Short
Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai

Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai

By:  NesyaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
17Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah aku kembali ke rumah sakit bagian kebidanan dan kandungan, USG janin pertama yang kutangani adalah anak dari suamiku dan cinta pertamanya. Di data pasien tertulis nama suami pasien adalah "Jenson", sama persis dengan nama suamiku. Saat melihat foto Jenson yang menempelkan telinganya di perut hamil Keisha untuk mendengarkan detak jantung janin, mataku seketika memicing. Anak yang mengikuti Keisha dari belakang itu, jelas sekali wajahnya persis seperti aku saat kecil. Padahal, dulu Jenson mengatakan bahwa anakku meninggal setelah dilahirkan. "Selamat ya, Kak Jenson. Kudengar Kak Keisha hamil. Tapi jangan salahkan aku kalau terlalu banyak bicara. Dulu kamu bilang sama Naretta kalau Hana meninggal dini, padahal sebenarnya kamu kasih anak itu ke Kak Keisha untuk dibesarkan. Sekarang mau gimana?" "Ya dibesarkan saja. Keluarga Hanifa nggak kekurangan uang." Ekspresinya dingin dan datar. "Dulu Keisha jadi sulit hamil lagi demi menyelamatkan Nenek. Aku buat Naretta hamil hanya untuk ngasih Keisha seorang anak sebagai kompensasi."

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah Naretta kembali menjadi dokter kandungan, USG janin pertama yang dia tangani adalah anak dari suaminya dan cinta pertama sang suami. Dia menatap data pasien dengan saksama, suaranya bergetar. "Sus, suami pasien ini ... Jenson? Apa sistemnya error?"

Perawat itu mendekat dan berbisik penuh gosip, "Itu lho, putra anak orang kaya yang terkenal dari kalangan elite ibu kota. Ini rumah sakit pribadi Keluarga Hanifa. Bahkan direktur saja harus manggil Bu Keisha dengan sebutan Nyonya Hanifa dengan penuh hormat. Nggak mungkin salah."

Perawat menyerahkan ponselnya dan menangkupkan pipinya sendiri dengan gemas. "Manis sekali, 'kan?"

Melihat foto Jenson yang menempelkan telinganya di perut hamil Keisha untuk mendengarkan detak jantung janin, mata Naretta langsung memicing.

Kepala bagian kebidanan tersenyum sambil bercanda, "Bu Keisha sudah hamil empat bulan. Pak Jenson nggak pernah absen sekali pun dari kontrol kehamilan. Jarang sekali ada pria yang secinta itu sama istrinya."

Telinga Naretta berdengung dan pikirannya kosong.

"Bu Keisha benar-benar beruntung. Suaminya tampan dan kaya, keluarganya harmonis dan bahagia," ujar perawat dengan iri. "Bu Naretta, menurutmu juga begitu, 'kan?"

Naretta terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Iya." Jas dokternya diremas hingga kusut di telapak tangannya. Suaminya menikahi cinta pertamanya dan bahkan memiliki anak?

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Naretta meragukan statusnya sendiri sebagai Nyonya Hanifa. Setelah lima tahun pernikahan, dia baru saja keluar dari bayang-bayang kematian anaknya dengan susah payah.

Namun, Jenson hendak pergi ke luar negeri selama satu tahun untuk membuka pasar di luar negeri. Karena itu, dia diam-diam melamar kerja di rumah sakit di Negara Marowa, ingin mengakhiri hubungan jarak jauh mereka.

Namun sekarang, kedatangannya terasa seperti sesuatu yang tidak diperlukan. Keisha datang terlambat cukup lama, membuat Naretta semakin gelisah.

Saat dia hendak menelepon Jenson untuk meminta penjelasan, gagang pintu berputar dan para pengawal berbaris rapi. Keisha yang menjadi pusat perhatian, tersenyum penuh maaf sambil mengelus lembut perutnya.

"Suamiku mendadak ada rapat, nggak bisa temani aku. Dia malah merengek ingin menenangkanku dua jam penuh, jadi buat kalian menunggu."

Tatapan mereka bertemu. Darah di seluruh tubuh Naretta terasa membeku.

Hanya dengan satu pandangan, dia langsung mengenali wanita itu sebagai wanita dalam foto yang selalu disimpan Jenson di dompetnya.

Saat pemeriksaan berlangsung, Naretta berusaha keras menahan tangannya yang gemetar. Namun ketika alat USG yang dingin menyentuh perut hamil itu, Keisha tiba-tiba menarik napas tajam. Kuku runcingnya mencengkeram pergelangan tangan Naretta, meninggalkan bekas merah yang mencolok.

Keisha berseru pelan, lalu berkata dengan nada bersalah, "Biasanya suamiku selalu ada di samping waktu kontrol. Kali ini dia nggak ada, jadi aku agak nggak terbiasa."

Naretta menahan kegetiran di matanya dan memaksakan senyum. "Hubungan kalian dekat sekali, ya."

Telinga Keisha langsung memerah. Dengan manis dia berkata, "Aku dan Jenson tumbuh bersama sejak kecil. Dari kecil dia sudah bersumpah akan menikahiku."

"Waktu kuliah aku tergila-gila pada balap mobil. Demi menyatakan cinta padaku, dia memenangkan kejuaraan internasional dan berdiri di podium sambil berteriak 99 kali bahwa dia mencintaiku."

"Waktu melamarku, dia menyewa seluruh Istana Versailles. Di taman belakang, dia berlutut dengan satu kaki dan memakaikan cincin berlian biru ke jariku dengan tangannya sendiri."

"Setelah aku hamil, dia langsung meninggalkan pekerjaannya di dalam negeri. Setiap hari dia memijat kakiku, bahkan tiga kali makan sehari pun dia yang menyuapiku."

Mendengar masa lalu yang tidak pernah diketahuinya itu, perasaan getir memenuhi dada Naretta. Dia tidak percaya bahwa Jenson yang selama ini terlihat begitu setia dan penuh cinta padanya, ternyata membagi kelembutan yang sama kepada wanita lain.

Bahkan, pernikahan mereka sendiri hanya tinggal status semata. Naretta masih ingin menanyakan sesuatu ketika Jenson menelepon Keisha.

"Sayang, sudah selesai kontrolnya? Aku sudah reservasi restoran Prancis. Ada foie gras ceri kesukaanmu. Aku jemput kamu."

Mendengar hal itu, alis Keisha terangkat. Dia menutup mulutnya sambil tersenyum.

"Hana gimana? Apa dia membuatmu kesal?" tanya Jenson lagi.

Wajah Keisha tiba-tiba berubah drastis. Tatapannya yang tajam dan kejam melesat ke sudut dinding. Baru saat itu Naretta menyadari ada seorang gadis kecil yang kurus berdiri di sana.

Dia melangkah dari bayangan ke bawah cahaya dengan ketakutan. Saat Naretta melihat jelas mata anak itu yang sangat mirip dengannya, napasnya seketika tercekat. Hana menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. "Om, aku sangat patuh."

Namun setelah telepon ditutup, Keisha menjewer telinga Hana dengan kasar. "Anak haram yang nggak diinginkan ibunya, masih mau pura-pura berlagak menyedihkan untuk cari simpati?"

Sambil berkata demikian, dia mendorong Hana ke arah pengawal dan mencibir dingin. "Masukkan ke ruang kurungan. Malam ini nggak boleh makan."

Melihat wajah Hana yang penuh air mata tetapi tidak berani bersuara untuk menangis, hati Naretta terasa seperti diremas kuat. Dia mengulurkan tangan ingin menghentikan, tetapi ujung jarinya hanya sempat menyangkut sehelai rambut Hana.

Ding dong.

Dalam keadaan linglung, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Pesan dari Jenson muncul.

[ Naretta, sudah makan tepat waktu? Aku rindu sekali sama kamu. ]

Tak lama kemudian dia mengirimkan sebuah lokasi.

[ Kurasa kamu bakal suka tempat ini. Lain kali aku ajak kamu ke sini. ]

Di foto yang menyertai pesan itu, terlihat foie gras yang tersaji indah. Di pantulan gelas anggur tinggi, terlihat ujung rok yang dikenakan Keisha. Naretta menggigit bibirnya hingga berdarah, lalu mengambil cuti dan bergegas menuju restoran.

Sepanjang perjalanan, momen pertemuan pertamanya dengan Jenson tiba-tiba berkelebat jelas di benaknya. Saat itu dia mengikuti program pertukaran medis di Kenya dan menolong seorang ibu hamil yang hendak melahirkan di dalam pesawat.

Jenson menyaksikan semuanya dari kursi penumpang kelas satu. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama dan mulai mengejar Naretta dengan penuh semangat. Dia menyumbangkan puluhan miliar atas nama Naretta untuk daerah setempat, demi memperbaiki lingkungan asramanya.

Jenson bahkan mempertaruhkan risiko tertular malaria dan tidak pernah meninggalkan sisinya, demi menemani Naretta untuk menyelamatkan anak-anak di wilayah wabah. Dia mengajak Naretta melihat migrasi hewan. Saat Naretta digigit ular berbisa, dia bahkan menyedot racun dari luka tersebut dengan mulutnya sendiri.

Setelah menikah, Jenson semakin membuktikan cintanya dengan tindakan nyata. Setiap malam dia berbisik di telinga Naretta, "Naretta, aku sangat mencintaimu. Beri aku seorang anak."

Namun pada saat Naretta melahirkan, rasa sakit membuatnya pingsan. Saat sadar, yang dia dengar adalah kabar bahwa bayinya meninggal. Sejak saat itu, dia terus menolak perhatian Jenson.

Hingga empat bulan lalu, mereka tinggal terpisah di dua tempat yang berbeda.

....

Jenson meninggalkan meja untuk menjawab telepon. Naretta memanfaatkan kesempatan itu untuk bersembunyi di sudut.

"Selamat ya, Kak Jenson. Kudengar Kak Keisha hamil. Tapi jangan salahkan aku kalau terlalu banyak bicara. Dulu kamu bilang sama Naretta bahwa Hana meninggal dini, padahal sebenarnya kamu menyerahkannya ke Kak Keisha untuk dibesarkan. Sekarang gimana?"

"Dibesarkan saja. Keluarga Hanifa nggak kekurangan uang." Ekspresinya datar dan dingin. "Dulu Keisha jadi sulit hamil lagi demi menyelamatkan Nenek. Aku membiarkan Naretta hamil hanya untuk memberi Keisha seorang anak sebagai kompensasi."

"Lalu kenapa kamu memilih Naretta? Dia dokter. Nggak takut ketahuan?"

Jenson sepertinya tertawa kecil. Namun, kata-katanya membuat Naretta seolah jatuh ke dalam jurang es. "Dia dokter kandungan, tahu bagaimana merawat janin. Wadah yang begitu sempurna seperti dia bisa memastikan Keisha mendapatkan bayi yang sehat."

"Lagian, aku dan dia cuma pura-pura menikah. Kalaupun dia tahu, memangnya dia bisa apa?"

Setiap kata itu menembus jantung Naretta bagaikan pisau yang tajam. Ternyata di mata Jenson, dia hanyalah mesin reproduksi. Anak kandungnya yang malang selama ini terus mengalami perlakuan kejam dari Keisha.

Jemarinya gemetar saat menekan tombol berhenti merekam. Namun, layar ponselnya tiba-tiba menampilkan pesan dari Organisasi Kesehatan Dunia.

"Bu Naretta, kami mengundangmu untuk bergabung bersama kami sebagai dokter tanpa batas."

Kali ini, Naretta tidak lagi ragu. Dia langsung menyetujuinya. "Baik. Satu minggu lagi, sampai bertemu di kantor pusat Jenewa."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
17 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status