Home / Rumah Tangga / Aku Milikmu, Tuan Arsya! / Sebelum Takdir Menguji

Share

Sebelum Takdir Menguji

Author: Mediasari012
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-11 21:19:10

“Bugh!”

Amira refleks memukul lengan Sisil cukup keras hingga terdengar bunyi benturan yang lumayan nyaring. Sisil langsung meringis, wajahnya berubah dramatis seperti anak kecil yang dizalimi.

“Aduh, Mira!” keluhnya, mengusap lengannya yang terasa perih.

Perubahan sikap dua wanita itu dalam hitungan detik membuat Ken dan Arsya yang berdiri tak jauh dari sana nyaris tak mampu menahan tawa. Mereka saling pandang, berusaha tetap serius, meski sudut bibir sudah terangkat.

“Kamu mau bilang apa, hah
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Bella Ternyata Bukan Wanita

    Cahaya kamar masih temaram. Embusan udara dingin dari pendingin ruangan membuat Amira tanpa sadar semakin merapatkan selimut ke tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang terasa berat di pinggangnya.Perlahan ia membuka mata.Deg!Amira mendapati Arsya sedang memeluknya erat dari belakang dengan wajah yang masih terlihat lelap. Napas laki-laki itu terdengar teratur, sementara lengannya melingkar kuat di tubuh Amira seolah takut sang istri menghilang."Kapan dia pindah?" gumam Amira pelan sambil menahan senyum.Matanya lalu bergeser ke arah ranjang bayi di samping tempat tidur. Seketika sudut bibirnya terangkat semakin lebar saat melihat beberapa bantal tersusun rapi di sisi tempat tidur Ryu."Ya ampun ... dia sampai bikin benteng bantal segala."Amira menggeleng pelan. Ia tahu pasti itu ulah Arsya semalam. Suaminya memang terlihat tenang dan dingin di luar, tetapi sejak Ryu lahir, laki-laki itu berubah menjadi sangat protektif."Ternyata udah jam lima pagi," lirih Amira saat melirik jam dindin

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kekacauan Tengah Malam

    “Ryu, kamu pup ya?” tanya Arsya pelan saat hidungnya mulai menangkap aroma tidak sedap dari arah bayi kecil di sampingnya.Dengan gerakan hati-hati, ia menurunkan selimut tipis yang menutupi tubuh Ryu. Dahinya langsung berkerut. Perlahan Arsya membuka kancing romper anaknya satu per satu. Seketika, bau menyengat langsung menyeruak memenuhi kamar. “Ya ampun ...” gumamnya tertahan.Arsya mematung beberapa detik sebelum menoleh ke arah Amira yang masih tertidur pulas di sisi ranjang. Napas istrinya terdengar teratur, wajahnya tampak lelah setelah seharian mengurus Ryu.Pria itu menggigit bibir bawahnya ragu.Ia benar-benar ingin membangunkan Amira sekarang juga. Namun, melihat wajah istrinya yang kelelahan membuat niat itu menghilang perlahan.“Aaa ... Ryu, kenapa malah pup tengah malam begini?” bisik Arsya panik sambil mengacak rambutnya sendiri.Ryu justru menggeliat kecil sambil menatap ayahnya polos.“Papa nggak akan bersihin pup kamu. Kita tunggu Mama bangun aja, ya?” ujar Arsya se

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Pup

    “Apa jangan-jangan perempuan yang akan dinikahi sekretaris Ken itu Kak Sisil?” ucapnya lirih.Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Sinta, bahkan sebelum ia sempat mencerna rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.Tatapannya masih terpaku ke arah mobil hitam milik Ken yang perlahan menjauh dari pelataran kafe. Di balik kaca mobil itu, bayangan Sisil masih terlihat samar dengan senyum yang tadi begitu cerah.Entah kenapa, pemandangan sederhana itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dalam hatinya.“Apa mereka benar-benar punya hubungan spesial?” gumamnya pelan. “Atau aku aja yang terlalu mikir jauh?”Sinta melangkah cepat menuju parkiran, seolah ingin memastikan semuanya sendiri. Namun, baru beberapa langkah, mobil itu sudah melaju keluar gerbang dan menghilang di tikungan jalan.Deg!Dadanya mendadak terasa nyeri.Sinta menghentikan langkahnya. Napasnya terasa berat, sementara tenggorokannya seperti tercekat oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.“Ya Tuhan ... kenapa

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Keberadaan Sinta

    “Bu, tadi aku besuk ayah di penjara,” ucap Sisil hati-hati.Deg!Sendok yang sedari tadi diputar pelan di dalam cangkir teh, seketika berhenti. Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya perlahan, lalu menatap putrinya lekat-lekat. Tatapannya menyimpan banyak hal—sedih, kecewa, sekaligus khawatir.“Aku minta restu padanya,” lanjut Sisil lirih.“Lalu ... gimana?” tanya ibunya pelan.Sisil tersenyum hambar. Ia menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali berbicara.“Sebenarnya ibu udah tau gimana jawabannya.” Ia menarik napas panjang. “Saat ini cuma ibu yang benar-benar aku minta restu buat hubungan aku. Rasanya, aku kayak anak yang udah nggak punya ayah.”Kalimat itu membuat dada wanita paruh baya tersebut terasa sesak. Ia mengusap lengan Sisil beberapa kali, mencoba menenangkan anak gadisnya yang selama ini terlalu sering memendam luka sendirian.“Ibu ngerti perasaan kamu, Nak,” ucapnya lirih.Suasana dapur kecil itu mendadak terasa hening. Hanya suara kipas angin yang berputar pel

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Meminta Restu

    Di belahan bumi yang lain, Ken sudah berada di area parkir apartemen Sisil. Ia duduk diam di dalam mobilnya, kedua tangannya memegang sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam.Perlahan, ia membukanya.Kilauan cincin berlian di dalamnya memantulkan cahaya lembut dari lampu parkiran. Tatapannya terpaku cukup lama, seolah-olah benda kecil itu menyimpan keputusan terbesar dalam hidupnya."Tuhan … kalau memang ini jalanku," gumam Ken lirih, suaranya nyaris tak terdengar, "aku mohon permudahkan semua urusanku."Ia menarik napas panjang, lalu menutup kembali kotak cincin itu dengan hati-hati.Tak lama kemudian, dari arah pintu utama gedung apartemen, sosok Sisil terlihat keluar. Ia mengenakan pakaian sederhana, namun tetap terlihat anggun. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat ia menyapa para petugas keamanan.Ken segera menyelipkan kotak cincin itu ke dalam saku jasnya. Ia keluar dari mobil dan berjalan cepat, lalu membukakan pintu untuk Sisil."Maaf, kamu nunggu lama ya?" tanya Sisil sambi

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Gara-gara Tali Pusar

    “Pergilah, Ken. Tidak perlu mengantarku masuk,” ucap Arsya saat mobil telah berhenti tepat di depan pintu utama rumahnya.Pintu mobil terbuka. Arsya turun dengan gerakan tegas, wajahnya masih menyisakan lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Udara siang yang hangat menyambutnya, namun tidak cukup untuk meredakan beban yang masih menggantung di kepalanya.Di sampingnya, kepala pelayan sudah berdiri tegap sejak tadi, seolah sudah menunggu sejak lama.“Baik, Tuan. Selamat beristirahat. Sampaikan salam saya kepada Tuan Ryu,” balas Ken sambil menundukkan kepala dengan hormat.Arsya hanya mengangguk singkat. Tanpa membalas lebih jauh, ia langsung melangkah cepat memasuki rumah besar itu. Langkahnya panjang dan terburu, seperti ada sesuatu yang ingin segera ia pastikan.Pintu utama terbuka lebar.Sunyi.Tidak ada suara tangisan, tidak ada suara langkah kaki, bahkan suara televisi pun tidak terdengar. Rumah itu terasa terlalu tenang, tidak seperti biasanya.Kening Arsya langsung be

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Penasaran dengan Rumah Sekretaris Ken

    Kicauan burung bersahut-sahutan di pagi yang cerah. Matahari perlahan muncul dari balik cakrawala, seolah baru saja keluar dari tempat persembunyiannya, lalu menebarkan sinar hangat yang menyelimuti seluruh halaman mansion. Embun pagi masih menempel di daun-daun bunga di taman depan, berkilauan dit

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Malam Panjang

    “Siapa yang sudah berani menghina kamu jelek?” tanya Arsya sambil menatap wajah istrinya dengan dahi berkerut.“Kamu,” jawab Amira singkat tanpa ragu.Arsya langsung mengangkat alisnya tinggi-tinggi.“Hei! Aku nggak pernah bilang kamu jelek.”Amira menyipitkan matanya, lalu mencebikkan bibir dengan

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Ciuman di saksikan Amira

    “Ken, aku tadi bilang jaga Mira. Kenapa kamu malah mengajaknya berbicara? Kamu mau habis malam ini!” pekik Arsya dengan nada kesal.Suasana ruang makan yang sebelumnya tenang kini terasa tegang. Arsya berdiri dari kursinya dengan wajah yang sedikit memerah. Tatapannya tajam mengarah pada Ken yang b

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Tidak Sanggup Menghadapi Amira

    “Aku percaya Ken bukan laki-laki yang seperti itu,” jawab Arsya dengan nada yakin.Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ketegasan dalam setiap katanya membuat Amira sempat terdiam sesaat.“Tapi isi hati dan otak seseorang mana ada yang tahu,” balas Amira sambil mengangkat bahu. Sorot matanya masi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status