登入Deru napas Kaivan terdengar memburu di lorong rumah sakit yang sepi, memecah sunyinya dini hari. Sepasang tangannya seolah ikut lemah saat ia membaringkan Zivanya di atas brankar yang kemudian didorong dengan cepat oleh para perawat. Pemandangan Zivanya yang terkulai lemas dengan baju tidur yang dibanjiri darah membuat kekhawatirannya melonjak liar. "Tolong cepat selamatkan istri saya–maksud saya, dia pendarahan!" seru Kaivan dengan penuh kepanikan yang luar biasa. Pintu IGD tertutup rapat di depan mata Kaivan, memisahkan dirinya dari Zivanya. Ia terpaksa berhenti, berdiri mematung di dengan tangan yang masih gemetar hebat. Cairan merah yang tadi sempat menempel di bajunya terasa lengket dan dingin, seolah membekukan seluruh saraf di tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit, memejamkan mata erat-erat, sementara bayangan wajah Zivanya yang pucat pasi terus berputar di balik kelopak matanya. Waktu berlalu begitu lambat hingga terasa sangat menyiksa. Kaivan tida
Di seberang telepon, kantuk Kaivan seketika lenyap. Terdengar suara grasak-grusuk yang berisik, menandakan Kaivan langsung terlompat kaget dari tempat tidurnya."Apa lo bilang? Pendarahan?!" bentak Kaivan dipenuhi rasa syok dan panik yang luar biasa. "Terus kenapa malah buang-buang waktu telepon gue? Kenapa nggak langsung lo bawa dia ke IGD sekarang?!" “Bukannya ini anak lo? Ya lo yang tanggung jawab lah. Masa cuma mau bikinnya doang? Gue capek, baru pulang kerja dan butuh tidur. Kalo lo masih mau anak ini selamat, buruan ke sini.”"Ariyan! Lu bener-bener gila ya. Itu anak l–"Ariyan langsung memutus sambungan telepon secara sepihak, memotong makian Kaivan yang belum selesai dan ia tidak tahu kelanjutannya. Ia mengembalikan ponselnya ke atas nakas dengan gerakan santai.Dilihatnya Zivanya yang duduk mematung di tepi tempat tidur dengan wajah seputih kertas sambil menahan sakit yang luar biasa.Ariyan mengembuskan napas kasar. Alih-alih menarik selim
“Kenapa kamu berani-beraninya menjanjikan hal yang jelas-jelas nggak bisa kamu lakukan?” tuntut Zivanya setelah mereka berada di kamar. Keduanya baru memiliki waktu untuk berdua setelah bicara dengan Abi dan melihat dokter memeriksanya. “Memangnya menurutmu aku harus bilang apa setelah melihat keadaan Papi? Menolak? Mengatakan bahwa aku akan menceraikan putrinya yang manipulatif ini agar penyakit jantungnya langsung kambuh hari ini juga? Begitu maumu?!" cecar Ariyan yang melangkah maju mendekati Zivanya dan berdiri menjulang di hadapannya. Zivanya mencengkeram jemarinya sendiri, menolak untuk mundur setapak pun. "Jangan berlagak seolah kamu peduli sama Papi, Ariyan! Kamu bersandiwara seolah kamu suami paling suci sedunia, padahal dua hari lalu..." Kalimat Zivanya menggantung di udara. Ia tidak sanggup meneruskan. "Dua hari lalu apa, Zivanya?" Ariyan mencengkeram kedua bahu Zivanya. Tidak keras hingga menyakiti fisiknya, namun cukup kuat untuk mengunci pergerakan wanita itu. “D
Zivanya bisa merasakan jantungnya yang berdetak tanpa kendali. Entah apa yang akan disampaikan papinya. Melihat ekspresinya yang begitu serius pastilah sesuatu yang sangat penting. “Iya, Pi. Papi mau ngomong apa? Kalau ini soal aku dan Ziva, kami baik-baik aja kok, Pi. Papi nggak usah khawatir. Iya, kan, Sayang?” Ariyan menatap sang istri untuk meminta dukungan. “Iya.” Zivanya terpaksa mengangguk agar Abi tidak banyak pikiran. Abi mengembuskan napas panjang. Pria kaya itu menggeser matanya dari sang menantu pada putrinya, lalu terkunci di sana. Memiliki tiga orang putri cantik, Zivanya adalah yang paling lembut. Tangan Abi yang bebas pelan-pela bergerak, mengusap punggung tangan putrinya dengan kehangatan yang selalu berhasil membuat Zivanya ingin menangis. "Papi tahu kalian berdua anak-anak yang baik, yang tidak ingin membuat orang tua kalian ini cemas," ucap Abi. Suaranya terdengar begitu lirih dan bergetar karena menahan rasa sesak yang kembali mendera dadanya. "Tapi Papi ini
kehidupan Zivanya selama dua hari di rumah orang tuanya berjalan dengan tenang. Atas paksaan Seruni dan Abi, Zivanya terpaksa mengambil cuti sementara. Abi tidak ingin melihat putrinya yang sedang hamil muda kelelahan. Zivanya sedang menghabiskan waktu dengan duduk sambil membaca buku di taman belakang. Rasa mual akibat morning sickness masih melanda Zivanya tanpa ampun. “Mungkin karena bapaknya tengil makanya anaknya juga bertingkah,” seloroh Kaivan kala itu. Saat sedang duduk tenang, gelombang mual yang sangat dahsyat melandanya. Perutnya bergejolak hebat, membuat Zivanya tersentak. Dengan tangan mendekap mulut, ia berlari menuju kamar mandi di lantai bawah. “Hueekk… hueekk…” Zivanya bertumpu di pinggiran wastafel, memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya hanya berupa cairan asam lambung berwarna bening karena sejak pagi ia belum bisa menelan makanan apa pun. Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin membanjiri pelipis dan tengkuknya. Kepalanya pusing, dan air mata re
Zivanya menahan napas. Tenggorokannya mendadak kering. Ia bisa merasakan tatapan Seruni dan Syabila yang kini ikut tertuju padanya, menuntut penjelasan atas kepanikan yang barusan ia tunjukkan. Sial, ia terlalu impulsif. Lalu saat melihat Abi yang meletakkan satu tangan di dadanya, Zivanya semakin cemas. Ia takut penyakit papinya kambuh. "Nggak ada yang aku sembunyikan, Pi. Tadi itu aku hanya khawatir jadwal Ari terganggu kalau Papi telepon," jawab Zivanya yang berusaha keras menurunkan nada suaranya agar terdengar lebih tenang. Ia kembali duduk dengan punggung yang terasa kaku. “Kalau Papi mau telepon Ari, ya telepon aja, Pi.” Abi menatap sang putri sekilas pandang sebelum mengambil kembali ponselnya, mencari kontak sang menantu, dan mendekatkannya ke telinga. Zivanya melirik jam dinding di ruang tengah yang menunjukkan pukul sembilan malam. Di Indonesia mungkin sudah malam. Tetapi di Swiss, atau di mana pun Ariyan berada di belahan Eropa sana, lebih lambat lima sampai enam







