Share

Dua Marina

Author: NH. Soetardjo
last update Last Updated: 2023-04-11 10:45:20

"Mas, kamu menginap nanti, ya? Aku ingin melihat wajahmu saat bangun esok hari. Masa iya, kamu mau ninggalin aku gitu aja sendirian di hotel?"

Chat mesra seperti itu ditujukan untuk Mas Zaid, tapi dari seseorang bernama Roy? Apakah aku yang belum mengenal pasangan lebih dalam? Selama ini tak ada tanda-tanda orientasi yang menyimpang dari suamiku. Mas Zaid pun, kutahu adalah pribadi yang paham bagaimana bahayanya kecenderungan menyimpang itu. 

Beberapa saat berpikir keras, kuputuskan untuk menelusuri riwayat pesan-pesan sebelumnya. Mas Zaid sedang tidur ketika handphone itu terus bergetar. Selama ini aku tak pernah dengan sengaja membuka ponselnya. 

Pernikahan ini awalnya bukan karena aku cinta dia. Maka kubangun tiang-tiangnya dengan dasar percaya. Ada Allah yang Maha Tahu, dan cukuplah itu menjadi batasan kami meneguhkan kesetiaan. Tak pernah saling curiga dengan siapa masing-masing menjalin komunikasi.

Semakin jauh menelusuri pesan-pesan itu, aku yakin pengirimnya bukan Roy. Tampaknya itu adalah nomor handphone seorang  wanita yang diberi nama laki-laki di daftar kontak Mas Zaid. Mungkinkah suamiku berbuat khianat? 

Kemana cinta yang demikian sering dia sanjungkan untukku? Mungkinkah rasa itu begitu cepat pudar, saat aku bahkan sudah berhasil mencintainya? Lupakah dia dengan kalimat-kalimatnya yang sering membuatku merasa di atas awan?

"Aku tahu, kamu belum mencintaiku, Zee. Namun, melihatmu pergi adalah hal terakhir yang kuinginkan dalam hidup."

Kalimat seperti itu tidak sekali dua dia katakan padaku. Mengapa kini ada orang lain yang juga mendapat kiriman kalimat senada? Tanganku tak berhenti. Terus menelusuri hingga tanggal di mana mereka pertama kali berkomunikasi. 

Mas, ini nomorku. Save, ya ....

Wanita itu menambahkan emotikon cium di akhir pesannya. 

Siap, Sayang.

Hebat. Baru pertama berbalas pesan, Mas Zaid sudah memanggil sayang. Sementara padaku, baru di malam pertama pernikahan dia mengucapkannya.

Kulihat profil wanita itu. Foto sebuah rumah dengan desain minimalis. Tampaknya baru saja selesai dibangun. 

Beberapa chat berikutnya kulihat mereka sepakat untuk bertemu. Seringnya di sebuah resto yang tak jauh dari lokasi butik milikku. Berani sekali Mas Zaid, kencan dengan perempuan lain di tempat yang masih besar peluangnya untuk kutemukan. 

Aku masih terus membaca pesan-pesan itu. Mataku ternoda karena harus membaca barisan kalimat yang semakin lama semakin menjijikkan. Mas Zaid menyanjung wanita itu, bahkan kadang disertai dengan kata-kata vulgar.

Kamu tadi seger banget, Sayang. Mas nggak kuat. Rasanya pengen peluk.

Kenapa nggak bilang? Kalau tahu, kan kupeluk duluan.

Emang boleh?

Boleh banget. Kan semuanya milikmu, Mas.

Sungguh? Besok ketemu lagi ya? Kujemput di butik aja gimana? Kamu pegang kuncinya, kan?

Sesaat aku membeku. Butik? Jadi, wanita itu bekerja di butik. Apakah dia salah satu karyawanku? 

Tidak. Aku tak boleh gegabah. Kuputuskan untuk mengekspor seluruh percakapan mereka lewat email. Aku tak mau ambil resiko ketahuan oleh Mas Zaid saat sedang membaca seluruh chat itu. 

Dalam waktu singkat, seluruh percakapan mereka terkirim via email. Segera kubersihkan jejak. Menghapus email itu dari kolom sent dan juga trash agar Mas Zaid tak menyadari aku telah memakai email-nya.

Keesokan harinya, kuputuskan membaca semua pesan mereka. Mencari waktu luang saat di butik. Sempat kuperhatikan juga seluruh karyawan hari itu. Meneliti gerak-gerik mereka. Tak ada yang mencurigakan. 

Karyawanku ada tiga orang. Rina, perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu belum lama bekerja padaku. Wajahnya biasa saja. Tak ada hal menarik darinya yang kupikir akan membuat Mas Zaid berpaling.

Yang kedua Ana. Dia cantik, tinggi, putih dan langsing. Tak mungkin wanita itu main api dengan Mas Zaid. Suami Ana jauh lebih tampan dari suamiku. Badannya juga atletis. Jauh lebih kekar. 

Tunggu ....

Bukankah selingkuh bisa saja bukan karena penampilan? Walau kalah dari sisi wajah dan tubuh, Mas Zaid punya kocek yang jauh lebih tebal. Suami Ana tidak bekerja. Bahkan perempuan itu pernah berkelakar padaku.

"Suami saya mah kerjaannya ternak teri, Bu."

"Ternak teri? Maksudnya?"

"Ya, ternak teri, Bu. Anter anak anter istri."

Aku dan beberapa karyawan tertawa.

Mungkinkah Ana menggoda Mas Zaid karena tergiur harta? Tak mungkin. Kulihat dia sangat saliha. Sering terlihat salat duha di butik. Jika tak sedang banyak pekerjaan, dia sering membaca Alquran sambil duduk lesehan di sudut yang nyaman. Perempuan itu juga ikut lembaga bimbingan tahfidz Al Qur'an di dekat rumahnya.

Karyawanku yang ketiga adalah Asih. Dia yang paling lama bekerja di butik. Lebih tua dua tahun dariku. Itu sebabnya dia lebih sering disapa Mbak Asih. Posisinya juga sangat penting. Saat ini menjadi tangan kananku untuk mengurus butik.

Wajahnya termasuk rata-rata perempuan. Kulitnya pun lebih gelap dariku. Namun, dia unggul dalam hal lainnya. Dengan bibir yang pernah disulam, Mbak Asih tampak selalu seksi menurutku. Perempuan itu juga memiliki julukan dada semangka, karena payudaranya yang berukuran  di atas rata-rata. 

Tiba-tiba aku merasa tak percaya diri. Mungkinkah Mas Zaid tergoda karena dua hal yang tak kumiliki itu? Apalagi Mbak Asih sudah bercerai dari suaminya dan belum pernah melahirkan. Tubuhnya pasti masih sangat bagus. 

Aku tak boleh berburuk sangka. Belum ada bukti yang menunjukkan Mbak Asih bersalah. Namun, ada yang aneh saat tadi kami bertemu. Dia tak seramah biasanya. Senyum perempuan itu pun tak sampai menyentuh mata. Terlihat dipaksakan. 

Segera aku mengunci pintu ruang kerja. Mengatakan pada semua karyawan agar jangan mengganggu untuk satu jam ke depan. Akan kubaca tuntas chat mereka berdua. Jika benar Mas Zaid selingkuh, biarlah dia pergi. Akan kucari bahagia bersama Ziva dan Zelda saja. 

Duduk bersandar, kubuka email di laptop. Pesan-pesan mereka sudah masuk semua. Juga media berupa stiker, foto, dan video. Tak ada yang kulewatkan. 

Kini mataku menjelajahi ribuan chat itu. Membaca dengan dada bergemuruh. Ada banyak kalimat tak senonoh yang mereka tuliskan. Mulai dari pujian atas sikap satu sama lain, sampai hal fisik yang cenderung menggoda. 

Hampir tiga puluh menit, aku masih belum menemukan identitas perempuan laknat itu. Sampai mataku tiba-tiba nanar melihat pesan berikutnya. 

Mas di mana? Aku dah capek nunggu, nih.

Balasannya dikirim lima menit kemudian oleh Mas Zaid. 

Marina sayangku ... sabar ya. Lima menit lagi Mas sampai. 

Dadaku sesak. Keringat mulai membasahi bajuku. 

Marina? Kerja di butik? Marina yang mana? Nama lengkap karyawanku memang ada yang hampir sama. Rina Marina dan Asih Marina. Entah kenapa dua orang Marina bisa kerja di tempat yang sama.

Kucoba menguatkan hati untuk membaca pesan-pesan selanjutnya. Ternyata hati ini masih sanggup menyusuri kalimat-kalimat nista itu dengan detail. Tak kulewatkan satu huruf pun. Sampai kudapati fakta bahwa mereka sudah beberapa kali check in di hotel. Anehnya, tempat yang dipilih hampir semua masih belum jauh dari butik milikku. 

Ternyata mereka sebobrok itu. Sudah tak sanggup menahan nafsunya, hingga mencari tempat terdekat untuk segera dapat menyalurkan hasrat terlarang. Aku sudah tak bisa memaafkanmu, Mas. Keputusanku untuk bercerai bulat sudah. 

Laki-laki itu telah jelas berkhianat. Siapa pun yang menggoda, tak akan membuat hubungan mereka terjalin jika Mas Zaid tak merespon. Walau perempuan itu bertubuh aduhai macam Asih sekalipun.

Ah, kenapa dugaanku terus tertuju padanya?

Kubaca chat berikutnya. Lima menit kemudian jantungku seakan berhenti berdetak. Perempuan bernama Marina itu mengirimkan video pendek dengan pesan dibawahnya. 

Untuk kenang-kenangan kita ya, Mas. 

Aku tahu kini, siapa perempuan itu. Wajahnya jelas terlihat di video berdurasi dua puluh lima detik itu. 

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Tanpa Cintamu   Ratu di Istanamu

    "Hah, kamu pikir akan berhasil? Mereka anak-anak kandungku. Sudah sepantasnya anak tinggal bersama ayah kandungnya.""Zianka juga ibu kandung mereka jika anda tidak lupa, Bung! Aku akan sediakan pengacara terbaik di negeri ini untuk mempertahankan dia sebagai wali sah untuk Ziva dan Zelda!""Ibu kandung pun pasti akan berkurang perhatiannya ada anak-anaknya jika dia menikah lagi. Kalian akan sibuk berdua saja sebagai pengantin baru, kan? Bukankah artinya lebih baik Ziva dan Zelda bersamaku, ayah kandungnya yang bisa penuh memberikan curahan kasih sayang tanpa terbagi?"Handi seketika tertawa. "Oke. Kita buktikan saja di meja hijau nanti. Kami tunggu tanggal mainnya."Sambungan telepon terputus. Bukan Handi yang melakukannya. Mungkinkah Mas Zaid gentar?"Kamu yakin tentang itu, Han?""Tentu. Seperti halnya kamu, Ziva dan Zelda adalah mutiara yang harus dipertahankan. Aku nggak bisa tanpa kalian bertiga, Sayang."Kembali Handi merengkuhku dalam pelukannya. Lelaki ini, yang cintaku mulai

  • Aku Tanpa Cintamu   Papa Muda

    "Pokoknya kamu ke sini aja cepetan.""I-iya, Bu."Tiba-tiba jantungku bertalu. Kedua tangan gemetar. Pikiranku campur aduk dan tidak tahu harus melakukan apa.Kuputuskan untuk menepi. Menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Tidak. Aku harus kuat dengan skenario apa pun yang telah disiapkan-Nya. Dengan mengucap basmallah lalu kembali merapal doa bepergian, kutekan pedal gas perlahan. Allah tidak akan memberi hamba-Nya cobaan yang tak akan sanggup ditahan bukan?Sambil terus beristighfar, aku mencoba fokus pada lalu lintas di depan. Namun, bayangan Handi di kepala membuat hatiku benar-benar kacau. Hingga aku selamat sampai di tempat parkir rumah sakit, itu pastilah hanya karena Tuhan yang menjaga. Aroma obat yang berpadu dengan desinfektan untuk lantai segera menerpa indera penciumanku begitu masuk lobi. Setengah berlari aku berusaha mencapai lift. Untung saja sepi, hingga tak harus antri.Dengan napas yang terengah, aku berhasil mencapai ruangan tempat Handi dirawat. Perlahan ku

  • Aku Tanpa Cintamu   Mungkinkah

    Keheningan menyergap kami, termasuk Ziva dan Zelda. Dua kakak beradik itu hanya menatap ke Mas Zaid dan aku bergantian beberapa kali. Tidak. Suasana ini tidak boleh terlalu lama. Aku harus mencairkannya. "Ziva, Zelda, salim dulu sama Ayah, dong. Lupa, ya?"Dengan enggan kedua bocah kecil itu beranjak dari atas tempat tidur dan melangkah ke arah Mas Zaid. Pada dasarnya aku pun tak menginginkan ada jarak antara ayah dan anak-anaknya. Namun, frekuensi pertemuan yang semakin berkurang, membuat Ziva dan Zelda jarang bertanya tentang kehadiran ayahnya. Ada kabut tipis di mata Mas Zaid yang sempat kutangkap sebelum pandangannya beralih pada anak-anak. "Kalian udah makan belum? Ayah bawa donat cantik. Mau?"Ziva dan Zelda saling pandang, lalu beralih padaku. Dengan cepat kuberi anggukan kepala pada mereka. "Zelda mau digendong Ayah?"Aku berdebar menunggu jawaban gadis kecil itu. Detik berikutnya kepala Zelda mengangguk ragu. Ah, untung saja. Aku benar-benar tidak ingin Mas Zaid mengira p

  • Aku Tanpa Cintamu   Malam Pertama

    Bagai mendapat kekuatan penuh, aku bangkit dan setengah berlari menghampiri lelaki yang masih mengenakan pakaian operasi itu. Ibu menyusulku dengan langkah yang tak kalah tergesa. Di belakangnya ada Ibu Andini dengan gurat penuh harap di wajah."Bagaimana keadaan Handi, Dok?"Lelaki yang kutaksir usianya belum mencapai lima puluh tahun itu tersenyum. Dalam hati aku masih merapal doa yang egois, agar Tuhan tak mengambil Handi dari kami. Orang-orang yang mencintainya. "Alhamdulillah, Pak Handi sudah melewati masa kritisnya. Namun, untuk saat ini kesadarannya belum pulih dan butuh waktu agak lebih banyak. Jadi, saya harap semuanya bersabar dan berikan doa yang terbaik untuknya."Seketika kepalaku berdenyut. Kedua kakiku lemas tak bertenaga, seakan tak sanggup menahan beban tubuh. Apa maksud ucapan dokter tadi? Perlahan aku merosot ke lantai dan bersimpuh tanpa peduli apapun. Samar masih kudengar dokter bertanya tentang siapa saja anggota keluarga Handi. Tentu saja Bu Andini yang mengac

  • Aku Tanpa Cintamu   Bertahanlah Untukku

    "Kalian bersenang-senang di atas deritaku. Saatnya aku melakukan pembalasan.Handi bangkit dari duduknya, dan bergerak perlahan ke arah perempuan itu."Asih, tenanglah. Kamu jangan emosi. Yang ada di sini semuanya adalah keluargamu. Please, taruh pistolmu dan kita bicarakan baik-baik. "Tidak! Sudah saatnya kamu dan ibumu membayar semuanya, Han."Ibu Andini tak jadi memasangkan kalung berlian di tangannya pada leherku. Ia memberikan benda itu pada perempuan di sebelah kirinya. Wanita berusia lima puluh lima tahun itu kemudian melangkah ke arah Asih, tapi kemudian berhenti saat pistol diarahkan padanya. "Apa yang inginkan dariku dan Handi?"Asih tertawa terbahak. Suaranya terdengar mengerikan."Aku menginginkan kebahagiaan yang telah kalian rebut. Satu-satunya orang terakhir yang bisa membahagiakan aku juga direnggut. Bahkan saat aku sudah mulai mendapatkannya dari suami, kalian pengaruhi dia untuk melakukan tes DNA. Semuanya jahat padaku."Aku tak bisa menahan diri untuk tidak bicara

  • Aku Tanpa Cintamu   Kubuat Kau Tersiksa

    Ruangan yang awalnya hening, mulai bergemuruh dengan suara pengunjung. Mereka menyemangatiku untuk menerima lamaran Handi. Tidak bisa terbayangkan lagi bagaimana rona wajahku saat ini. Tak mungkin juga aku membiarkan lelaki itu terus berlutut. Akhirnya perlahan aku mengangguk. "Terima kasih, Zee."Handi berdiri lalu meraih tangan kiriku. Ia menyematkan berlian seharga dua ratus dua puluh satu juta itu di jari manisku. Detik berikutnya Handi mengecup punggung tanganku dan langsung disambut tepuk tangan seluruh yang hadir. Lelaki itu kemudian berkata lirih. "Aku akan segera siapkan acara lamaran resmi ke rumahmu.""Han, nggak harus secepat itu.""Kalau memungkinkan, bahkan aku ingin menikahimu saat ini juga.""Ih, apaan, sih?"Handi tertawa, tepat saat itu beberapa orang wartawan mendekat ke arah kami. Mereka bertanya banyak hal, mulai dari acara lelang kali ini, bisnisku, hingga lamaran Handi barusan. Aku hanya menjawab seperlunya, demikian pula Handi. Sementara di atas panggung pemb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status