Home / Fantasi / Aku bukan Alea / Mengantar Alea ke sekolah

Share

Mengantar Alea ke sekolah

Author: Rvn
last update publish date: 2025-10-10 00:13:06

***

Pagi itu, aroma roti panggang dan kopi hitam memenuhi ruang makan. Tapi bagi Alea, udara di sana terasa lebih dingin dari biasanya, bukan karena cuaca, melainkan karena tatapan tatapan yang bersilang tanpa suara.

Ayah sudah berangkat ke perusahaan sejak subuh, meninggalkan meja makan hanya dengan empat orang Ibu, Reyhan, Dava, dan Alea.

Pisau mentega di tangan Alea terasa terlalu berat saat ia mencoba mengoles selai di roti. Di depannya, Dava duduk diam, bahunya tegak, pandangannya lurus ke depan tanpa ekspresi.

Sementara Reyhan dengan senyum setengah mengejek menyeruput kopinya santai seolah menikmati ketegangan itu.

"bukannya semalam kamu bilang mau berangkat pagi pagi?" tanya ibunya.

"gak jadi, aku mau nganterin Alea sekolah dulu" ucap reyhan.

"setelah pulang sekolah, langsung ke rumah ya Alea ingat kan janji kita, ada yang harus kamu pelajari"

"ma, jangan terlalu mengekang Alea"

"mama ngelakuin ini untuk kebaikan Alea juga"

Suara sendok yang beradu dengan cangkir menjadi satu satunya bunyi yang terdengar di ruang makan itu, seolah menegaskan kekakuan yang menggantung di udara.

Alea menunduk, berusaha menyembunyikan gelisah yang makin menumpuk di dadanya. Tangannya berhenti mengoles selai, sementara matanya menatap kosong pada piring yang kini terasa seperti beban.

"Untuk kebaikanku?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Namun, Dava sempat melirik. Tatapannya cepat, tapi tajam seperti seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang ia tunjukkan.

Setelah sarapan selesai, Dava berangkat lebih dulu ke kantor. Sementara itu, Reyhan sedang memarkirkan motornya di halaman, diikuti oleh Alea yang berjalan di belakangnya.

"Cepetan, nanti telat" katanya tanpa menatap lama.

Alea mengangguk pelan, memeluk tasnya di dada.

Ia duduk di jok belakang, agak canggung, lalu memegang bagian pinggiran jok agar tak menyentuh punggung kakaknya. Angin pagi berhembus, membuat helaian rambutnya menari pelan.

Belum sempat ia menenggelamkan pikirannya lebih dalam, suara Reyhan memecah keheningan.

"Kamu kelihatan murung dari tadi"ujarnya datar, matanya tetap menatap jalan di depan.

Alea terdiam sejenak. "Cuma capek, Kak"

"Capek... atau gak suka diatur?" nada Reyhan sedikit berubah, setengah menggoda, setengah menyelidik.

Alea menunduk, bibirnya menekan pelan.

"Dua duanya mungkin"

Reyhan tertawa kecil, suaranya ringan tapi entah kenapa membuat dada Alea makin berat.

"Kamu harus hati-hati sama kata kata kayak gitu di depan Mama. Dia gak suka anak yang membantah"

"iya apalagi cuma sama anak pungut"

"kenapa?"

"nggak"

Alea tak menjawab. Hanya angin yang kembali mengambil alih percakapan mereka, membawa aroma pagi dan perasaan yang belum sempat diucapkan.

Mereka melaju melewati jalanan kota yang mulai ramai. Di sela deru motor, Alea sempat melirik bayangan mereka di kaca toko yang dilewati dua sosok yang terlihat dekat, padahal masing masing menyimpan jarak yang tak terlihat.

***

Motor Reyhan berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Suara bel masuk terdengar nyaring, diiringi hiruk pikuk siswa yang berlarian ke arah kelas. Alea masih duduk diam di jok belakang, menatap gerbang seolah tak benar benar ingin melangkah ke dalamnya.

"Udah nyampe" ujar Reyhan sambil menurunkan standar motor. Ia menoleh sebentar, menatap Alea yang tampak ragu.

"Kenapa? Takut sekolah tiba tiba runtuh?"

Nada suaranya menggoda, membuat Alea tanpa sadar tersenyum tipis.

"Leaaa! Akhirnya dateng juga!" teriak nayla sambil melambaikan tangan. Rambutnya terurai panjang, wajahnya cerah seperti biasa. Di sebelahnya, Clarissa berjalan dengan ekspresi lebih tenang, tapi matanya menatap penasaran ke arah Reyhan.

"hallo gadis gadis cantik, temen kamu lea? tanya Reyhan.

"hallo cowok ganteng, aku Nayla dan ini Clarissa kita berdua sahabat nya Alea"

"ternyata kamu bisa juga berteman ya" ucap reyhan menggoda Alea.

"apaan si, oh iya kenalin ini kakak ku Reyhan"

Clarissa tersenyum kecil, melangkah setengah maju sambil menatap Reyhan lebih jelas.

"Kak Reyhan, ya? Aku Clarissa" ujarnya dengan nada lembut tapi penuh percaya diri.

Tatapan matanya menelusuri sosok Reyhan dari ujung helm yang masih ia pegang hingga sorot matanya yang dingin namun dalam. Ada sesuatu yang menarik perhatian Clarissa bukan sekadar wajahnya, tapi aura yang menggoda.

Reyhan mengangguk pelan. "Clarissa, nama yang cantik" ucapnya menggoda.

Nayla langsung menyenggol Clarissa dengan siku dan berbisik pelan,

"Jangan tatap segitunya, Ris. Nanti Alea cemburu"

"Nay!" Alea menatapnya tajam, wajahnya langsung memerah.

Reyhan hanya terkekeh tipis, lalu menatap Alea sekilas.

"Temen kamu satu ini cerewet banget, ya."

"Banget" jawab Alea cepat, mencoba mengalihkan perhatian.

Clarissa masih menatap Reyhan, kali ini dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

Alea memandang aneh ke arah Clarissa, Clarissa adalah antagonis di novel ini, dia hanya terobsesi dan mengejar Keenan, bagaimana bisa dia beralih menyukai Reyhan. kalau sampai Clarissa menyukai Reyhan bagaimana dengan novel ini.

Clarissa terdiam sejenak, tapi di wajahnya justru muncul senyum yang lebih lebar seperti seseorang yang baru saja menemukan teka teki menarik untuk dipecahkan.

Sementara itu, Alea hanya bisa mendesah pelan, merasa suasana di sekitarnya tiba tiba jadi aneh.

"Udah, Kak. Aku masuk dulu, ya" katanya cepat.

Reyhan mengangguk dan berbalik menuju motornya tanpa banyak bicara. Tapi Clarissa masih sempat menatap punggungnya yang menjauh, matanya berbinar tipis.

"Kayaknya aku tahu kenapa kamu jarang cerita soal keluargamu, Lea…" gumam Clarissa pelan, separuh menggoda, separuh serius.

"Clarissa…" Alea menatapnya jengkel.

Tapi Clarissa hanya tersenyum samar, matanya masih tertuju ke arah Reyhan yang mulai melajukan motornya menjauh.

"Tenang aja, aku cuma penasaran" katanya, suaranya nyaris seperti bisikan.

Mereka mulai melangkah menuju gerbang sekolah. Suasana pagi masih ramai, suara siswa lain bercampur dengan deru kendaraan yang baru datang. Nayla berjalan di tengah, wajahnya penuh semangat seperti biasa.

"Clarissa, jujur aja deh" katanya dengan nada menggoda.

"Kamu naksir, ya, sama kak Reyhan?"

Clarissa menoleh santai, tapi senyum di bibirnya nggak bisa disembunyikan.

"Naksir? Belum tentu. Tapi dia menarik"

"Menarik katanya" Nayla langsung menirukan dengan nada tinggi.

"Berisik, bawel"sahut Alea cepat, wajahnya mulai memerah.

Nayla malah semakin menggoda.

"Wah, ada yang mau iparan, nih!"

"Apaan sih, ngaco!" Alea menatapnya kesal, tapi suaranya justru membuat keduanya tertawa lebih keras.

Mereka akhirnya berjalan masuk ke kelas sambil masih cekikikan, membuat beberapa siswa menoleh penasaran.

Namun di balik tawa ringan itu, Alea sempat melirik Clarissa yang kini tersenyum samar, senyum yang sulit dibaca, seolah menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar candaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku bukan Alea   Nasehat ibu

    Di sisi lain rumah Alvarez, langkah Luna terhenti tepat di depan kamar kecil yang selama ini menjadi tempatnya berteduh. Pintu itu masih terbuka. Kasur rapi, Lemari setengah kosong. Seolah rumah itu memang sudah lama bersiap menyingkirkannya. Luna berdiri kaku beberapa detik, lalu perlahan menutup pintu. Bunyi klik terdengar pelan terlalu pelan untuk amarah yang bergejolak di dadanya. Tangannya mengepal. "Tenang, jangan sekarang," bisiknya pada diri sendiri. Ia menunduk, napasnya berat. Dadanya naik turun, bukan karena sedih semata, tapi karena kemarahan yang di paksa untuk di telan mentah mentah. Bertahun tahun. Ia tinggal di rumah ini bukan sebagai tamu, bukan pula sebagai keluarga. Ia bekerja, mengabdi, menyesuaikan diri. Menyingkirkan perasaan, menutup harapan, menerima tatapan orang orang yang selalu setengah curiga. Dan pada akhirnya Ia tetap dianggap orang luar. Luna tertawa kecil, pahit. "Jadi begini caranya," gumamnya. "Begitu ada calon nyonya, aku

  • Aku bukan Alea   Antara pulang dan tinggal

    "Terserah…" ucap Keenan akhirnya. "Saya mengerti, Nyonya, Besok saya akan membereskan barang barang saya" ujar Luna dengan nada tenang, meski jelas ada luka yang di sembunyikan. "Baguslah kalau kamu bisa memahami, Luna. Saya akui kamu gadis yang gigih dan cerdas, Di masa depan nanti, saya yakin akan membutuhkanmu" kata Nyonya Alvarez. "Terima kasih, Nyonya," balas Luna pelan. Luna bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, Tak lama kemudian, Nyonya Alvarez pun menyusul. "Nikmati waktu kalian, ibu ke kamar dulu" ucapnya sebelum menghilang di balik pintu. Alea dan Keenan mengangguk bersamaan. Beberapa saat setelah Nyonya Alvarez pergi, Alea menatap Keenan dengan raut ragu. "Memangnya tidak apa apa Luna pergi?" tanyanya pelan. "Bukankah dia sudah lama tinggal di sini?" "Tidak apa apa," jawab Keenan singkat. "kenapa malah kamu yang khawatir?" "Lalu, bagaimana dengan mu?"Alea kembali bertanya. "Aku?" Keenan menoleh. "Kamu tidak keberatan?" "Tentu saja tidak, Kami

  • Aku bukan Alea   Secangkir teh hangat

    "kakak... "kakak selalu menghindar terus dengan pergi pergi dari rumah, karna kakak gak bisa berbuat apa apa" "Alea, pergi dari sini, jangan ke sini lagi" *** Alea keluar dari kamar Reyhan dengan langkah pelan. Wajahnya pucat, matanya kosong, seolah pikirannya masih tertinggal di dalam ruangan itu. Baru beberapa langkah ia melangkah, Keenan sudah berdiri di hadapannya. "Kamu baik baik saja?" tanyanya pelan, suaranya penuh kekhawatiran. Alea tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Keenan sesaat, lalu menggeleng tipis. "Ayo, kita pulang," ujar Keenan akhirnya, tak ingin memaksanya bicara. Beberapa menit kemudian, Alea sudah duduk di atas motor Keenan. Mesin baru saja menyala ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Pintu mobil terbuka, dan Dava keluar. Tatapannya tertuju lurus pada Alea, lekat, dingin, dan penuh makna yang tak terucap. Namun tak satu kata pun keluar. Tanpa menyapa, tanpa penjelasan, Dava justru membalikkan badan dan bergegas masuk ke da

  • Aku bukan Alea   bertemu Reyhan

    Raisa duduk berdua dengan Luna. Sejak tadi, Luna lebih banyak diam, tatapannya kosong seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sikap itu membuat Raisa merasa resah. "Luna, kamu kenapa? Masih kepikiran omongan mereka, ya? Jangan dipikirin, Clarissa memang mulutnya kayak gitu jahat,"ucap Raisa, mencoba menenangkan. Luna menggeleng pelan. "Bukan kok, Aku bukan tipe orang yang kepikiran cuma karena omongan dangkal seperti itu" "Aku tahu kamu kuat, Luna," kata Raisa lembut. "Terus, kenapa kamu diam aja dari tadi?" Luna terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Aku cuma heran, gimana bisa aku kalah sama Alea, Padahal aku udah belajar mati matian" Raisa terdiam sesaat, memperhatikan ekspresi Luna yang berubah samar. Ada sesuatu di balik nada suaranya barusan. "Bukan aku nggak terima kalah," lanjut Luna pelan. "Cuma, kadang aku mikir, di sekolah ini kan nggak semuanya murni soal usaha" Raisa menoleh. "Maksud kamu?" Luna tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai

  • Aku bukan Alea   Tetaplah di sisiku

    Keesokan paginya, suasana sekolah terasa berbeda. Alea turun dari motor Keenan, di ikuti Raiden dan Farel yang juga memarkirkan motor mereka tak jauh dari sana. "Makin nempel aja nih, pasangan sekolah kita" goda Raiden sambil nyengir. "Apaan, lu sirik aja," balas Keenan santai. "Katanya nggak suka, tapi sekarang nempel terus," tambah Farel, tertawa kecil. Alea hanya menarik napas pelan, Wajahnya tetap datar, seolah candaan itu tak ada hubungannya dengan dirinya. Padahal dari sudut matanya, ia bisa merasakan banyak pasang mata melirik, berbisik, dan menilai. Begitu mereka melangkah melewati gerbang, bisik bisik itu makin jelas. "Itu Alea, kan?" "Yang kemarin jadi pasangan terpilih itu…" "wah hebat banget udah dari keluarga konglomerat, pinter, cantik, tunangan Keenan lagi pewaris utama orang terkaya di negara ini" "dia beruntung karena di pungut aja sama keluarga marvelle, kalau engga dia sama aja kaya luna bahkan mungkin bisa lebih menyedihkan" ucap salah satu sis

  • Aku bukan Alea   dia mengakuinya, bangga!?

    Alea mengetuk pintu kamar Nyonya Alvarez dengan lembut, baki teh di tangannya nyaris tak bersuara. Ia menunggu beberapa detik sebelum suara dari dalam menjawab, datar namun tegas. "Masuk" Kamar itu redup, hanya lampu meja di sisi ranjang yang menyala, Tirai setengah tertutup, menyisakan cahaya kota yang terpotong rapi. Nyonya Alvarez duduk di kursi dekat jendela, punggungnya lurus, rambutnya sudah di lepas dari tatanan formal pesta. Alea melangkah masuk, menunduk sopan. "Teh hangat, Tante" Ia meletakkan cangkir di meja kecil. Uap tipis naik perlahan, mengisi ruang dengan aroma menenangkan kontras dengan ketegangan yang masih tertinggal. "Terima kasih" ujar Nyonya Alvarez singkat. Ia tidak langsung menyentuh cangkir itu. Beberapa detik hening berlalu. "Kau berbeda dari yang lain," kata Nyonya Alvarez akhirnya, tanpa menoleh. "Di pesta tadi, kau tidak berusaha terlalu keras" Alea tersenyum tipis. "Saya hanya menjadi diri sendiri" "itu justru yang berbahaya," balasnya p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status