MasukRicardo menatap bayangan dirinya di cermin kamar hotel. Rambutnya acak-acakan, dasinya longgar, dan matanya... lelah. Tapi bukan karena pekerjaan. Bukan juga karena kurang tidur. Ada sesuatu yang lebih berat dari itu—beban yang mengendap diam-diam di dadanya.
Ia menatap dirinya lebih dalam. Seseorang yang bahkan tak bisa menjawab pertanyaan sederhana : Apa yang sebenrnya kamu rasakan? Ciuman itu kembali berputar dikepalanya. Tak disengaja, begitu cepat, begitu tiba-tiba. Namun, meninggalkan jejk yang nyata. Tapi juga tak bisa dihapus. Bukan karena Nadya. Tapi karena dirinya. Ia yang diam. Ia yang tak langsung menarik diri. Ia yang membiarkan detik itu berlama-lama tinggal di antara kesunyian dan kilat dari luar jendela. Dan sekarang, ia tk bisa berpura-pura lupa. Ia belum bercerita pada Erica. Dan justru itu yang mengusiknya paling dalam. Jika tak ada apa-apa, kenapa ia menyembunyikannya? Ponselnya berdering. Nama Erica muncul di layar. Ia menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat. “Halo, Sayang.” Suara Erica selalu terdengar lembut di telinganya. “Halo...” jawabnya pelan. “Kamu capek, ya?” “Sedikit.” “Kamu nggak apa-apa? Nada suaramu beda.” Ricardo menelan ludah. “Aku cuma... banyak pikiran. Proyek mulai kacau. Tenaga kurang, cuaca juga nggak mendukung.” Erica terdiam sejenak, lalu berkata, “Kalau kamu nggak kuat, jangan dipaksain. Aku bisa ke sana akhir bulan ini. Temenin kamu sebentar.” Ricardo memejamkan mata. Rasa bersalah makin kuat mencengkeram. Ricardo memejamkan mata. Setiap kalimat Erica seperti tamparan lembut yang membuatnya justru semakin sakit. Bukan karena marah, tapi karena rasa bersalah yang terus menggerogoti. “Tidak usah. Aku nggak mau kamu capek.” katanya pelan “Tapi aku pengin ketemu kamu.” Kata-kata Erica itu menamparnya halus. “Aku juga,” jawab Ricardo, pelan. Setelah panggilan berakhir, Ricardo terduduk di ranjang, menunduk, lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Suara Erica masih terngiang—penuh cinta, penuh percaya. Tapi justru itu yang membuat batinnya hancur. Ia tahu Erica tidak curiga. Ia juga tahu Nadya tidak akan bercerita. Tapi diam-diam, pikirannya terus dihantui satu pertanyaan: kalau tidak berarti apa-apa, kenapa begitu sulit dilupakan? Pagi harinya, Ricardo masuk kantor lebih awal. Ia berharap bisa bekerja tanpa distraksi. Tapi Nadya sudah lebih dulu tiba. “Pagi, Pak,” sapanya seperti biasa. Hangat. Tenang. Tanpa jejak semalam. “Pagi.” Ricardo membalas dengan cepat, lalu melangkah ke ruangan. Tapi sepanjang pagi, pikirannya tak benar-benar bisa fokus. Ia membuka dokumen, mengecek laporan, tapi matanya sekilas membaca. Otaknya dipenuhi oleh percakapan yang belum terjadi. Percakapan yang tak perlu. Yang tak bisa dihindari lebih lama. Beberapa jam kemudian, saat hanya mereka berdua, Ricardo berdiri di depan jendela ruangannya. “Nadya,” panggilnya. Gadis itu menoleh. “Ya, Pak?” Ricardo menoleh perlahan. “Kamu nggak ingin bicara soal tadi malam?” Nadya diam sejenak. “Kalau Bapak ingin membicarakannya, saya siap mendengarkan.” Ricardo menarik napas dalam. “Aku sudah bilang aku punya kekasih. Aku masih mencintainya. Tapi... semalam, aku juga tidak berhenti memikirkan kamu.” Nadya menunduk. “Saya pun sama. Tapi saya tahu batasnya, Pak.” Ricardo mendekat. “Aku tidak ingin kamu merasa bersalah. Tapi aku juga tidak ingin berpura-pura.” Tatapan mereka bertemu. Ada jarak. Tapi juga ada ketertarikan yang tidak bisa sepenuhnya ditepis. Nadya melangkah mundur satu langkah, menyadarkan mereka kembali pada batas. “Saya akan tetap profesional, Pak.” Ricardo mengangguk. “Dan aku akan menjaga itu.” Tapi dalam hati mereka tahu, garis yang tipis itu sudah mulai retak.Erica tak pernah menyangka akan mendengar kabar pernikahan Ricardo dari orang lain. Kabar itu datang bukan dari mulut Ricardo, melainkan bisikan rekan-rekan kantor yang mendadak heboh dengan satu hal: Ricardo sudah menikah.Nama pengantinnya pun menyebar cepat. Nadya.Erica membaca pesan itu berulang-ulang di layar ponselnya. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada penjelasan dari orang yang pernah ia cintai dengan seluruh hidupnya.Dunia Erica seketika terasa hampa. Semua terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung bangun. Ia tidak menangis di depan orang banyak. Ia tersenyum tipis saat mereka bertanya, lalu berkata, "Aku baik-baik saja." Tapi hatinya remuk.Tanpa pikir panjang, hari itu juga Erica masuk ke ruang manajernya, menyerahkan surat pengunduran diri. Ia hanya berkata satu kalimat, “Saya sudah tidak punya alasan untuk tetap tinggal.”Semua orang kaget. Beberapa mencoba menahannya. Tapi keputusan Erica seperti tak tergoyahkan. Hatinya sudah terlalu penuh luka. Tempat ini hanya akan
Setelah Erica menutup pintu malam itu, Ricardo duduk lama di bangku taman kecil depan rumahnya. Tanpa suara, tanpa air mata lagi. Hatanya seperti rongga kosong. Ia menatap langit malam yang mendung—seperti dirinya.Dan saat pagi menjelang, dengan mata sembab dan tubuh yang tak sempat tidur, Ricardo mengambil ponselnya. Jemarinya gemetar, tapi ia tahu, tidak ada jalan lain. Ia menekan nama itu di layar, lalu mendekatkan ponsel ke telinga.“Hallo?” suara Nadya terdengar pelan, ragu.Ricardo menarik napas panjang. “Aku akan bertanggung jawab. Kita menikah, Nadya.”Hening. Lalu terdengar helaan napas panjang dari seberang.“Ricardo...” suara Nadya nyaris berbisik.“Aku tidak melakukannya karena cinta,” tegas Ricardo, meski suaranya goyah. “Tapi karena anak ini. Karena aku ingin anakku lahir dengan nama ayahnya.”Nadya tidak menjawab. Hanya diam. Tapi Ricardo tahu, itu berarti ya.Pernikahan itu digelar hanya seminggu setelahnya.Tanpa pesta besar, tanpa dekorasi berlebihan, tanpa undangan
Erica baru saja selesai mencuci gelas di dapur saat suara bel rumah terdengar. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Ia mengernyit. Tidak biasanya ada tamu malam-malam begini. Dengan ragu, ia melangkah ke ruang tamu dan mengintip dari balik gorden.Langkahnya terhenti. Matanya membelalak.Itu Ricardo.Tubuh tinggi yang amat dikenalnya berdiri di depan pintu rumahnya, membungkuk sedikit karena lelah. Mengenakan jaket abu gelap yang biasa dipakai saat perjalanan jauh. Rambutnya berantakan, wajahnya tampak kusut. Tatapan matanya—penuh duka dan keputusasaan.“Ricardo?” Erica membatin, tangannya refleks membuka pintu. Suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu?”Ricardo hanya menunduk. Bibirnya bergetar, matanya sembap seperti baru menangis.“Kamu … bukannya kamu masih di Kalimantan?” lanjut Erica, suaranya sekarang sedikit lebih tinggi. Ia begitu terkejut hingga tubuhnya membeku beberapa detik. Jarak mereka hanya beberapa langkah, tapi terasa seperti jurang.Ricardo mengangguk pelan. “Aku... pulan
Udara terasa berat saat pintu kembali dibuka. Keluarga Nadya masuk lagi ke ruang tamu dengan ekspresi lebih tegas daripada sebelumnya. Nadya tampak menunduk, dan menahan tangis, sementara ayah dan ibunya membawa hawa yang lebih kaku.“Maaf,” kata Pak Syamsudin dengan suara yang kali ini lebih dingin. “Kami sudah cukup sabar dan menghargai kesediaan kalian menerima kami. Tapi ini bukan sekadar persoalan malu atau harga diri—ini tentang masa depan anak kami.”Bu Syamsudin menyambung, “Anak kami sudah mengandung darah dari anak Anda. Apa ini tidak cukup untuk menjadikan mereka suami istri yang sah?”Ibu Ricardo menatap kedua orang itu dalam-dalam. “Saya mengerti, Bu, Pak. Tapi kita semua orang dewasa, dan tahu, menikah bukan sekadar soal perut dan rahim. Ini soal cinta masa depan dan kesiapan.”“Tapi cinta bisa tumbuh setelah menikah,” desak Pak Syamsudin. “Kami datang dari keluarga yang memegang nilai. Anak perempuan kami tidak bisa dibiarkan menjadi ibu tunggal begitu saja. Kejadian in
Pagi baru saja menjelang. Ricardo belum benar-benar tidur sejak semalam. Ia duduk di kursi kayu ruang makan, dengan secangkir teh yang sudah dingin di tangannya. Kepalanya berat, pikirannya penuh.Tiba-tiba, suara bel rumah terdengar. Dua kali, cepat, tapi tegas.Ibunya berjalan lebih dulu ke depan, mengintip dari jendela. Raut wajahnya berubah. Ia membuka pintu, dan mendapati tiga orang berdiri di depan—sepasang suami istri paruh baya, serta seorang perempuan muda dengan wajah yang tak asing lagi bagi Ricardo.Nadya.Ricardo muncul di balik punggung ibunya. Ia terkejut, jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Tak menyangka Nadya benar-benar nekat datang. Dan bukan sendiri—melainkan membawa orangtuanya.Nadya menunduk, tak berani menatap Ricardo langsung. Sementara kedua orangtuanya memperhatikan ibunya Ricardo, menanti sambutan.“Silakan masuk,” ucap ibu Ricardo, tenang namun tegang. Ia melirik Ricardo sejenak sebelum memberi jalan kepada tamu.Ruang tamu terasa lebih sempit dari b
Langit Kalimantan pagi itu kelabu, seolah mengerti apa yang sedang berkecamuk dalam benak Ricardo. Sudah sejak subuh dia terjaga, memandangi layar ponsel dengan mata sayu, sambil memutar ulang pesan dari Nadya yang masih memenuhi pikirannya. "Aku hamil." Tiga kata yang mengubah segalanya. Menghancurkan fondasi yang sudah ia bangun bersama Erica. Perasaan bersalah dan panik menyerbu bergantian. Tapi ia tahu satu hal pasti—ia harus kembali ke Bandung. Harus segera menyelesaikan semua ini, sebelum semakin terlambat. Ricardo berdiri di depan pintu kantor HRD dengan jantung berdegup kencang. Ia mengetuk pelan, lalu masuk setelah mendengar jawaban dari dalam. “Selamat pagi, Bu,” ucapnya pelan. “Pagi, Ricardo. Ada apa?” “Saya ingin mengajukan cuti mendadak, Bu. Mulai besok.” Bu Liana mengerutkan kening. “Mendadak sekali. Ada hal penting?” Ricardo menunduk, menyusun alasan dalam hitungan detik. Ia tidak bisa mengatakan kebenaran. “Ibu saya di Bandung... jatuh sakit semalam. D







