Masuk***
Pagi itu, aroma roti panggang dan kopi hitam memenuhi ruang makan. Tapi bagi Alea, udara di sana terasa lebih dingin dari biasanya, bukan karena cuaca, melainkan karena tatapan tatapan yang bersilang tanpa suara. Ayah sudah berangkat ke perusahaan sejak subuh, meninggalkan meja makan hanya dengan empat orang Ibu, Reyhan, Dava, dan Alea. Pisau mentega di tangan Alea terasa terlalu berat saat ia mencoba mengoles selai di roti. Di depannya, Dava duduk diam, bahunya tegak, pandangannya lurus ke depan tanpa ekspresi. Sementara Reyhan dengan senyum setengah mengejek menyeruput kopinya santai seolah menikmati ketegangan itu. "bukannya semalam kamu bilang mau berangkat pagi pagi?" tanya ibunya. "gak jadi, aku mau nganterin Alea sekolah dulu" ucap reyhan. "setelah pulang sekolah, langsung ke rumah ya Alea ingat kan janji kita, ada yang harus kamu pelajari" "ma, jangan terlalu mengekang Alea" "mama ngelakuin ini untuk kebaikan Alea juga" Suara sendok yang beradu dengan cangkir menjadi satu satunya bunyi yang terdengar di ruang makan itu, seolah menegaskan kekakuan yang menggantung di udara. Alea menunduk, berusaha menyembunyikan gelisah yang makin menumpuk di dadanya. Tangannya berhenti mengoles selai, sementara matanya menatap kosong pada piring yang kini terasa seperti beban. "Untuk kebaikanku?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Namun, Dava sempat melirik. Tatapannya cepat, tapi tajam seperti seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang ia tunjukkan. Setelah sarapan selesai, Dava berangkat lebih dulu ke kantor. Sementara itu, Reyhan sedang memarkirkan motornya di halaman, diikuti oleh Alea yang berjalan di belakangnya. "Cepetan, nanti telat" katanya tanpa menatap lama. Alea mengangguk pelan, memeluk tasnya di dada. Ia duduk di jok belakang, agak canggung, lalu memegang bagian pinggiran jok agar tak menyentuh punggung kakaknya. Angin pagi berhembus, membuat helaian rambutnya menari pelan. Belum sempat ia menenggelamkan pikirannya lebih dalam, suara Reyhan memecah keheningan. "Kamu kelihatan murung dari tadi"ujarnya datar, matanya tetap menatap jalan di depan. Alea terdiam sejenak. "Cuma capek, Kak" "Capek... atau gak suka diatur?" nada Reyhan sedikit berubah, setengah menggoda, setengah menyelidik. Alea menunduk, bibirnya menekan pelan. "Dua duanya mungkin" Reyhan tertawa kecil, suaranya ringan tapi entah kenapa membuat dada Alea makin berat. "Kamu harus hati-hati sama kata kata kayak gitu di depan Mama. Dia gak suka anak yang membantah" "iya apalagi cuma sama anak pungut" "kenapa?" "nggak" Alea tak menjawab. Hanya angin yang kembali mengambil alih percakapan mereka, membawa aroma pagi dan perasaan yang belum sempat diucapkan. Mereka melaju melewati jalanan kota yang mulai ramai. Di sela deru motor, Alea sempat melirik bayangan mereka di kaca toko yang dilewati dua sosok yang terlihat dekat, padahal masing masing menyimpan jarak yang tak terlihat. *** Motor Reyhan berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Suara bel masuk terdengar nyaring, diiringi hiruk pikuk siswa yang berlarian ke arah kelas. Alea masih duduk diam di jok belakang, menatap gerbang seolah tak benar benar ingin melangkah ke dalamnya. "Udah nyampe" ujar Reyhan sambil menurunkan standar motor. Ia menoleh sebentar, menatap Alea yang tampak ragu. "Kenapa? Takut sekolah tiba tiba runtuh?" Nada suaranya menggoda, membuat Alea tanpa sadar tersenyum tipis. "Leaaa! Akhirnya dateng juga!" teriak nayla sambil melambaikan tangan. Rambutnya terurai panjang, wajahnya cerah seperti biasa. Di sebelahnya, Clarissa berjalan dengan ekspresi lebih tenang, tapi matanya menatap penasaran ke arah Reyhan. "hallo gadis gadis cantik, temen kamu lea? tanya Reyhan. "hallo cowok ganteng, aku Nayla dan ini Clarissa kita berdua sahabat nya Alea" "ternyata kamu bisa juga berteman ya" ucap reyhan menggoda Alea. "apaan si, oh iya kenalin ini kakak ku Reyhan" Clarissa tersenyum kecil, melangkah setengah maju sambil menatap Reyhan lebih jelas. "Kak Reyhan, ya? Aku Clarissa" ujarnya dengan nada lembut tapi penuh percaya diri. Tatapan matanya menelusuri sosok Reyhan dari ujung helm yang masih ia pegang hingga sorot matanya yang dingin namun dalam. Ada sesuatu yang menarik perhatian Clarissa bukan sekadar wajahnya, tapi aura yang menggoda. Reyhan mengangguk pelan. "Clarissa, nama yang cantik" ucapnya menggoda. Nayla langsung menyenggol Clarissa dengan siku dan berbisik pelan, "Jangan tatap segitunya, Ris. Nanti Alea cemburu" "Nay!" Alea menatapnya tajam, wajahnya langsung memerah. Reyhan hanya terkekeh tipis, lalu menatap Alea sekilas. "Temen kamu satu ini cerewet banget, ya." "Banget" jawab Alea cepat, mencoba mengalihkan perhatian. Clarissa masih menatap Reyhan, kali ini dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Alea memandang aneh ke arah Clarissa, Clarissa adalah antagonis di novel ini, dia hanya terobsesi dan mengejar Keenan, bagaimana bisa dia beralih menyukai Reyhan. kalau sampai Clarissa menyukai Reyhan bagaimana dengan novel ini. Clarissa terdiam sejenak, tapi di wajahnya justru muncul senyum yang lebih lebar seperti seseorang yang baru saja menemukan teka teki menarik untuk dipecahkan. Sementara itu, Alea hanya bisa mendesah pelan, merasa suasana di sekitarnya tiba tiba jadi aneh. "Udah, Kak. Aku masuk dulu, ya" katanya cepat. Reyhan mengangguk dan berbalik menuju motornya tanpa banyak bicara. Tapi Clarissa masih sempat menatap punggungnya yang menjauh, matanya berbinar tipis. "Kayaknya aku tahu kenapa kamu jarang cerita soal keluargamu, Lea…" gumam Clarissa pelan, separuh menggoda, separuh serius. "Clarissa…" Alea menatapnya jengkel. Tapi Clarissa hanya tersenyum samar, matanya masih tertuju ke arah Reyhan yang mulai melajukan motornya menjauh. "Tenang aja, aku cuma penasaran" katanya, suaranya nyaris seperti bisikan. Mereka mulai melangkah menuju gerbang sekolah. Suasana pagi masih ramai, suara siswa lain bercampur dengan deru kendaraan yang baru datang. Nayla berjalan di tengah, wajahnya penuh semangat seperti biasa. "Clarissa, jujur aja deh" katanya dengan nada menggoda. "Kamu naksir, ya, sama kak Reyhan?" Clarissa menoleh santai, tapi senyum di bibirnya nggak bisa disembunyikan. "Naksir? Belum tentu. Tapi dia menarik" "Menarik katanya" Nayla langsung menirukan dengan nada tinggi. "Berisik, bawel"sahut Alea cepat, wajahnya mulai memerah. Nayla malah semakin menggoda. "Wah, ada yang mau iparan, nih!" "Apaan sih, ngaco!" Alea menatapnya kesal, tapi suaranya justru membuat keduanya tertawa lebih keras. Mereka akhirnya berjalan masuk ke kelas sambil masih cekikikan, membuat beberapa siswa menoleh penasaran. Namun di balik tawa ringan itu, Alea sempat melirik Clarissa yang kini tersenyum samar, senyum yang sulit dibaca, seolah menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar candaan.*** Sesampainya di rumah, baru saja mereka melangkah masuk ketika Luna langsung menyambut mereka. Senyum itu membuat hati Alea terasa mengeras, terlebih saat ia menangkap respon Keenan yang begitu lembut pada Luna sesuatu yang jarang ia tunjukkan. Getir merambat pelan di dada Alea. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Alea bergegas meninggalkan mereka dan melangkah cepat menuju kamarnya, seolah tak ingin memperlihatkan apa pun yang sedang bergejolak di dalam hatinya. "Alea kenapa?" tanya Luna. "biarin aja dia lagi sedih" ucap Keenan. "Keenan, untuk pesta sekolah nanti, kamu datang bersama Alea, kan?" tanya Luna, nada suaranya terdengar santai. Keenan meliriknya sekilas. "Kenapa memangnya?" "Enggak apa apa" jawab Luna sambil tersenyum. "Aku cuma pikir kalian pasti akan sangat serasi" Keenan tidak langsung menanggapi. Setelah jeda singkat, ia berkata, "Besok desainer keluarga kami akan datang, Kamu bisa memilih baju yang ingin kamu pakai untuk pesta itu" Mata Luna
"Alea, soal permintaanmu untuk mendapatkan perlindungan dari keluarga kami… apakah itu masih berlaku?" tanya Keenan pelan. "Tentu saja," jawab Alea tanpa ragu. Keenan terdiam sejenak. "Kalau begitu, apa itu berarti suatu hari nanti kamu akan pergi?" Alea tersenyum tipis, pahit. "Bukankah sejak awal aku memang harus pergi?" Keenan buru buru menggeleng. "Bukan, maksudku… kalau kamu ingin tinggal, itu juga tidak masalah" Alea menatap Keenan. Sorot matanya lembut, namun ada kelelahan yang tak bisa ia sembunyikan. "Kamu bilang begitu karena rasa tanggung jawab, atau karena kamu benar benar menginginkannya?" tanyanya pelan. Keenan terdiam. Rahangnya mengeras, pandangannya menjauh sejenak sebelum kembali pada Alea. "Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak aku inginkan" Hening menyelimuti mereka. Angin sore berembus pelan, menggerakkan dedaunan di halaman belakang rumah sakit. "Aku tidak ingin menjadi beban" ucap Alea akhirnya. "Kamu bukan beban" sahut Keenan ce
Alea terdiam sendirian di ruang tunggu pasien. Tatapannya kosong, jemarinya saling menggenggam erat hingga memutih. Hingga akhirnya, langkah kaki berhenti di hadapannya. "Aku tidak menyangka kamu bisa sampai sejauh ini, Alea," ucap Dava tenang. Alea mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya bergetar, namun suaranya terdengar jelas. "Kenapa kakak melakukan itu pada Kak Raihan?" Dava terdiam sejenak. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Melakukan apa?" tanyanya santai. "Kamu menuduh kakak?" "Obat yang dikonsumsi Kak Raihan…" suara Alea tercekat, "itu dari kakak, kan?" Dava menyandarkan punggungnya ke dinding, seolah tak merasa bersalah sedikit pun. "Kakak memang memberinya obat, Dia sendiri yang bilang sering sakit kepala," jawabnya ringan. "Tapi kakak tidak pernah menyuruhnya minum terus menerus" Alea kehilangan kata kata. Dadanya terasa sesak. "Jadi," lanjut Dava dingin, "kalau dia sampai seperti itu, itu kesalahannya sendiri" Ia menatap Alea tanpa empa
Alea memegang pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan itu. Matanya menatap Nyonya Marvelle lurus, tanpa gentar. "Berani sekali kamu menatap mama seperti itu" hardik Nyonya Marvelle tajam. "Mentang mentang di belakangmu ada keluarga Alvarez, kamu jadi berani sama mama?" Alea tersenyum pahit. "Bukankah mama sendiri yang sudah menjualku pada mereka?" suaranya bergetar, namun tegas. "Lalu untuk apa lagi aku menghormati mama?" "Kurang ajar!" bentak Nyonya Marvelle. Alea menghela napas, menahan sesak di dadanya. "Dari pada mama capek capek menghabiskan tenaga pada aku," ucapnya pelan namun menusuk, "lebih baik mama berdoa untuk kesembuhan Kak Raihan" Nyonya Marvelle terdiam. Pandangannya perlahan beralih ke arah ruang ICU, tempat Raihan sedang ditangani. "Seharusnya mama lebih memperhatikan Kak Raihan," lanjut Alea. "Jangan hanya memikirkan perusahaan saja" nyonya marvelle terdiam dia menatap ruang ICU tempat Raihan sedang di tangani. Nyonya Marvelle mengepa
Alea berdiri di depan rumah keluarga Marvelle. Keraguan jelas terpancar di wajahnya, langkahnya tertahan cukup lama di depan gerbang megah itu. Setelah menimbang nimbang beberapa saat, ia akhirnya menguatkan diri dan melangkah masuk. Satpam yang sudah mengenali Alea tidak menghalanginya. Ia justru membuka gerbang dan mempersilahkannya dengan sopan. Begitu masuk, Alea menghampiri salah satu pembantu rumah tangga yang sedang melintas. "Maaf, Kak Raihan ada?” tanya Alea pelan. Pembantu itu menggeleng. "Den Raihan sudah lama nggak pulang, Non Alea. Katanya beliau sekarang tinggal di apartemennya" Alea tercekat mendengar jawaban itu. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tanpa banyak bertanya lagi, Alea berpamitan dan segera meninggalkan rumah keluarga Marvelle. Di dalam perjalanan menuju apartemen Raihan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Sejak beberapa hari terakhir, Raihan memang sulit dihubungi. Pesan pesannya jarang dibalas, teleponnya sering ta
Luna melambaikan tangan begitu matanya menangkap sosok Nolan. Senyum lebar langsung terbit di wajahnya. Nolan pun membalas lambaian itu, tampak sama antusiasnya. "Udah lama nunggu?" tanya Luna sambil menghampirinya. "Baru sampai juga," jawab Nolan ringan. Luna menoleh ke sekeliling. "Kita mau ke mana?" "Cari makan aja, yuk," ajak Luna ceria. Nolan mengangguk. "Ayo. Mau makan apa?" "Yang paling enak, pokoknya," ucap Luna sambil tertawa kecil. Nolan tersenyum tipis, lalu mengajak Luna berjalan berdampingan menuju area parkir. Langkah mereka pelan, seolah tak terburu oleh waktu. "Kalau yang paling enak itu relatif," ujar Nolan sambil melirik Luna. "Tergantung makannya sama siapa" Luna menoleh, sedikit terkejut, lalu terkekeh. "Berarti hari ini harusnya enak, dong" Nolan tak langsung menjawab. Ia membuka pintu mobil untuk Luna, gestur sederhana yang membuat Luna tersenyum lebih lama dari seharusnya. Di dalam mobil, suasana hening sesaat, namun bukan hening yang cangg







