Share

bab 2

Author: Rvn
last update Last Updated: 2025-09-18 21:16:14

Setengah jam.

Hanya permintaan sederhana.

Namun nada tegas Alea tadi, mata yang berkilat penuh amarah bercampur ketakutan

menyisakan sesuatu dalam dirinya.

Ia melirik Alea sekilas. Gadis itu kini duduk dengan punggung tegak, seolah menahan napas, menunggu waktu berjalan lebih cepat. Jari-jarinya meremas ujung gaunnya, gemetar halus, tapi wajahnya dipaksa tetap datar.

Keenan mendengus pelan.

"aneh" gumamnya hampir tak terdengar.

Alea menoleh cepat. "Apa?"

Keenan menatapnya lurus.

"Kau. Biasanya diam saja, tapi tiba-tiba berani melempar sepatu dan memerintahku seperti seorang majikan. Apa kau lupa siapa aku?"

Alea menahan tatapannya, tak mau terlihat gentar.

"Kalau aku diam terus, aku yang hancur. Jadi… untuk sekali ini saja, biarkan aku memerintah."

Kalimat itu membuat Keenan terdiam sejenak. Ada kejujuran pahit di dalamnya, sesuatu yang jarang ia dengar dari orang-orang di sekelilingnya apalagi dari seorang wanita yang dipaksa menjadi tunangannya.

Hening merayap di antara mereka. Jam berdentang pelan, menandai menit yang terus berjalan.

Dan untuk alasan yang bahkan ia sendiri tidak pahami, Keenan tetap duduk di sana.

"Dengar ya, aku juga tidak menginginkan pertunangan ini, kamu bukan pangeran yang harus aku perjuangkan tidak semua wanita menginginkan kamu" ucap Alea lebih berani.

"Bohong, aku tahu kamu menyukaiku"

Alea tertawa, memang benar Alea asli menyukai Keenan, tapi dia bukan alea.

"Mungkin dulu iya tapi sekarang engga, setelah melihat kelakuanmu yang tidak bisa menghargai orang itu, maap kamu bukan. Tipe ku" ucap Alea.

Keenan terdiam, matanya menyipit menatap Alea seolah mencoba membaca kebohongan di balik ucapannya.

Tak biasanya ia mendengar kalimat seperti itu apalagi dari gadis yang selama ini selalu terlihat menunduk, patuh, dan diam.

"Bukan tipemu?" Keenan mengulang dengan suara rendah, ada nada meremehkan di sana.

"Iya tipe ku itu pria yang hangat, tampan, dewasa, pintar, sopan, dia selalu memperlakukan pasangannya dengan lembut"

"Sudah cukup jangan bikin aku muntah"

Alea mendengus kesal. Bibirnya melengkung sinis.

"Lucu sekali. Semua wanita di sekitarku berusaha keras mendapatkan perhatian ini, bahkan rela menjatuhkan harga diri mereka. Dan kau… menolaknya begitu saja?"

Alea menyilangkan tangan di depan dada, menatap Keenan tanpa gentar.

"Ya. Karena perhatianmu tidak seberharga itu."

Keenan terkekeh pelan, namun tawa itu tidak terdengar menyenangkan. Lebih mirip ejekan.

"Keberanianmu semakin hari semakin aneh, Alea. Kau yakin bisa bertahan dengan sikap seperti ini?"

Alea membalas tatapannya, kali ini dengan senyum tipis yang lebih menusuk. "Aku sudah cukup lama bertahan dengan diam. Sekarang, aku akan bertahan dengan caraku sendiri. Kalau kau tak suka, itu urusanmu."

Sejenak, keheningan menguasai ruangan. Aura dingin Keenan beradu dengan keteguhan baru Alea.

Keenan akhirnya menghela napas, menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Terserah kau. Anggap saja aku menunggu hanya untuk melihat sampai sejauh mana keberanianmu bisa berjalan."

Alea menahan senyum kecil. Ia tahu Keenan tidak percaya sepenuhnya. Tapi satu hal jelas ia berhasil membuat pria itu duduk, bertahan, dan mendengarnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk awal.

Keenan menatap tajam ke arah Alea, begitupun Alea yang sudah tidak berpura pura dan menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap Keenan.

"Matamu mau keluar tuh jelek" ucap Keenan.

"Biarin aja, biar keluar sekalian" ucap alea

Keenan tertegun sepersekian detik, tidak menyangka Alea membalas dengan enteng begitu saja. Biasanya gadis itu akan terdiam, menunduk, atau paling jauh hanya menggigit bibirnya. Tapi sekarang? Ia bahkan berani menantangnya dengan wajah santai.

Keenan menyandarkan punggungnya, bibirnya melengkung tipis membentuk senyum dingin. "Kau benar-benar sudah gila, Alea."

Alea mengangkat dagunya sedikit, matanya tidak berkedip menatap pria itu.

"Kalau itu membuatmu tidak nyaman, anggap saja iya. Aku gila. Gila karena harus terus berurusan denganmu."

Keenan mendecak pelan.

"Mulutmu semakin tajam. Hati-hati, Alea. Aku bisa membuatmu menyesali setiap kata yang keluar darinya."

Alea justru tertawa pendek, getir tapi penuh tantangan.

"Silakan coba. Aku sudah terlalu sering menyesal, satu lagi tidak akan membuatku mati."

Keheningan kembali memenuhi ruangan, namun kali ini bukan lagi hening yang canggung. Ada percikan tegang yang menggantung di udara, seperti dua bilah pedang yang baru saja beradu.

Untuk pertama kalinya, Keenan menyadari sesuatu, Alea yang duduk di hadapannya bukanlah gadis pendiam yang bisa dengan mudah diinjak. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang bisa menimbulkan masalah… atau justru menariknya lebih jauh tanpa ia sadari.

setelah sekian lama akhirnya Keenan bangkit di susul dengan Alea, mereka keluar ruangan di awali Keenan dan di ikuti Alea di belakang, ibu dari Alea menyambut mereka berdua.

"ya ampun sayang bangaimana ngobrol ngobrolnya?

"menyenangkan, terimakasih atas waktunya Alea"

Alea sempat terdiam mendengar jawaban Keenan yang jelas-jelas penuh sindiran, tapi ia bisa melihat sekilas perubahan samar di wajah pria itu. Bukan wajah yang benar-benar menikmati pertemuan ini, melainkan sesuatu yang nyaris… menahan diri.

Ibunya tersenyum lebar, tidak menyadari ketegangan yang masih menggantung.

"Syukurlah kalau begitu. Aku benar-benar berharap kalian bisa saling mengenal lebih dekat."

Keenan menoleh sekilas ke arah Alea, lalu kembali pada sang ibu sambil menampilkan senyum tipis yang begitu formal, seolah sedang berhadapan dengan tamu bisnis.

"Tenang saja, tante. Saya sudah mengenal Alea lebih baik dari yang saya kira."

Alea menelan ludah, hampir saja menyahut, tapi ia memilih untuk diam. Kalimat itu terdengar sederhana, namun caranya mengucapkan membuat jantungnya berdebar.

Ibunya tertawa kecil, puas, lalu menepuk punggung tangan Alea.

"Nah, Nak. Kau dengar sendiri kan? Pelan-pelan juga tidak masalah. Yang penting ada awalnya." ucapnya sepertinya seorang ibu yang penuh kasih sayang.

Alea tersenyum kecil.

Keenan melirik lagi, kali ini tatapan dinginnya menyapu wajah Alea sekilas. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan di sana, bukan sekadar ejekan, melainkan ketertarikan samar yang bahkan ia sendiri tampaknya enggan akui.

"Permisi, saya pamit dulu. Ada urusan yang harus saya selesaikan."

Keenan membungkuk singkat penuh sopan, berbeda sekali dengan sikapnya di dalam ruangan tadi.

Ibunya Alea mengangguk cepat. "Tentu saja, hati-hati di jalan."

Keenan melangkah pergi tanpa menunggu lebih lama. Alea mengikutinya dengan pandangan, perasaan campur aduk bergemuruh dalam dadanya. Antara lega, bingung, dan sedikit kesal karena pria itu selalu meninggalkan sesuatu yang tak terselesaikan.

Saat pintu depan tertutup di belakangnya, ibunya mendesah pelan.

"bagus pertahankan, seperti itu terus." ucap ibunya menatap tajam ke arah Alea.

Alea hanya mengangguk.

Tak lama senyum samarpun terlintas di wajah ibunya.

"yang lain sudah menunggu di meja makan, ayo" ajak ibunya yang lebih seperti perintah.

tanpa banyak bicara Alea melangkah mengikuti ibunya di belakang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku bukan Alea   tanggung jawab atau keinginanmu?

    "Alea, soal permintaanmu untuk mendapatkan perlindungan dari keluarga kami… apakah itu masih berlaku?" tanya Keenan pelan. "Tentu saja," jawab Alea tanpa ragu. Keenan terdiam sejenak. "Kalau begitu, apa itu berarti suatu hari nanti kamu akan pergi?" Alea tersenyum tipis, pahit. "Bukankah sejak awal aku memang harus pergi?" Keenan buru buru menggeleng. "Bukan, maksudku… kalau kamu ingin tinggal, itu juga tidak masalah" Alea menatap Keenan. Sorot matanya lembut, namun ada kelelahan yang tak bisa ia sembunyikan. "Kamu bilang begitu karena rasa tanggung jawab, atau karena kamu benar benar menginginkannya?" tanyanya pelan. Keenan terdiam. Rahangnya mengeras, pandangannya menjauh sejenak sebelum kembali pada Alea. "Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak aku inginkan" Hening menyelimuti mereka. Angin sore berembus pelan, menggerakkan dedaunan di halaman belakang rumah sakit. "Aku tidak ingin menjadi beban" ucap Alea akhirnya. "Kamu bukan beban" sahut Keenan ce

  • Aku bukan Alea   Aku akan berusaha, tapi kamu meremehkanku!!!

    Alea terdiam sendirian di ruang tunggu pasien. Tatapannya kosong, jemarinya saling menggenggam erat hingga memutih. Hingga akhirnya, langkah kaki berhenti di hadapannya. "Aku tidak menyangka kamu bisa sampai sejauh ini, Alea," ucap Dava tenang. Alea mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya bergetar, namun suaranya terdengar jelas. "Kenapa kakak melakukan itu pada Kak Raihan?" Dava terdiam sejenak. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Melakukan apa?" tanyanya santai. "Kamu menuduh kakak?" "Obat yang dikonsumsi Kak Raihan…" suara Alea tercekat, "itu dari kakak, kan?" Dava menyandarkan punggungnya ke dinding, seolah tak merasa bersalah sedikit pun. "Kakak memang memberinya obat, Dia sendiri yang bilang sering sakit kepala," jawabnya ringan. "Tapi kakak tidak pernah menyuruhnya minum terus menerus" Alea kehilangan kata kata. Dadanya terasa sesak. "Jadi," lanjut Dava dingin, "kalau dia sampai seperti itu, itu kesalahannya sendiri" Ia menatap Alea tanpa empa

  • Aku bukan Alea   Retak di keluarga marvelle

    Alea memegang pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan itu. Matanya menatap Nyonya Marvelle lurus, tanpa gentar. "Berani sekali kamu menatap mama seperti itu" hardik Nyonya Marvelle tajam. "Mentang mentang di belakangmu ada keluarga Alvarez, kamu jadi berani sama mama?" Alea tersenyum pahit. "Bukankah mama sendiri yang sudah menjualku pada mereka?" suaranya bergetar, namun tegas. "Lalu untuk apa lagi aku menghormati mama?" "Kurang ajar!" bentak Nyonya Marvelle. Alea menghela napas, menahan sesak di dadanya. "Dari pada mama capek capek menghabiskan tenaga pada aku," ucapnya pelan namun menusuk, "lebih baik mama berdoa untuk kesembuhan Kak Raihan" Nyonya Marvelle terdiam. Pandangannya perlahan beralih ke arah ruang ICU, tempat Raihan sedang ditangani. "Seharusnya mama lebih memperhatikan Kak Raihan," lanjut Alea. "Jangan hanya memikirkan perusahaan saja" nyonya marvelle terdiam dia menatap ruang ICU tempat Raihan sedang di tangani. Nyonya Marvelle mengepa

  • Aku bukan Alea   Apartement raihan

    Alea berdiri di depan rumah keluarga Marvelle. Keraguan jelas terpancar di wajahnya, langkahnya tertahan cukup lama di depan gerbang megah itu. Setelah menimbang nimbang beberapa saat, ia akhirnya menguatkan diri dan melangkah masuk. Satpam yang sudah mengenali Alea tidak menghalanginya. Ia justru membuka gerbang dan mempersilahkannya dengan sopan. Begitu masuk, Alea menghampiri salah satu pembantu rumah tangga yang sedang melintas. "Maaf, Kak Raihan ada?” tanya Alea pelan. Pembantu itu menggeleng. "Den Raihan sudah lama nggak pulang, Non Alea. Katanya beliau sekarang tinggal di apartemennya" Alea tercekat mendengar jawaban itu. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tanpa banyak bertanya lagi, Alea berpamitan dan segera meninggalkan rumah keluarga Marvelle. Di dalam perjalanan menuju apartemen Raihan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Sejak beberapa hari terakhir, Raihan memang sulit dihubungi. Pesan pesannya jarang dibalas, teleponnya sering ta

  • Aku bukan Alea   Tak pantas, Katanya!

    Luna melambaikan tangan begitu matanya menangkap sosok Nolan. Senyum lebar langsung terbit di wajahnya. Nolan pun membalas lambaian itu, tampak sama antusiasnya. "Udah lama nunggu?" tanya Luna sambil menghampirinya. "Baru sampai juga," jawab Nolan ringan. Luna menoleh ke sekeliling. "Kita mau ke mana?" "Cari makan aja, yuk," ajak Luna ceria. Nolan mengangguk. "Ayo. Mau makan apa?" "Yang paling enak, pokoknya," ucap Luna sambil tertawa kecil. Nolan tersenyum tipis, lalu mengajak Luna berjalan berdampingan menuju area parkir. Langkah mereka pelan, seolah tak terburu oleh waktu. "Kalau yang paling enak itu relatif," ujar Nolan sambil melirik Luna. "Tergantung makannya sama siapa" Luna menoleh, sedikit terkejut, lalu terkekeh. "Berarti hari ini harusnya enak, dong" Nolan tak langsung menjawab. Ia membuka pintu mobil untuk Luna, gestur sederhana yang membuat Luna tersenyum lebih lama dari seharusnya. Di dalam mobil, suasana hening sesaat, namun bukan hening yang cangg

  • Aku bukan Alea   Kemana kakak ku yang baik hati

    *** Alea, Clarissa, dan Nayla berjalan menyusuri pusat perbelanjaan. Namun sejak tadi, langkah mereka terasa kaku. Keenan dan Raiden terus mengikuti dari belakang, membuat suasana menjadi canggung. Sesekali Alea menoleh ke belakang. Tatapannya bertemu dengan Keenan yang langsung menghentikan langkahnya, tampak salah tingkah sebelum pura pura melihat ke arah lain. Beberapa saat kemudian, mereka kembali berjalan. Keheningan itu akhirnya pecah oleh bisikan Clarissa. "Kenapa sih mereka ngikutin kita?" bisiknya, nadanya kesal bercampur bingung. "Aku juga nggak tahu," jawab Alea pelan, tanpa menoleh lagi. Di belakang mereka berhenti mendadak. "Keenan, kita ngapain si?" bisiknya pelan sambil mencondongkan badan ke arah Keenan. Keenan terbatuk kecil, wajahnya sedikit memerah. "Ya… ngikutin aja?" "Ngikutin ke mana?" Raiden menggaruk tengkuknya sendiri. "gak tau, ikut mereka aja" ucap Keenan. "lu sadar gak kita gak di harapkan" ucap Raiden. keenan menunduk, menghindar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status