Share

Bab 4 

Author: Mickey
Sebelum meninggal, ibuku meninggalkan kunci rumah lama untukku. Itu adalah satu-satunya barang yang dia tinggalkan untukku, juga akan selalu menjadi jalan keluarku.

Tiga tahun lalu, aku memberikan kunci itu kepada Zaidan dan memintanya untuk menggantikanku menyimpannya. Aku pun mengirim pesan kepadanya untuk meminta kunci itu.

Setelah sekian lama, dia meneleponku. "Aku sudah pakai rumah itu untuk suatu keperluan. Jangan marah, ya."

"Apa?"

"Zafira bilang, dia suka lokasi rumah tua itu dan ingin membangun studio di sana. Aku memberinya kunci itu agar dia bisa melihat-lihat."

"Atas dasar apa kamu biarkan dia pergi ke rumah ibuku?"

"Dia cuma mau lihat-lihat. Kalau cocok, dia mau membelinya dan harga yang dia tawarkan sangat tinggi."

Aku tidak mengatakan apa-apa dan langsung menelepon Zafira. "Kembalikan kuncinya."

Dari ujung telepon, dia terkekeh, "Kak Kiara, kenapa kamu begitu buru-buru? Aku cuma pergi lihat-lihat. Zaidan bilang, sayang juga rumah itu dibiarkan kosong. Jadi, dia mau menjualnya kepadaku."

"Itu rumahku, bukan rumahnya."

"Kamu sendiri yang kasih kuncinya ke dia. Secara hukum, itu setara dengan memberinya wewenang untuk menggunakannya. Tapi, aku nggak tertarik dengan rumahmu. Kebetulan, aku dan Kak Zaidan lagi di sini. Kamu bisa datang ambil kuncinya."

Seusai berbicara, Zafira mengakhiri panggilan.

Malam itu, aku naik bus terakhir untuk kembali ke kampung halamanku. Ketika tiba di rumah tua, pintunya terbuka dan lampu di dalam menyala. Begitu masuk, aku mendapati keadaan rumah yang porak-poranda. Dindingnya sudah dirobohkan, lantainya dibongkar, dan perabotannya ditumpuk di halaman.

Foto pajangan Tahun Baru yang ditempel ibuku di dinding sudah robek dan terkulai. Pot bunga bakung semak yang awalnya kutaruh di ambang jendela terlihat hancur berkeping-keping di lantai. Tanahnya berserakan di mana-mana.

Itu bunga favorit ibuku. Sebelum meninggal, dia menyuruhku untuk merawatnya dengan baik. Aku berjongkok dan memungut pecahan pot.

Zafira berdiri di tengah ruang tamu, dengan Zaidan di sisinya.

"Atas dasar apa kalian hancurkan rumahku?"

Zafira bersandar pada Zaidan. "Kak Kiara, rumah ini sudah terlalu tua. Aku dan Kak Zaidan sudah berunding. Kami mau bantu kamu merenovasinya. Lagian, memangnya rumah ini atas namamu? Ibumu sudah meninggal, tapi hak kepemilikannya belum dialihkan, 'kan?"

Dia berjongkok, lalu mengambil daun bunga bakung semak yang patah dari lantai sebelum berdiri dan membuangnya.

"Bunga yang dipelihara ibumu sama sepertimu, enak dipandang, tapi sama sekali nggak berguna."

Aku pun berdiri. Amarahku sudah membuncah. Tanpa bisa menahan diri lagi, aku menamparnya. Dia menutupi wajahnya sambil terhuyung mundur dan menabrak Zaidan. Air mata langsung mengalir di wajahnya.

Melihat ini, Zaidan mendorongku dengan sangat kuat. Langkahku langsung goyah dan jatuh ke lantai semen di luar ambang pintu. Tanganku menghantam tumpukan kerikil dan darah langsung merembes keluar. Lututku juga lecet hingga berdarah.

Dia melindungi Zafira di belakangnya dan menatapku sambil berkata dengan sangat dingin, "Apa-apaan kamu!"

Zafira yang berdiri di belakangnya menutupi wajahnya sambil menangis.

"Buat apa kamu menamparnya? Kalau ada apa-apa, lampiaskan padaku."

Aku duduk di lantai dan mendongak untuk menatapnya. Rasa sakit yang tajam dan berdenyut menjalar di telapak tangan dan lututku, hingga membuatku gemetar. Namun, melihatnya melindungi Zafira, semua rasa sakit itu tiba-tiba lenyap.

Aku berdiri, lalu meliriknya sebelum berbalik dan pergi.

Aku membeli tiket kereta api ke sebuah kota kecil di bagian selatan negara ini. Saat kereta api berangkat, fajar menyingsing di luar jendela.

Aku bersandar di kursiku dan memejamkan mata. Pikiranku dipenuhi dengan kata-kata yang diucapkan ibuku sebelum meninggal. "Jangan cari pasangan yang buat kamu menunggu."

...

Keesokan harinya, ketika Zaidan tiba di apartemenku, pintunya terbuka dan petugas kebersihan sedang membersihkannya. Dia tertegun sejenak sebelum bertanya, "Di mana orang yang tinggal di sini?"

"Sudah pindah. Orangnya membatalkan kontrak sewa kemarin."

Dia berdiri di ambang pintu dan mendapati apartemen itu sudah kosong-melompong. Sebuah kantong tergeletak di meja kopi. Isinya adalah sebagian besar barang yang pernah dia berikan kepadaku. Dia mengambilnya dan menemukan sebuah memo singkat yang terlampir di kantong itu.

[ Selamat. ]

Dia menggenggam memo itu dengan tangan gemetar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 10

    Pada hari Harvey menemui Zaidan, hujan sedang turun."Zaidan, aku sudah bernegosiasi dengan Keluarga Cahyadi. Aku akhirnya berinvestasi di proyek kawasan tepi sungai itu. Aku juga sudah cairkan bagianmu dan transfer uangnya ke kartu ini." Harvey meletakkan sebuah kartu bank di atas meja. "Ini hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu. Gimanapun, kita itu teman."Zaidan menatap kartu itu. "Zafira yang suruh kamu mencariku?""Nggak, aku sendiri yang mau mencarimu.""Makasih."Harvey berdiri dan berjalan pergi. Saat tiba di pintu, dia menoleh dan berujar, "Dia akan nikah pada Festival Perahu Naga bulan depan. Kalau kamu mau pergi, aku bisa kasih kamu alamatnya. Selain itu, ada sesuatu yang belum kuberi tahu kamu selama ini.""Selingkuhan ayahmu sebenarnya adalah ibunya Zafira. Jadi, sejak awal, pertunangan kalian bukanlah aliansi bisnis, melainkan utang dari generasi yang lebih tua."Seusai berbicara, Harvey pun pergi.Zaidan duduk sendirian di kantor. Hujan di luar menerpa jendela. Dia te

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 9

    Setelah Grup Pangestu mengalami krisis, Zaidan mulai mencari investor. Setiap hari, dia bertemu investor yang berbeda dan mengatakan hal yang sama. Kebanyakan orang menolak proposalnya.Ada orang yang berkata terus terang padanya, "Kamu bahkan nggak mampu pertahankan pertunanganmu. Mana bisa aku percaya padamu?"Ada yang diam-diam berdiskusi di belakang Zaidan bahwa Keluarga Pangestu telah menyinggung Keluarga Cahyadi. Siapa pun yang membantunya akan tertimpa kesialan.Setiap hari, Zaidan sibuk dari pagi sampai dini hari. Ketika dia kembali ke apartemen, ada lampu yang masih menyala. Itu adalah lampu yang kupilih. Dia berbaring di sofa dan menatap lampu itu.Terkadang, dia akan merenungkan apa yang sedang kulakukan, apakah aku makan dengan baik, apakah orang tersebut memperlakukanku dengan baik.Suatu hari, ayah Zaidan memanggilnya ke ruang kerja dan menyodorkan sebuah dokumen di depannya. "Tandatangani ini."Zaidan membaca isi dokumen itu. Itu adalah surat perjanjian pengalihan saham.

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 8

    Bisnis toko bungaku sudah makin baik. Theo juga selalu membantuku. Suatu malam, dia berdiri di bawah rumahku dan memberitahuku bahwa dia menyukaiku.Aku ragu cukup lama, tetapi bukan karena dia tidak cukup baik."Theo, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui dulu. Masa laluku agak rumit. Aku pernah tunggu seseorang di ibu kota selama tiga tahun. Sampai nggak ada lagi yang bisa kutunggu, aku baru datang kemari.""Aku sudah tahu dari awal."Aku mendongak untuk menatap Theo. Dia pun tersenyum. "Yang kutanya bukan apa kamu bisa menerimaku, melainkan apa kamu bersedia biarkan aku temani kamu menjadikan tempat ini rumahmu?"Malam itu, aku menyetujuinya. Bukan karena aku merasa terharu, tetapi karena aku merasa sangat santai saat bersama Theo.Suatu pagi, ketika membuka pintu, aku melihat sebuket bunga lili di depan pintu. Tidak ada kartu atau nama pengirim pada bunga itu.Lili adalah bunga favoritku dan aku hanya pernah memberi tahu satu orang. Aku mengambil bunga itu, lalu melihatnya sekejap se

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 7

    Setelah kembali ke ibu kota, Zaidan mengajak Zafira bertemu."Aku mau akhiri pertunangan kita. Kamu boleh ajukan syarat apa pun."Zafira meletakkan gelasnya dan menatap Zaidan beberapa saat. "Kamu sudah ambil keputusan? Demi wanita itu?""Itu nggak ada hubungannya denganmu.""Oke, aku mau proyek kawasan tepi sungai yang kamu pegang.""Oke.""Dan vila di sebelah barat kota.""Oke.""Kamu bahkan nggak mau tawar-menawar denganku?""Aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan. Tapi, aku punya satu syarat. Jangan pernah muncul di hadapannya lagi."Zafira tertawa terbahak-bahak. "Zaidan, dia nggak menginginkanmu lagi, tapi kamu masih melindunginya?""Itu nggak ada hubungannya denganmu."Seusai berbicara, Zaidan berdiri dan hendak pergi."Kamu kira dengan akhiri pertunangan kita, dia akan kembali? Sekarang, dia menghabiskan waktu bersama pemilik kafe itu setiap hari. Kamu kira kamu sedang berkorban demi dia? Dia sama sekali nggak tahu, juga nggak peduli."Zaidan terpaku di tempat, dengan pung

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 6

    Setengah tahun kemudian, aku membuka toko bunga di kota kecil itu. Di sebelah tokoku, berdiri sebuah kafe. Pemiliknya bernama Theo Lapardi.Sore itu, Zaidan menemukanku. Aku sedang berjongkok di depan pintu toko untuk memotong duri mawar. Tiba-tiba, sepasang sepatu kulit muncul dalam pandanganku. Aku pun mendongak. Dia sudah jauh lebih kurus. Berdiri di bawah sinar matahari, bayangannya terlihat sangat panjang."Mau beli bunga?""Aku datang untuk jemput kamu pulang."Aku menggeleng dan terus memotong duri mawar. "Aku nggak punya rumah lagi. Kalau kamu bukan mau beli bunga, tolong jangan halangi jalan.""Aku akan belikan kamu rumah baru."Aku meletakkan gunting tanaman, lalu berdiri dan menatapnya. "Zaidan, yang kuinginkan bukanlah rumah, melainkan seseorang yang nggak akan membuatku menunggu."Zaidan membuka mulutnya, tetapi tidak dapat berbicara."Kembalilah. Hidupku di sini sangat baik."Aku mengambil mawar yang durinya sudah dipotong dan masuk ke toko. Dia berdiri di luar dan menol

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 5 

    Zaidan pergi ke perusahaanku, tetapi resepsionis mengatakan aku sudah mengundurkan diri dari seminggu yang lalu. Dia bertanya kapan, dan resepsionis menjawab Rabu lalu. Resepsionis juga memberitahunya bahwa aku pergi terburu-buru, bahkan serah terima juga dilakukan secara online.Zaidan berdiri di lobi perusahaan dan mulai menelepon semua orang. Namun, tidak ada yang tahu di mana aku berada. Dia pergi mencari Mira, teman baikku. Mira membuka pintu, tetapi tidak mengizinkannya masuk."Buat apa kamu kemari?""Apa dia menghubungimu?""Ya, tapi aku nggak akan kasih tahu kamu.""Katakan di mana dia. Aku mau mencarinya."Tatapan Mira seketika berubah."Zaidan, kamu tahu gimana dia lewati tiga tahun terakhir? Setiap liburan, kamu bilang mau temani keluargamu, jadi dia melewatinya sendirian. Waktu ibunya meninggal, dia sendiri yang tandatangani semua dokumen, urus kremasinya, dan bawa guci abu itu ke pemakaman. Kapan kamu pernah ada di sisinya?"Zaidan membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status