Share

Part 34

Penulis: Zizara Geoveldy
last update Tanggal publikasi: 2026-05-08 10:05:03

Zivanya mengurung diri di kamar dan mengunci pintu dari dalam. Berkali-kali Ariyan mengetuk dan meminta agar dibukakan, tapi Zivanya mengabaikan. ​Ia tahu Ariyan sedang ketakutan. Tetapi bukan takut kehilangan cintanya, karena memang tidak pernah ada cinta di sana. Ariyan hanya takut kehilangan kendali. Selama bertahun-tahun Ariyan merasa telah berhasil menjinakkan Zivanya, menjadikannya istri pajangan yang sempurna di depan orang-orang. Sementara ia bebas memuaskan egonya di tempat lain.

​Ziva
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
pasti itu si Ariyan..
goodnovel comment avatar
Diana Susanti
yaaa kasihan mereka semua pokoknya dah
goodnovel comment avatar
Can
semoga ketegangan rumahtangga zivanya cepet berakhir, mulai gemes2nya sama kai aja, ga ridho bgt klo endingnya sama ariyan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 44

    Zivanya melangkah masuk ke dalam rumah. Ia melewati ruang tamu yang sunyi. Tidak ada Ariyan di rumah. Suaminya itu berkemungkinan besar masih tertahan di kantor karena tumpukan berkas yang harus ditinjau atau bisa jadi sedang memberi perhatian di apartemen kekasihnya. Apa pun itu Zivanya tidak peduli. Ia hanya berharap saat Kaivan tiba nanti Ariyan melihatnya.Zivanya menggunakan waktu untuk beristirahat sebelum malam nanti Kaivan datang menjemput. Pukul enam sore ia bangkit dari tempat tidur lalu mandi. Tidak begitu lama ia keluar dari sana. Ia membuka lemari besar. Jari-jemari lentiknya menari di antara deretan gaun malam. Pilihannya jatuh pada sebuah gaun berwarna mahogani dengan potongan simpel namun elegan. Untuk muka, Zivanya menggunakan riasan minimalis dan membiarkan rambut lurus panjangnya terurai begitu saja.Zivanya baru saja selesai memulas lipstick di depan cermin saat ponselnya yang tergeletak di atas meja rias berdenting tanpa henti. Awalnya ia mengira itu adalah Kaiva

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 43

    Zivanya bangkit dari kursinya sambil menyambar tas di meja. Sebelum melangkah keluar, ia menyempatkan diri menatap pantulan dirinya di cermin besar yang terpasang di salah satu sisi ruangan. Ia merasa seperti baru saja melepaskan topeng istri yang tersiksa dan menggantinya dengan Zivanya yang berdaulat atas dirinya sendiri. ​"Mita," panggil Zivanya melalui telepon. ​"Ya, Bu Ziva?" suara Mita terdengar sigap dari seberang sana. ​"Saya ada urusan di luar untuk beberapa jam ke depan. Urusan pekerjaan yang mendesak bisa kamu kirim seperti biasa. Jika ada yang menanyakan keberadaan saya, katakan saya sedang ada meeting di luar. Dan untuk Pak Ariyan, jika dia mencari saya, katakan saya sedang bekerja di tempat yang tidak pengap.” “Baik, Bu,” jawab Mita patuh. Beberapa menit kemudian Zivanya dan Kaivan sudah berada di dalam mobil lelaki itu. Zivanya menghidu aroma mobil Kaivan yang berbeda dengan mobil Ariyan. ​"Kamu punya saran buat kadonya? Temanku ini tipe yang sangat menghargai b

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 42

    Tidak seorang pun menduga kedatangan Ariyan. Baik Zivanya ataupun Kaivan. Kaivan tersentak kaget. Ia bermaksud menarik tangannya dari sudut bibir Zivanya, tapi perempuan itu menahannya dengan meremas jemari Kaivan. Ariyan termangu. Sepasang matanya terpaku pada tautan tangan Zivanya yang meremas jemari Kaivan. Pemandangan itu jauh lebih menyakitkan daripada tamparan yang ia terima di rumah tadi. Ada keberanian yang belum pernah ia lihat di mata istrinya. Zivanya melakukan pembangkangan terang-terangan di wilayah kekuasaannya sendiri. “Kenapa berdiri di situ? Masuk aja. Aku nggak tahu kamu datang. Soalnya nggak ngetuk pintu. Gimana keadaan Aira? Masih sakit perutnya?” sapa Zivanya dengan santainya tanpa peduli pada kilat emosi di mata Ariyan. Ariyan memaksa otot-otot wajahnya yang kaku untuk rileks. Lalu ia melangkah mendekat. ​Ia menarik kursi di sebelah Kaivan, duduk dengan gestur yang sangat santai, bahkan cenderung angkuh. ​"Aira udah agak

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 41

    Zivanya baru saja selesai merapikan meja saat pintu ruangannya diketuk. Tak lama, sosok yang ia tunggu muncul. Kaivan melangkah masuk dengan pembawaan yang begitu tenang. ​Di tangan kanannya, Kaivan menenteng sebuah kantong makanan dari sebuah toko kue ternama. ​"Pagi, Zivanya," sapa lelaki itu. "Atau hampir siang, sepertinya?" ​"Hai, Kai. Tepat waktu seperti biasa," jawab Zivanya sembari tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan sisa-sisa amarah yang masih membayang di matanya. "Silakan duduk." ​Kaivan meletakkan kantong kue yang dibawanya di atas meja kerja Zivanya, tepat di depan tumpukan berkas. "Aku tebak kamu pasti belum sarapan. Warna lipstikmu segar, tapi wajahmu seperti orang yang cuma minum air putih sejak bangun tidur." ​Zivanya tertawa hambar, sedikit tersindir oleh ketajaman intuisi pria di hadapannya. "Kamu cenayang atau gimana?" ​"Aku cuma nebak, kamu kalau lagi stres pasti nggak selera makan," balas Kaivan sembari mengeluarkan satu kotak berisi tiramisu dari kan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 40

    Melalui jendela kamarnya Zivanya melihat Ariyan dan Aira akan masuk ke mobil. Akhirnya perempuan itu pergi juga. Dari ekspresi Aira yang Zivanya tangkap, kekasih suaminya itu terlihat cemberut. Mungkin marah karena dikurung di bawah tadi. ​Di luar sana, di bawah sinar matahari pagi yang mulai terik, Ariyan membukakan pintu mobil untuk Aira dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ariyan menunggu dengan sabar hingga Aira masuk dan duduk nyaman di kursi penumpang, seolah wanita itu adalah benda paling rapuh yang bisa pecah kapan saja. ​Zivanya mencengkeram kain tirai. "Manis sekali," gumamnya. ​Hanya beberapa menit yang lalu, bibir lelaki itu membungkamnya dengan ciuman. Hanya beberapa menit yang lalu, tangan lelaki itu mencengkeram lengannya hingga memerah. Namun sekarang, Ariyan bertransformasi menjadi pria paling lembut di dunia demi wanita yang ia sembunyikan dari orang-orang. Setelah mobil Ariyan meninggalkan halaman, Zivanya segera bersiap-siap. Ia harus melaksanakan rutini

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 39

    “Foto USG?" Ariyan mengulang kalimat itu dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Keringat dingin mulai merembes di balik bajunya. Ia melirik Zivanya, berharap istrinya memiliki skenario darurat, namun Zivanya balik menatapnya dengan sorot mata yang seolah berkata, ‘Kamu aja yang jelasin ke Mama’. “Iya, foto USG. Mama penasaran. Kalian udah ke dokter, kan? Atau cuma baru tahu lewat test pack?” “Udah ke dokter, Ma. Kemarin,” jawab Zivanya cepat yang membuat Ariyan semakin tersudut dan jengkel di saat bersamaan. Zivanya seolah berniat membuat rahasia itu terbongkar. “Mama boleh lihat? Mami juga pasti nggak sabar,” ucap Zelena yang mendapat anggukan kepala dari Seruni. “Ya bolehlah, Ma, masa nggak boleh,” ujar Zivanya lagi. “Tapi fotonya masih di dokter, Ma,” timpal Ariyan secepat kilat. “Kemarin karena buru-buru dan rumah sakitnya ramai, pasiennya juga banya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status