Share

Part 33

Penulis: Zizara Geoveldy
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 19:30:28

Ariyan tak seketika menjawab. Ia sebenarnya tidak setuju menjalani open marriage ini. Hubungan tersebut merupakan sebuah bentuk kesepakatan dalam ikatan suami istri, di mana kedua belah pihak secara sadar, jujur, dan sukarela mengizinkan satu sama lain untuk memiliki hubungan romantis atau seksual dengan orang lain di luar ikatan pernikahan mereka.

​Berbeda dengan perselingkuhan yang didasari atas kebohongan dan pengkhianatan, open marriage didasari oleh trans
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (9)
goodnovel comment avatar
Yuniw Zz
maju terus pantang mundur, jangan kasih kendor perlawananmu
goodnovel comment avatar
Siti Hayatul Amalia
Bahahahahahaha,,,,,kena mental ga tuh di bangke. Gpp Ziva hamil & ga diakuin, yg penting bisa lepas dr si bangke & orangtua mereka tau kebusukannya. Ziva, siapkan ide2 licik yg lebih dahsyat buat kasih kejutan mereka. Kitah siap menunggu & selalu mendukung kamu. Bahagia selalu Ziva
goodnovel comment avatar
Aurora Aurora
ZIVA HARUS JADI SAMA KAIVAN ,, PLEASE... KA ZI, GA KAYA SI RAIN SAMA LALAD QUENARRA YA KA ZI....,, KASIHAN KAN IMBASNYA SAMPAI BESAR, KE ANAK²NYA RAIN SAMA SELINGKUHANNYA - DAN KE ANAK²NYA RAIN DENGAN LADY QUENARRA...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 63

    Malam itu, Kaivan mengantar Zivanya pulang. Ia memastikan Zivanya masuk ke dalam rumah dengan aman, barulah pergi meninggalkannya. Zivanya baru selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan terusan longgar ketika suara bel berbunyi nyaring.​Kerutan halus tercipta di dahinya. Saat Ini sudah jam delapan malam. Tidak mungkin Kaivan kembali lagi. Dengan langkah lambat, ia berjalan ke depan dan membuka pintu.​Jantung Zivanya serasa melompat dari tempatnya ketika mendapati dua sosok yang sangat ia kenal berdiri di sana.​“Mami? Papi?” Zivanya terperanjat.​Seruni berdiri dengan anggun mengenakan tunik rajut, sementara di sebelahnya, Abi tersenyum hangat dengan jaket kasualnya.​“Papi sama Mami sengaja mampir, habis ada acara makan malam sama kolega Papi di dekat sini. Mami kepikiran kamu terus dari siang,” jelas Seruni seraya melangkah masuk setelah Zivanya mencium tangan kedua orang tuanya.​Langkah Seruni langsung terhenti begitu mereka tiba di ruang tengah. Insting seorang

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 62

    Keluar dari rumah sakit, Zivanya langsung naik ke mobil Kaivan. Lelaki itu sesekali melirik Zivanya dari balik kemudi. Meski Zivanya mencoba tersenyum setelah melihat hasil USG tadi, Kaivan bisa merasakan ada mendung tebal yang masih bergelayut di matanya. Kesedihan wanita itu begitu pekat, sampai-sampai Kaivan bisa ikut merasakannya di dada. ​Daripada langsung mengantar Zivanya pulang ke rumahnya yang sepi dan dingin, Kaivan memutar kemudi menuju sebuah pusat perbelanjaan. ​"Kai, kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke rumahku," tanya Zivanya heran saat mobil memasuki area parkir mal. ​Kaivan mematikan mesin, lalu menoleh dengan senyum jenaka. "Kita punya misi medis darurat." ​"Misi medis apa?" ​"Mengobati stres," jawab Kaivan ringan sambil melepaskan sabuk pengamannya. "Ada film genre komedi yang review-nya bagus banget. Katanya, kalau nggak ketawa nonton ini, uang tiket diganti. Turun yuk. Kamu butuh asupan hormon endorfin

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 61

    Sebenarnya Zivanya merasa sangat sedih. Walaupun ia bersikap tegar menghadapi sindiran Aira, tapi tetap saja ia tidak bisa membunuh perasaan pilu di hatinya. Karena sejujurnya ia masih sangat mencintai Ariyan. Tidak mudah menghilangkan rasa yang tumbuh sejak remaja. Apalagi mereka telah bersama sedari kecil. Ariyan adalah cinta pertamanya. Lelaki pertama yang menyentuhnya. Lelaki yang membuatnya tergila-gila dan kehilangan logika karena cinta. Suara bel di depan pintu mengeluarkan Zivanya dari lamunannya. Dengan tertatih ia membawa tubuh lemahnya ke depan rumah, mengabaikan denyut di kepalanya yang semakin menjadi-jadi. Beberapa kali ia harus bertumpu di dinding karena tubuhnya terlalu lemah. Kaivan dengan senyum tipisnya kini berdiri di hadapan Zivanya. Pria itu tampak jauh lebih segar dan sehat. Luka lebam di sekitar rahang dan pelipisnya sudah memudar menjadi garis kekuningan, dan ia tidak lagi meringis saat berbicara. Pria itu berdiri tegap, m

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 60

    Zivanya menyeka air matanya dengan cepat, mencoba menata kembali serpihan emosinya sebelum melangkah masuk ke kamar tamu. Ia tidak ingin Kaivan melihat kesedihannya. Ia mendapati Kaivan sedang berusaha mengubah posisinya menjadi setengah bersandar di headboard sambil meringis menahan nyeri. “Kai, tiduran aja dulu,” kata Zivanya sembari mendekat. ​"Maaf, Ziva, aku malah jadi beban dan merusak rumah tanggamu,” suara Kaivan agak kaku karena jahitan di dalam mulutnya. Kaivan tahu di luar tadi Zivanya dan Ariyan pasti bertengkar hebat. ​"Nggak, Kai. Jangan bicara begitu. Ini bukan salahmu. Rumah tanggaku emang sudah rusak sejak awal. Dan itu bukan karena kamu.” ​Kaivan menurunkan kakinya. "Aku udah agak baikan. Pusingnya sudah berkurang, dan kurasa aku sudah bisa pulang ke apartemenku sendiri sekarang." ​"Tapi luka-lukamu–” ​"Aku bisa pesan taksi, dan nanti Adit pasti mau datang ke apartemen buat bantu-bantu," potong Kaivan memutus perkataan Zivanya. Ia menatap perempuan itu dan m

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 59

    “Kamu nggak perlu teriak-teriak! Aku bukan orang tuli!” seru Zivanya membalas hardikan suaminya. Ariyan sontak mengatupkan mulutnya. Hari-hari belakangan Zivanya memang tidak pernah bersikap lembut lagi padanya. Tapi inilah bentakannya yang paling keras. ​"Aku membawanya ke sini murni karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab.” Zivanya melanjutkan perkataannya. "Kalau kamu masih punya sedikit hati nurani, kamu harusnya sadar kalau semua kekacauan ini bermula dari tanganmu sendiri.” ​"Nggak perlu ada hati nurani untuk orang seperti dia. Kamu ingin menghancurkanku lewat jalur hukum tapi dilarang oleh bajingan itu, jadi sekarang kamu memilih cara ini? Menghancurkan harga diriku sebagai suami di rumahku sendiri?" ​"Ini bukan rumahmu!" bantah Zivanya. "Ini tempatku untuk bernafas dari semua kegilaanmu, Ariyan! Tapi kamu bahkan nggak membiarkanku tenang walau cuma sehari. Kamu egois!" ​Zivanya memalingkan wajah lalu menunjuk ke arah koridor menuju kamar tamu. ​"Dia sedang kesakitan di

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 58

    Sulit untuk tidak emosi menyikapi pemandangan yang tersaji di hadapannya. Cukup sudah Zivanya menginjak-injak harga dirinya. Jadi, Ariyan memutuskan untuk menampakkan diri.Ariyan berdeham cukup keras yang membuat keduanya terperanjat.Zivanya hampir menjatuhkan sendok yang sedang dipegangnya. Sementara Kaivan hanya bisa tersentak kaku di atas bantalnya. Ia mencoba menoleh ke sumber suara, namun gerakan mendadaknya menarik jahitan di pipinya. Ia mengerang tertahan dan mencengkeram pinggiran sprei saat rasa pening dan nyeri hebat kembali menghantam kepalanya akibat kehadiran Ariyan yang tiba-tiba.​Ariyan berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terbenam di saku celana. Posturnya tegak, angkuh, dan penuh dominasi.​“Enak buburnya, Kai?” tanya Ariyan dengan suara yang terdengar sangat tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja menyaksikan istrinya memberikan perhatian luar biasa pada pria lain. ​Ariyan melangkah masuk lebih dalam. Ia melihat mangkuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status