MasukDevi melanjutkan, "Lagi pula, sejak awal sampai akhir, bukankah kamu lebih tahu dari siapa pun apakah Kak Raisa hanya memanfaatmu atau tidak? Ketika kamu dirawat di rumah sakit begitu lama, apakah perhatiannya padamu itu palsu? Steven hampir saja membunuh Kak Raisa, tapi setelah Kak Raisa kembali, dia sama sekali tidak melampiaskan hal itu padamu. Dia tetap menjagamu, berbuat baik padamu seperti biasa. Sekarang kamu malah menyindirnya di sini, apa itu pantas?"Suasana di dalam ruang rias mendadak sunyi.Talia yang tadinya penuh dengan sarkasme, sekarang mengatupkan bibirnya dengan rapat.Para penata rias terkejut mendengar kata-kata Devi. Mereka menundukkan kepala dalam diam, berpura-pura sibuk dengan peralatan masing-masing, seolah-olah tidak mendengar apa pun.Aku segera melangkah maju untuk menarik Devi dengan lembut. "Devi, pernikahanmu akan segera dimulai. Jangan sampai jadwal riasmu terganggu. Cepatlah bersiap."Kemudian, aku beralih untuk menggenggam tangan Talia. "Lia, ikutlah
Aku dan Devi baru saja tertawa bersama, tetapi wajah yang muncul di cermin itu tampak begitu dingin dan tajam. Tatapannya penuh cibiran yang membuatku terperanjat.Butuh waktu beberapa saat bagiku untuk mengenali siapa pemilik wajah itu. "Lia, kenapa kamu ada di sini?"Sosok di cermin itu adalah Talia, wanita yang sempat aku temui di rumah sakit beberapa waktu lalu.Penampilannya hari ini sedikit berbeda dari pertemuan kami sebelumnya.Talia mengenakan gaun pendek berwarna merah menyala dengan riasan yang jauh lebih menggoda. Namun, matanya terasa lebih dingin, terutama saat dia menatapku. Kebencian di matanya seolah bisa berubah menjadi belati yang siap menikamku."Sepertinya Kak Raisa tidak senang melihatku datang, ya?" Nada bicaranya masih sama seperti hari itu, penuh dengan permusuhan. "Awalnya aku juga tidak ingin mengganggumu. Tapi aku tidak bisa menemukan bajingan itu. Aku dengar hari ini dia akan menghadiri pernikahan ini, jadi aku datang ke sini untuk mencarinya."Ternyata, Ta
Apa?Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut.Namun, yang aku lihat adalah ekspresi penuh penyesalan di wajah Ardi. "Aku tidak bisa meluangkan waktu untuk menemanimu melakukan pemeriksaan kehamilan. Sebagai suami, aku sudah lalai. Aku bersalah."Cara menggoda dan merayu pria ini benar-benar makin bervariasi setiap harinya.Aku pun tertawa mendengar penjelasannya. "Memangnya tidak ada orang lain yang menemaniku? Hari ini kamu sibuk bekerja, jadi Ibu menemaniku melakukan pemeriksaan. Semuanya baik-baik saja. Aku sama sekali tidak berniat menyalahkanmu.""Ah, aku memang adalah pria paling beruntung di dunia. Aku mendapatkan istri yang begitu pengertian. Aku sungguh diberkati," ujar Ardi dengan nada dramatis. Namun, Ardi tiba-tiba mengganti topik, "Tapi kenapa kamu terlihat seperti sedang murung? Apa terjadi sesuatu hari ini?""Tidak," jawabku, tidak ingin membuat Ardi khawatir.Meskipun Talia menyimpan kebencian yang mendalam padaku, dia hanya mengucapkan beberapa kalimat tajam saj
Aroma rokok itu benar-benar menyengat. Sejak dulu aku adalah tipe orang yang sama sekali tidak tahan dengan bau asap rokok. Setelah Talia mengembuskan asap tepat ke arahku dua kali berturut-turut, aku tidak bisa menahannya, langsung mulai terbatuk.Namun, saat aku menatap sepasang mata Talia yang dipenuhi ejekan tajam, penghinaan, serta kebencian, aku mendadak tidak bisa mengatakan apa-apa.Talia bertanya padaku apakah aku puas dengan akhir ini.Bagaimana mungkin aku merasa puas? Aku memang ingin Tommy ditangkap. Aku juga telah melakukan banyak hal untuk itu. Namun, aku tidak pernah berniat untuk mencelakai Talia sedikit pun.Lagi pula, menurut perkataan Talia sebelumnya, dia sudah muak dengan kendali Tommy dan eksploitasi Keluarga Tanadi terhadapnya. Seharusnya dia merasa senang melihat kejatuhan Keluarga Tanadi, lalu segera memulai hidup baru.Aku tidak menyangka bahwa setelah Keluarga Tanadi hancur dan Tommy melarikan diri, nasib Talia justru menjadi seperti ini.Dia hidup dengan sa
Nyonya Lina tidak bertanya lebih jauh. Dia mengikutiku naik ke lantai dua menuju departemen kebidanan dan ginekologi untuk menjalani pemeriksaan.Sebenarnya, beberapa rekan kerja di departemen itu berniat memberiku jalur khusus, tetapi aku menolaknya sambil tersenyum. Aku memilih melakukannya sesuai prosedur rumah sakit untuk menunggu giliran USG. Aku tidak diperbolehkan pergi ke kamar mandi agar kandung kemih tetap penuh untuk keperluan pemeriksaan, tetapi Nyonya Lina yang sudah tidak tahan setelah duduk sebentar, langsung bergegas ke toilet.Aku duduk sendirian di ruang tunggu, lalu mengeluarkan ponsel untuk membaca majalah elektronik. Tak lama kemudian, seseorang duduk di sampingku."Kenapa cepat sekali?" tanyaku dengan santai, mengira Nyonya Lina sudah kembali.Nyonya Lina mengeluh perutnya sakit karena makan semangka dingin tadi pagi. Sepertinya ini sudah memicu masalah pencernaannya. Logikanya, dia akan memakan waktu cukup lama di toilet, tidak mungkin kembali secepat ini.Namun,
Aku sudah cukup lama tidak bertemu dengannya.Perubahannya benar-benar drastis, hingga aku sempat mengira telah salah orang pada pandangan pertama.Aku tidak bisa menahan diri untuk memperhatikannya lebih lama, tetapi dia tampaknya masih tenggelam dalam amarahnya, tidak menyadari tatapanku. Dia menyambar tasnya dari kursi belakang sambil terus mengumpat, "Bajingan! Sampah! Tidak tahu diri!"Dulu wanita ini memang memiliki kepribadian yang terus terang, bahkan sering memaki seperti itu. Namun, raut wajahnya saat ini terasa sangat asing bagiku. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapa sosok pria yang dia maki-maki tadi."Kak Raisa! Astaga, ini benar-benar kamu! Tadi aku takut salah orang saat melihatmu dari jauh. Untung ada Bibi di sampingmu, jadi aku yakin ini pasti kamu." Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di sampingku.Aku menoleh, melihat Devi berdiri di depanku dengan senyum cerah. Dia menggenggam tanganku dengan erat, sementara matanya tampak berbinar. "Aneh sekali. Kak Raisa, biasanya







