LOGINDilara Athreya Naranaya, sudah jatuh cinta pada Tadashi Yasuo, sejak Dilara masih kecil. Saat Yasuo menikah dengan Naomi, Dilara sudah remaja. Gadis itu patah hati, lalu Dilara berusaha move on dan melupakan Yasuo. Kala Yasuo dan Naomi bercerai, Dilara mulai bimbang. Hatinya terbelah antara senang dengan berita itu, sekaligus bingung, karena saat itu Dilara telah menjalin hubungan serius dengan Vasant Bahadri. Perselingkuhan Vasant dengan Edna, menjadikan Dilara tidak ragu-ragu lagi untuk memutuskan hubungan mereka. Dilara kembali akrab dengan Yasuo, hingga mereka terjebak dalam kisah cinta terlarang, yang menyebabkan suasana kian rumit. Ditambah lagi dengan gangguan dari banyak pihak, menjadikan Dilara serta Yasuo kian bingung. Mampukah keduanya menyelaraskan semua perbedaan? Apakah Dilara dan Yasuo akan terus bersama, atau justru berpisah?
View More01
"Om, bisa bantu aku?" tanya Dilara Athreya, sembari menatap pria bersetelan jas biru itu lekat-lekat.
"Bantu apa, Ra?" Tadashi Yasuo balas bertanya.
"Ada mantanku di sini. Dari tadi dia maksa aku buat ikut dengannya," jelas Dilara.
Yasuo mengangkat alisnya. "Mantanmu? Yang mana?"
"Mas Vasant. Dia ada di situ." Dilara mengarahkan dagu ke sisi kanan, di mana sekelompok pria muda tengah berkumpul.
Yasuo memerhatikan lelaki yang dimaksud, lalu dia kembali mengarahkan pandangan pada putri sulung sahabatnya, Hamzah Naranaya.
"Oke. Apa rencanamu?" tanya Yasuo.
"Kita pamitan sama pemilik acara. Terus, kita keluar dari sini," terang Dilara.
Yasuo memindai sekitar. "Tunggu sebentar. Om mesti pamit sama teman-teman dulu."
"Aku ikut."
Yasuo tidak menyahut dan membiarkan lengan kirinya digandeng gadis bergaun panjang ungu. Yasuo mengarahkan Dilara menyambangi sekelompok pengusaha senior, dan berpamitan.
Belasan menit terlewati. Keduanya telah berada di mobil sedan mewah milik Yasuo. Kedua ajudan di kursi depan, saling melirik, sebelum kembali fokus memandangi area depan mobil.
Dakhdaar Adras yang menjadi sopir, mengulum senyuman mendengarkan celotehan Dilara, yang kentara sekali sangat manja pada Yasuo.
Emryn Ardhaman yang menempati kursi samping kiri sopir, berulang kali melempar pandangan ke luar kaca, untuk menahan senyumannya.
Kedua ajudan itu tahu jika Dilara memang sangat akrab dengan Yasuo. Selain karena sang om merupakan sahabat papanya, mereka juga sempat jadi tetangga pada 17 tahun silam.
Almarhumah Nina, Nenek Yasuo dari sebelah Ibu, bertempat tinggal di perumahan elite yang sama dengan yang dihuni Keluarga Dilara. Bahkan rumah mereka saling berhadapan.
Kala Nina sakit keras, Yasuo dan ibunya, Hana Helga, menemani Erina selama setahun lebih. Setelah sang nenek wafat, Yasuo dan Hana kembali ke Tokyo.
Yasuo merupakan anak sulung dari Tadaahi Makoto, seorang pengusaha asli Jepang. Yasuo memiliki 3 orang Adik, yang semuanya bermukim di Tokyo.
Tadashi Grup memiliki kantor cabang di Indonesia. Sebab itu, setiap 3 bulan Yasuo akan datang untuk mengontrol bisnisnya di Jakarta.
"Kamu mau diantarkan ke mana?" tanya Yasuo.
"Ke unitku," jawab Dilara, sebelum dia menguap untuk ketiga kalinya.
"Sejak kapan kamu pindah ke apartemen?"
"Sekitar 2 bulanan."
"Hmm, berarti setelah pertemuan kita terakhir di rapat kantor Dewawarman."
"Hu um."
"Kenapa pindah dari rumah ayahmu?"
"Aku sudah dewasa. Pengen mandiri."
"Berapa umurmu sekarang?"
"27. Hampir 28."
"Ehm, Om pikir kamu baru 21."
Dilara membulatkan mata. "Om, nih. Itu sudah lewat 7 tahun."
"Om ingatnya kamu baru lulus kuliah, Ra."
Dilara berdecih. "Om nggak berubah. Selalu menganggapku masih remaja."
Yasuo menyunggingkan senyuman. "Sorry. Om ingatnya kamu yang dulu. Keluar dari mobil pake toga, jerit-jerit sambil melompat, lalu meluk Om di depan banyak orang."
Dilara meringis. "Yang itu, jangan diungkit lagi, Om. Masa-masa paling memalukan buatku."
"Kamu pikir Om nggak malu? Habis itu, Om diinterogasi Mama dan kedua Adik Om yang rese itu."
"Interogasi, gimana?"
"Keluarga Om salah sangka, dikira mereka, kamu adalah pacar baru Om. Habis Om diomelin, karena pacaran sama anak kecil."
Dilara spontan mencebik, sedangkan Yasuo tersenyum lebar. Emryn dan Dakhdaar serentak terkekeh, sebelum cepat-cepat merapatkan bibir mereka, karena dicubiti Dilara yang kesal ditertawakan.
***
Hari berganti. Pagi itu, Dilara tengah membersihkan unitnya, ketika bel pintu berdering. Dilara mengernyitkan dahi, karena merasa tidak mengundang siapa pun, atau memesan sesuatu.
Dilara mendekati pintu dan mengintip dari lubang kecil. Namun, karena tidak bisa melihat siapa yang datang, akhirnya Dilara terpaksa membuka pintu sedikit dan melongok keluar.
"Hai, Sayang," sapa Vasant Bahadri, seraya menyunggingkan senyuman terbaiknya.
"Aku bukan sayangmu!" desis Dilara.
"Aku masih sayang kamu, Ra," bujuk Vasant.
Dilara memutar bola matanya, jengah dengan bualan pria tersebut. "Aku udah nggak sayang. Pergilah!" ketusnya sembari menutup pintu.
Vasant cepat-cepat menahan lawang itu. "Ra, izinkan aku masuk. Kita harus bicara."
"No!"
"Sebentar aja. 15 menit."
"Enggak mau!"
Vasant mengerahkan tenaganya kuat-kuat, hingga pintu terbuka lebih besar dan Dilara terdorong. Vasant bergegas memasuki ruangan dan menutup pintu, lalu mendekap Dilara yang spontan meronta-ronta.
"Lepasin!" pekik Dilara sambil berusaha mendorong sang mantan.
Vasant membekap mulut Dilara, lalu menyeret gadis itu menjauhi pintu. Dia tidak memedulikan gerakan Dilara yang masih berusaha meloloskan diri.
Vasant berhasil memasuki kamar dan segera menendang pintunya hingga tertutup dengan keras. Dia melepaskan dekapan dan beralih mengunci pintu, lalu menarik anak kunci untuk disembunyikan di saku celananya.
"Apaan, sih? Datang tanpa diundang dan maksa masuk!" hardik Dilara sembari memelototi lelaki yang mengenakan t-shirt hijau.
"Aku cuma pengen ngobrol sama kamu, tapi kamu malah ngusir. Akhirnya aku nekat begini," terang Vasant sambil melembutkan suara guna menenangkan pemilik unit.
"Buka pintunya. Kita bicara di luar!"
Vasant menggeleng. Lalu berpindah duduk ke tepi kasur. "Kamarmu, rapi dan bersih," ucapnya, sengaja mengalihkan perhatian Dilara yang masih memelototinya.
"Apa maumu? Cepat katakan!" desis Dilara.
"Duduk dulu, Ra."
"Enggak. Buruan ngomong! Aku sibuk!"
"Kita nggak bisa bicara kalau kamunya nggak duduk. Aku capek nenggak terus."
Dilara mengerucutkan bibirnya. Meskipun sebenarnya dia ingin terus marah, tetapi akhirnya Dilara memutuskan untuk mengikuti permintaan Vasant.
"Oke. Sekarang, jelaskan," cakap Dilara, sesaat setelah duduk di bangku dekat meja rias.
"Aku mau kita lanjutkan hubungan kita," tutur Vasant.
"Hubungan apa?"
"Pacaran, Ra. Aku beneran sayang sama kamu."
Dilara melengos. "Aku sudah nggak berminat jadi pacar pria brengsek kayak kamu! Lanjutkan saja hubunganmu sama si pelacur itu!"
Vasant mendengkus pelan. "Aku memang salah, Ra, tapi itu karena aku terpengaruh guna-guna yang dikirimkan Edna."
"Guna-guna?"
"Ya."
Dilara tersenyum miring. "Kamu pikir aku percaya? Dasar, pembual!"
"Kamu harus percaya. Itu hasil pengobatan spiritualku."
Dilara tercengang, sebelum menggeleng pelan. "Apa pun yang keluar dari mulutmu, aku nggak percaya!" tegasnya. "Sekali lagi kukatakan, nggak percaya!" geramnya sembari berdiri.
"Sekarang, kamu pergi. Sebelum aku memanggil sekuriti untuk menyeretmu keluar!" ancam Dilara sembari menunjuk ke pintu.
Vasant tersenyum miring. Alih-alih takut dengan ancaman Dilara, dia justru makin tertantang untuk menaklukkan Dilara.
Vasant berdiri dan menyambangi Dilara. Dia hendak menciumi gadis tersebut, yang spontan mundur hingga menabrak bangku.
Dilara menggapai apa pun dari meja rias. Kala Vasant mendekat, Dilara menghantamkan kotak aksesorisnya ke kepala pria itu, yang seketika mengaduh.
Belum puas sampai di situ, Dilara nekat menendangi area bawah tubuh Vasant hingga lelaki tersebut menjerit sembari memegangi bagian yang sakit.
Vasant terhuyung-huyung ke belakang, sebelum jatuh ke lantai sambil mengaduh. Dilara bergegas mendekat untuk mengambil kunci yang dikantongi pria itu.
Dilara berdiri dan menyambar tas kecil serta ponselnya di meja samping kiri kasur. Tanpa menghiraukan Vasant, Dilara membuka kunci pintu kamar, lalu keluar dan jalan cepat ke pintu utama.
86 *Tim Proyek Spanyol* Alvaro : @Tanzil, selamat, ya. Linggha : Alhamdulilah. Bujang lapuk kita laku satu. Zein : Urang sorak! Farisyasa : Aku langsung sujud syukur. Dhruvi : Aku nangis. Mas-ku akhirnya nggak jomlo lagi. Zijl : Aku nggak bisa berhenti senyum-senyum.Ghaziya Sarfaraz : Selamat, @Mas Tanzil. Ditunggu undangannya.Tio : Ada apakah? Benigno : Orang Bandung, terangkanlah. Bryan : Aku menunggu. Baskara : Sambil makan gehu. Bahiga Mahasura : Sapo tahu. Bahzar Naranta : Kupat tahu. Barry Samuel : Martabak tahu. Biantara Balasena : Kroket tahu. Beni Indrayana : Dadar tahu. Bayu Hendrawan : Surabi tahu. Bhadra Janardana : Baso tahu. Bruce Amartya : Semur tahu.Bazyli Vardhaman : Balado tahu. Brayden Raffles : Perkedel tahu. Bhagawanta Lakeswara : Pepes tahu. Bertrand Luiz : Aku tidak tahu makanan apa lagi yang berasal dari tahu. Bram Mahardika : Tsunami tahu. Yasuo : Baru dengar ada tsunami tahu. Kayak gimana bentuknya? @Bram. Bram : Tahu dicacah. Bum
85Dua orang pria berbeda tampilan, duduk saling berhadapan. Mereka menikmati hidangan sembari berbincang tentang bisnis, yang akan mereka tangani bersama pada beberapa bulan mendatang. Tanzil yang telah selesai makan, menunggu Yasuo menghabiskan makanannya. Tanzil menyusun kalimat dalam benak, sembari memerhatikan sekitar yang dipenuhi pengunjung lainnya, karena saat itu bertepatan dengan jam makan siang. "Mas, aku boleh nanya sesuatu yang agak pribadi?" tanya Tanzil, seusai melihat Yasuo meletakkan gelas kosong ke meja. "Boleh," jawab Yasuo."Ini tentang ... hubungan Mas dan Widya." "Hmm, gimana?" "Aku penasaran. Dulu itu, apa kalian saling mencintai?" Yasuo tertegun sesaat, lalu menggeleng. "Enggak. Kami cuma saling sayang." "Kenapa nggak bisa cinta?" "Kalau dariku, itu karena aku nggak mau pindah agama. Dari awal hubungan kami, Widya sudah menegaskan tentang itu. Jadi ... aku sedikit terintimidasi, dan mungkin itu menyebabkan aku sulit mencintainya." "Kamu pasti kenal kar
84Tanzil mengusap pelan punggung tangan kiri ibunya, yang balas menatapnya dengan pandangan sayu. Tanzil memaksakan senyuman, supaya Puspita bisa lebih tenang. Tanzil mengalihkan pandangan pada sang bapak yang berada di kursi seberang. Tanzil mendengarkan penuturan Amrish, yang menyampaikan keinginan Puspita, yang berulang kali disebutkan perempuan tua tersebut. "Aku mau saja menikah, Pak. Tapi, masalahnya, nggak ada perempuan yang mau sama aku," jelas Tanzil. "Kamu yang tidak serius mencari. Apalagi standarmu tinggi, dan dikaitkan dengan mantanmu. Jelas nggak ada perempuan yang mau dibandingkan, dengan orang masa lalu," kilah Amrish. "Enggak gitu, Pak. Aku cuma mau cari yang terbaik. Nggak mau gagal dan pengen nikah itu cuma sekali," sahut Tanzil. "Ibumu sudah menentukan calon buatmu." "Ehm, tapi ...." "Jangan membantah terus, Mas. Bapak dan Ibu nggak terima penolakan!" Tanzil yang hendak menyanggah, akhirnya memutuskan untuk diam. Dia melirik kedua adiknya yang menempati dua
83Sepanjang perjalanan menuju Bandung, Yasuo sibuk menghubungi teman-temannya yang menetap di sana. Yasuo mengucap syukur dalam hati, karena Linggha, Zein, Farisyasa, dan ketiga bersaudara Janardana, langsung bergerak ke rumah sakit, tempat ibunya Tanzil dirawat. Sementara di kursi belakang, Dilara berbalas pesan dengan teman-temannya yang juga bermukim di Bandung. Dia menghela napas lega, setelah mendengar penjelasan Varsa, bila para bos PG dan PC area Bandung, sudah menangani masalah itu. Sementara di Toronto, Tanzil tengah termangu. Pikirannya kalut, hingga tidak berbicara sedikit pun dengan teman-temannya. Tanzil hanya memandangi kehebohan Leander, Denzel, Bruce, dan Drhuvi, yang tengah mengemasi barang-barang mereka. Diaz Zidane, ketua pengawal area Kanada, memasuki kamar yang ditempati keempat bos muda itu. Disusul Sakha, manajer operasional cabang PBK, yang langsung menyeret koper besar milik Dhruvi keluar ruangan.Tanzil tertegun saat Diaz membantunya mengenakan jaket, yan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.