Mag-log in***
Setelah kembali ke kamar, Alea belum bisa memejamkan matanya. Matanya menatap kosong ke langit langit yang remang, seolah mencoba mencari sesuatu yang tak pernah ada di sana. Dada terasa sesak tanpa alasan yang bisa ia pahami. Ada kemarahan yang samar, bergolak dalam dirinya tanpa bentuk, tanpa arah. Seperti api yang menyala di ruang gelap namun tak tahu apa yang harus dibakar. Ia ingin marah. Pada semua orang. Pada dunia yang memaksanya terjebak di dalam buku sialan ini. Pada takdir yang terasa seperti permainan buruk. Ia bahkan marah pada dirinya sendiri karena tidak mengingat bagaimana ia mati di kehidupan sebelumnya. Betapa konyol, pikirnya, untuk marah pada hal yang bahkan tak bisa dijelaskan. Namun, yang keluar hanya diam. Hanya tatapan hampa, napas berat yang berulang kali ia hembuskan tanpa arti. Tangannya mengepal di atas selimut, kemudian terkulai lemah. Semua terasa percuma. Ada rasa getir yang menggantung di tenggorokan, seperti ingin menangis namun tak ada air mata yang mau keluar. Ia merasa tubuhnya berat, namun pikirannya terus berputar tak berhenti. Bayangan masa lalu dan potongan potongan kenangan yang tak lengkap menari di dalam kepalanya, suara seseorang, cahaya merah samar, lalu gelap. Alea menutup matanya, berharap gelap bisa membawa ketenangan. Tapi tidak malam ini. Seolah seluruh emosi di dalam dirinya sedang mendidih, mencari celah untuk meledak, tapi tak pernah menemukan jalan keluar. Yang tersisa hanyalah kehampaan. Kosong, tapi menyakitkan. Malam terus berjalan, tapi waktu terasa berhenti di kamar itu. Di antara rasa marah yang tak tersampaikan dan kesedihan yang tak punya bentuk. Udara kamar terasa dingin. Angin malam masuk lewat celah jendela yang tak tertutup rapat, membuat tirai tipis bergerak perlahan. Suara jam dinding berdetak tenang tapi justru membuat suasana semakin sunyi, semakin menyiksa. Entah kenapa, matanya menolak terpejam. Alea menghela napas, lalu bangkit dari tempat tidur. Ia menyampirkan cardigan tipis ke bahunya, mencoba mengusir hawa dingin yang menggigit. Tanpa benar benar tahu alasan, ia membuka pintu dan melangkah keluar. Koridor rumah itu gelap, hanya diterangi lampu kecil di ujung dinding. Cahaya kekuningan yang redup membuat bayangan perabot di sepanjang lorong tampak memanjang dan bergetar di dinding. Langkah Alea bergema pelan di lantai marmer, menciptakan irama asing yang terdengar terlalu jelas di keheningan malam. Ia tidak berniat ke mana pun. Ia hanya ingin berjalan, mungkin udara malam bisa sedikit menenangkan pikirannya. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara samar dari arah belakang rumah. Suara besi beradu, diikuti bunyi engsel berderit pelan. Kemudian, suara pintu tertutup. Alea menegakkan tubuhnya. Hatinya berdetak cepat tanpa alasan jelas. Ia menatap ke arah sumber suara, gelap, di ujung lorong, dekat tangga menuju ruang bawah. "Siapa…?" suaranya tercekat di tenggorokan. Ia tidak berani memanggil terlalu keras. Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Perlahan, ia melangkah mendekat. Langkahnya begitu hati hati, seolah takut lantai akan berderit dan mengkhianatinya. Dan saat ia sampai di ujung lorong itu, matanya membulat. Seseorang muncul dari balik sebuah pintu di bawah tangga. Pintu itu… Alea menatapnya lama. Ia yakin benar benar yakin pintu itu tidak pernah ada sebelumnya. Selama ini, dinding di bawah tangga selalu tertutup rapi, polos, tanpa tanda tanda ada ruang tersembunyi di baliknya. Tapi malam ini, ada celah kecil yang terbuka, dan dari dalamnya keluar sosok yang begitu ia kenal. Dava. Kakaknya. Dava menutup pintu perlahan, gerakannya tenang tapi terukur. Sesaat kemudian, ia berbalik dan di bawah cahaya redup, wajahnya terlihat jelas. "Kak Dava…?" suara Alea nyaris hanya berupa bisikan. Dava sempat mengangkat kepalanya, seolah terkejut sesaat. Ada kilatan kaget yang melintas di matanya, tapi dengan cepat menghilang, tertelan kembali oleh ketenangan palsu yang selalu ia tunjukkan. Tatapannya kembali dingin seperti es yang tak bisa ditembus siapa pun. "Kamu ngapain di sini?" suaranya datar, tanpa emosi. Alea menelan ludah. "Aku… nggak bisa tidur" jawabnya pelan. Pandangannya bergeser ke arah pintu yang baru saja Dava tutup. Rasa ingin tahunya menumpuk di ujung lidah, tapi kata kata itu tak sanggup keluar. dia tahu betul, Dava tidak suka ditanya. Dulu, setiap kali Alea menanyakan hal hal kecil tentang kenapa ia sering pergi malam malam, atau kenapa tangannya terkadang berlumur tanah, Dava selalu menjawab dengan tatapan kosong dan diam panjang yang menakutkan. "Kenapa, Kak? Kakak belum tidur juga?" ia mencoba lagi, suaranya bergetar. Dava tidak menjawab. Ia hanya menatap Alea sekilas, kemudian berjalan melewatinya tanpa sepatah kata pun. Aroma logam samar tercium saat bahu mereka bersinggungan. Alea terpaku di tempat. dia menoleh, menatap punggung kakaknya yang menjauh di sepanjang koridor, langkahnya tenang, nyaris tanpa suara. Dalam hati, perasaannya campur aduk antara penasaran, takut, dan sesuatu yang lebih dalam dari itu, perasaan aneh bahwa Dava menyembunyikan sesuatu yang besar. Matanya kembali ke arah pintu di bawah tangga. Kini pintu itu terlihat begitu mencolok. Gelap, tertutup rapat, namun seolah memanggilnya. Bayangan pintu itu seperti menggoda pikirannya, menanamkan rasa ingin tahu yang menyakitkan. "ruang bawah tanah?" bisiknya pelan. "Tapi… bukan yang itu." Ia tahu ruang bawah tanah tempat ia sering dikurung berada di sisi timur rumah, jauh dari sini. Tapi yang ini entah kenapa terlihat berbeda. Ada sesuatu yang asing di sana. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan dorongan untuk mendekat. Tangannya sempat terulur, tapi segera ia tarik kembali. Bayangan wajah Dava yang dingin tadi cukup untuk membuatnya mengurungkan niat. Tidak malam ini. Ia tidak cukup berani. Dengan langkah pelan, ia kembali ke kamarnya. Lorong itu terasa lebih dingin dari sebelumnya, seolah udara malam menyusup langsung ke tulang. Detak jam di ruang tengah terdengar semakin keras, mengiringi langkahnya kembali ke tempat tidur. Saat pintu kamarnya tertutup, ia bersandar di baliknya dan menghela napas panjang. Tapi rasa sesak di dadanya belum juga pergi. Bayangan Dava dan pintu misterius itu terus terputar di pikirannya. Apa yang ada di balik sana? Kenapa Dava keluar dari sana malam malam begini? Alea memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Tapi rasa takut dan penasaran saling bertabrakan, menciptakan kekacauan dalam pikirannya. Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus tahu apa yang disembunyikan kakaknya. Namun malam ini, ia hanya bisa menatap kosong ke jendela yang buram oleh embun, mendengarkan suara malam yang perlahan tenggelam dalam keheningan. Di luar, bulan tertutup awan. Dan di dalam kamar itu, Alea kembali terjebak dalam sunyi antara kemarahan yang belum padam, dan rahasia yang baru saja menampakkan bayangannya.Di sisi lain rumah Alvarez, langkah Luna terhenti tepat di depan kamar kecil yang selama ini menjadi tempatnya berteduh. Pintu itu masih terbuka. Kasur rapi, Lemari setengah kosong. Seolah rumah itu memang sudah lama bersiap menyingkirkannya. Luna berdiri kaku beberapa detik, lalu perlahan menutup pintu. Bunyi klik terdengar pelan terlalu pelan untuk amarah yang bergejolak di dadanya. Tangannya mengepal. "Tenang, jangan sekarang," bisiknya pada diri sendiri. Ia menunduk, napasnya berat. Dadanya naik turun, bukan karena sedih semata, tapi karena kemarahan yang di paksa untuk di telan mentah mentah. Bertahun tahun. Ia tinggal di rumah ini bukan sebagai tamu, bukan pula sebagai keluarga. Ia bekerja, mengabdi, menyesuaikan diri. Menyingkirkan perasaan, menutup harapan, menerima tatapan orang orang yang selalu setengah curiga. Dan pada akhirnya Ia tetap dianggap orang luar. Luna tertawa kecil, pahit. "Jadi begini caranya," gumamnya. "Begitu ada calon nyonya, aku
"Terserah…" ucap Keenan akhirnya. "Saya mengerti, Nyonya, Besok saya akan membereskan barang barang saya" ujar Luna dengan nada tenang, meski jelas ada luka yang di sembunyikan. "Baguslah kalau kamu bisa memahami, Luna. Saya akui kamu gadis yang gigih dan cerdas, Di masa depan nanti, saya yakin akan membutuhkanmu" kata Nyonya Alvarez. "Terima kasih, Nyonya," balas Luna pelan. Luna bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, Tak lama kemudian, Nyonya Alvarez pun menyusul. "Nikmati waktu kalian, ibu ke kamar dulu" ucapnya sebelum menghilang di balik pintu. Alea dan Keenan mengangguk bersamaan. Beberapa saat setelah Nyonya Alvarez pergi, Alea menatap Keenan dengan raut ragu. "Memangnya tidak apa apa Luna pergi?" tanyanya pelan. "Bukankah dia sudah lama tinggal di sini?" "Tidak apa apa," jawab Keenan singkat. "kenapa malah kamu yang khawatir?" "Lalu, bagaimana dengan mu?"Alea kembali bertanya. "Aku?" Keenan menoleh. "Kamu tidak keberatan?" "Tentu saja tidak, Kami
"kakak... "kakak selalu menghindar terus dengan pergi pergi dari rumah, karna kakak gak bisa berbuat apa apa" "Alea, pergi dari sini, jangan ke sini lagi" *** Alea keluar dari kamar Reyhan dengan langkah pelan. Wajahnya pucat, matanya kosong, seolah pikirannya masih tertinggal di dalam ruangan itu. Baru beberapa langkah ia melangkah, Keenan sudah berdiri di hadapannya. "Kamu baik baik saja?" tanyanya pelan, suaranya penuh kekhawatiran. Alea tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Keenan sesaat, lalu menggeleng tipis. "Ayo, kita pulang," ujar Keenan akhirnya, tak ingin memaksanya bicara. Beberapa menit kemudian, Alea sudah duduk di atas motor Keenan. Mesin baru saja menyala ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Pintu mobil terbuka, dan Dava keluar. Tatapannya tertuju lurus pada Alea, lekat, dingin, dan penuh makna yang tak terucap. Namun tak satu kata pun keluar. Tanpa menyapa, tanpa penjelasan, Dava justru membalikkan badan dan bergegas masuk ke da
Raisa duduk berdua dengan Luna. Sejak tadi, Luna lebih banyak diam, tatapannya kosong seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sikap itu membuat Raisa merasa resah. "Luna, kamu kenapa? Masih kepikiran omongan mereka, ya? Jangan dipikirin, Clarissa memang mulutnya kayak gitu jahat,"ucap Raisa, mencoba menenangkan. Luna menggeleng pelan. "Bukan kok, Aku bukan tipe orang yang kepikiran cuma karena omongan dangkal seperti itu" "Aku tahu kamu kuat, Luna," kata Raisa lembut. "Terus, kenapa kamu diam aja dari tadi?" Luna terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Aku cuma heran, gimana bisa aku kalah sama Alea, Padahal aku udah belajar mati matian" Raisa terdiam sesaat, memperhatikan ekspresi Luna yang berubah samar. Ada sesuatu di balik nada suaranya barusan. "Bukan aku nggak terima kalah," lanjut Luna pelan. "Cuma, kadang aku mikir, di sekolah ini kan nggak semuanya murni soal usaha" Raisa menoleh. "Maksud kamu?" Luna tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai
Keesokan paginya, suasana sekolah terasa berbeda. Alea turun dari motor Keenan, di ikuti Raiden dan Farel yang juga memarkirkan motor mereka tak jauh dari sana. "Makin nempel aja nih, pasangan sekolah kita" goda Raiden sambil nyengir. "Apaan, lu sirik aja," balas Keenan santai. "Katanya nggak suka, tapi sekarang nempel terus," tambah Farel, tertawa kecil. Alea hanya menarik napas pelan, Wajahnya tetap datar, seolah candaan itu tak ada hubungannya dengan dirinya. Padahal dari sudut matanya, ia bisa merasakan banyak pasang mata melirik, berbisik, dan menilai. Begitu mereka melangkah melewati gerbang, bisik bisik itu makin jelas. "Itu Alea, kan?" "Yang kemarin jadi pasangan terpilih itu…" "wah hebat banget udah dari keluarga konglomerat, pinter, cantik, tunangan Keenan lagi pewaris utama orang terkaya di negara ini" "dia beruntung karena di pungut aja sama keluarga marvelle, kalau engga dia sama aja kaya luna bahkan mungkin bisa lebih menyedihkan" ucap salah satu sis
Alea mengetuk pintu kamar Nyonya Alvarez dengan lembut, baki teh di tangannya nyaris tak bersuara. Ia menunggu beberapa detik sebelum suara dari dalam menjawab, datar namun tegas. "Masuk" Kamar itu redup, hanya lampu meja di sisi ranjang yang menyala, Tirai setengah tertutup, menyisakan cahaya kota yang terpotong rapi. Nyonya Alvarez duduk di kursi dekat jendela, punggungnya lurus, rambutnya sudah di lepas dari tatanan formal pesta. Alea melangkah masuk, menunduk sopan. "Teh hangat, Tante" Ia meletakkan cangkir di meja kecil. Uap tipis naik perlahan, mengisi ruang dengan aroma menenangkan kontras dengan ketegangan yang masih tertinggal. "Terima kasih" ujar Nyonya Alvarez singkat. Ia tidak langsung menyentuh cangkir itu. Beberapa detik hening berlalu. "Kau berbeda dari yang lain," kata Nyonya Alvarez akhirnya, tanpa menoleh. "Di pesta tadi, kau tidak berusaha terlalu keras" Alea tersenyum tipis. "Saya hanya menjadi diri sendiri" "itu justru yang berbahaya," balasnya p







