LOGINMenjelang malam akhirnya mereka telah kembali ke Indonesia. Jenny turun dari pesawat dengan wajahnya yang masih mengantuk berat, padahal sepanjang perjalanan dia sudah tidur sangat nyenyak. Berbeda dengan Xander yang tetap terlihat kesal dan dingin.Meta dan Vero sudah menunggunya di bandara. Begitu melihat sosok Jenny, Meta langsung melangkah maju dengan wajah serius. “Jen, setelah sampai di rumah kita perlu bicara.”Jenny mengerutkan dahinya. “Ada apa, Kak?” tanyanya santai, dan langsung masuk ke dalam kabin mobil.Meta menyamai langkah Jenny, dan berdiri di samping pintu mobil. “Produser reality show-mu menghubungiku.”“Soal?”Meta menghela napas pendek. “Mereka mulai mempertanyakan status pernikahanmu. Sekarang pulang dulu, kita lanjut di rumahmu.” Meta langsung menutup pintu mobil Jenny, dan beralih ke mobil perusahaan.Sepanjang perjalanan pulang, Jenny beberapa kali menguap, lalu sibuk memakan camilan ringan yang khusus disiapkan Vero untuknya. Sementara Xander mulai sibuk meme
Setelah seluruh pekerjaan Xander selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Pagi menjelang siang Jenny, Xander dan Ryan sudah berada di dalam private jet William Group.Pesawat sudah lepas landas. Xander dan Ryan kembali bekerja di dalam pesawat, memeriksa beberapa berkas dan membahas hasil kontrak dengan investor.Sementara Jenny menatap kedua pria itu dengan tatapan sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengerucutkan bibirnya. “Kalian enggak bosan bekerja terus? Aku di sini berasa cuma jadi pajangan.” Tangan Jenny seketika menutup laptop milik Xander.“Lah aku kan memang kesini buat bekerja, bukan buat santai-santai, Sayang,” balas Xander, tangannya kembali membuka layar laptopnya tanpa memperhatikan wajah Jenny.“Xander!” Jenny langsung menarik laptop dari meja Xander, memindahkannya ke meja Ryan. “Emang enggak kerja beberapa jam saja bisa bikin kamu bangkrut kah?! Aku jauh-jauh nyusulin kamu, cuma dianggurin, disuruh lihat kamu kerja terus.”Xan
“Sayang, permintaanmu enggak masuk akal.”Jenny langsung mengerucutkan bibirnya. Kedua tangannya berkacak pinggang. “Kenapa enggak masuk akal? Kamu kan bisa melakukan apapun demi istri dan anakmu.”“Ya enggak mungkin bisa adopsi Koala, kalau kamu mintanya ikan, anjing, hamster atau apapun itu aku bisa usahakan. Kalau koala ya mana mungkin sih?” Xander berusaha menyadarkan logika Jenny yang mula tersesat.“Kamu enggak mau berjuang buat kita berarti.”Xander memijat pelipisnya. Baru beberapa menit matanya terbuka, tapi istrinya sudah mulai mencari masalah yang sangat tidak bisa dinalar. “Aku belikan boneka koala yang banyak.” Xander menyibakkan selimut, berpikir masalah sudah teratasi.“Aku mau yang asli, yang bisa dipeluk.”“Enggak bisa, Jenny Wong.”“Xander!” pekik Jenny tetap tak mau kalah. Ia pun sebenarnya juga tak paham mengapa pagi itu sangat ingin memelihara koala. Sebuah ide yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Pokoknya aku mau koala, titik!”Xander langsung
Begitu tiba di kamar hotel, Jenny langsung menuju ke kamar mandi. Ia membersihkan diri jauh lebih cepat dari biasanya. Tidak sampai setengah jam, Jenny sudah keluar dengan piyama tidurnya.“Xander… aku capek,” rengeknya manja, lalu memeluk pinggang suaminya dari belakang.Xander yang sedang membongkar koper Jenny, langsung berhenti. Ia membalikkan badannya, memeluk Jenny dan mencium keningnya beberapa kali. “Ya udah ayo istirahat sekarang.”“Gendong…” bisik Jenny lirih, sambil menempelkan pipinya ke dada Xander.Xander terkekeh kecil. Dua hari terakhir kamarnya terasa begitu sepi, tetapi malam ini sudah kembali ramai oleh rengekan manja istrinya. Perlahan ia menyelipkan satu tangan ke bawah lutut Jenny dan satu lagi menopang punggungnya, lalu mengangkat istrinya menuju ranjang.Ia merapikan rambut Jenny yang menutupi wajah. “Sayang, kamu kesini bukan karena berita gila itu kan?” tanya Xander demi memastikan kondisi istrinya.“Hah? Bukan lah!” Jenny mengerucutkan bibirnya, menahan kesa
Bandara internasional cukup ramai siang itu.Jenny duduk sendirian di salah satu restoran, mengenakan setelan pakaian sederhana tetapi tetap terlihat mencolok. Kacamata hitam bertengger di atas kepalanya, sementara tangannya sibuk menyendok makanan.“Itu Jenny Wong kan?” bisik seseorang.Beberapa orang di meja mulai ramai berbisik.“Iya.”“Beneran sendirian?”“Iya. Berarti benar dong berita yang beredar. Padahal menikahnya masih barusan.Seseorang diam-diam mengangkat ponsel dan mulai mengambil foto Jenny.Tak lama kemudian, sebuah unggahan muncul di media sosial.“Jenny Wong terlihat sendirian di bandara setelah muncul rumor. Benarkah rumah tangganya dengan pewaris tunggal William Grup bermasalah?”Foto Jenny yang sedang makan langsung menyebar dengan cepat. Komentar pun kembali berdatangan.“Kasihan banget.”“Kayaknya mereka benar-benar pisah.”“Mereka sudah jarang terlihat tampil bersama.”“Jangan-jangan sudah bercerai?!”Sementara orang-orang sibuk membuat kesimpulan sendiri, Jenn
Siang hari di sela-sela pertemuan Xander dengan beberapa investor di Sydney, Ryan berdiri mendekat di sampingnya. Menyodorkan tablet yang menyala di atas meja.Dahi Xander berkerut sangat dalam. Membaca detail setiap narasi yang tersebar.“Jenny Wong Hadiri Award Tanpa Suami.”“Keretakan Rumah Tangga Jenny Wong.”“Xander William Tak Dampingi Sang Istri di Malam Penghargaan.”“Jenny Wong Bercerai?”Narasi demi narasi terus bermunculan. Media Sosial Jenny mulai di banjiri komentar tidak masuk akal.Xander mengepalkan tangannya di atas meja. Rahangnya mengeras seketika. “Cari tahu media mana yang pertama kali membuat berita sampah ini!” geramnya dengan suara terlampau datar.Tatapannya kembali lurus ke depan. Menutup layar tablet di tangannya. Dan kembali melanjutkan pembicaraan bisnis. Meeting kembali berjalan dengan serius. Namun, hatinya terus memikirkan kondisi Jenny.Ia kembali menjeda meeting sesaat, dan beralih kepada asistennya. “Ryan, cari tahu kondisi istri saya sekarang.”Ryan







