LOGIN“Aku pulang, Ricardo. Tapi bukan untukmu. Bukan lagi untuk luka yang kau tanamkan.” Erika percaya cinta bisa bertahan, bahkan saat jarak memisahkan. Tapi ternyata, yang hancur bukan hanya jarak—melainkan kepercayaannya. Dikhianati, ditinggalkan, dan dihancurkan oleh pria yang ia anggap rumah, Erika pergi jauh untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Di tempat asing yang sunyi, hadir seorang pria dingin yang diam-diam menjaganya—Asraf. Tapi saat hatinya mulai tenang, masa lalu kembali. Apakah pulang berarti kembali? Atau pulang berarti memilih tempat baru untuk hidup tanpa luka yang sama?
View MoreLampu-lampu temaram menggantung di langit-langit ruangan yang dipenuhi tawa, musik, dan gelas-gelas wine. Aroma makanan menggoda tercium samar, bercampur dengan wangi parfum dan suara dentingan gelas yang bersulang. Ini bukan pesta yang biasanya dihadiri Erica—ia bukan tipe perempuan yang suka keramaian, apalagi pesta ulang tahun dengan tamu-tamu asing. Tapi karena sahabat sekantornya, Livia, bersikeras mengajaknya datang, ia tak tega menolak.
Dengan dress hitam sederhana dan rambut dikuncir rendah, Erica berdiri agak canggung di dekat meja makanan, memegang piring kecil berisi salad yang bahkan belum disentuh. Matanya menyapu ruangan, mencari wajah-wajah yang dikenalnya. Sayangnya, sebagian besar adalah karyawan dari departemen lain atau orang-orang yang tak pernah ia temui sebelumnya. Sambil menarik napas panjang, ia mencoba mengingat bahwa malam ini hanya butuh dilewati beberapa jam. Setelah itu, ia bisa kembali ke kamarnya yang sunyi dan menenangkan. Namun segalanya berubah ketika matanya menangkap sosok pria di sudut ruangan. Bukan karena ketampanannya, meski itu tak bisa diabaikan—tapi karena cara pria itu berdiri, tampak santai dengan satu tangan di saku celana dan segelas minuman di tangan satunya. Ia terlihat nyaman, tak terburu-buru, dan tidak berpura-pura ramah seperti banyak tamu lainnya. Tatapannya tajam namun tenang, menyapu ruangan sampai akhirnya berhenti tepat pada mata Erica. Dan tidak berpaling. Erica terkejut, refleks memalingkan wajah, pura-pura sibuk memindahkan tomat dari saladnya ke sisi piring. Tapi rasa penasaran memaksanya melirik kembali. Pria itu masih menatapnya, kali ini dengan senyum kecil yang tak bisa didefinisikan. Apakah itu senyum ramah, senyum iseng, atau mungkin... tertarik? Tak butuh waktu lama sebelum pria itu mulai melangkah ke arahnya. Langkahnya santai tapi mantap, seolah yakin tujuannya memang Erica. "Erica, kan?" sapanya begitu tiba di dekat meja makanan. Erica sedikit kaget. "Iya... kamu mengenalku?" "Aku Ricardo. Kontraktor yang sering telat kirim invoice ke divisi akuntansi," katanya sambil menyodorkan tangan. Erica tertawa pelan sambil menyambut jabat tangannya. Hangat. Kokoh. "Oh, jadi kamu sumber pusingnya laporan bulan lalu." "Guilty," Ricardo mengangkat tangan seolah menyerah. "Tapi mungkin bisa ditebus dengan satu gelas minuman untukmu?" Mereka akhirnya duduk di sudut ruangan, menjauh dari keramaian. Obrolan mereka mengalir ringan, seperti dua orang yang sudah lama saling kenal. Mereka membahas pekerjaan, makanan favorit, film yang sama-sama mereka benci, dan tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi. Ricardo tidak terlalu banyak bicara soal dirinya, tapi dari caranya mendengarkan, menatap, dan mencatat detail kecil dari Erica, membuat perempuan itu merasa dihargai. Dikenal. Bahkan tanpa banyak kata. Saat jam menunjukkan hampir tengah malam, dan sebagian besar tamu mulai berpamitan, Erica menyadari betapa cepat waktu berlalu. "Aku biasanya nggak tahan di pesta seperti ini lebih dari satu jam," katanya sambil menyeruput sisa minumannya. "Tapi malam ini berbeda?" Ricardo bertanya sambil tersenyum. Erica mengangguk pelan. "Mungkin karena kamu membuatnya terasa... nyaman." Ricardo menatapnya sejenak, lalu berkata, "Kalau aku bilang aku datang ke pesta ini padahal nggak kenal yang ulang tahun, hanya karena ingin lihat kamu—kamu akan percaya?" Erica menatapnya, tertawa pelan, tapi dalam hati degupnya membentur batas. "Kamu gombal juga ternyata." "Aku serius," sahut Ricardo. "Aku pernah lihat kamu di kantor, tapi kamu selalu sibuk. Aku pikir... kalau ada kesempatan bicara, aku nggak mau sia-siakan." Diam. Sesaat tak ada yang bicara. Hanya musik pelan yang mengalun dari pengeras suara, dan detak jantung Erica yang mulai tak beraturan. Malam itu, di antara keramaian yang memudar, sesuatu tumbuh. Pelan, tak tergesa. Tapi cukup kuat untuk meninggalkan jejak. Dan tanpa mereka sadari, malam itu menjadi awal dari segalanya.Langit Kalimantan malam itu begitu sunyi. Tak ada suara kendaraan, hanya gemerisik daun dan dengungan kipas angin di langit-langit kamar. Ricardo duduk membungkuk di atas ranjang, matanya terpaku pada layar ponsel yang tak kunjung padam sejak pesan dari Nadya masuk."Aku hamil."Dua kata yang mengubah segalanya. Dua kata yang menghapus semua rencana pernikahannya bersama Erica. Dua kata yang membuat dadanya sesak, tenggorokannya tercekat, dan napasnya serasa tak lagi berfungsi.Sudah tiga hari sejak ia kembali ke Kalimantan, membawa sisa-sisa harapan yang perlahan ingin ia bangun kembali bersama Erica. Tapi kini, semuanya terasa seperti ilusi.Ricardo memeluk kedua lututnya. Matanya berkaca-kaca. Ini bukan hanya rasa bersalah—ini kehancuran. Ia ingin menghilang. Ingin kabur ke tempat di mana tak seorang pun mengenalnya, tak seorang pun menagih tanggung jawab. Tapi ia tahu, ia tak bisa lari. Tidak lagi.Dan satu-satunya orang yang bisa ia percaya saat dunia terasa runtuh adalah: ibunya
Langit Kalimantan pagi itu mendung, seolah mengerti badai yang akan pecah di antara dua manusia yang sempat saling mendekap dalam kehangatan yang keliru. Ricardo tiba di kafe kecil yang disepakati. Tempat itu sepi, hanya ada satu dua pelanggan yang duduk jauh di sudut ruangan.Ricardo datang lebih dulu. Duduk gelisah, menunduk. Telapak tangannya dingin meski udara tropis menggantung lembab. Saat pintu berbunyi, ia tahu Nadya telah datang. Ia tak perlu menoleh. Aroma parfum yang dulu begitu familiar langsung mengisi ruang itu.Nadya mendekat pelan, wajahnya tenang tapi tegang. Perutnya belum menunjukkan perubahan apa pun. Ia masih tampak seperti biasa, tapi pesan yang ia kirim beberapa malam lalu masih menancap di dada Ricardo seperti duri berkarat.“Aku enggak pesan apa-apa,” gumam Ricardo tanpa menatap langsung. “Kalau kamu mau minum, silakan.”Nadya duduk. Ia melipat tangannya di pangkuan, menatap Ricardo yang masih menunduk.“Kamu yang minta ketemu,” ucapnya datar.Ricardo akhirnya
Ricardo menatap layar ponselnya. Jemarinya membeku. Pesan dari Nadya terpampang jelas, seperti palu yang menghantam dadanya: “Aku hamil.”Dua kata. Tapi mampu menghancurkan semua rencana masa depan yang baru saja ia susun bersama Erica.Mulut Ricardo terasa kering. Ia memalingkan pandangannya dari layar, tapi kata-kata itu seolah tetap terpatri di pelupuk matanya. Telinganya berdengung. Kepalanya pusing. Dunia mendadak menjadi terlalu sunyi, terlalu menekan.Ponsel itu ia letakkan pelan di meja makan. Napasnya berat, tersendat-sendat. Ia bersandar di sandaran kursi, menatap langit-langit rumah yang sudah lama ia kenal, tapi malam ini terasa seperti tempat asing. Pikiran-pikirannya berlarian ke berbagai arah, membentur tembok satu per satu.“Enggak mungkin…” bisiknya, meski ia tahu tidak ada yang bercanda di sini. Nadya bukan tipe perempuan yang melebih-lebihkan sesuatu.Ia menutup wajah dengan kedua tangan. “Kenapa sekarang? Kenapa justru saat aku sudah membangun semuanya kembali
Pagi itu, kamar kos Nadya terasa lebih sempit dari biasanya. Sinar matahari yang menyusup melalui jendela berdebu seakan mengejek kegelisahan yang menggunung di dadanya. Di atas meja kayu yang lapuk, tiga test pack berjejer—masing-masing dengan dua garis merah yang tegas, seperti penjara yang mengurung masa depannya."Aku hamil."Dua kata itu bergema dalam kepalanya, tapi tak bisa keluar dari mulutnya. Lidahnya terasa kaku, tenggorokannya serasa tersumbat oleh kenyataan pahit yang harus ditelannya sendiri.Dia mengingat malam itu dengan jelas. Ricardo datang dengan wajah lesu, membawa sebotol anggur dan segudang penyesalan. Mereka duduk di lantai, berbagi cerita tentang kesepian yang sama. Nadya, yang baru putus cinta. Ricardo, yang merasa hubungannya dengan Erica mulai retak. Dua jiwa yang tersesat, saling mencari kehangatan di tengah dinginnya Kalimantan."Kita berdua sama-sama bersalah," bisik Nadya pada bayangannya di cermin. Tapi kini, dia ha






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.