Home / Romansa / Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu / Bab 3 - Jatuh Cinta Terlalu Cepat

Share

Bab 3 - Jatuh Cinta Terlalu Cepat

Author: Sang pemimpi
last update Last Updated: 2025-07-26 22:44:21

Erica tak pernah percaya pada cinta pandangan pertama. Baginya, cinta adalah sesuatu yang tumbuh perlahan, melalui waktu, kepercayaan, dan luka yang disembuhkan bersama. Tapi entah mengapa, sejak malam itu, sejak mata Ricardo menatapnya tanpa gentar, hatinya tak lagi sepenuhnya milik logika.

Ia berusaha menyangkal. Berkali-kali. Bahwa apa yang ia rasakan hanyalah efek dari suasana malam yang magis, dari lampu temaram dan wine yang menghangatkan dada. Tapi waktu membuktikan bahwa perasaan itu bukan sekadar ilusi pesta semalam.

Dua hari setelah pertemuan itu, Ricardo mengirim pesan singkat.

"Kamu suka kopi pahit atau manis?"

Pertanyaan absurd yang entah kenapa membuat Erica tersenyum. Ia membalas singkat: "Pahit. Seperti realita."

Tak lama kemudian, seorang kurir datang ke meja kerjanya dengan satu cup kopi hitam tanpa gula dan selembar sticky note bertuliskan, "Tapi hidup bisa lebih manis kalau kamu mau."

Erica menggigit bibir, menahan senyum. Bodoh. Ini bodoh. Tapi kenapa jantungnya berdebar seperti remaja?

Mereka mulai sering bertukar pesan. Ringan, tidak mendalam. Tapi cukup untuk membuat Erica menantikan setiap getar notifikasi di ponselnya. Ricardo selalu punya cara menyapa yang unik—kadang dengan candaan receh, kadang dengan kutipan film, kadang hanya dengan, “Aku lihat kamu tadi lewat, kayaknya kamu capek. Kamu oke?”

Dan itulah yang membuat Erica mulai goyah. Karena ia terbiasa menjadi perempuan kuat yang tak ada yang benar-benar memperhatikan. Yang hadir di ruangan tapi sering diabaikan. Bersama Ricardo, ia merasa terlihat.

Lalu datang hari Minggu itu.

Ricardo menawarinya jalan-jalan pagi ke taman kota. Katanya, hanya untuk mengganti suasana. Erica sempat ragu. Ia bukan tipe yang nyaman menghabiskan waktu bersama pria yang belum terlalu ia kenal. Tapi saat Ricardo menjemputnya dengan jaket hitam dan senyum yang menenangkan, semua keraguan itu lenyap.

Mereka duduk di bangku taman, menikmati udara pagi dan aroma roti panggang dari kedai dekat situ. Erica menceritakan masa kecilnya—tentang ibunya yang keras, tentang ayah yang sudah lama meninggalkannya. Tentang rasa sepi yang tumbuh bahkan sejak ia belum benar-benar mengerti makna kehilangan.

Ricardo mendengarkan. Tanpa memotong, tanpa memberi nasihat. Ia hanya ada di sana. Dan Erica, untuk pertama kalinya, merasa tidak sendiri.

“Kamu tahu nggak,” kata Ricardo tiba-tiba, “kadang kita nggak sadar bahwa yang kita cari bukan cinta... tapi pulang.”

Erica menoleh. Matanya bertemu mata Ricardo. Dalam. Hangat. Lurus.

“Kamu merasa sendiri terus, ya?” lanjut Ricardo.

Erica terdiam. Tak menjawab. Tapi anggukannya nyaris tak terlihat.

Ricardo tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menggenggam tangan Erica, pelan. Lalu diam-diam mengusap ibu jarinya di sana.

Tak ada yang perlu dikatakan. Karena semuanya sudah terasa.

Sejak hari itu, segalanya berubah cepat. Terlalu cepat.

Ricardo mulai sering datang ke ruangan Erica, kadang hanya untuk menitipkan makanan ringan. Kadang hanya menunggu Erica selesai kerja agar bisa mengantarnya pulang. Erica, yang biasanya menjaga jarak dari siapa pun, mulai merindukan kehadirannya. Mulai mencari-cari wajahnya di antara lalu lalang kantor. Mulai merasa hampa saat Ricardo tak menghubunginya satu hari saja.

Teman-teman sekantornya mulai menggoda. “Kamu senyum-senyum sendiri kenapa, Er?”

Ia hanya menggeleng, pura-pura tak mengerti.

Tapi di balik senyum itu, hatinya juga dipenuhi ketakutan. Karena ini bukan dirinya. Erica yang dulu rasional. Dinginnya bisa membekukan ruang rapat. Tapi sekarang, ia seperti remaja yang mabuk cinta.

Ia bahkan mulai membayangkan hal-hal yang tak masuk akal: seperti bagaimana suara Ricardo memanggil namanya di pagi hari, bagaimana rasanya menggandeng tangan pria itu di tengah hujan, atau bagaimana bentuk senyum Ricardo saat menggendong anak mereka kelak—dan semua itu baru berlangsung seminggu.

Apakah ia sedang jatuh cinta? Atau hanya kesepian yang menyamar?

Tapi setiap kali Ricardo menatapnya, Erica tak bisa menyangkal bahwa yang ia rasakan bukan sekadar kekaguman sesaat. Ada luka lama yang perlahan mengering saat pria itu datang. Ada bagian dari dirinya yang mulai percaya bahwa mungkin, hanya mungkin... tidak semua laki-laki datang untuk melukai.

Namun di balik semua itu, terselip satu kekhawatiran yang tak bisa ia hilangkan: apakah ini semua terlalu cepat?

Karena jatuh cinta terlalu cepat... bisa jadi awal dari luka yang lebih dalam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 26 – Suara Ibu di Tengah Malam

    Langit Kalimantan malam itu begitu sunyi. Tak ada suara kendaraan, hanya gemerisik daun dan dengungan kipas angin di langit-langit kamar. Ricardo duduk membungkuk di atas ranjang, matanya terpaku pada layar ponsel yang tak kunjung padam sejak pesan dari Nadya masuk."Aku hamil."Dua kata yang mengubah segalanya. Dua kata yang menghapus semua rencana pernikahannya bersama Erica. Dua kata yang membuat dadanya sesak, tenggorokannya tercekat, dan napasnya serasa tak lagi berfungsi.Sudah tiga hari sejak ia kembali ke Kalimantan, membawa sisa-sisa harapan yang perlahan ingin ia bangun kembali bersama Erica. Tapi kini, semuanya terasa seperti ilusi.Ricardo memeluk kedua lututnya. Matanya berkaca-kaca. Ini bukan hanya rasa bersalah—ini kehancuran. Ia ingin menghilang. Ingin kabur ke tempat di mana tak seorang pun mengenalnya, tak seorang pun menagih tanggung jawab. Tapi ia tahu, ia tak bisa lari. Tidak lagi.Dan satu-satunya orang yang bisa ia percaya saat dunia terasa runtuh adalah: ibunya

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 25 – Luka yang Tak Lagi Sama

    Langit Kalimantan pagi itu mendung, seolah mengerti badai yang akan pecah di antara dua manusia yang sempat saling mendekap dalam kehangatan yang keliru. Ricardo tiba di kafe kecil yang disepakati. Tempat itu sepi, hanya ada satu dua pelanggan yang duduk jauh di sudut ruangan.Ricardo datang lebih dulu. Duduk gelisah, menunduk. Telapak tangannya dingin meski udara tropis menggantung lembab. Saat pintu berbunyi, ia tahu Nadya telah datang. Ia tak perlu menoleh. Aroma parfum yang dulu begitu familiar langsung mengisi ruang itu.Nadya mendekat pelan, wajahnya tenang tapi tegang. Perutnya belum menunjukkan perubahan apa pun. Ia masih tampak seperti biasa, tapi pesan yang ia kirim beberapa malam lalu masih menancap di dada Ricardo seperti duri berkarat.“Aku enggak pesan apa-apa,” gumam Ricardo tanpa menatap langsung. “Kalau kamu mau minum, silakan.”Nadya duduk. Ia melipat tangannya di pangkuan, menatap Ricardo yang masih menunduk.“Kamu yang minta ketemu,” ucapnya datar.Ricardo akhirnya

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 24 – Gemetar dalam Diam

    Ricardo menatap layar ponselnya. Jemarinya membeku. Pesan dari Nadya terpampang jelas, seperti palu yang menghantam dadanya: “Aku hamil.”Dua kata. Tapi mampu menghancurkan semua rencana masa depan yang baru saja ia susun bersama Erica.Mulut Ricardo terasa kering. Ia memalingkan pandangannya dari layar, tapi kata-kata itu seolah tetap terpatri di pelupuk matanya. Telinganya berdengung. Kepalanya pusing. Dunia mendadak menjadi terlalu sunyi, terlalu menekan.Ponsel itu ia letakkan pelan di meja makan. Napasnya berat, tersendat-sendat. Ia bersandar di sandaran kursi, menatap langit-langit rumah yang sudah lama ia kenal, tapi malam ini terasa seperti tempat asing. Pikiran-pikirannya berlarian ke berbagai arah, membentur tembok satu per satu.“Enggak mungkin…” bisiknya, meski ia tahu tidak ada yang bercanda di sini. Nadya bukan tipe perempuan yang melebih-lebihkan sesuatu.Ia menutup wajah dengan kedua tangan. “Kenapa sekarang? Kenapa justru saat aku sudah membangun semuanya kembali

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 23- Yang tersisa di antara dua garis merah..

    Pagi itu, kamar kos Nadya terasa lebih sempit dari biasanya. Sinar matahari yang menyusup melalui jendela berdebu seakan mengejek kegelisahan yang menggunung di dadanya. Di atas meja kayu yang lapuk, tiga test pack berjejer—masing-masing dengan dua garis merah yang tegas, seperti penjara yang mengurung masa depannya."Aku hamil."Dua kata itu bergema dalam kepalanya, tapi tak bisa keluar dari mulutnya. Lidahnya terasa kaku, tenggorokannya serasa tersumbat oleh kenyataan pahit yang harus ditelannya sendiri.Dia mengingat malam itu dengan jelas. Ricardo datang dengan wajah lesu, membawa sebotol anggur dan segudang penyesalan. Mereka duduk di lantai, berbagi cerita tentang kesepian yang sama. Nadya, yang baru putus cinta. Ricardo, yang merasa hubungannya dengan Erica mulai retak. Dua jiwa yang tersesat, saling mencari kehangatan di tengah dinginnya Kalimantan."Kita berdua sama-sama bersalah," bisik Nadya pada bayangannya di cermin. Tapi kini, dia ha

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 22- Percakapan dan pesan yang mengejutkan..

    Malam itu di Kalimantan terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin malam berhembus pelan melalui jendela kamar Ricardo yang terbuka, membawa serta suara jangkrik yang seolah bersimfoni dalam kesendirian. Ricardo baru saja menutup laptopnya setelah video call dengan Erica, tapi senyumnya yang tadi masih mengembang tiba-tiba memudar.Dia mengambil ponselnya lagi, membuka pesan dari Nadya untuk kesekian kalinya. Dua kata itu masih terpampang di sana, sederhana namun menghancurkan.Nadya: "Aku hamil."Jari Ricardo gemetar. Pikirannya langsung melayang ke malam-malam kelam di Kalimantan, saat dirinya yang rapuh mencari pelarian di pelukan yang salah. Dia ingat betul malam itu—setelah pertengkaran sengit dengan Erica via telepon, dan Nadya yang kebetulan ada di sana, mendengarkan keluhannya dengan sabar."Aku harus melakukan sesuatu," bisik Ricardo pada dirinya sendiri. Tapi tubuhnya terasa lumpuh. Bagaimana mungkin dia bisa menghancurkan lagi semua yang s

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 21 - Janji di ujung waktu..

    Sejak kepulangan Ricardo ke Kalimantan, hubungan mereka berkembang dalam ritme yang berbeda. Jarak tak lagi menjadi jurang, melainkan jembatan yang menghubungkan dua hati yang sedang belajar percaya lagi. Setiap malam, pukul tujuh tepat, dunia mereka menyatu melalui layar ponsel.Malam itu, wajah Ricardo muncul dengan latar belakang kamar yang berantakan. "Maaf, hari ini lembur sampai sore," ujarnya sambil mengusap wajah yang tampak lelah. Tapi begitu melihat Erica, matanya langsung berbinar."Kamu kurusan," sahut Erica dengan suara lembut."Karena rindu itu berat,sayang. Aku harus angkat beban rindu setiap hari."Mereka tertawa. Percakapan mereka malam itu berlanjut ke topik yang lebih serius. Ricardo membuka dokumen berjudul "Rencana Masa Depan Kita" yang sudah ia siapkan selama seminggu terakhir."Aku sudah hitung-hitung," katanya serius. "Kalau aku kerja lembur dua hari seminggu, dalam enam bulan aku bisa kumpulkan cukup uang untuk DP ruma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status