LOGIN***
Saat makan malam, suasana terasa sunyi. Keluarga angkatku terdiri dari empat orang: ayah, ibu, dan dua kakak laki-laki angkat. Kakak pertamaku sangat dingin, meskipun masih memperlakukanku dengan baik. Tapi entah kenapa, walau ia tak pernah menyakitiku secara langsung, aku selalu merasa takut saat berada di dekatnya. Ada aura berbeda darinya seperti iblis yang menyamar dalam wujud manusia yang rapi. Kehadirannya membuatku tidak nyaman, seolah ada sesuatu yang disembunyikan di balik tatapan dinginnya. Berbeda dengan kakak keduaku. Dia sangat nakal dan cerewet, suka menjahiliku hampir setiap hari. Tapi anehnya, aku justru merasa lebih tenang bersamanya. Aku tidak setakut itu padanya. Bahkan, di antara semua anggota keluarga ini, aku justru lebih mempercayai dia. Saat makan malam masih berlanjut dalam keheningan yang canggung, suara sendok beradu pelan dengan piring porselen menjadi satu-satunya yang terdengar. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang saling menatap. Hanya kesunyian yang menggantung berat di udara, membuat napasku sendiri terasa terlalu keras. Sampai akhirnya, kakak keduaku Reyha menghela napas panjang, lalu meletakkan garpunya dengan suara yang cukup keras untuk memecah keheningan. "Serius deh, makan malam di rumah ini selalu kayak pemakaman" gumamnya sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Nggak ada yang mau cerita kek, nanya kabar kek, ketawa dikit kek… apa susahnya sih jadi manusia normal?" Ibu menatapnya tajam. "Reyhan, sikapmu" "Apa? Aku cuma bilang kenyataan," jawabnya santai. "Lihat deh, Ayah sibuk dengan pikirannya sendiri, Kak Dava kayak patung es, Ibu diem-diem ngebatin, dan Alea…" pandangannya menoleh padaku, "seolah-olah takut semua orang mau nelen dia hidup-hidup" Aku tersentak kecil. Tidak tahu harus membela diri atau justru menghindari perhatian. Tapi sebelum aku bisa menjawab, Dava kakak pertamaku meletakkan sendoknya dengan gerakan pelan tapi tegas. "Kalau kau butuh keramaian, Reyhan" ucapnya dingin tanpa menoleh, "pergi makan di luar saja. Tidak ada yang memaksamu duduk di sini" Reyhan mendengus, tapi tidak membalas. *** Malam itu, saat semua sudah kembali ke kamar masing-masing, aku duduk di tepi ranjang sambil menatap langit-langit kamar yang luas tapi dingin. Cahaya lampu gantung mewah menerangi setiap sudut ruangan, tapi tak ada kehangatan di sana. Semuanya terasa palsu. Seperti teater megah tanpa penonton. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu. Aku berdiri dengan waspada, lalu membukanya sedikit. Reyhan berdiri di sana sambil mengangkat satu kantong plastik kecil. "Bubur ayam" katanya singkat. "Tadi lihat kamu gak makan banyak" Aku menatapnya dengan bingung. "Kamu... beli ini untukku?" "Enggak, buat burung tetangga. Ya buat kamu lah" Ia mendorong kantong itu ke arahku. "Udah makan. Daripada nanti pingsan dan aku harus gendong kamu kayak di drama Korea." Aku tidak bisa menahan tawa kecilku. Entah kenapa, untuk pertama kalinya hari ini, aku merasa... hidup. "Makasih,"kataku pelan. Dia mengangguk, lalu berbalik pergi, tapi sebelum benar-benar menjauh, dia berkata tanpa menoleh, "Kamu tahu, kamu nggak harus terus kelihatan takut sama semuanya. Mereka bukan dewa. Mereka cuma manusia." Aku mematung di depan pintu, menggenggam kantong bubur itu erat-erat. Mereka cuma manusia. Tapi di dunia ini, manusia bisa lebih kejam daripada tokoh jahat dalam cerita. Dan aku harus mencari caraku sendiri untuk bertahan. Bukan sebagai Alea. Tapi sebagai Airin. Yang tidak akan tinggal diam menunggu dibuang. Dan aku hanya menunduk dalam diam. Selama ini, Reyhan tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Tentang bagaimana keluarga ini memperlakukanku bukan sebagai manusia, tapi sebagai barang dagangan. Tentang malam-malam penuh luka di ruang bawah tanah, saat tubuhku dipaksa tunduk, bukan dengan kata-kata, tapi dengan kekerasan. Tentang jeruji besi dan cambuk yang menjadi temanku, hanya karena aku menolak perintah mereka, hanya karena aku mencoba menjadi diriku sendiri. Yang tahu... hanya Dava. Dava, kakak pertamaku. Pria dingin yang selalu kulihat sebagai bayangan gelap di rumah ini. Diam, rapi, tak pernah berteriak tapi setiap tatapannya seperti pisau yang menelanjangiku hingga ke tulang. Saat mereka menyeretku ke ruang bawah tanah waktu itu, aku menjerit, berusaha melepas genggaman kasar tangan-tangan itu. Kupanggil namanya. "Kak Dava! Tolong aku... tolong!!” Aku tahu dia mendengar. Dia berdiri di ujung tangga batu, menatap ke arahku dari kegelapan. Tatapannya dingin, tidak terganggu sedikit pun oleh tangisku. Tapi dia tidak melakukan apa-apa. Tidak satu langkah pun ia gerakkan untuk menghentikan mereka. Aku terus berteriak, berharap ada celah dalam hatinya bahkan seujung kuku pun yang akan tergerak melihatku seperti itu. Tapi yang kuterima hanya diam. Dan setelah itu, jeruji besi dan cambuk menyambutku. Hari-hari setelahnya, aku menghindari menatap matanya. Bukan karena takut, tapi karena aku tahu aku akan kembali mengingat malam itu. Mengingat bahwa dia, satu-satunya orang yang punya kuasa menghentikan semua itu... memilih untuk membiarkanku menderita. *** Tapi Reyhan... dia berbeda. Meskipun cerewet, meskipun sering menjahiliku, dia tidak pernah menyakitiku. Bahkan kadang tanpa sadar, dia memperlakukanku seperti manusia. Seperti seseorang yang patut dihargai. Tapi dia tidak tahu apa pun. Mungkin karena mereka menyembunyikannya darinya. Atau mungkin karena dia terlalu sibuk hidup dalam dunianya sendiri untuk melihat penderitaanku yang ditutupi senyum palsu. Tapi berapa lama lagi? Berapa lama lagi aku bisa berpura-pura menjadi Alea yang baik, yang patuh, yang diam? Berapa lama lagi aku harus menahan luka-luka yang terus dikubur agar tak terlihat? Aku mulai lelah menjadi bayangan. Aku mulai muak jadi boneka. Dan kalau dunia ini tidak memberiku tempat, maka aku akan menciptakan tempatku sendiri. Aku menutup pintu pelan, lalu kembali ke tepi ranjang. Bubur itu masih hangat uapnya mengaburkan sejenak pikiranku. Aku menyendok sedikit, mencicipi. Rasa hangatnya seperti jari yang menyapu malam dingin, kecil, sederhana, tapi menenangkan. Di cermin kamar, aku melihat bayangan tubuh yang pernah kubenci: bekas-bekas luka samar di pergelangan dan pundakku, mataku yang sering berkaca-kaca ketika aku pura-pura tertidur, bibir yang menahan kata-kata pemberontakan. Aku mengangkat satu ruas lengan, mengusap bekas itu dengan ujung jari. Luka itu bukan hanya pada kulit. Ia bertahan di bawahnya di cara aku berjalan, di cara aku menarik napas. Namun ada sesuatu yang berbeda malam ini. Ada tekad yang baru, seperti sesuatu yang mengeras pelan dalam dadaku. "Kamu bukan Alea," kukatakan pada bayangan di cermin, suaraku serak tapi pasti. "Kamu Airin. Ingat itu." Aku tahu, mengubah apa yang orang lain tulis tentangku tidak semudah mengubah nama di atas surat. Mereka adalah pembaca yang kejam; mereka suka ketika tokoh figuran tetap pada perannya. Tapi aku sudah terlalu lama membiarkan naskah itu mengatur tubuh dan pikiranku. Jika dunia ini menuntut aku jadi barang maka aku akan menjadi barang yang berbahaya ketika diremehkan.Di sisi lain rumah Alvarez, langkah Luna terhenti tepat di depan kamar kecil yang selama ini menjadi tempatnya berteduh. Pintu itu masih terbuka. Kasur rapi, Lemari setengah kosong. Seolah rumah itu memang sudah lama bersiap menyingkirkannya. Luna berdiri kaku beberapa detik, lalu perlahan menutup pintu. Bunyi klik terdengar pelan terlalu pelan untuk amarah yang bergejolak di dadanya. Tangannya mengepal. "Tenang, jangan sekarang," bisiknya pada diri sendiri. Ia menunduk, napasnya berat. Dadanya naik turun, bukan karena sedih semata, tapi karena kemarahan yang di paksa untuk di telan mentah mentah. Bertahun tahun. Ia tinggal di rumah ini bukan sebagai tamu, bukan pula sebagai keluarga. Ia bekerja, mengabdi, menyesuaikan diri. Menyingkirkan perasaan, menutup harapan, menerima tatapan orang orang yang selalu setengah curiga. Dan pada akhirnya Ia tetap dianggap orang luar. Luna tertawa kecil, pahit. "Jadi begini caranya," gumamnya. "Begitu ada calon nyonya, aku
"Terserah…" ucap Keenan akhirnya. "Saya mengerti, Nyonya, Besok saya akan membereskan barang barang saya" ujar Luna dengan nada tenang, meski jelas ada luka yang di sembunyikan. "Baguslah kalau kamu bisa memahami, Luna. Saya akui kamu gadis yang gigih dan cerdas, Di masa depan nanti, saya yakin akan membutuhkanmu" kata Nyonya Alvarez. "Terima kasih, Nyonya," balas Luna pelan. Luna bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, Tak lama kemudian, Nyonya Alvarez pun menyusul. "Nikmati waktu kalian, ibu ke kamar dulu" ucapnya sebelum menghilang di balik pintu. Alea dan Keenan mengangguk bersamaan. Beberapa saat setelah Nyonya Alvarez pergi, Alea menatap Keenan dengan raut ragu. "Memangnya tidak apa apa Luna pergi?" tanyanya pelan. "Bukankah dia sudah lama tinggal di sini?" "Tidak apa apa," jawab Keenan singkat. "kenapa malah kamu yang khawatir?" "Lalu, bagaimana dengan mu?"Alea kembali bertanya. "Aku?" Keenan menoleh. "Kamu tidak keberatan?" "Tentu saja tidak, Kami
"kakak... "kakak selalu menghindar terus dengan pergi pergi dari rumah, karna kakak gak bisa berbuat apa apa" "Alea, pergi dari sini, jangan ke sini lagi" *** Alea keluar dari kamar Reyhan dengan langkah pelan. Wajahnya pucat, matanya kosong, seolah pikirannya masih tertinggal di dalam ruangan itu. Baru beberapa langkah ia melangkah, Keenan sudah berdiri di hadapannya. "Kamu baik baik saja?" tanyanya pelan, suaranya penuh kekhawatiran. Alea tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Keenan sesaat, lalu menggeleng tipis. "Ayo, kita pulang," ujar Keenan akhirnya, tak ingin memaksanya bicara. Beberapa menit kemudian, Alea sudah duduk di atas motor Keenan. Mesin baru saja menyala ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Pintu mobil terbuka, dan Dava keluar. Tatapannya tertuju lurus pada Alea, lekat, dingin, dan penuh makna yang tak terucap. Namun tak satu kata pun keluar. Tanpa menyapa, tanpa penjelasan, Dava justru membalikkan badan dan bergegas masuk ke da
Raisa duduk berdua dengan Luna. Sejak tadi, Luna lebih banyak diam, tatapannya kosong seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sikap itu membuat Raisa merasa resah. "Luna, kamu kenapa? Masih kepikiran omongan mereka, ya? Jangan dipikirin, Clarissa memang mulutnya kayak gitu jahat,"ucap Raisa, mencoba menenangkan. Luna menggeleng pelan. "Bukan kok, Aku bukan tipe orang yang kepikiran cuma karena omongan dangkal seperti itu" "Aku tahu kamu kuat, Luna," kata Raisa lembut. "Terus, kenapa kamu diam aja dari tadi?" Luna terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Aku cuma heran, gimana bisa aku kalah sama Alea, Padahal aku udah belajar mati matian" Raisa terdiam sesaat, memperhatikan ekspresi Luna yang berubah samar. Ada sesuatu di balik nada suaranya barusan. "Bukan aku nggak terima kalah," lanjut Luna pelan. "Cuma, kadang aku mikir, di sekolah ini kan nggak semuanya murni soal usaha" Raisa menoleh. "Maksud kamu?" Luna tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai
Keesokan paginya, suasana sekolah terasa berbeda. Alea turun dari motor Keenan, di ikuti Raiden dan Farel yang juga memarkirkan motor mereka tak jauh dari sana. "Makin nempel aja nih, pasangan sekolah kita" goda Raiden sambil nyengir. "Apaan, lu sirik aja," balas Keenan santai. "Katanya nggak suka, tapi sekarang nempel terus," tambah Farel, tertawa kecil. Alea hanya menarik napas pelan, Wajahnya tetap datar, seolah candaan itu tak ada hubungannya dengan dirinya. Padahal dari sudut matanya, ia bisa merasakan banyak pasang mata melirik, berbisik, dan menilai. Begitu mereka melangkah melewati gerbang, bisik bisik itu makin jelas. "Itu Alea, kan?" "Yang kemarin jadi pasangan terpilih itu…" "wah hebat banget udah dari keluarga konglomerat, pinter, cantik, tunangan Keenan lagi pewaris utama orang terkaya di negara ini" "dia beruntung karena di pungut aja sama keluarga marvelle, kalau engga dia sama aja kaya luna bahkan mungkin bisa lebih menyedihkan" ucap salah satu sis
Alea mengetuk pintu kamar Nyonya Alvarez dengan lembut, baki teh di tangannya nyaris tak bersuara. Ia menunggu beberapa detik sebelum suara dari dalam menjawab, datar namun tegas. "Masuk" Kamar itu redup, hanya lampu meja di sisi ranjang yang menyala, Tirai setengah tertutup, menyisakan cahaya kota yang terpotong rapi. Nyonya Alvarez duduk di kursi dekat jendela, punggungnya lurus, rambutnya sudah di lepas dari tatanan formal pesta. Alea melangkah masuk, menunduk sopan. "Teh hangat, Tante" Ia meletakkan cangkir di meja kecil. Uap tipis naik perlahan, mengisi ruang dengan aroma menenangkan kontras dengan ketegangan yang masih tertinggal. "Terima kasih" ujar Nyonya Alvarez singkat. Ia tidak langsung menyentuh cangkir itu. Beberapa detik hening berlalu. "Kau berbeda dari yang lain," kata Nyonya Alvarez akhirnya, tanpa menoleh. "Di pesta tadi, kau tidak berusaha terlalu keras" Alea tersenyum tipis. "Saya hanya menjadi diri sendiri" "itu justru yang berbahaya," balasnya p







