Home / Romansa / Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu / Bab 8 - Yang Tak Pernah Ia Niatkan

Share

Bab 8 - Yang Tak Pernah Ia Niatkan

Author: Sang pemimpi
last update Last Updated: 2025-07-26 23:29:45

Ricardo menatap bayangan dirinya di cermin kamar hotel. Rambutnya acak-acakan, dasinya longgar, dan matanya... lelah. Tapi bukan karena pekerjaan. Bukan juga karena kurang tidur. Ada sesuatu yang lebih berat dari itu—beban yang mengendap diam-diam di dadanya.

Ia menatap dirinya lebih dalam. Seseorang yang bahkan tak bisa menjawab pertanyaan sederhana : Apa yang sebenrnya kamu rasakan?

Ciuman itu kembali berputar dikepalanya. Tak disengaja, begitu cepat, begitu tiba-tiba. Namun, meninggalkan jejk yang nyata. Tapi juga tak bisa dihapus.

Bukan karena Nadya. Tapi karena dirinya.

Ia yang diam. Ia yang tak langsung menarik diri. Ia yang membiarkan detik itu berlama-lama tinggal di antara kesunyian dan kilat dari luar jendela.

Dan sekarang, ia tk bisa berpura-pura lupa.

Ia belum bercerita pada Erica. Dan justru itu yang mengusiknya paling dalam. Jika tak ada apa-apa, kenapa ia menyembunyikannya?

Ponselnya berdering. Nama Erica muncul di layar. Ia menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat.

“Halo, Sayang.” Suara Erica selalu terdengar lembut di telinganya.

“Halo...” jawabnya pelan.

“Kamu capek, ya?”

“Sedikit.”

“Kamu nggak apa-apa? Nada suaramu beda.”

Ricardo menelan ludah. “Aku cuma... banyak pikiran. Proyek mulai kacau. Tenaga kurang, cuaca juga nggak mendukung.”

Erica terdiam sejenak, lalu berkata, “Kalau kamu nggak kuat, jangan dipaksain. Aku bisa ke sana akhir bulan ini. Temenin kamu sebentar.”

Ricardo memejamkan mata. Rasa bersalah makin kuat mencengkeram. Ricardo memejamkan mata. Setiap kalimat Erica seperti tamparan lembut yang membuatnya justru semakin sakit. Bukan karena marah, tapi karena rasa bersalah yang terus menggerogoti.

“Tidak usah. Aku nggak mau kamu capek.” katanya pelan

“Tapi aku pengin ketemu kamu.”

Kata-kata Erica itu menamparnya halus.

“Aku juga,” jawab Ricardo, pelan.

Setelah panggilan berakhir, Ricardo terduduk di ranjang, menunduk, lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Suara Erica masih terngiang—penuh cinta, penuh percaya. Tapi justru itu yang membuat batinnya hancur.

Ia tahu Erica tidak curiga. Ia juga tahu Nadya tidak akan bercerita. Tapi diam-diam, pikirannya terus dihantui satu pertanyaan: kalau tidak berarti apa-apa, kenapa begitu sulit dilupakan?

Pagi harinya, Ricardo masuk kantor lebih awal. Ia berharap bisa bekerja tanpa distraksi. Tapi Nadya sudah lebih dulu tiba.

“Pagi, Pak,” sapanya seperti biasa. Hangat. Tenang. Tanpa jejak semalam.

“Pagi.” Ricardo membalas dengan cepat, lalu melangkah ke ruangan.

Tapi sepanjang pagi, pikirannya tak benar-benar bisa fokus. Ia membuka dokumen, mengecek laporan, tapi matanya sekilas membaca. Otaknya dipenuhi oleh percakapan yang belum terjadi. Percakapan yang tak perlu. Yang tak bisa dihindari lebih lama.

Beberapa jam kemudian, saat hanya mereka berdua, Ricardo berdiri di depan jendela ruangannya.

“Nadya,” panggilnya.

Gadis itu menoleh. “Ya, Pak?”

Ricardo menoleh perlahan. “Kamu nggak ingin bicara soal tadi malam?”

Nadya diam sejenak. “Kalau Bapak ingin membicarakannya, saya siap mendengarkan.”

Ricardo menarik napas dalam. “Aku sudah bilang aku punya kekasih. Aku masih mencintainya. Tapi... semalam, aku juga tidak berhenti memikirkan kamu.”

Nadya menunduk. “Saya pun sama. Tapi saya tahu batasnya, Pak.”

Ricardo mendekat. “Aku tidak ingin kamu merasa bersalah. Tapi aku juga tidak ingin berpura-pura.”

Tatapan mereka bertemu. Ada jarak. Tapi juga ada ketertarikan yang tidak bisa sepenuhnya ditepis.

Nadya melangkah mundur satu langkah, menyadarkan mereka kembali pada batas. “Saya akan tetap profesional, Pak.”

Ricardo mengangguk. “Dan aku akan menjaga itu.”

Tapi dalam hati mereka tahu, garis yang tipis itu sudah mulai retak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 26 – Suara Ibu di Tengah Malam

    Langit Kalimantan malam itu begitu sunyi. Tak ada suara kendaraan, hanya gemerisik daun dan dengungan kipas angin di langit-langit kamar. Ricardo duduk membungkuk di atas ranjang, matanya terpaku pada layar ponsel yang tak kunjung padam sejak pesan dari Nadya masuk."Aku hamil."Dua kata yang mengubah segalanya. Dua kata yang menghapus semua rencana pernikahannya bersama Erica. Dua kata yang membuat dadanya sesak, tenggorokannya tercekat, dan napasnya serasa tak lagi berfungsi.Sudah tiga hari sejak ia kembali ke Kalimantan, membawa sisa-sisa harapan yang perlahan ingin ia bangun kembali bersama Erica. Tapi kini, semuanya terasa seperti ilusi.Ricardo memeluk kedua lututnya. Matanya berkaca-kaca. Ini bukan hanya rasa bersalah—ini kehancuran. Ia ingin menghilang. Ingin kabur ke tempat di mana tak seorang pun mengenalnya, tak seorang pun menagih tanggung jawab. Tapi ia tahu, ia tak bisa lari. Tidak lagi.Dan satu-satunya orang yang bisa ia percaya saat dunia terasa runtuh adalah: ibunya

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 25 – Luka yang Tak Lagi Sama

    Langit Kalimantan pagi itu mendung, seolah mengerti badai yang akan pecah di antara dua manusia yang sempat saling mendekap dalam kehangatan yang keliru. Ricardo tiba di kafe kecil yang disepakati. Tempat itu sepi, hanya ada satu dua pelanggan yang duduk jauh di sudut ruangan.Ricardo datang lebih dulu. Duduk gelisah, menunduk. Telapak tangannya dingin meski udara tropis menggantung lembab. Saat pintu berbunyi, ia tahu Nadya telah datang. Ia tak perlu menoleh. Aroma parfum yang dulu begitu familiar langsung mengisi ruang itu.Nadya mendekat pelan, wajahnya tenang tapi tegang. Perutnya belum menunjukkan perubahan apa pun. Ia masih tampak seperti biasa, tapi pesan yang ia kirim beberapa malam lalu masih menancap di dada Ricardo seperti duri berkarat.“Aku enggak pesan apa-apa,” gumam Ricardo tanpa menatap langsung. “Kalau kamu mau minum, silakan.”Nadya duduk. Ia melipat tangannya di pangkuan, menatap Ricardo yang masih menunduk.“Kamu yang minta ketemu,” ucapnya datar.Ricardo akhirnya

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 24 – Gemetar dalam Diam

    Ricardo menatap layar ponselnya. Jemarinya membeku. Pesan dari Nadya terpampang jelas, seperti palu yang menghantam dadanya: “Aku hamil.”Dua kata. Tapi mampu menghancurkan semua rencana masa depan yang baru saja ia susun bersama Erica.Mulut Ricardo terasa kering. Ia memalingkan pandangannya dari layar, tapi kata-kata itu seolah tetap terpatri di pelupuk matanya. Telinganya berdengung. Kepalanya pusing. Dunia mendadak menjadi terlalu sunyi, terlalu menekan.Ponsel itu ia letakkan pelan di meja makan. Napasnya berat, tersendat-sendat. Ia bersandar di sandaran kursi, menatap langit-langit rumah yang sudah lama ia kenal, tapi malam ini terasa seperti tempat asing. Pikiran-pikirannya berlarian ke berbagai arah, membentur tembok satu per satu.“Enggak mungkin…” bisiknya, meski ia tahu tidak ada yang bercanda di sini. Nadya bukan tipe perempuan yang melebih-lebihkan sesuatu.Ia menutup wajah dengan kedua tangan. “Kenapa sekarang? Kenapa justru saat aku sudah membangun semuanya kembali

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 23- Yang tersisa di antara dua garis merah..

    Pagi itu, kamar kos Nadya terasa lebih sempit dari biasanya. Sinar matahari yang menyusup melalui jendela berdebu seakan mengejek kegelisahan yang menggunung di dadanya. Di atas meja kayu yang lapuk, tiga test pack berjejer—masing-masing dengan dua garis merah yang tegas, seperti penjara yang mengurung masa depannya."Aku hamil."Dua kata itu bergema dalam kepalanya, tapi tak bisa keluar dari mulutnya. Lidahnya terasa kaku, tenggorokannya serasa tersumbat oleh kenyataan pahit yang harus ditelannya sendiri.Dia mengingat malam itu dengan jelas. Ricardo datang dengan wajah lesu, membawa sebotol anggur dan segudang penyesalan. Mereka duduk di lantai, berbagi cerita tentang kesepian yang sama. Nadya, yang baru putus cinta. Ricardo, yang merasa hubungannya dengan Erica mulai retak. Dua jiwa yang tersesat, saling mencari kehangatan di tengah dinginnya Kalimantan."Kita berdua sama-sama bersalah," bisik Nadya pada bayangannya di cermin. Tapi kini, dia ha

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 22- Percakapan dan pesan yang mengejutkan..

    Malam itu di Kalimantan terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin malam berhembus pelan melalui jendela kamar Ricardo yang terbuka, membawa serta suara jangkrik yang seolah bersimfoni dalam kesendirian. Ricardo baru saja menutup laptopnya setelah video call dengan Erica, tapi senyumnya yang tadi masih mengembang tiba-tiba memudar.Dia mengambil ponselnya lagi, membuka pesan dari Nadya untuk kesekian kalinya. Dua kata itu masih terpampang di sana, sederhana namun menghancurkan.Nadya: "Aku hamil."Jari Ricardo gemetar. Pikirannya langsung melayang ke malam-malam kelam di Kalimantan, saat dirinya yang rapuh mencari pelarian di pelukan yang salah. Dia ingat betul malam itu—setelah pertengkaran sengit dengan Erica via telepon, dan Nadya yang kebetulan ada di sana, mendengarkan keluhannya dengan sabar."Aku harus melakukan sesuatu," bisik Ricardo pada dirinya sendiri. Tapi tubuhnya terasa lumpuh. Bagaimana mungkin dia bisa menghancurkan lagi semua yang s

  • Aku Pulang, Tapi Bukan Padamu   Bab 21 - Janji di ujung waktu..

    Sejak kepulangan Ricardo ke Kalimantan, hubungan mereka berkembang dalam ritme yang berbeda. Jarak tak lagi menjadi jurang, melainkan jembatan yang menghubungkan dua hati yang sedang belajar percaya lagi. Setiap malam, pukul tujuh tepat, dunia mereka menyatu melalui layar ponsel.Malam itu, wajah Ricardo muncul dengan latar belakang kamar yang berantakan. "Maaf, hari ini lembur sampai sore," ujarnya sambil mengusap wajah yang tampak lelah. Tapi begitu melihat Erica, matanya langsung berbinar."Kamu kurusan," sahut Erica dengan suara lembut."Karena rindu itu berat,sayang. Aku harus angkat beban rindu setiap hari."Mereka tertawa. Percakapan mereka malam itu berlanjut ke topik yang lebih serius. Ricardo membuka dokumen berjudul "Rencana Masa Depan Kita" yang sudah ia siapkan selama seminggu terakhir."Aku sudah hitung-hitung," katanya serius. "Kalau aku kerja lembur dua hari seminggu, dalam enam bulan aku bisa kumpulkan cukup uang untuk DP ruma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status