Share

Bab 354

Author: Celine
Suara Ardi terdengar dingin dan rendah, seperti angin di musim dingin, yang bisa membuatku menggigil.

Cocok sekali dengan tatapan matanya yang tajam dan wajahnya yang kalem. Dia menyerang dengan sangat agresif, membuatku sulit membantah ucapannya.

Hatiku yang sudah rapuh dan lelah, hancur berkeping-keping oleh rasa dingin ini. Sebuah lubang besar seakan telah terbentuk di hatiku. Aku dapat merasakan angin dingin tersebut berembus ke dalam hatiku.

Rasanya dingin dan hampa.

Mataku menyipit sejenak, entah sejak kapan, pandangan mataku menjadi samar.

Sekarang sekitar pukul delapan atau sembilan pagi. Saat ini, rumah sakit sedang sangat ramai, orang-orang berlalu-lalang di koridor. Aku dan Ardi sedang berdiri di sudut koridor. Ada banyak suara berisik di sekitar kami, tetapi aku merasa seperti berada di dalam gua es yang sangat sunyi.

Keramaian ini tak ada hubungannya denganku. Aku dipisahkan dari dunia sekitar oleh papan kaca yang kedap suara. Aku tak bisa mendengar apa pun, tak bisa meras
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (18)
goodnovel comment avatar
Suryani Yan
lebay rania mau cere tapi masih berharap thor kapan kelar nya ini
goodnovel comment avatar
drmiii drmiii
lanjut , penasaran ni,
goodnovel comment avatar
Aisyah Sunandar
udah ganti judul ajja suara dalam hati .. udah bab k brapa coba ini teh masii berbelit².. kapan titik terang nya...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 932

    Untuk sejenak, aku bahkan mengira Ardi sudah pulang dan sedang memasakkan makanan untukku.Namun, aku segera tersadar. Bagaimana itu mungkin?Ardi masih terbaring di rumah sakit. Dia bahkan tidak bisa merawat dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia bisa memasakkan makanan untukku?Namun, aroma masakan itu benar-benar nyata, langsung tercium oleh ujung hidungku.Mungkin Bibi Siti yang sedang memasak di dapur.Aroma masakan ini benar-benar harum, sampai membuat perutku keroncongan tanpa henti. Aku segera bangkit, lalu pergi ke dapur sambil mengikat rambutku. "Bibi Siti, makanan enak apa yang kamu …. Rena, kenapa kamu ada di sini?"Orang yang berdiri di dapur ternyata adalah Rena."Kak, kamu sudah bangun? Apa aku mengejutkanmu?" Ketika melihatku, Rena segera menjelaskan, "Ibu yang menyuruhku datang. Ibu mengatakan kalau Kakak akhir-akhir ini sangat lelah, jadi sangat membutuhkan nutrisi. Dia menyuruhku datang untuk merawat Kakak. Ibu juga yang memberitahuku kata sandinya."Rena ternyata da

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 931

    "Aku tahu, aku tahu. Aku hampir kehilangan nyawa, tapi aku berhasil mengambilnya kembali. Selain itu, nyawaku diselamatkan oleh istriku sendiri." Ardi masih tersenyum.Dia menangkup wajahku, menciumku sekali, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Bibirnya tepat berada di telingaku ketika dia berbisik dengan suara rendah, "Raisa, jangan marah karena hal ini lagi. Aku tahu kamu mengkhawatirkanku, tapi ini adalah sesuatu yang harus dilakukan.""Dari awal aku sudah menduga kalau tikus yang ditinggalkan Tommy bukan hanya satu. Mereka bersembunyi di tempat gelap dan terus memantau kita. Tapi daya tarik Gordon sebagai umpan masih tidak cukup untuk membuat mereka semua keluar bersamaan.""Alasan Tommy menargetkan kita bukan hanya karena kamu membuka kasus lama itu lagi, tapi juga karena aku. Dalam kehancuran Keluarga Tanadi, Keluarga Wijaya memainkan peran yang sangat penting. Jadi, dia bukan hanya membencimu, tapi juga membenciku.""Jadi, menurutku menjadikan diriku sendiri sebagai umpan adalah

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 930

    Aku memang tidak bisa menahan tawaku, tetapi aku segera kembali memasang wajah serius. "Kenapa kamu tersenyum seperti itu?""Kamu adalah istriku tersayang, tentu saja aku harus tersenyum padamu." Ardi memelukku dengan lembut, lalu tersenyum hingga matanya melengkung.Aku mendorongnya dengan sikuku. "Siapa yang memintamu tersenyum? Jangan tersenyum terus."Ketika mengingat hal itu, emosiku kembali bangkit. Rasanya seperti ada pisau yang menusuk di dadaku, mengaduknya sampai semua organ dalamku terasa sakit, hingga aku kesulitan bernapas.Rasa sakitnya membuat air mataku keluar dari pelupuk mata tanpa bisa ditahan."Ssshh." Ardi mengeluarkan suara rendah.Meskipun aku kurus, ini tetaplah dorongan dengan siku. Ardi adalah seorang pasien yang sedang dalam kondisi lemah.Aku khawatir akan benar-benar melukainya, jadi aku langsung berbalik untuk memeriksa kondisinya.Wajah Ardi terlihat pucat, tetapi dia menggenggam tanganku dengan lembut, menghentikanku untuk memeriksa kondisinya. Suaranya

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 929

    "Bu, Ibu pasti juga belum makan. Ayo kita makan bersama." Aku menerima makanan itu, meletakkannya di meja kecil, lalu tidak lupa mengajak ibu mertuaku makan.Ketika ibu mertuaku menyiapkan hidangan, aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat keluar, aku melihat mata ibu mertuaku memerah. "Ardi, kamu sudah banyak tersiksa. Kamu bahkan tidak bisa makan dengan baik ....""Bu, jangan menakuti diri sendiri. Aku adalah seorang dokter, bagaimana mungkin aku tidak mengetahui kondisiku sendiri? Aku hanya tidak bisa makan terlalu banyak selama beberapa hari ini. Sebentar lagi aku sudah bisa makan dengan bebas. Ibu jangan mengatakannya seolah-olah ini sangat menakutkan." Ardi langsung menyela sebelum ibu mertuaku mulai menangis.Ardi berbicara dengan sangat santai, tetapi mata ibu mertuaku malah tampak makin memerah. "Kamu sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari. Ibu sangat ketakutan. Kalau kamu tidak segera sadar, Ibu tidak tahu bagaimana Ibu harus menjalani sisa hidup ini.""Kala

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 928

    Ketika tiba-tiba ada orang yang muncul, aku merasa sedikit panik. Namun, setelah melihat dengan jelas bahwa itu adalah Pak Sandy dan Bu Neila, aku kembali tenang. Aku berdiri sambil tersenyum menatap mereka, lalu berkata, "Tidak sama sekali. Kalian datang di waktu yang tepat."Saat pandanganku jatuh pada wajah Bu Neila, telinganya langsung memerah, sementara pipinya juga diselimuti dengan semburat merah tipis. Tatapannya juga tampak sedikit malu. Dia pasti teringat candaanku padanya tadi malam.Di sisi lain, Pak Sandy tampak sangat tenang. Dia tersenyum sambil menyapa kami, lalu berkata, "Kami mendengar Dokter Ardi sudah sadar, jadi kami langsung datang untuk mengambil keterangan."Ternyata mereka datang untuk mengambil keterangan.Tadi malam aku sudah berhasil mengidentifikasi pelakunya. Pekerjaan yang harus mereka lakukan setelah itu pasti tidak sedikit, bahkan mereka pasti begadang hingga larut. Aku tidak menyangka pagi ini mereka datang untuk meminta keterangan Ardi. Mereka benar-

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 927

    Selama dia ada di sisiku, itu sudah cukup.Aku memeluknya, memejamkan mata, menikmati ketenangan di saat ini.Namun, aku tiba-tiba teringat hal lain ketika berpelukan. Aku langsung membuka mata, lalu mendorong tangannya dengan keras. "Sudah, jangan memelukku lagi. Paman Dika masih ada di sini.""Orang itu tidak ingin menjadi obat nyamuk, jadi dia sudah pergi dari tadi," kata Ardi sambil tertawa.Aku menoleh ke arah pintu. Benar saja, sosok Paman Dika memang sudah tidak ada di dalam ruangan. Pintu ruang perawatan juga sudah ditutup. Paman Dika ini benar-benar orang yang perhatian dan bijaksana.Pada saat itu juga, Ardi kembali menggenggam tanganku. "Raisa, di luar sedang ada kembang api."Benar, di luar jendela kembang api kembali menerangi langit.Meskipun bukan lagi kembang api tahun baru pukul dua belas malam, kembang api itu masih tampak memukau, indah, serta meriah.Aku membalas genggaman tangan Ardi, bersandar padanya, lalu melihat kembang api di luar jendela dalam diam. Dalam sua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status