsya

    "Wah, nggak nyangka ya. Akhirnya kita bisa bertemu lagi disini," ucap wanita itu.Sisil masih terdiam, raut wajahnya mendadak datar. Ia memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya."Ulat bulu ini kenapa bisa ada disini sih?" batin Sisil kesal."Kamu pasti lupa ya? Aku Relia, kita pernah bertemu di desa, di rumah sekretaris Ken dulu," ucap Relia sembari mengulurkan tangannya."Sisil," jawab Sisil singkat seraya menerima uluran tangan itu."Ternyata kamu tinggal disini ya? Apa kamu tau alamat sekretaris Ken?" tanya Relia tidak tau malu."Tau, dia udah menikah. Jangan mengusiknya," jawab Sisil datar."Haha, iya aku tau kok. Aku dengar kabar pernikahannya dari ibuku, tapi sayangnya pernikahan itu sangat private ya, jadi kami sangat penasaran dengan wajah istrinya. Secantik apa sih istrinya sampai bisa meluluhkan hati laki-laki dingin dan tampan itu?" ceracau Relia. Gadis itu tidak peduli dengan tatapan aneh para pengunjung minimarket terhadapnya."Aku ingin memukulinya saat ini juga!" ba

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Akhirnya Kita Bertemu lagi

    Hari ini adalah hari ketika Ken dan Sisil akhirnya kembali ke apartemen mereka. Setelah beberapa hari sibuk dengan berbagai urusan keluarga pascapernikahan, keduanya memutuskan untuk tinggal lebih dulu di apartemen milik Ken.Ibu Ken masih belum kembali ke desa. Wanita paruh baya itu rupanya masih ingin menikmati suasana kota selama beberapa hari lagi.Sementara itu, ibu Sisil dan adiknya sudah kembali ke rumah mereka sendiri. Meski demikian, hampir setiap hari wanita itu tetap datang mengunjungi apartemen putrinya.Sisil bahkan sudah berkali-kali melarang ibunya membersihkan apartemen, tetapi larangan itu seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Setiap kali datang, ibunya selalu menemukan sesuatu untuk dibereskan.Jarum jam kini menunjukkan pukul sepuluh pagi.Kiara sudah berangkat ke sekolah sejak beberapa jam yang lalu. Ken dan Sean pun telah berada di kantor untuk bekerja.Kini hanya tersisa Sisil dan ibu mertuanya di apartemen yang terasa jauh lebih tenang dibanding biasan

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kekesalan Sisil

    Amira menghentikan mobilnya tepat di garasi luar.Di kursi teras, terlihat Arsya sedang duduk disana. Sementara Ken sudah berdiri tak jauh dari Tuan mudanya. Sorot mata Arsya seakan sudah mengintimidasi langkah Amira."Tumben sekali kak Arsya dan sekretaris Ken ada diluar!" bisik Elena sangat pelan."Mungkin mereka sedang menunggu kita, El," jawab Amira."Kita? Nunggu kak Mira aja kali," timpal Elena sembari mengulum senyumnya.Obrolan itu terhenti saat mereka sudah sampai di tangga teras. Ken terlihat sedang menganggukan kepalanya ke arah Amira dan Elena."Kak, aku ke dalam dulu ya," pamit Elena tiba-tiba.Amira hanya mengangguk pelan.Arsya menepuk tempat kosong disebelahnya. Tanpa berpikir panjang, Amira segera duduk di samping suaminya."Sayang, Ryu dimana?" tanya Arsya."Tidur di kamar Mama," jawab Arsya. "Apa yang kamu lakukan di toko kamu?" tanya Arsya."Tadi ada vendor yang menghubungi nomor toko, dan bertanya waktu luangku. Lalu aku jawab saat itu juga aku sedang luang, dan t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Ruko

    Di lantai tiga, lantai paling atas ruko milik Amira, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan dua lantai di bawahnya. Setelah menyelesaikan pertemuan singkat dengan salah satu vendor di lantai dua, Amira kembali menaiki tangga menuju ruang istirahat yang ia sediakan untuk dirinya dan para karyawan.Beberapa bulan terakhir, Amira memang melakukan banyak perubahan pada rukonya. Lantai dua yang sebelumnya kosong kini disulap menjadi area multifungsi. Sebagian ruangan dibatasi dengan sekat dan dijadikan tempat menerima tamu atau vendor. Di sana terdapat sofa nyaman, meja kopi, serta beberapa tanaman hias yang membuat suasana terasa lebih hangat.Sementara bagian lainnya digunakan sebagai area pengepakan pesanan. Setiap hari, para karyawan sibuk membungkus barang yang akan dikirim ke berbagai kota. Aktivitas itu membuat bisnis Amira berkembang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.Saat tiba di lantai tiga, Amira mendapati Elena masih berbaring di atas tempat tidur kecil yang berad

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kejahilan Amira

    Tring! Tring!Ponsel Amira berdering sangat keras, hingga ia terbangun dari tidurnya.Ia menggerakan tangannya, mengarahkanmya ke atas meja makan sembari masih memejamkan matanya."Halo." Amira menjawab panggilan telepon itu tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang meneleponnya, suaranya juga masih terdengar serak saat ini."Iya, halo. Kak Mira bisa ke ruko sebentar nggak?" tanya Rina melalui panggilan telepon."Iya, Rin. Tunggu sebentar ya," jawab Amira menyetujuinya tanpa menanyakan alasannya.Ia sudah bisa mengira bahwa ada hal penting yang harus melibatkan dirinya. Semua karyawannya selama ini sudah bisa menghandle toko tanpa titah darinya lagi, ia selama ini hanya menerima laporan dan mengecek tokonya hanya dari rumah saja."Berapa lama aku tidur?" ucapnya sembari mengusap beberapa kali. "Dimana Ryu? Ryu!"Matanya membulat sempurna saat menyadari anaknya tidak ada di kamarnya. Ia kembali mengecek ponselnya, terlihat ada sebuah pesan dari Elena, pesan itu dikirim sejak jam tujuh

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kemarahan Arsya

    Satu jam sudah mereka mengobrol dan bercanda bersama tanpa menghiraukan seorang laki-laki jomblo yang sejak tadi hanya menjadi penerima tamu.“Aku akan membayar masakanmu dan kedatanganmu ke sini. Sebutkan saja kamu mau minta apa?” tanya Arsya.“Aku dari semalam ingin makan sesuatu,” jawab Amira.“

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Amira Datang Ke Kantor

    Tring!Ponsel Arsya berdering. Terlihat Amira sedang melakukan panggilan video kepadanya. Arsya segera menjawab panggilan itu.“H-halo, Sayang. Kamu lagi ada di mana?” tanya Amira terbata.“Seharusnya karyawanmu sudah memberitahumu, kan?” jawab Arsya datar.“I-iya.”Amira bingung sendiri. Ia sudah

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Amira Kembali Mual

    Sementara itu, di kediaman Arsya, Amira kembali berulah. Setelah selesai berunding dengan suaminya tentang kepulangan Aiden, ia kembali mual dan muntah hebat.Amira menangis sesenggukan di dalam kamar mandi. Ia tidak mau didekati oleh Arsya. Laki-laki itu kini hanya bisa menatap istrinya dari jauh

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Trik Sisil

    Sepulang dari rumah orang tuanya, pikiran Sisil kacau."Udahlah, keluar dari pekerjaanmu itu. Gajimu nggak akan cukup buat membiayai keluargamu, lebih baik kamu tukarkan harga dirimu sama uang. Dasar anak nggak ada gunanya!"Ucapan ayahnya itu selalu terngiang di telinganya."Dasar laki-laki sialan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status