LOGINSetelah aku kembali ke rumah sakit bagian kebidanan dan kandungan, USG janin pertama yang kutangani adalah anak dari suamiku dan cinta pertamanya. Di data pasien tertulis nama suami pasien adalah "Jenson", sama persis dengan nama suamiku. Saat melihat foto Jenson yang menempelkan telinganya di perut hamil Keisha untuk mendengarkan detak jantung janin, mataku seketika memicing. Anak yang mengikuti Keisha dari belakang itu, jelas sekali wajahnya persis seperti aku saat kecil. Padahal, dulu Jenson mengatakan bahwa anakku meninggal setelah dilahirkan. "Selamat ya, Kak Jenson. Kudengar Kak Keisha hamil. Tapi jangan salahkan aku kalau terlalu banyak bicara. Dulu kamu bilang sama Naretta kalau Hana meninggal dini, padahal sebenarnya kamu kasih anak itu ke Kak Keisha untuk dibesarkan. Sekarang mau gimana?" "Ya dibesarkan saja. Keluarga Hanifa nggak kekurangan uang." Ekspresinya dingin dan datar. "Dulu Keisha jadi sulit hamil lagi demi menyelamatkan Nenek. Aku buat Naretta hamil hanya untuk ngasih Keisha seorang anak sebagai kompensasi."
View MoreMemandang mobil polisi yang menjauh, Naretta tiba-tiba merasa seluruh tenaganya terkuras. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh, untung Baskara sigap menahannya."Terima kasih." Dia tersenyum penuh rasa syukur, tetapi kesedihan di matanya hampir menenggelamkannya.Sorot mata Baskara dipenuhi rasa pedih saat berkata, "Kita juga pulang saja."Saat Naretta mengangguk, tiba-tiba Jenson berlutut di hadapannya. Ketika tatapan mereka bertemu, matanya seketika memerah."Naretta, maafkan aku ...."Naretta memejamkan mata dengan lelah. Saat membukanya kembali, tatapannya hanya tersisa ketenangan. "Aku nggak akan menerima permintaan maafmu dan tolong jangan muncul lagi di hadapanku.""Hubungan kita satu-satunya adalah sebagai musuh."Setiap kata seolah menguras seluruh kekuatan Jenson. Isakan di tenggorokannya tak lagi bisa dia tahan. "Naretta, selama ini aku nggak pernah berhenti mencarimu. Aku sangat merindukanmu.""Aku juga sangat menyesal nggak lebih cepat melihat kebusukan Keisha, sampai kamu
"Naretta ...." Jenson berbisik pelan menyebut namanya. Sudut matanya memerah.Dia tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Dengan langkah lebar, dia berjalan ke arah Naretta. Kerinduan di matanya begitu kuat hingga hampir tak terkendali. Jenson menahannya sekuat tenaga agar tidak kehilangan kendali di depan umum."Naretta, aku tahu kamu baik-baik saja. Aku sudah mencarimu dengan susah payah."Pada saat itu, Jenson tidak peduli lagi pada segala gosip dan tuduhan. Dia hanya ingin memeluk Naretta dengan erat. Namun, Naretta hanya meliriknya dengan tatapan dingin, lalu menghindar ke samping. Dia melangkah ke depan kerumunan dan menekan tombol putar dengan senyum sinis.Layar besar langsung menyala, menampilkan rekaman Keisha yang menyiksa Hana."Bocah sialan, sama menjijikkannya seperti ibumu yang murahan. Percaya nggak, aku bisa mencungkil bola matamu!""Sekarang aku hamil. Kalau nggak menyingkirkan anak haram sepertimu, bagaimana kalau kamu berebut warisan sama anakku?"Keisha memaksa Ha
Jenson hampir mengerahkan seluruh sumber daya dan koneksinya, tetapi tetap tidak bisa menemukan jejak Naretta. Dia terus menjelajahi tujuh benua dan empat samudra. Setiap kali merasa lelah, hanya dengan kembali ke rumah yang pernah dia tinggali bersama Naretta dan menghirup sisa aroma tubuhnya di seprai, dia baru bisa tertidur dengan susah payah.Sejak memutus kerja sama dengan keluarga Keisha, internal Keluarga Hanifa dilanda kekacauan. Hati semua orang pun diliputi kecemasan. Dulu dia sangat memanjakan Keisha, sehingga membuat kepentingan kedua keluarga terikat sangat dalam.Kini, keluarga Keisha bangkrut dalam semalam. Dampaknya juga pasti menyeret bisnis inti Keluarga Hanifa. Sebagian besar klien jangka panjang hilang, harga saham pun hampir menembus batas aman.Di depan meja kerja, Jenson sedang menangani setumpuk dokumen. Samar-samar terlihat lingkaran hitam di bawah matanya.Sesekali, dia melirik foto di sudut meja. Foto dirinya dan Naretta saat pertama kali bertemu di Kenya. It
Jenson menendang pintu hingga terbuka. Wajahnya tampak begitu suram hingga terasa menakutkan.Ponsel Keisha terjatuh ke lantai. Matanya pun membelalak. "Jenson? Bukannya kamu ada kerjaan ....""Selama ini kamu terus membohongiku." Tangan dengan ruas-ruas jari tegas itu perlahan merayap ke lehernya. Ujung jari Jenson semakin mengencang, seolah hendak mematahkan lehernya.Keisha mundur dengan ketakutan hingga punggungnya menempel ke dinding yang dingin. Tubuhnya gemetar. "Kamu, kamu bicara apa? Aku nggak mengerti ....""Anak itu bukan milikku. Nenek menjadi koma karena kamu. Hana nggak pernah kamu perlakukan dengan tulus." Suara Jenson serak dan mengerikan. "Bahkan Naretta pun nggak luput dari perbuatan kejimu."Bibir Keisha bergetar, tubuhnya gemetar hebat. "Jenson, dengarkan penjelasanku ...."Mata Jenson memerah. Cengkeramannya begitu kuat hingga hampir meremukkan tulangnya. "Bicara!""Aku ... aku hanya khilaf sesaat ...." Wajahnya pucat pasi dan air matanya menggenang. "Semua ini kar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.