Home / Rumah Tangga / Aku Milikmu, Tuan Arsya! / Tanda Tangan Kontrak Pernikahan

Share

Tanda Tangan Kontrak Pernikahan

Author: Mediasari012
last update Last Updated: 2025-12-03 17:49:55

"Saya utusan dari Arkana Group. Bisakah kita bertemu sekarang di Cafe Victoria?"

"Ehm, apa ini benar tentang lamaran kerja? kok bicaranya di cafe ya, bukan di gedung Arkana seperti saat tes," jawab Amira hati-hati.

"Ya, saya Ken dan anda akan bicara dengan pimpinan Arkana Group untuk penempatan Anda. Jika Nona bisa, saya bisa mengatur jadwal dengan pimpinan untuk membicarakan kontrak kerja ini?" 

"Bisa Pak. Kalo bukan penipuan, tentu saja saya bisa." Amira tersenyum sampai melompat kegirangan hingga lupa dirinya sedang berada di jalan. Beberapa orang menatap dengan tatapan aneh, tapi ia tidak peduli.

Tanpa pikir panjang, Amira memesan taksi online menuju cave Victoria. Begitu masuk, Amira merasa minder dengan penampilannya yang sederhana.

Seorang staf cafe menuntunnya ke ruang VVIP.

Matanya terpaku ketika melihat lelaki muda tampan menunggunya. Ia berdiri kaku saat lelaki itu menarik kursi. "Silakan duduk, Nona. Sebentar lagi tuan Arsya akan datang.”

Tak lama, pintu terbuka.

Seorang lelaki tampan dengan aura angkuh masuk. Tubuh Amira bergetar, bahkan suara langkahnya terasa mengintimidasi mengingat semua orang langsung menatapnya dengan tatapan penuh harap, terlebih wanita-wanita di Victoria Cafe ini.

“Ka-kamu...” Amira terbelalak begitu mengetahui bahwa pria di hadapannya adalah Arsya. “Ma-maaf, Pak, saya tidak sengaja. Sa-saya hanya terkejut.”

"Apa kamu bisa menempati posisi yang aku berikan kelak?" tanya Arsya tanpa mengalihkan pandangan.

"Maaf, kalo boleh saya tahu saya di tempatkan bagian apa? Dan tugasnya apa ya? saya janji akan lakukan yang terbaik untuk perusahaan." 

"Tugasmu adalah menjadi istri pura-pura dengan kontrak yang bisa kamu tanda tangani sekarang kalau kamu sanggup." 

Amira terkejut. "Apa?! Menikah?! eh kerjaan apaan ini ya?"

"Emang aku secantik itu, ya?" wajah polosnya membuat Arsya tergelak.

Sudah Arsya duga wanita ini jujur dan pemberani.

Arsya tahu dari omongan orang-orang yang menolongnya ketika pingsan di jalan tempo hari, bahwa pencopet pun ia kejar dan hadapi. Belum lagi omelan dan tuntutan ganti rugi pingsan padanya.

Ken mengulurkan amplop coklat ke tangan Arsya. Perlahan, gadis itu membuka dan membaca. Tertulis besar ‘Pernikahan Kontrak Satu Tahun’.

Mata Amira kemudian menelusuri lembar demi lembar hingga berhenti pada satu kalimat pasal yang berbunyi, "Pihak wanita harus menuruti semua perintah Tuan Arsya untuk kelancaran proses pernikahan kontrak."

"Maaf, Tuan. Saya melamar pekerjaan, bukan untuk dinikahi," katanya memberanikan diri menatap laki-laki itu.

"Bayaran Anda satu miliar, Nona," timpal Ken.

"Hah satu Mil-yar? Be-beneran tuan galak?" Amira melihat pada jari telunjuknya seperti orang yang berhitung.

“Ya Tuhan, bagaimana ini? aku memikirkan harga diriku, tapi aku juga butuh uang untuk membayar hutang mendiang Ayah dan biaya berobat adikku. Aku tidak sudi menikah dengan Pak Herman, bandot tua itu. Lagipula pernikahan ini hanya sementara. Ehm ... gimana ya?” namun hatinya kali ini bicara lagi, “Aih, Amira kesempatan tak datang dua kali. Mungkin saja tuan ini hilang ingatan saat menabrakku tempo hari, kesambet. Terima sajalah demi satu milyar,” gumamnya sambil berpikir keras.

Amira tidak peduli dengan perkataan Arsya. "Ya udah deh asal satu milyar, aku butuh buat lunasin hutang, Tuan Galak. Aku sepakat asal uang muka 200 juta aku terima setelah aku tanda tangan!" 

"Mulai hari ini, Anda dalam pengawasan saya, Nona. Jangan main-main dengan kontrak yang sudah Anda tanda tangani. Saya bisa menghancurkan Anda dalam sekejap," ucap Ken sambil mengambil map.

Amira kembali menelan ludah pahit, bahkan tak berani menatap mata Ken yang terus mengintimidasinya. Berbeda dengan Arsya yang tampak frustasi dengan keputusan ini, meski dia sendiri kadang curi-curi pandang ke Amira yang selalu berkelakuan aneh.

"Pernikahan akan dilaksanakan dua hari lagi secara tertutup, dan mulai hari ini, kamu tinggal di rumahku! Dan satu syarat tidak terulis, di depan semua orang Anda harus berakting seolah-olah mencintai tuan muda," kata Ken.

Setelah perjanjain itu, Ken langsung mengirim uang 200 juta ke rekening Amira, tapi Amira mengatakan kalau uang itu digunakan untuk menutup hutang orang tuanya. Ken berjanji akan mengurus hal itu dalam waktu 3 hari, dengan catatan, Amira mau membantu Arsya pura-pura jadi istri kontraknya.

Amira pun setuju.

Mereka kemudian tiba di sebuah butik besar dan mewah. Ken membukakan pintu mobil untuk Arsya. Ia hendak membukakan pintu untuk Amira, tapi wanita itu sudah berdiri tegak di luar.

"Lain kali, tunggu saya untuk membukakan pintu, Nona," ucap Ken dengan tatapan tajam.

"Ah, tidak apa-apa, Sekretaris Ken. Saya bisa sendiri," balas Amira sambil tersenyum, bahkan menepuk lengannya.

"Selamat sore, Tuan muda dan Sekretaris Ken," sambut pemilik butik ramah, membungkuk hormat.

"Siapkan baju pengantin terbaik untuk Tuan muda dan calon istrinya!”

"Apa Tuan muda akan menikah?" Di mana calon pengantin wanitanya? Saya akan memilihkan gaun terbaik."

Spontan, Amira memeluk lengan Arsya erat, ia teringat isi persyaratan kontrak dan malah mengimprovisasinya sendiri.

"Ternyata wanita ini cantik juga. Senyumannya manis, bikin betah memandang. Pantas saja Tuan Arsya tergila-gila sampai mau menikahinya," gumam David, enggan melepas tangannya ketika berjabat dengan Amira.

Tak lama, David kembali membawa gaun pengantin mewah. Pilihan Arsya jatuh pada gaun bernuansa putih gading mewah berekor panjang yang tampak anggun.

"Pilihan Anda memang tidak pernah salah, Tuan. Gaun ini pasti terlihat cantik, apalagi dikenakan oleh Nona Amira," ucap David spontan.

Semua tersenyum.

Amira menuju ruang ganti untuk mencoba pakaian itu atas perintah Arsya.

Tiba-tiba dua wanita masuk dengan penuh percaya diri.

Semua orang terkejut dengan kedatangan mereka kecuali Amira, yang bingung berjalan sangking lebarnya gaun yang ia pakai dan dengan ekor panjang di belakangnya pula. 

"Arsya?"

“Arsya?”

Wanita di depan berambut hitam, bahu terbuka, kulitnya mengkilap seperti kaca. Tatapannya angkuh, menunjukkan dialah nomor satu.

Itu adalah Cassandra, wanita yang dijodohkan dengan Arsya. Dia seorang model terkenal, wajahnya sering muncul di papan iklan dan icon perhiasan berlian.

Di sampingnya, asisten pribadinya berjalan dengan iPad di tangan.

“Ini calon istri kamu, Arsya? Lucu sekali. Aku pikir kamu akan memilih perempuan sekelas model internasional, aktris film seperti Nindy juga digosipkan dengan dirimu. Aku pikir dia yang membuatmu menolak dijodohkan denganku!”

“Aku yakin pasti wanita ini bermain licik, Arsya. Kamu sungguh akan menikahi wanita kampungan ini?"

“Ya, Aku akan menikahi Amira," jawab Arsya singkat.

Cassandra tertawa pendek, lalu dengan berani menepuk dada pria itu ringan. “Kau kehilangan selera, Arsya.”

Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Amira dengan spontan menepiskan tangan Cassandra dari jas Arsya. “Maaf, tangan Mbak-nya salah alamat. Mas Arsya sekarang punya saya!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Hampir Ketahuan

    Tring!Suara ponsel Sisil kembali berdering, ponsel yang tadi dilemparkan oleh Ken kini sudah teronggok di atas tempat tidur."Ah, pasti si Arsya sialan itu lagi!" guammnya malas.Gadis itu merebahkan tubuhnya disamping Ken,membiarkan ponsel itu terus berdering dan mati dengan sendirinya.Dan, lagi-lagi ponsel itu kembali berdering yang membuat kesabaran Sisil berada di puncaknya, ia sangat kesal sekali."Aaa! Siapa sih!" dengusnya sembari meraih ponselnya.Raut wajah kekesalannya berubah menjadi tegang saat ini begitu ia tahu siapa yang meneleponnya saat ini."Mira?" ucapnya pelan.Mendengan nama Nona mudanya disebutkan, Ken seketika duduk dari tidurnya."Halo, Mira. Ada apa?" tanya Sisil yang sudah menjawab panggilan itu."Kenapa lama sekali menjawabnya?" tanya Amira kesal."I-iya maaf, tadi aku ada di kamar mandi," kilah Amira beralasan."Buka pintunya! Aku udah ada di depan kamar kamu," ucap Amira."Apa!" pekik Sisil tidak sadar."Cepat, buka!"Tok ... tok ... tokAmira mengetuk

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Hampir Hilang Kendali

    "Asal kamu tahu, aku tidak pernah bergurau tentang masalah hati,” lanjut Ken dengan suara rendah dan serius.Deru napasnya terasa hangat di wajah Sisil. Jarak mereka begitu dekat hingga Sisil bisa melihat pantulan dirinya di mata laki-laki itu. Ia terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar. Hanya degup jantungnya yang terdengar semakin keras di telinganya sendiri.“Apa kamu sanggup menutup mata dan telingamu dari laki-laki lain?” tanya Ken pelan, namun tegas. “Lakukan semua itu hanya untukku. Bukan karena kamu takut aku pergi, tapi karena kamu tulus menjaga perasaanku.”Glek.Sisil menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa pahit. Tangannya yang semula menggantung di udara perlahan mencengkeram ujung kemeja Ken, seolah mencari pegangan.Selama ini, ia memang terobsesi pada ketampanan Ken. Ia sudah lama memendam rasa, bahkan sebelum laki-laki itu benar-benar mengenalnya. Namun di balik itu semua, Sisil masih membawa kebiasaannya—bergaul bebas dengan banyak teman la

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Ken Cemburu

    “Arya?” Ken membaca nama di layar ponsel itu dengan suara rendah. Tatapannya yang semula tenang perlahan berubah dingin. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya tampak menegang. “Siapa dia?”Tanpa menunggu jawaban, Ken menyentuh tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara. Nada sambung itu terdengar menggema di kamar yang hening.“Sisil, susah banget sih dihubungi?” Suara laki-laki dari seberang terdengar santai, seolah tidak tahu sedang berada di ujung tanduk. “Sisil, apa kamu lupa kalau nanti malam aku udah ngajak kamu makan malam?”Ken tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. Sorotnya menatap Sisil lekat-lekat, seakan menunggu satu kesalahan kecil saja untuk meledak.Glek.Tenggorokan Sisil terasa kering. “Sialan kau, Arsya! Bisa-bisanya meneleponku dalam situasi seperti ini,” batinnya kesal.“Sisil?” Suara di telepon itu terdengar lagi, kali ini dengan nada curiga karena tak mendapat jawaban.“Ya?” jawab Ken datar.Sisil refleks hendak merampas ponselnya, t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kegugupan Sisil

    “Sekretaris Ken!” Amira beralih mengajak Ken berbicara, suaranya terdengar ringan, tetapi jelas berniat menggoda.“Ya, Nona?” jawab Ken sopan dari kursi kemudi. Tatapannya tetap lurus ke depan, fokus pada jalan.“Kenapa dari dulu Anda tidak korupsi saja? Pasti saat ini Anda sudah sangat kaya,” ucap Amira tergelak, bahunya sampai bergetar menahan tawa.Ken hanya tersenyum tipis. “Tanpa korupsi pun saya sudah kaya, Nona.”“Iya deh, iya. Laki-laki suci tak berdebu,” balas Amira kesal, memutar bola matanya dengan dramatis.Sisil yang duduk di samping Ken hanya bisa menahan napas. Bibirnya sudah berkedut ingin tertawa, tetapi ia mati-matian menahannya. Ia tahu, jika ia sampai membuka suara, yang keluar pasti bukan kata-kata, melainkan ledakan tawa yang tak bisa dihentikan.Keheningan di dalam mobil itu mendadak pecah ketika suara alarm dari ponsel Arsya berbunyi nyaring.Tin! Tin! Tin!“Ken, hentikan mobil,” perintah Arsya tenang sembari mematikan alarm tersebut.“Baik, Tuan,” jawab Ken pa

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Rasanya Seperti Telur

    Setelah puas berburu jajanan, mereka semua segera keluar dari area bazar yang masih ramai oleh pengunjung. Lampu-lampu gantung berwarna kuning temaram mulai menyala seiring senja turun perlahan. Aroma minyak goreng, gula karamel, dan bumbu bakar masih melekat di udara.Amira memeluk dua kantong plastik besar berisi jajanan, wajahnya berseri-seri seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah ulang tahun. Sisil berjalan di sampingnya sambil sesekali mengintip isi kantong itu dengan mata berbinar. Sementara Arsya melangkah sedikit di depan, raut wajahnya terlihat waspada seolah jajanan itu adalah benda asing yang mencurigakan.Ken berjalan paling belakang, memastikan tak ada yang tertinggal.Begitu sampai di area parkir, mereka segera memasuki mobil. Ken duduk di kursi kemudi, Sisil di sampingnya, sementara Arsya dan Amira di kursi belakang.“Sayang, bisa tukar tempat duduk nggak sama Sisil?” tanya Amira lembut. Ia sudah tak sabar ingin membongkar jajanan dan berbagi cerita seru dengan sa

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Bazar

    “Kamu juga terbagi, kita terbagi,” balas Amira pelan.“Aku nggak mau terbagi. Seratus persen hanya boleh jadi milikku,” ucap Arsya, nadanya terdengar posesif tapi matanya memancarkan kekanak-kanakan yang menggemaskan.Amira terkekeh. “Wah, sepertinya bentar lagi aku bakal punya dua bayi. Bayi kecil di perutku, dan bayi besar yang lagi meluk aku sekarang.”Arsya mendengus pelan, tapi pelukannya justru makin erat. Seolah-olah ia benar-benar takut kehilangan satu persen pun dari istrinya.“Kalau kamu berani bagi perhatianmu, aku bakal saingi dia,” gumamnya di telinga Amira.“Saingi janinmu sendiri? Dasar nggak tahu malu,” balas Amira sembari menepuk dada bidang suaminya.Dengan sedikit paksaan dan banyak bujuk rayu, akhirnya Amira berhasil melepaskan diri dari dekapan itu. Ia mendorong tubuh Arsya ke arah kamar mandi.“Cepat mandi! Jangan manja terus.”Arsya berjalan sambil menggerutu pelan, tapi tetap menuruti perintah istrinya. Pintu kamar mandi tertutup, dan Amira hanya bisa menggelen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status