LOGINPermintaan Kaisar begitu sederhana. Hanya ingin tidur dengan kedua orang tuanya di saat badai menakutkan di luar sana sedang berkecamuk. Tetapi anak itu sampai harus berdiri gemetar, meremas guling dan meminta izin seolah-olah sedang meminta sesuatu yang mustahil untuk dikabulkan. Di usianya yang baru tiga tahun, Kaisar seolah sudah memiliki insting bahwa kamar ini adalah wilayah terlarang yang dijaga oleh lelaki dingin bernama Papa. Zivanya tidak tahan melihat betapa memelasnya muka sang putra. Hatinya seperti disayat-sayat menyaksikan ketakutan yang teramat besar di mata anaknya. Kaisar tidak hanya takut pada suara petir yang menggelegar di luar, ia juga takut pada penolakan Ariyan. Anak itu menatap Ariyan dengan pandangan cemas, seolah bersiap jika sedetik kemudian pria itu akan membentaknya lalu mengusirnya kembali ke kamar sebelah. Tanpa membuang waktu, Zivanya langsung menyibak selimutnya. Kamar utama ini tidak memiliki dua kasur terpisah. Mereka masih tidur di atas satu ran
Mendengar pertanyaan super polos dari mulut kecil Kaisar, Zivanya terkesiap. Hawa hangat menjalari pipinya. Ia sama sekali tidak menduga sang putra akan melontarkan pertanyaan sekritis itu. Di seberang sana, Kaivan sempat terpaku. Detik berikutnya, senyum tipis penuh makna membingkai bibir pria itu. Kaivan menatap Kaisar lalu pindah pada Zivanya yang tampak sedikit salah tingkah. Tatapan Kaivan begitu intens, seolah jawaban yang akan ia ucapkan memang tulus berasal dari relung hatinya yang paling dalam, bukan sekadar untuk menghibur bocah tiga tahun itu. "Ayah juga sayang Ibu," jawab Kaivan tegas yang terdengar begitu manly dan bersungguh-sungguh hingga getarannya terasa menembus dada Zivanya. "Ayah sayang Kai dan Ibu. Ayah juga akan selalu menjaga Kai dan Ibu. Kai nggak usah khawatir ya?" Kaisar tersenyum puas kemudian memandang Zivanya dengan ekspresi bangga. "Dengal, kan, Bu? Ayah juga sayang sama Ibu.” Zivanya buru-buru mengambil alih ponselnya sebelum Kaisar bertanya yang
Zivanya menggeser layar ponselnya, mencari nama Kaivan di daftar kontak, lalu menekan tanda panggilan video. Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum panggilan terhubung.Layar ponsel Zivanya seketika menampilkan wajah tampan Kaivan yang latar belakangnya tampak seperti ruang kerja pribadinya. Begitu melihat siapa yang menelepon, senyum hangat langsung terbit di bibir pria itu, membuat gurat lelah di matanya sirna seketika."Halo, Ibu. Halo, Jagoan," sapanya hangat.Mendengar suara ayahnya, Kaisar yang semula bersandar lesu di bahu Zivanya langsung menegakkan tubuhnya. Anak itu merebut ponsel dari tangan Zivanya dengan antusias, memajukan wajahnya ke depan kamera hingga layar ponsel penuh dengan pipi chubby-nya."Ayah!! Kai kangen!" seru Kaisar sambil bergerak-gerak heboh di atas pangkuan Zivanya. Rasa sedih akibat penolakan Ariyan beberapa menit lalu menguap begitu saja.Kaivan tertawa renyah di seberang sana. Kedua matanya menyipit jenaka menatap wajah menggemaskan Kaisar. "Ay
Tiga tahun kemudian…Hujan rintik-rintik yang turun di luar sana mengirim hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Membuat siapa pun lebih memilih berdiam diri di dalam rumah ketimbang berkeliaran di luar.Di atas sofa besar abu-abu, Zivanya duduk tenang dengan sebuah buku di pangkuannya. Namun, pandangannya tidak benar-benar tertuju pada deretan kalimat di sana. Matanya bergerak mengikuti sosok mungil bertubuh sehat dan aktif yang sedang asyik menyusun balok-balok mainan di atas karpet bulu.Kaisar Rajata Arsjad. Bocah laki-laki itu telah tumbuh dengan sangat menggemaskan di usianya yang menginjak tiga tahun. Fase catch up growth pasca kelahiran prematurnya berjalan sempurna berkat perawatan terbaik yang Zivanya berikan. Kaisar tumbuh menjadi anak yang cerdas, dengan sepasang mata bulat yang jernih dan rambut hitam legam yang selalu tertata rapi. Dia adalah segumpal cahaya di tengah hidup Zivanya yang penuh duri.Tak lama kemudian terdengar suara samar mobil yang memasuki halaman
Pertanyaan mamanya membuat Ariyan semakin tegang. Ia benar-benar tidak tahu apa jawabannya. Ariyan tidak pernah mempersiapkan diri untuk ini, karena anak ini seharusnya tidak pernah ada di dalam hidupnya.Menyadari Zelena terus menatapnya, Ariyan berdeham sembari mengatur ekspresinya agar tetap terlihat wajar.“Aku dan Ziva memang sudah sepakat, Ma. Kalau anak laki-laki, Ziva yang kasih nama. Kalau anak perempuan, aku yang kasih nama.”Zelena manggut-manggut mendengar penjelasan putranya. Senyum di wajah wanita itu semakin merekah lebar saat memandangi wajah mungil cucunya.“Bagus kalau begitu, adil. Berarti yang kedua nanti semoga perempuan ya. Biar gantian kamu yang kasih nama. Biar lengkap ada sepasang, abangnya ganteng, adiknya cantik.”Mendengar kata ‘yang kedua’ dan 'anak perempuan', perut Ariyan mendadak mulas. Ia langsung terbayang wajah Aira dan bayi perempuan mereka yang juga baru lahir. Ariyan hanya memberikan nama terbaik untuk anak perempuannya bersama Aira, bukan dari
“Aku mau ketemu anakku dulu. Aku mau lihat dia,” kata Zivanya. Ia ingin memastikannya. “Dia di NICU, Ziva.” “Aku tahu. Tolong antar aku ke sana.” “Kamu aja sendiri. Aku panggil perawat. Minta tolong dia yang antar,” tolak Ariyan keberatan. Memikirkan bayi itu saja sudah membuat dadanya sesak oleh kebencian. Bayi itu bukan anaknya dan sumber petaka baginya. Bayi yang membuatnya kehilangan enam puluh persen saham perusahaannya dalam sekejap, dan bayi yang memaksanya bertekuk lutut di bawah kendali Zivanya. Baginya, anak itu bukan darah daging yang patut dirayakan, melainkan sebuah kutukan berwujud manusia. Zivanya hanya bisa menahan perasaan melihat penolakan yang begitu nyata dari suaminya sendiri. Tepat setelah Ariyan menekan tombol panggilan, seorang perawat masuk. Ia dengan sigap membantu menyiapkan kursi roda untuk Zivanya setelah Ariyan menyampaikan maksudnya. Namun, tepat saat perawat itu mulai mendorong kursi roda Zivanya menuju pintu kamar, daun pintu terbuka dari luar.







