FAZER LOGINWARNING: 18+ ONLY This book contains explicit adult sexual content and intense psychological and erotic themes. Not suitable for minors. Reader discretion is strongly advised. ------ Welcome to the filthy heart of sin, baby. All the Ways We Sin is a raw and unapologetic erotica collection where passion doesnât just burn : It fucks you senseless From the thrill of your dangerous stepbrother pinning you against the wall while your parents sleep down the hall⊠to the shame of sneaking into your motherâs fiancĂ©âs bed. These stories donât play nice. Theyâre supernatural, sci-fi, taboo, LGBTQ+, romantic, dark, obsessive, and so dangerously addictive youâll be touching yourself before you finish the first page. Every chapter is a brand-new sin. A fresh and wet craving. A whole new world where your desire ...always...fucking wins. Some stories will lick you slow and sweet until youâre trembling. Some will drag you into the dark, choke you with lust, and leave you bruised and dripping. Some are wild, strange, and so twisted theyâll make you cum harder than you ever have in your life. But every single one answers the same dripping question: If nobody was watching⊠how fucking dirty would you sin
Ver maisSeorang wanita mondar-mandir di depan pintu UGD sembari terus menangis. Raut wajahnya sendu, dengan air mata mengalir deras. Baju putihnya berlumuran darah.
Dia adalah Melinda. Wanita berusia 25 tahun yang tengah menunggu Bimantara-tunangannya yang berada di dalam ruang UGD. âYa Tuhan, selamatkan Mas Bima,â lirihnya, mengatupkan kedua tangan dengan cemas. Lama ia mondar-mandir, akhirnya memutuskan untuk duduk. Ingatannya kembali pada kejadian yang baru saja menimpa, di mana niatnya untuk menyusul sang tunangan, malah berakhir dengan melihatnya terjatuh dari ketinggian. âAndai Mas Bima tidak pergi. Kalau saja kami tidak bertemu Tuan Gerald .... â Melinda menyesali semua. Pertemuan keduanya dengan Gerald Abiyasa selaku Sekretaris Athena Holding di butik menjadi awal mula insiden itu terjadi. Gerald yang marah melihat karyawannya keluar di jam kerja, memberi hukuman berdalih tugas. Bima diminta melakukan sesuatu agar semua dewan berpihak pada Gerald saat Rapat Umum Pemegang Saham. âAhhh!â Melinda memekik pelan. Suara dentuman keras disusul jatuhnya Bima yang menimpa vas bunga tak bisa lenyap dari ingatannya. âKalau saja aku melarangnya untuk pergi.â Melinda terisak. Dengan iming-iming akan diberi jabatan yang lebih baik dan diancam akan di-blacklist jika menolak, Bima setuju tanpa berpikir panjang. âSemoga Paman dan Bibi segera sampai. Aku takut,â lirih Melinda, membayangkan yang tidak-tidak. Tak lama berselang, pintu UGD dibuka. Spontan Melinda berdiri, mendekati dokter yang membuka masker. âBagaimana keadaan Mas Bima, Dok? Dia baik-baik saja, kan?â Melinda mengguncang lengan dokter yang kedapatan menarik napas panjang. âMohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan pasien. Luka di kepalanya cukup parah dan kekurangan banyak darah.â âA-apa? Tidak mungkin!â Melinda membekap mulutnya, mundur beberapa langkah sampai terjatuh. âNona baik-baik saja?â Dokter sedikit membungkuk, menepuk pundak Melinda pelan. Kali ini Melinda tersentak, membiarkan dokter membantunya berdiri. âTidak! Tidak mungkin!â Melinda menggeleng, tak percaya dengan apa yang dokter katakan tadi. Didorongnya dokter ke samping, lantas memasuki ruang UGD. Tampak tubuh terbujur kaku ditutupi kain putih. âM-Mas Bima!â Melinda berhambur mendekat. Perlahan dan gemetaran tangannya membuka kain penutup. Benar saja. Sosok itu adalah Bima. Perban membalut kepala dan beberapa bagian tubuhnya nyaris membuat Melinda terjatuh. âTidak, jangan tinggalkan aku. Mas Bima! Bangun, Mas!â Diguncangnya tubuh itu dengan harapan akan terbangun. Tangisnya kian nyaring terdengar. âKita akan menikah dua Minggu lagi. Teganya kau meninggalkan aku,â lirih Melinda, terkulai lemas. Rentetan peristiwa yang pernah dilalui bersama sang tunangan kembali terbayang. Lama Melinda meratapi, hingga panggilan seseorang menyentak lamunannya. âLinda!â Spontan wanita itu berdiri, lalu berhambur memeluk sang Bibi. âApa yang terjadi? Kenapa Bima bisa jatuh?â tanya Irma-Bibinya kala Melinda melepaskan pelukan. âIya, Nak, bagaimana dia bisa jatuh? Apa yang terjadi? Siapa yang membawa kalian? Kenapa bisa meninggal?â Rusdi, paman Melinda memberondong dengan banyak pertanyaan. Ditatapnya lekat-lekat wajah Melinda yang basah karena air mata. âJawab, Linda!â Irma mengguncang tubuh ponakannya dengan wajah dipenuhi kebencian. Pandangannya dialihkan pada tubuh terbujur kaku di depannya. âAku juga tak tahu apa yang terjadi. Saat aku sampai dan hendak mencarinya, Mas Bima ... Mas Bima jatuh.â Dengan nada bergetar, Melinda menceritakan kronologi kejadiannya. âApa? Astaga! Apa tidak bisa sekali saja kau tidak membebaniku dengan masalah?â Sang bibi mondar-mandir dengan dongkol. Dipijatnya kepala dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya berkacak pinggang. âIrma! Jaga ucapanmu! Ini musibah. Nak, tenang dulu, ya. Kita tunggu dokter. Jangan dengarkan Bibimu.â Rusdi berusaha menenangkan meski istrinya mengomel. âMusibah apanya? Dia pasti sengaja,â ketus Irma, membela diri. Rusdi menghela napas, memeluk erat sang keponakan. Dilihatnya wajah Bima dipenuhi luka dan kepalanya diperban. âKau pasti tahu lebih banyak, kan? Katakan padaku sekarang!â desak Irma pada Melinda. Melinda mencoba menenangkan pikiran. Merangkai kembali hal-hal yang terjadi. âMas Bima diberi tugas Tuan Gerald untuk ... untuk ke kantor secepatnya,â kata Melinda. âTuh, kan! Pria itu pasti terlibat. Bukan kita yang harus menanggung semua, tapi dia.â Irma mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Tepat saat Rusdi menutup tubuh Bima dengan kain putih, dokter dan perawat memasuki ruangan âDokter, apa yang sebenarnya terjadi? Kami ... kami mendapat informasi bahwa Bima meninggal setelah jatuh. Benar seperti itu?â tanya Rusdi. âBenar. Kondisinya cukup parah dan patah tulang di beberapa bagian tubuhnya. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, kecuali luka akibat jatuhnya korban,â jelas dokter. Perawat pun menyerahkan hasil autopsi jenazah pada Irma yang langsung menahan geram setelah membaca hasilnya. âIni seharusnya tidak terjadi. Kalau Bima mati dan Melinda gagal menikah, dia akan tetap di rumahku dan menjadi benalu.â Kalimat Irma membuat Rusdi meradang. âDia kan tidak punya keluarga. Pasti aku yang dibebani biaya,â sambung Irma, meremas jemari. âTutup mulutmu! Bukannya bersedih, kau malah sibuk memikirkan diri sendiri!â Rusdi menahan diri agar tangannya yang gatal tak sampai bergerak. âJangan salahkan aku. Bima jatuh kan pasti ada sebabnya. Aku rasa, Tuan Gerald itu terlibat. Awas saja dia!â cemooh Irma. Irma memutar bola mata. Tak dipedulikan sang suami yang mencoba menenangkan Melinda agar menerima kenyataan tunangannya sudah meninggal. âSudahlah, Nak. Yang sabar. Relakan kepergiannya. Kita urus pemakamannya segera, ya. Arwah Bima pasti sedih melihatmu begini.â Rusdi berupaya membujuk. Sayangnya, tangis Melinda semakin menjadi-jadi. Teringat wajah Bima yang pucat, Melinda merasa seolah merenggut separuh nyawanya juga. âTak guna kau menangis. Bima tidak akan hidup hanya karena kau tangisi. Lebih cepat dia dimakamkan, akan lebih baik bagi kita,â cerca Irma. âTidak bisakah kau menenangkan Melinda? Dia keponakanmu,â tegur Rusdi. âDari mana kita bisa mendapat biaya untuk membayar rumah sakit? Apa harus pakai daun? Kau lupa, anak kita ada tiga.â Irma berdecak, melempar hasil autopsi pada jenazah Bima. Wanita itu pun keluar saat dirasa amarahnya kian memuncak.**** Panas matahari mulai menyengat saat Melinda beserta keluarganya berada di area pemakaman umum. Dengan pengawasan beberapa polisi, proses pemakaman pun selesai cepat. âAku tak menyangka kita tidak jadi menikah, Mas. Padahal gaun pengantin dan persiapan pernikahan sudah hampir rampung. Kenapa kau bisa jatuh? Kenapa .... â Melinda menyentuh batu nisan bertuliskan nama tunangannya. Air matanya menetes membasahi tanah yang masih basah. âSudah, jangan menangis lagi. Pokoknya sekarang, kita usut tuntas masalah ini. Paman ingin kau memberi tahu polisi dengan detail,â kata Rusdi, berjongkok di dekat keponakannya. Irma hanya melengos, memerhatikan para polisi yang berkumpul tak jauh dari tempatnya kini. âKau juga harus mengabari Tuan Gerald itu. Dia harus tahu apa yang terjadi,â ujarnya. Melinda mengangguk. Pandangannya dialihkan pada makam-makam. Sejurus kemudian, ia melangkah menuju para polisi. âMari, ikut saya ke rumah. Kita bicarakan semua di sana,â ajak Rusdi. Para polisi mengangguk, mengikuti keduanya yang melangkah meninggalkan area pemakaman. âKami sudah mengirim petugas untuk mendatangi rumah Tuan Gerald dan memeriksa kantornya,â kata polisi, membuka pintu mobil. Melinda hanya diam, sementara Rusdi manggut-manggut. Mereka pun terpaksa pulang naik mobil polisi. Tanpa mereka sadari, tak jauh dari makam Bima, sesosok misterius berpakaian serba hitam dan masker tengah mengintai dengan tangan memegang kamera. Siapakah sosok misterius itu? Adakah hubungannya dengan kematian Bima?****Reid doesnât give a fuck. He drops to his knees behind me, spreads my ass with both hands, and buries his face in my pussy. His tongue is everywhere.. he licks from my clit to my entrance while his thumb rubs circles on my clit. At this point the mirror starts to fog with my shaky breaths.I bite down hard on my wrist to stop myself from moaning. In the reflection I look wrecked already..Reidâs messy black hair is between my thighs as he eats me like heâs starving.âReid..oh god..â I whisperHe growls against my pussy lips. âTaste so fucking good.âHe adds a third finger stretching me open..he then curls hard against that spot that makes my knees buckle. His tongue flicks my clit faster, sucking it into his mouth, and this causes my I come hard with my pussy clenching around his fingers.He stands up fast with his zipper already down. His cock springs free and it's bigger than I remembered from the bathroom. My first real fuck in six months, and itâs my motherâs fiancĂ©.âReid⊠plea
Kailaniâs POVBy 10:15 Iâm standing outside the bridal boutique on Fifth Street, very much questioning every horny decision that got me here.My phone is burning a hole in my bag,my boss clearly won't restTax season was still choking the life out of the office and yet I called in with the fakest cough of my life at 7:30 this morning Now Iâm here instead standing in front of the boutique, suddenly the doors swing oggâThere you are!â Mom grabs my wrist and yanks me inside.The little bell above the door jingles wildly behind usâIm happy you took time off workâ she dismisses, already dragging me deeper into the shop without waiting for an answer. Her nails dig into my skin just enough to sting. âBesides, this is important. My bridal party needs to bond.âBond,right ?We round the corner into the main fitting area and I immediately regret every single life choice that led me here.âGirl, if I wear this, Iâm stealing your man before you even say âI do! " My mom's so called friend,Tany
What the fuck. This cannot be happening.Iâm sitting in this cheap Italian place downtown, with my fork halfway to my mouth staring across at my motherâs new fiancĂ© like he just rammed his cock straight through my soul. Red The same filthy stripper who had his thick cock grinding against that dancerâs face last weekend, And now heâs here. Sitting right next to Mom with those icy blue eyes burning into me, that same cocky smirk curling his lips. Heâs dressed up tonight but I can still picture him half-naked under those stage lights.âSweetie, this is Reid, my fiancĂ©,â Mom chirps, she's smiling like she won the lottery.Reid leans across the table before I can even breathe. He grabs my hand and presses his warm lips to my knuckles. The second his mouth touches my skin my pussy clenches so hard I feel it in my stomach. âNice to finally meet you, Kailani,â he says. âYour mom talks about you all the time. Showed me pictures. Youâre even prettier in person.âI snatch my hand back so fa
ARC 5 : VELVET CUFFSTRIGGER WARNING: This story contains explicit taboo erotica, public risk, under-table foot play, bathroom sex, rough oral, forced deepthroating, degradation, CNC elements and graphic sexual content..Mature readers only (18+).Proceed only if you consent to dark fiction -------Kailani's povSarah's hands digs into my side for the hundredth time this evening trying to get my attention But I canât tear my eyes off the corner where Red is practically fucking that girl in front of everyone. Sheâs moaning like sheâs two seconds from cumming,Her hands roaming all over his chest, his ass and his thighs. Itâs filthy. Itâs loud. And Iâm so wet Iâm surprised my panties havenât dissolved.Redâs shirtless now. Messy black hair falls into the kind of blue eyes that should be illegalThe body underneath? Jesus. Every inch of his muscle is visible. Perfect abs and shoulders cut deep enough to lose my tongue in. I hate how perfect he is. I hate that my mouth is watering.
I stood up just long enough to shove my panties down and kick them away. Then I was back on my knees, sucking him even harderAfter a minute he pulled me off his cock âGet on the desk. On your back. Spread your legs.âI climbed up fast and laid my back on the desk My skirt around my waist. I could
I sat in the back row of English class, but my mind was was somewhere else. My pussy was still sore and sticky from last night at the glory hole. Every time I shifted in my seat I felt the ache between my legs. Mr. Hayes stood at the front of the room, talking about some short story we had to rea
I stood up on shaky legs and turned around. Then I bent over, positioning myself on the wall right next to the hole. The thought of my ass out, with my pussy open and dripping made me even wetter âPlease,â I whispered, even though he couldnât hear me. âFuck me.â The words came out needy, that wa
ARC 2 : BLIND DEVOTION TRIGGER WARNING: This arc contains explicit sexual themes, anonymous encounters, and morally transgressive situations.It is intended for mature readers only.Proceed only if you consent to fiction that explores desire without restraint. -----My h






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
avaliaçÔes