ANMELDENZivanya menatap dinding kamar dengan pandangan menerawang. Seluruh pikirannya tertuju pada petualangan off road tadi yang penuh dengan sensasi menegangkan.Kejadian di dalam Land Rover tua itu terus berputar di kepalanya. Sentuhan tangan Ariyan yang melingkar protektif di tubuhnya, deru napas pria itu di pelipisnya, hingga detak jantungnya, semuanya terasa begitu nyata hingga membuat dada Zivanya berdesir aneh.Ia menyentuh dadanya sendiri yang masih berdegup sedikit lebih cepat. Ada penolakan besar dalam dirinya untuk mengakui bahwa setelah lama berpisah, tubuh dan instingnya masih mengenali kehangatan yang sama dengan begitu familier.’Harusnya tadi aku pegang besi aja yang kuat, nggak usah selemah itu di depan dia,’ gerutu Zivanya kesal pada diri sendiri. Ia menenggelamkan wajahnya ke bantal demi mengusir bayangan Ariyan yang mendadak mendominasi isi kepalanya.Merasa perutnya keroncongan, Zivanya menjauhkan muka dari bantal dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia tidak mene
Udara pagi yang menusuk tulang tidak menyurutkan antusias para karyawan yang sudah berkumpul di lapangan terbuka, tempat puluhan mobil Land Rover pariwisata berbodi kokoh berbaris menunggu. Aroma khas bensin, oli, dan tanah basah berbaur dengan kepulan asap knalpot dari gerungan parau mesin-mesin tua penggerak empat roda yang mulai dipanaskan.Mita dengan sigap menuntun Zivanya menuju salah satu mobil Land Rover. Di dalam kabin belakang yang berkapasitas terbatas, Rike ternyata sudah duduk manis di sudut kanan. Ia langsung menyapa Zivanya.“Selamat pagi, Bu Ziva. Sesuai daftar dari panitia, berarti sisa satu kursi lagi ya, Bu. Kita tinggal nunggu Pak Haris.”“Oh, oke,” balas Zivanya.Zivanya kemudian mengambil posisi duduk di baris sebelah kiri, sementara Mita mengambil tempat di sebelah Rike. Kursi mereka saling berhadapan satu sama lain.“Gue deg-degan nih. It my first time, btw,” celetuk Mita sambil memegang dadanya.“Gue udah beberapa kali sih, tapi tetep aja dag dig dug,” kata R
Zivanya meremas ponselnya, menoleh cepat dengan tatapan menghujam. "Kamu kelewatan," kecamnya separuh berbisik, menahan volume suaranya agar tidak memicu kasak-kusuk belasan kepala divisi di belakang mereka. "Nggak perlu bawa-bawa masa lalu di depan Kaivan.""Aku cuma mengatakan kebenaran yang dia nggak tahu, Ziva," dalih Ariyan. "Dan sampai kapan pun, fakta itu nggak akan berubah."Zivanya memilih membuang muka, kembali menatap deretan pohon di sepanjang tol yang bergerak mundur dengan cepat.Pukul dua belas lewat tiga puluh menit, setelah terjebak kemacetan akhir pekan yang melelahkan di jalur menanjak Ledeng, lima bus besar rombongan kantor akhirnya berhasil berbelok memasuki gerbang sebuah resort yang bertengger di kawasan dataran tinggi Lembang. Udara dingin pegunungan yang bersih langsung menyergap kabin begitu pintu bus dibuka. Kabut tipis sisa pagi hari masih menggantung malas di sela-sela jajaran pohon pinus yang mengelilingi kompleks resort mewah berdesain kayu modern ters
Zivanya memilih untuk tidak berkata apa-apa.Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan. Ada banyak sebenarnya. Tapi berada di dekat Ariyan selain mengganggu suasana hatinya juga membuatnya kehilangan kata-kata. Maka ia kembali memusatkan perhatian pada aplikasi baca di handphonenya. Tapi entah mengapa, kalimat yang sama sudah ia baca empat kali dan tidak satu pun yang masuk ke kepalanya.Sedangkan di sebelahnya Ariyan duduk dengan tenang tanpa melakukan apa-apa. Hanya duduk diam.Empat puluh menit pertama berlalu seperti itu.Sampai bus berguncang ketika melewati sambungan jalan, dan tumbler kopi Zivanya yang tidak tertutup rapat oleng dari tempat dudukannya. Dengan refleks Ariyan menangkapnya. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikiran. Jari-jemarinya menutup di sekeliling tumbler tepat sebelum isinya tumpah. Ia menahannya sesaat sebelum menyerahkannya kembali dengan gerakan yang sama tenangnya dengan segala sesuatu yang ia lakukan."Tutupnya kurang rapat, Ziva.” Ariyan memberik
Hari masih sedikit gelap ketika Zivanya menggeret koper kecilnya ke ruang tengah. Hari ini ia akan berangkat ke Bandung untuk mengikuti acara outing tahunan kantor yang tahun lalu berhasil ia hindari dengan alasan Kaisar demam. Alasan yang tahun ini tidak bisa ia pakai lagi karena Kaisar, dengan tubuhnya yang sekarang jauh lebih tinggi sudah berlari-larian sehat sejak subuh.Dan sekarang, anak laki-laki itu sedang berdiri di depannya.“Ibu jadi pelgi ya?” “Jadi, Sayang.”"Kai mau ikut."Zivanya menatap jagoan kecilnya dan berjongkok di hadapannya. "Kai, Ibu, kan sudah bilang–”"Kai mau ikuuut." Kaisar mengucapkannya lagi dengan penekanan yang berbeda, seolah versi kedua dari kalimat yang sama secara ajaib akan mengubah keputusan ibunya.Zivanya menghela napas pelan. Ia mengusap rambut Kaisar yang awut-awutan dan menyisir dengan jari-jemarinya. "Ini acara kantor Ibu, Sayang. Nggak bisa bawa anak-anak.""Kenapa?""Karena memang aturannya begitu.""Atulannya siapa?"Astaga, ken
“Jadi kapan kita beli furniture?” “Hmm… kayaknya kapan-kapan aja deh, Kai.” “Kok kapan-kapan? Kamu terlalu sibuk atau…” Kaivan menggantung kalimatnya, menatap Zivanya lekat-lekat melalui video call malam itu. “Aku cuma ngerasa kita nggak perlu buru-buru. Lagian rumah itu juga nggak ditempati setiap hari.” Kaivan terdiam. Dalam heningnya ia mencoba mengartikan makna perkataan Zivanya. Apa Zivanya menyerah karena tertekan maminya? Dan ini adalah cara halus untuk menyudahi hubungan mereka? “Memang nggak ditempati setiap hari, tapi seenggaknya nggak dibiarin kosong. Minimal ada kursi sama meja.” “Ya. Aku setuju. Tapi rasanya untuk beberapa hari ini aku belum bisa fokus ke sana. Kalau kamu mau beli duluan, beli aja. Apa pun pilihan kamu aku pasti suka,” lanjut Zivanya halus. Ia mengembuskan napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pelipisnya sendiri. Raut lelahnya terlihat sangat jelas di layar. “Capek banget ya? Banyak kerjaan di kantor?” Di dalam hati
Zivanya menerima ponsel dari tangan Ariyan dengan terpaksa. Benda itu terasa begitu berat setelah berada di tangannya. Tampak di layar mata mertuanya yang berkaca-kaca lantaran terlalu bahagia. Karena selama ini kehamilan Zivanyalah yang mereka tunggu-tunggu. Di samping Zelena, Jeandra yang mendampi
Di rumahnya, Zelena yang pada awalnya menerima telepon sambil berbaring, kini duduk dan menajamkan telinganya. Jarang-jarang menantunya menelepon di waktu seperti sekarang. Apalagi mengatakan ada yang penting dan mengganjal di hati. “Ada apa, Ziva? Ada masalah? Kalian nggak lagi berteng
Ariyan masih mematung dengan satu tangan menyentuh pipi yang berdenyut panas, sementara matanya menatap nanar pada Zivanya. Pemandangan di depannya benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Istrinya berdiri dengan wajah yang menunjukkan emosi yang begitu besar, rambut berantakan, dan saat
"Kamu gila, Ziva.” Kalimat itu yang akhirnya tercetus dari bibir Ariyan. "Kamu benar-benar sudah gila karena laki-laki itu."Zivanya menanggapinya dengan tawa kecil. "Aku nggak gila, Ariyan. Aku hanya sedang belajar menjadi realistis, persis seperti yang kamu ajarkan selama ini. Kamu ingin memili







