LOGIN
***
Novel ini harusnya hanya fiksi. Kisah klasik tentang pria kaya yang dingin dan wanita yang tak diinginkan siapa pun. Aku pernah membacanya berkali-kali, bahkan hafal dialog beberapa tokohnya. Tapi sekarang, entah bagaimana, aku berada di dalamnya. Bukan sebagai pemeran utama wanita yang akan mencuri hati sang tokoh pria. tapi sebagai Alea, Figuran yang akan dibuang di akhir cerita. Alea. Seorang gadis pendiam yang dibesarkan dalam dinginnya rumah keluarga angkat. Sejak kecil, dia tahu bahwa keberadaannya tidak diinginkan. Dia bukan anak. Dia bukan saudara. Dia hanya "investasi" untuk suatu hari nanti dijual demi membangun koneksi bisnis dengan keluarga Keenan, pewaris perusahaan terbesar dalam cerita ini, sekaligus tokoh utama cerita ini. Dan kini, hari itu telah tiba. Aku duduk di sebuah ruang tamu luas berwarna abu-abu, berhadapan dengan pria yang bahkan tak sudi menatapku sejak masuk ke ruangan ini. Keenan Alvarez. Tokoh utama novel yang aku kenal luar dalam setidaknya dari sudut pandang pembaca. Dingin. Tertutup. Sombong. Dan sangat membenci pertunangan ini. "Aku tidak peduli apa maumu," ucapnya tanpa menatap. "Selama kita bermain sesuai peran di depan keluarga masing-masing, aku tak akan mengganggumu. Dan kau jangan pernah menggangguku." Kata-katanya seperti pisau, tapi aku sudah tahu akan ada momen ini. Aku tahu semuanya. Aku tahu Alea akan terluka. dia Akan menangis diam-diam di balik kamar besar yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya. Aku tahu Alea akan berakhir sendirian. Dibuang, dihina, dilupakan. Tapi aku bukan Alea. Dan jika ini adalah hidup baruku, maka aku akan memperjuangkannya dengan caraku sendiri. Tapi apa yang bisa kulakukan? Saat pertama kali aku memasuki dunia ini, aku mencoba melawan. Aku berteriak, menolak, memberontak dari skenario yang telah ditulis untukku. Tapi yang kudapat bukanlah keajaiban... Melainkan cambuk yang menghantam punggungku, dingin jeruji besi yang mengurungku dalam gelap selama berhari-hari. Aku berpikir ini hanya mimpi buruk. Bahwa rasa sakit itu tak nyata. Tapi aku salah. Rasa sakitnya nyata. Darah itu nyata. Tangisanku menggema di dinding batu yang dingin. Tidak ada yang datang. Tidak ada yang peduli. Saat itulah aku sadar ini bukan sekadar cerita. Ini dunia yang hidup. Dunia yang kejam. Dan aku... adalah seseorang yang tidak punya tempat di dalamnya. Sejak hari itu, aku belajar diam. Belajar untuk berjalan pelan, berbicara pelan, bahkan bernapas pelan. Alea, gadis pendiam yang tidak dianggap, perlahan menyatu denganku. Aku mulai hidup sebagai dirinya... bukan karena aku ingin, tapi karena aku harus. Namun, setiap malam sebelum tidur, aku terus bertanya dalam hati: Apakah memang takdirku hanya untuk menjadi tokoh yang dibuang? Aku tahu akhir cerita ini. Alea akan gagal menikahi Keenan. Keluarganya akan mencampakkannya seperti barang rusak. Dan Keenan... akan tetap melihatku sebagai beban yang harus disingkirkan. Tapi semakin lama aku hidup sebagai Alea, semakin aku sadar aku tidak ingin kisah ini berakhir seperti itu. Aku takut. Tapi lebih takut lagi jika aku hanya diam dan mengikuti naskah. Karena meski aku bukan siapa-siapa di dunia ini, meski mereka hanya melihatku sebagai figuran tak berharga. aku tidak ingin lenyap tanpa melawan. *** Mereka akhirnya meninggalkanku berdua dengan Keenan, Keenan yang akan beranjak pergi namun alea tahan. "Tolong bertahan di sini sebentar saja, walau kamu tidak suka, tapi aku mohon tolong aku" Keenan menatap Alea dengan tatapan menjijikan. Alea tau kalau sampai Keenan pergi dia bisa saja di cambuk orangtua nya karena di anggap gagal menaklukan Keenan, Alea terpaksa menahan pergelangan tangan Keenan dan memohon padanya . Karena setiap tolakan yang Keenan berikan maka cambukan yang Alea dapatkan. Keenan menatap tangan Alea yang masih mencengkeram pergelangannya. Tatapan matanya penuh kejengkelan. "Apa maksudmu menahanku? Kau pikir aku akan jatuh iba hanya karena kau memohon seperti orang putus asa?" Alea menelan ludah. Suaranya bergetar, tapi matanya berusaha tetap menatap Keenan. "Aku... aku tidak minta simpati. Aku hanya... mohon, bertahan sebentar saja. Di depan mereka" Keenan menyipitkan mata, wajahnya semakin dingin. "Keluargamu yang meminta ini, bukan? Kau sama saja dengan mereka. Menjadikanku alat untuk kepentingan kalian." Alea tercekat. Ia ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa dia sama sekali bukan bagian dari rencana kotor keluarganya. Bahwa dirinya juga korban. Tapi lidahnya kelu, seperti terikat tak kasatmata. Jika ia terlalu banyak bicara, justru semakin besar kemungkinan kebenaran itu tidak dipercaya. Jadi ia hanya berkata lirih, hampir tak terdengar, "Aku hanya ingin bertahan." Keenan terdiam sejenak. Tatapannya mengeras, penuh ketidakpercayaan. "Bertahan? Dari apa?" Alea menunduk cepat, menyembunyikan matanya yang basah. Ia tidak bisa menjawab. Kalau Keenan tahu kebenarannya, apakah dia akan percaya? Atau justru menganggapnya drama murahan seorang wanita lemah? Keenan mendengus pelan, lalu menarik tangannya dengan kasar. "Tsk. Menyebalkan." Ia berbalik, seolah akan pergi. Alea merasakan jantungnya mencelos. Kalau Keenan benar-benar keluar, maka semua sia-sia keluarganya tidak akan segan menyiksanya dengan alasan "gagal menjalankan peran". Alea menahan rasa kesalnya, lalu dengan gerakan spontan ia melepas sepatu dari kakinya dan melemparkannya ke arah Keenan, yang saat itu sudah berdiri di depan pintu dan hampir membukanya. "Aku bilang tunggu di sini sebentar sialan" Keenan membelalakkan matanya baru pertama kali dia mendengar umpatan apalagi itu dari Alea sosok pendiam dan sopan. "Apa ? "Kou tuli aku bilang duduk" teriak Alea sambil melotot. Keenan terdiam di tempat. Tangannya masih menggenggam gagang pintu, tapi matanya menatap Alea dengan tatapan tak percaya. Ia tak pernah, seumur hidupnya, mendengar suara Alea naik satu oktaf, apalagi sampai berani mengumpat kepadanya. Sepatu yang tadi melayang jatuh terguling di lantai marmer, meninggalkan keheningan yang mencekam. Alea sendiri terengah, jantungnya berdetak kencang. Ucapan barusan meluncur begitu saja tanpa bisa ditahan, lahir dari campuran panik dan putus asa. Ia sadar benar ucapan kasar itu bisa menjadi bumerang, apalagi diarahkan pada pria seperti Keenan. Tapi kali ini ia tidak peduli. Keenan memicingkan mata, wajahnya perlahan berubah. Dari kaget, menjadi datar, lalu menegang penuh amarah. "Ulangi," ucapnya pelan, nyaris berbisik. Tapi justru itulah yang membuat bulu kuduk Alea meremang. Alea menelan ludah. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Kalau ia mundur sekarang, kalau ia meminta maaf, maka semuanya selesai. Ia akan kembali menjadi Alea yang penurut dan tak berdaya. Tidak. Ia sudah terlalu jauh. Dengan suara serak tapi tegas, ia mengulanginya. "Aku bilang... duduk." Tanpa pikir panjang Keenan pun duduk di tempat yang Alea tunjuk. "Diam di sini setengah jam saja, bisa kan" ucap Alea tegas. Mendapat anggukan dari Keenan. Keenan pun tidak mengerti kenapa dia jadi nurut sama alea Keenan bersandar santai di kursinya, meski raut wajahnya masih menyimpan ketidaksukaan. Ia sendiri heran, bagaimana bisa ia menurut pada perintah gadis pendiam yang bahkan tidak pernah ia perhitungkan."Alea, soal permintaanmu untuk mendapatkan perlindungan dari keluarga kami… apakah itu masih berlaku?" tanya Keenan pelan. "Tentu saja," jawab Alea tanpa ragu. Keenan terdiam sejenak. "Kalau begitu, apa itu berarti suatu hari nanti kamu akan pergi?" Alea tersenyum tipis, pahit. "Bukankah sejak awal aku memang harus pergi?" Keenan buru buru menggeleng. "Bukan, maksudku… kalau kamu ingin tinggal, itu juga tidak masalah" Alea menatap Keenan. Sorot matanya lembut, namun ada kelelahan yang tak bisa ia sembunyikan. "Kamu bilang begitu karena rasa tanggung jawab, atau karena kamu benar benar menginginkannya?" tanyanya pelan. Keenan terdiam. Rahangnya mengeras, pandangannya menjauh sejenak sebelum kembali pada Alea. "Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak aku inginkan" Hening menyelimuti mereka. Angin sore berembus pelan, menggerakkan dedaunan di halaman belakang rumah sakit. "Aku tidak ingin menjadi beban" ucap Alea akhirnya. "Kamu bukan beban" sahut Keenan ce
Alea terdiam sendirian di ruang tunggu pasien. Tatapannya kosong, jemarinya saling menggenggam erat hingga memutih. Hingga akhirnya, langkah kaki berhenti di hadapannya. "Aku tidak menyangka kamu bisa sampai sejauh ini, Alea," ucap Dava tenang. Alea mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya bergetar, namun suaranya terdengar jelas. "Kenapa kakak melakukan itu pada Kak Raihan?" Dava terdiam sejenak. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Melakukan apa?" tanyanya santai. "Kamu menuduh kakak?" "Obat yang dikonsumsi Kak Raihan…" suara Alea tercekat, "itu dari kakak, kan?" Dava menyandarkan punggungnya ke dinding, seolah tak merasa bersalah sedikit pun. "Kakak memang memberinya obat, Dia sendiri yang bilang sering sakit kepala," jawabnya ringan. "Tapi kakak tidak pernah menyuruhnya minum terus menerus" Alea kehilangan kata kata. Dadanya terasa sesak. "Jadi," lanjut Dava dingin, "kalau dia sampai seperti itu, itu kesalahannya sendiri" Ia menatap Alea tanpa empa
Alea memegang pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan itu. Matanya menatap Nyonya Marvelle lurus, tanpa gentar. "Berani sekali kamu menatap mama seperti itu" hardik Nyonya Marvelle tajam. "Mentang mentang di belakangmu ada keluarga Alvarez, kamu jadi berani sama mama?" Alea tersenyum pahit. "Bukankah mama sendiri yang sudah menjualku pada mereka?" suaranya bergetar, namun tegas. "Lalu untuk apa lagi aku menghormati mama?" "Kurang ajar!" bentak Nyonya Marvelle. Alea menghela napas, menahan sesak di dadanya. "Dari pada mama capek capek menghabiskan tenaga pada aku," ucapnya pelan namun menusuk, "lebih baik mama berdoa untuk kesembuhan Kak Raihan" Nyonya Marvelle terdiam. Pandangannya perlahan beralih ke arah ruang ICU, tempat Raihan sedang ditangani. "Seharusnya mama lebih memperhatikan Kak Raihan," lanjut Alea. "Jangan hanya memikirkan perusahaan saja" nyonya marvelle terdiam dia menatap ruang ICU tempat Raihan sedang di tangani. Nyonya Marvelle mengepa
Alea berdiri di depan rumah keluarga Marvelle. Keraguan jelas terpancar di wajahnya, langkahnya tertahan cukup lama di depan gerbang megah itu. Setelah menimbang nimbang beberapa saat, ia akhirnya menguatkan diri dan melangkah masuk. Satpam yang sudah mengenali Alea tidak menghalanginya. Ia justru membuka gerbang dan mempersilahkannya dengan sopan. Begitu masuk, Alea menghampiri salah satu pembantu rumah tangga yang sedang melintas. "Maaf, Kak Raihan ada?” tanya Alea pelan. Pembantu itu menggeleng. "Den Raihan sudah lama nggak pulang, Non Alea. Katanya beliau sekarang tinggal di apartemennya" Alea tercekat mendengar jawaban itu. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tanpa banyak bertanya lagi, Alea berpamitan dan segera meninggalkan rumah keluarga Marvelle. Di dalam perjalanan menuju apartemen Raihan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Sejak beberapa hari terakhir, Raihan memang sulit dihubungi. Pesan pesannya jarang dibalas, teleponnya sering ta
Luna melambaikan tangan begitu matanya menangkap sosok Nolan. Senyum lebar langsung terbit di wajahnya. Nolan pun membalas lambaian itu, tampak sama antusiasnya. "Udah lama nunggu?" tanya Luna sambil menghampirinya. "Baru sampai juga," jawab Nolan ringan. Luna menoleh ke sekeliling. "Kita mau ke mana?" "Cari makan aja, yuk," ajak Luna ceria. Nolan mengangguk. "Ayo. Mau makan apa?" "Yang paling enak, pokoknya," ucap Luna sambil tertawa kecil. Nolan tersenyum tipis, lalu mengajak Luna berjalan berdampingan menuju area parkir. Langkah mereka pelan, seolah tak terburu oleh waktu. "Kalau yang paling enak itu relatif," ujar Nolan sambil melirik Luna. "Tergantung makannya sama siapa" Luna menoleh, sedikit terkejut, lalu terkekeh. "Berarti hari ini harusnya enak, dong" Nolan tak langsung menjawab. Ia membuka pintu mobil untuk Luna, gestur sederhana yang membuat Luna tersenyum lebih lama dari seharusnya. Di dalam mobil, suasana hening sesaat, namun bukan hening yang cangg
*** Alea, Clarissa, dan Nayla berjalan menyusuri pusat perbelanjaan. Namun sejak tadi, langkah mereka terasa kaku. Keenan dan Raiden terus mengikuti dari belakang, membuat suasana menjadi canggung. Sesekali Alea menoleh ke belakang. Tatapannya bertemu dengan Keenan yang langsung menghentikan langkahnya, tampak salah tingkah sebelum pura pura melihat ke arah lain. Beberapa saat kemudian, mereka kembali berjalan. Keheningan itu akhirnya pecah oleh bisikan Clarissa. "Kenapa sih mereka ngikutin kita?" bisiknya, nadanya kesal bercampur bingung. "Aku juga nggak tahu," jawab Alea pelan, tanpa menoleh lagi. Di belakang mereka berhenti mendadak. "Keenan, kita ngapain si?" bisiknya pelan sambil mencondongkan badan ke arah Keenan. Keenan terbatuk kecil, wajahnya sedikit memerah. "Ya… ngikutin aja?" "Ngikutin ke mana?" Raiden menggaruk tengkuknya sendiri. "gak tau, ikut mereka aja" ucap Keenan. "lu sadar gak kita gak di harapkan" ucap Raiden. keenan menunduk, menghindar







